Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menemukan Dompet di Jalan

 Seperti biasa sepulang sekolah Agus dan Jaey berkeliling kampung untuk berjualan es lilin. Maklum Agus dan Jaey berasal dari keluarga miskin. Bapaknya Herman hanya butuh tani yang tidak memiliki lahan, sedangkan ibunya ibu rumah tangga, kadang terima pekerjaan kecil-kecilan seperti mencuci baju orang lain atau membersihkan rumah seseorang.

Karena itu Agus yang sudah kelas dua SMP dan Jaey yang kelas lima SD kadang berjualan es, untuk uang jajan mereka.

Es lilin, sumber gambar google 

Seperti hari ini, sepulang sekolah mereka berdua lalu membawa termos berisi es lilin. Jajanan itu mereka ambil dari Om Satrio yang memang berjualan es tersebut. Satu termos berisi 25 buah dengan modal 20 ribu. Es harganya 1.000 rupiah, jika laku semua lumayan dapat 5 ribu.

Agus membawa satu termos, begitu juga adiknya.

"Es es es, es lilin, ayo siapa yang mau beli." Teriak Agus di sepanjang jalan di kampung. Jaey sendiri hanya mengikuti di belakang. Kebetulan cuaca agak panas sehingga mereka semangat.

Sudah dua jam mereka berjualan. Es lilin Agus sudah habis sedangkan punya Jaey masih sisa 10.

Setengah lima sore akhirnya es lilin habis juga ketika mereka jualan di sekolah MDA (madrasah Diniyah Awaliah) yang memang masuknya sore.

Saat pulang mereka lewat jalan yang lebih cepat. Di pertigaan jalan mereka melihat sebuah rumah yang sepertinya habis hajatan, soalnya banyak sampah berserakan.

Agus tiba-tiba punya ide.

"Jaey, kita ambilin gelas dan botol plastik yuk. Lumayan untuk tambahan jajan."

Jaey setuju.

Agus lalu datang ke pemilik rumah." Om, boleh minta karung bekasnya tidak, buat wadah plastik yang tidak dipakai." 

Pemilik tempat hajatan itu sumringah karena tidak perlu bayar orang untuk bebersih. Ia lalu memberikan dua karung bekas.

Jaey dan Agus segera memungut botol-botol bekas itu. Dalam sekejap satu karung sudah penuh. Jaey lalu pergi ke samping dimana dilihatnya banyak Aqua gelas berserakan.

Saat sedang asyik memungut barang bekas itu, tiba-tiba mata melihat sesuatu yang menarik. Ia segera memungut benda itu yang ternyata sebuah dompet.

"Kak, kak Agus." Jaey memanggil kakak nya.

Agus yang sedang sibuk membuang air yang masih tersisa di beberapa botol plastik menoleh.

"Ada apa?"

Jaey melihat dulu keadaan sekitar, setelah yakin sepi ia memperlihatkan sebuah dompet.

"Ini kak, aku tadi nemu dompet."

Agus tentu saja tertarik. Ia segera membuka dompet tersebut.

Baik Agus maupun Jaey melongo ketika di dompet itu terdapat beberapa lembar uang kertas merah bergambar Soekarno Hatta. Jumlahnya lebih dari 15 lembar, ada juga yang puluhan ribu dan dua ribuan serta beberapa kartu.

"Bagaimana kakak."

Agus menenangkan dulu hatinya yang berdebar. Setelah berpikir sejenak ia akhirnya memutuskan.

"Kita kembalikan dompet ini kepada pemiliknya Jaey."

Jaey tampak agak bimbang.

"Ingat, bapak selalu bilang, jangan ambil barang orang lain yang bukan hal kita. Jadi dompet ini harus dibalikin.

Bapaknya Herman memang selalu mewanti-wanti anaknya agar jangan pernah ambil barang orang lain tanpa ijin apalagi mencuri. Bisa dihajar babak belur.

"Jadi kita balikin sama om yang punya rumah?"

Agus berpikir sejenak. Ia lalu melihat KTP di dalam dompet.

"Kita balikin saja sama orangnya. Alamatnya juga tidak terlalu jauh, di desa sebelah. Siapa tahu nanti kita dikasih uang."

Agus dan Jaey lalu senyum-senyum membayangkan mereka nanti dikasih duit. 5 ribu tak apa-apa, syukur-syukur 10 ribu. Mereka memang tidak membayangkan akan mendapat uang 100 ribu karena itu terlalu banyak.

Mereka lalu mampir dulu ke om satria untuk mengembalikan termos. Tentu saja om Satria senang es nya habis. Selain memberikan uang 5.000, ia juga memberikan mereka masing-masing satu es lilin sebagai hadiah.

Setelah itu Agus dan Jaey lalu pergi ke tukang rongsok untuk menjual botol plastik bekas itu. Dua karung lumayan dapat 5.000.

Setelah jalan kaki 30 menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah yang ada di alamat KTP. Rumahnya lumayan gede dengan halaman yang luas. Terdapat sebuah mobil dan dua motor parkir di halaman. Tapi tak ada orang disana.

"Assalamualaikum..."

Agak lama sampai Agus mengulangi salam tiga kali barulah pintu rumah terbuka.

"Waalaikumsalam salam." Sebuah ibu-ibu jawab salam tapi mukanya kurang senyum. Mungkin karena menganggap mereka berdua mau meminta-minta apalagi dandanan mereka berdua memang cocok biarpun tidak buluk-buluk amat.

"Ada apa ya? Kalo mau minta duit hari Jumat saja ya."

"Ah enggak Bu. Kami kesini mau mengembalikan dompet, alamatnya disini. Benar enggak?" Kata Agus sambil memberikan dompet tersebut.

Barulah muka ibu itu cerah. Ia menerima dompet itu dengan gembira." Anak saya kemarin kehilangan dompet cuma tak tahu dimana jatuhnya. Kalian disini saja dulu ya. Duduk saja dulu."

Tentu saja mereka gembira sekali. Agus dan Jaey langsung duduk dan seumur hidup baru kali ini mereka duduk di sofa yang empuk, soalnya kursi dan tempat duduk di rumah maupun sekolah terbuat dari kayu. Ah, pasti mereka akan dikasih 10 ribu, ibu itu pasti orang yang baik hati.

Ibu itu lalu masuk ke dalam. Ia lalu menelpon anaknya. Agus dan Jaey tidak tahu apa yang dibicarakan, cuma samar-samar terdengar percakapan duitnya jumlahnya segitu ya.

Tak lama kemudian ibu itu muncul lagi. Mereka berdua segera berdiri.

"Ibu ucapkan terima kasih banyak sudah mengembalikan dompet anak ibu."

"Ah tidak apa-apa Bu, ini sudah kewajiban kami."

Ibu itu lalu bicara lagi. Agus dan Jaey hanya mendengarkan. Melihat mereka berdua masih ada didepan nya ibu itu berkata.

"Ibu banyak pekerjaan di rumah. Kalo tidak ada perlu lagi, kalian bisa pulang ya."

Tentu saja mereka berdua kecewa karena tidak dikasih hadiah, tapi mereka juga memaklumi, jangan terlalu mengharap pemberian orang, begitu pesan bapaknya.

Agus segera keluar rumah, begitu juga Jaey. Adiknya itu lalu bicara pelan sehingga hanya mereka berdua yang tahu.

"Pelit amat ibu itu ya. Kasih seribu dua ribu kek."

"Ngga boleh gitu, siapa tahu ibu itu lupa, kan tadi bilang banyak pekerjaan sehingga lupa kasih upah." Jawab kakaknya yang sebenarnya masih mengharapkan.

Benar saja, tak lama kemudian ibu itu memanggil.

"Eh tunggu dulu anak-anak."

Tentu saja mereka segera berbalik dan menghampiri nya. Mukanya cerah dong.

"Iya, ada apa Bu?"

"Ini sandal kalian lupa dibawa."

Karena kecewa mereka sampai lupa dengan sandalnya. Mereka segera ambil sandal itu sambil nyengir karena kecele.

Mereka sedikit agak lama memakai sandal, barang kali ibu itu ingat kasih yang, kalo tidak jajan kek yang ada di meja tadi.

Tapi tetap saja tidak dikasih. Akhirnya mereka keluar halaman dengan gontai.

"Kirain kita mau dikasih uang." Jaey ngedumel dengan pelan agar hanya kakaknya yang dengar.

"Mungkin ibu itu lupa. Kan banyak pekerjaan. Mungkin bentar lagi kita akan dipanggil." Hibur Agus.

Benar saja. Tak lama kemudian ibu itu memanggil.

"Tunggu dulu anak-anak."

Mereka tentu saja segera berbalik dengan sumringah.

"Tolong kalo kalian keluar pagarnya jangan lupa dikunci ya."

Tentu saja kakak beradik itu ngedumel dalam hati. Mereka segera keluar rumah setelah mengunci pagar.

Mereka bicara lagi. Jaey seperti biasa ngomel sementara kakaknya menenangkan.

"Harusnya kita tidak usah balikin kesini, cukup kasih sama om yang hajatan tadi."

"Jangan begitu Jaey, setidaknya kita dapat pahala mengembalikan barang. Allah SWT mungkin akan menggantinya dengan yang lain."

Mendengar ceramahnya adiknya langsung berdoa." Ya Allah, semoga ibu itu memberi kami hadiah." Katanya sambil dua tangannya menghadap keatas seperti orang berdoa.

Benar saja. Ibu itu tiba-tiba memanggil mereka." Tunggu dulu anak-anak"

Kaki mereka pun berhenti.

"karung kalian ketinggalan. "

"Jaey, kamu ambil sana.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚"

"Ngga mau, kakak saja sana...😭😭😭"

TAMAT 

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

58 komentar untuk "Menemukan Dompet di Jalan"

  1. wkwkwk inilah resiko kalo ngembaliin dompet tapi berharap minta imbalan, iya kalo dikasih kalo kagak jadi nyesek 🀣, yang sabar ya jaey :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mas khanif, kalo terlalu berharap nanti malah kecewa ya.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
  2. hehehe.....
    terlalu berharap, akhirnya kecewa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kecewa pak, mendingan jualan es lilin lagi ya.🀣

      Hapus
  3. Agak nyesek siii..tapi mo gimana lagi...kakak Agus aja ya yang ambil karungnya,dedek lelah😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakak Agus juga lelah mbak.πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
  4. sedihnya buk.. sampai hati tidak dikasinya hadiah.. harapn satu satu satu musnah.. sedih bangat ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya dikasih jajanan ya mbak, minimal kasih coklat 1000an.πŸ˜‚

      Hapus
  5. Kebetulan waktu kecil pernah jual es lilin/gogo dan duitnya disimpan di tutup termos, wkwk.. kenangan masa bocil πŸ‘

    Btw, ayo kita berkemah aja kak.. didepan rumah ibu itu sampai dia ngasi hadiah, wkwk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata sama ya, biasanya tutupnya diputar nanti bisa taruh duitnya.😁

      Yang cuma kemah, bagaimana kalo demo saja ajak teman-teman sekolah.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Btw aku jadi ingat dulu ada es unyil juga ya namanya, bungkusnya gambar kartun unyil, termosnya dari almunium warna silver, itu enak es nya 🀣

      Hapus
    3. Semua es masa kecil kayaknya enak semua kang.😁

      Hapus
    4. Sudah nyoblos belum mas, klo boleh tau nyoblos siapa? 🀣🀣

      Hapus
    5. Sudah nyoblos kang, aku coblos semuanya biar ngga iri.πŸ˜‚

      Hapus
    6. Kira2 bakal putaran kedua gak ya? Wkwk..

      Hapus
  6. Mau beli es lilinnya, Oom Satrio emang pintar bikin es lilin
    Beli 5 yaaa...

    BalasHapus
  7. Harusnya diambil selembar yang 100 ribuan baru dibalikin ke tukang hajatan.πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekalian saja dompetnya diumpetin kalo gitu.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Ngga boleh gitu, cukup ambil selembar saja.🀣

      Hapus
  8. Kasian amat tuh anak-anak... πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… priksa dulu karungnya.. siapa tau hadiahnya diumpetin di karung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kang, siapa tahu ada duit sejuta dalam karung ya.😁

      Hapus
  9. oalah jualan es begini jadi teringat waktu masih sd, disuruh guru kalo ga salah, lumayan buat jajan upahnya . kalo sekarang ga tau ya, masih ada yang mau ga jualan begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disini masih ada yang jual, cuma udah jarang, kalah sama pop es atau es jumbo.πŸ˜‚

      Hapus
  10. ya ampun, diluar impian haha
    repotnya jika punya wajah dan penampilan miskin
    serba kagetan :D

    BalasHapus
  11. 🀣🀣 Mau sedih, tapi kok ya ngakak juga πŸ˜‚πŸ˜‚. Kasian amat anak2nya .. tega lu buuu, mbok ya setidaknya KSH minum Ama makan πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, minimal kasih selembar duit gambar pak Karno ya.🀣

      Hapus
  12. Wah Kakak agus dan adik jaey kenapa kacihan banget nasibnya, yang sabar...yang penting iklas balikin...Kalau Mbul kecil yang nemuin tuh dompet si Om anaknya ibu tersebut, dan mbul balikin ke rumahnya, Mbul bakal cepet pulang aja ah hahahhah...Mbul keki kalau ketemu sama orang yang mukanya jutek hehe

    tp ngakak karena baca sandal sampe ketinggalan πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mbul baik hati ya, langsung balikin lalu pulang. Kalo aku nunggu dulu barang kali dikasih es cendol.πŸ˜‚

      Hapus
  13. wkwkw klo kata orang jawa ojo njagaake endoge blorok
    tepat sekali peribahasa ini

    BalasHapus
  14. Hehehe, sering terjadi. Tapi mungkin ibu itu tidak pernah merasakan hal seperti dialami dua anak tadi. Jadi tidak mengetahui apa harapan mereka. Pasti dua anak itu kecewa banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin juga, mungkin juga ibu itu sibuk jadinya lupa.πŸ˜…

      Hapus
  15. Dan pada akhirnya.... kapok deh anak2 nemu dompet, nanti kalo nemu lg pasti dibeliin es lilin aja... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo nemu dompet lagi mendingan duitnya langsung beliin kulkas buat bikin es lilin.πŸ˜‚

      Hapus
  16. Jangan ngajarin yang ngga bener.πŸ˜‚

    BalasHapus
  17. Sayangnya pas Nemu dompet isinya bon tagihan bukan duit😭🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan malah, tinggal hubungi yang punya dompet, suruh transfer kalo ngga mau bon nya nanti viral di Twitter.πŸ€£πŸ˜‚

      Hapus
  18. Yaa mau gimana, namanya juga anak-anak. Wajar kalau mengharapkan dikasih sesuatu..sayangnya ketwmu sama buibu pelit...wkwkwkm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, namanya anak anak kadang ngarep 😁

      Hapus
  19. Kalo ngajarin yang tidak benar malah biasanya cepat nyangkut tuh apalagi anak anak.🀣

    BalasHapus
  20. Khusus buat ibu pelit itu doang.🀣

    BalasHapus
  21. Hehehe,,,kesian juga anak-anak itu...
    Begitu ya kalau ngarep(dot)kom...
    Sabar ya anak-anak, nanti juga dapat rezeki dari sumber lain...
    Ayo semangat, besok jualan es lilin lagi yaaa

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak, kadang anak kecil emang suka ngarep kalo nemu sesuatu, beda kalo sudah dewasa.πŸ˜€

      Hapus
  22. yaah kecele beberapa kali sama si ibu 🀣🀣 padahal kalo memang mau, langsung tanya aja "bu minta ongkos jalan ke sini dong" To the point biar kaga di-PHP muluu hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin Agus sama Jaey nya malu mau minta ongkos.πŸ˜‚

      Hapus
  23. ngarep banget yah dikasih duit
    tapi kalo orangnya pelit ya ga bisa diapa2in :D
    penyakit di dunia ini yang sulit diobatin selain HIV adalah pelit, wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga anak-anak, beda dong sama orang dewasa.πŸ˜…

      Hapus
  24. Waduh, tambah kacau ini mah.🀣

    BalasHapus
  25. Mungkin si penemu dompet berkata dalam hati: Tau gitu isi dompetnya dimanfaatkan sebaik mungkin, baru dompet dan kartu penting dikembalikan hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya begitu ya pak, buat jajan dulu selembar yang warna merah.πŸ˜‚

      Hapus
  26. Kerasnya kehidupan ... Kasihan sama Agus dan Jaey. πŸ₯²

    BalasHapus
  27. Yah, si ibunya gak peka, padahal udah dilama-lamain, ya, hahaha :D

    BalasHapus
  28. ya Allah, aku ngakak baca ceritanya mas Agus.Plot twist-nya : sungguh terlaluuuuu hahahahaha

    BalasHapus