Mendengar curhat customer
Mendengar curhat customer adalah hal normal yang dilakukan oleh khanif. Sebagai tukang ojek online maka pemuda itu sudah biasa ngobrol dengan penumpang nya.
Seperti biasa jam 8 pagi ia sudah standby di pangkalan ojek seperti biasanya tapi Herman dan Agus belum kelihatan, mungkin belum datang atau mungkin sedang mengantar penumpang.
Tiinggg, sebuah pesan masuk, ada sebuah order untuknya. Ia lihat dulu, titik jemput nya adalah perumahan Green House Tegal.
Tak pakai lama ia segera menuju tempat tersebut.
Dilihatnya seorang wanita cantik dengan rambut blonde yang seumuran dengannya dengan seorang anak kecil berusia 4 tahun sudah menunggu di depan sebuah rumah. Ia membawa map warna biru.
"Tujuan kita pengadilan agama di jalan Mataram dekat pasar sumur panggang ya kak?" Pemuda itu bertanya ingin memastikan.
"Aduh mas, jangan keras-keras, nanti tetangga tahu, malu ah."
Pemuda itu sedikit bingung, kenapa malu. Apa mbak Zahra (nama di aplikasi) ini malu karena naik ojek ya?
Baru setelah berpikir sejenak ia ngeh, kalo mau ke pengadilan agama pasti mau cerai, itu sebabnya ia malu kalo sampai kedengaran tetangga apalagi kalo tetangga nya itu mulutnya ember.
"Aduh punten kak." Jawab pemuda itu tersipu malu.
* * *
Sudah setengah jalan tapi aku masih belum menemukan momentum untuk membuka obrolan.
Sampai akhirnya motor berhenti di lampu merah dekat Pasific Mall. Lampu merah disini sudah terkenal lama karena memang lalu lintas nya padat.
"Sudah mau ketok palu ya kak?" Tanya anak muda itu hati-hati, kalo jawabannya datar apalagi tidak dijawab maka ia akan diam sampai tujuan.
"Masih beberapa kali sidang lagi."
Pemuda berusia 25 tahun itu lalu iseng bertanya tentang pengurusan sidang perceraian dan ternyata lumayan ribet plus makan duit juga
"Sudah ngga bisa dipertahankan lagi ya kak?"
Pertanyaan ini seolah membuat mbak Zahra meluapkan semua emosinya yang terpendam.
"Maaf nih mas, bagiku laki-laki itu cuma ada dua, kalo ngga bajingan ya homo."
Kerongkongan yang sudah kering karena panas jalanan menjadi makin kering mendengar pernyataan customer nya.
Karena khanif bukan gay, berarti ia bajingan dong di mata penumpang nya hahaha.
Mbak Zahra lalu cerita panjang lebar, mulai dari perkenalan nya dengan suaminya, yang ternyata hanya manis di lidah tapi ia tidak pernah memberi nafkah. Sudah begitu, uang yang ia dapatkan dari kerja pabrik dihabiskan oleh suaminya untuk selingkuh. Seakan itu belum cukup, suaminya punya hutang banyak akibat terjebak judi online, baik pinjol maupun sama tetangga sekitar sehingga ia malu. Soalnya suaminya berhutang mengatasnamakan dirinya. Stres makin bertambah ketika ia kena PHK akibat pabriknya sepi order.
Khanif manggut-manggut mengerti.
Zahra sebenarnya sudah bersabar apalagi ia sudah punya anak, tapi kelakuan suaminya tetap tidak berubah, suka selingkuh dan ngeslot membuat ia habis kesabarannya.
Sebenarnya mereka sudah lama berpisah tapi baru sekarang ia urus perceraian karena baru sekarang ia punya uang hasil ia jualan kue depan rumah nya.
"Jujur ya mas, bukannya sombong sebenarnya sekarang sudah ada beberapa lelaki yang mendekati ku. Kalo mau sama aku maka aku kasih syarat: harus mau terima anakku dan juga harus punya modal dan pekerjaan. Kalo cuma modal tampang doang mah aku ngga mau."
Pemuda itu hanya diam mendengarkan tapi mengakui kalo Zahra memang cantik biarpun sudah punya anak.
" Soalnya sekarang banyak lelaki mokondo, modal wajah gagah doang. Kalo nanti dapatnya model begitu lagi, mendingan aku open BO aja di michat."
Sebagai lelaki dewasa tentu saja khanif paham biarpun ia belum pernah berumah tangga. Tapi yang ia khawatirkan bagaimana kalo anaknya yang ikut bonceng nanti bertanya di rumah.
Mamah, open BO itu apa sih.
Mamah, mokondo itu apa.
Mokondo itu nama pasta gigi nak.
Itu mah Kodomo!!!
* * *
Wanita single itu lalu melanjutkan ceritanya." Sekarang kalo ada yang mau sama aku, langsung aku sodorin biayanya. Biaya buat sekolah anak, biaya buat makan dan biaya buat perawatan. Kalo ngga mau ya skip aja."
"Aku matre ya mas?" Tanya nya tiba-tiba.
"Ah enggak kak." Jawab pemuda itu cepat-cepat."menurut ku realistis, zaman sekarang kan apa-apa butuh uang. Lagipula kakak sudah punya anak jadi wajar karena kebutuhan banyak."
"Iya mas, sekarang aku jualan susu murni sama bolu kukus di Pasar Esuk Tegal untuk kebutuhan sehari-hari dan juga perawatan."
Calon janda itu lalu lanjut cerita." Tahu ngga mas, suamiku itu dulu suka menghina ku karena aku gendut dan juga hitam katanya, ngga bakal laku dengan laki laki lain. Dulu berat badanku emang 70 lebih, sekarang cuma 58. Kulit ku juga sekarang putih bersih kan."
Tukang ojek itu tentu saja kaget tapi salut dengan tekad nya untuk mengubah penampilan jadi lebih baik.
Obrolan mereka terus berlanjut sampai tak terasa akhirnya tiba di tempat tujuan.
Banyak wanita muda yang keluar masuk gedung sambil membawa map, sama seperti penumpang nya itu. Pasti berat di usia muda menjadi janda.
Zahra lalu turun dengan anaknya.
"Ongkosnya 17 ribu kan mas, ini 20 ribu, sisanya buat mas aja."
"Matur nuwun kak, semoga sidangnya cepat selesai dan semoga kakak dapat pengganti yang lebih baik."
"Amin, semoga mas juga banyak rejekinya."
Tukang ojek itu lalu pergi.
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk, ternyata ada pesanan lagi. Penumpang nya adalah seorang ibu separuh baya.
Baru lima menit ibu itu sudah cerita." Mas tadi lihat rumah warna biru yang masih ada tenda hajatan nya ngga?"
"Iya Bu, kenapa?"
"Itu si Nindi sudah hamil duluan maka kemarin buru-buru di nikahin sama bapak nya sebelum perutnya makin besar. Padahal dia baru kelas satu SMA lho."
Ibu itu lalu bicara panjang lebar tentang tetangga nya.
Dan motor pun terus melaju.
TAMAT

Posting Komentar