Pocong penunggu pohon kopi

Table of Contents

 Malam itu tinggal aku yang masih sendiri, sementara istriku sudah tidur sejak jam 10 malam. Sendirian aku rebahan di ruang tengah sementara jam dinding menunjukkan pukul setengah satu.

Pelan-pelan aku dengar seperti ada yang mengetuk jendela rumah. Suaranya sebenarnya pelan tapi karena tengah malam maka suaranya terdengar jelas. Mungkin angin pikirku sambil terus rebahan main hape. Tapi sejak kapan ya angin bisa mengetuk jendela.

Ketukan kembali terdengar, aku bangun lalu dari balik korden jendela yang tidak tertutup rapat aku melihat sesuatu berdiri di sana.

Apa mungkin Herman ya batinku. Aku memang punya teman yang punya kebiasaan unik tapi ngeselin. Herman seperti hewan nokturnal, suka begadang tengah malam sampai pagi dan suka mengajakku untuk begadang juga. Tapi sepertinya bukan dia sih, soalnya bulan kemarin ia sudah pindah ke Jakarta.

Aku lalu mencoba untuk memastikan siapa tamu tak diundang diluar itu. Sebuah kepala nampak dengan diikat kain kafan dan ternyata ia adalah POCONG.

Pocong itu mukanya pucat seperti sudah bedagang berhari-hari, matanya merah menyala seperti lampu belakang motor Honda grand tuaku.

Makhluk gaib itu seperti melambaikan tangan pada ku padahal tangannya tidak kelihatan di balik tembok.

Aku celingak-celinguk, berharap kalo orang lain yang dipanggil makhluk halus itu. Tentu saja nihil karena memang hanya ada aku di kamar tersebut.

Terpaksa dengan berat hati aku melangkah ke arah jendela.

"Awas kamu ya. Jangan main-main sama tempatku." Pocong itu langsung mendamprat ku. Setelah misuh-misuh yang tidak jelas lalu makhluk astral itu menghilang.

Begitu mahkluk halus itu menghilang Aku langsung menuju ke kamar tidur dan langsung memeluk istriku untuk tidur.

Esok paginya aku mencoba mencerna apa penyebabnya sampai sesosok pocong sampai memarahiku. Perasaan aku tidak pernah kencing sembarangan atau ambil sesajen secara sembrono di daerah sini.

"Mas, ini kayunya mau di kemanain?" Istriku bertanya sambil menunjuk sebuah tumpukan kayu.

Melihat kayu tersebut barulah aku ingat.

Jadi aku membeli rumah ini setahun yang lalu karena harganya yang miring. Rumah dengan bangunan 60 M² dan luas tanah 100 M ini aku beli dengan harga 100 juta, padahal harga tanah saja di sekitarnya dengan luas seperti ini tidak kurang dari 200 juta. 

Bangunan nya masih kuat dan kokoh jadi aku hanya renovasi sedikit. Di depan rumah ada sebuah pohon kopi yang sudah cukup tua, kata pemilik sebelumnya sih sudah 25 tahun lebih.

Biasanya tanaman kopi jika sudah 25 tahun akan mulai berkurang buahnya, tapi pohon yang ini masih tetap berbuah lebat.


Jika buahnya sudah tua maka wangi kopi akan langsung menguar, membuat siapapun yang mencium baunya jadi tergiur termasuk aku.

Tapi anehnya para tetangga tidak ada yang berani datang apalagi untuk meminta biji kopi tersebut biarpun aku persilahkan karena aku sendiri kurang suka ngopi.

Usut punya usut ternyata ada desas desus kalo pohon kopi tersebut ada penunggunya yakni sebuah pocong.

Tentu saja awal mendengar desas desus tersebut aku hanya senyum, tertawa dalam hati saja. Lha gimana, masa pocong bersemayam di pohon kopi, biasanya kan di pohon pisang atau randu. Jangan-jangan sebelum jadi pocong waktu hidup ia pecandu kopi.

Tapi berkat hantu lemper itulah aku bisa punya tempat berteduh dengan harga miring.

Lebih beruntung lagi sejak beli rumah, baik aku maupun istri dan anak belum pernah dapat gangguan apapun, mungkin karena setelah beli rumah kami langsung mengadakan acara slametan kali ya.

Sampai akhirnya Minggu lalu aku menebang pohon tersebut. Soalnya pohonnya besar sehingga menutupi rumah menurutku, biarpun kata istri sih biarkan saja soalnya rumah jadi adem.

Tapi aku tetap ngeyel, lalu aku dan khanif menebang pohon tersebut sampai akhirnya rata dengan tanah.

Kini setelah didatangi oleh hantu penunggu nya aku bingung sendiri, tak mungkin pohon yang sudah dipotong dipajang lagi kan.

Setelah berpikir semalaman maka esoknya di bekas pohon tersebut aku buka...


Yaaaa... Sebuah warung kopi.

TAMAT 

Posting Komentar