Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengantarkan pesanan

 


"Mas Herman kesini dong."

Begitu membaca chat kekasihnya itu biarpun Herman capek habis pulang kerja dan sedang santai untuk istirahat tapi ia langsung ke rumahnya. Kebetulan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh sehingga tidak memakan waktu.

"Ada apa dek, kok sepertinya penting sekali?" Tanyanya. Tumben sekali Ningsih memintanya datang malam hari begini. Ia memang baru pulang habis Maghrib, maklum kena macet di jalan. Apa mungkin sedang ada masalah, karena ia memang tidak pernah memanggil kecuali jika ada yang penting atau jangan-jangan ia ingin ketemu hanya karena kangen dirinya hehehe.

Begitu sampai di rumahnya, dilihatnya ia sedang gelisah di teras rumah. Tentu saja ia jadi ikutan deg degan juga. Wah, apakah Agus mengganggu nya, kurang ajar kalo begitu, pikir Herman yang melihatnya sebagai saingan dalam asmara.

"Ada apa dek, kok sepertinya kamu khawatir? Apa ada yang mengganggumu?"

Ningsih yang sedang berdiri terkejut tapi lega ketika ia melihat kekasihnya datang.

"Syukurlah mas Herman datang. Memang ada yang menggangguku mas."

Pemuda itu tentu saja terkejut bukan main. Ternyata benar dugaannya." Waduh kurang ajar tuh Agus, akan aku hajar dia sekarang."

Gadis muda itu tentu saja terkejut." Lho kok Agus?"

"Lha, kalo bukan dia, memang siapa yang mengganggu kamu dek?"

Ningsih geleng-geleng kepala, ia tahu pacarnya itu tidak suka dengan nya." Aduh mas, ini tidak ada hubungannya dengannya. Lagipula aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa."

Herman jadi nyengir karena salah sangka." Iya deh mas salah, maafkan mas ya dek. Ngomong ngomong memang apa yang mengganggu mu?"

Jika dalam keadaan lain mungkin gadis itu ngambek karena kekasihnya meragukan dirinya, tapi karena ada hal lain yang lebih penting maka iapun mengabaikan." Ini lho mas, sudah tiga hari terakhir ini, tiap jam 9 malam ada yang menelpon ku."

"Siapa yang menelepon?"

"Entahlah, aku tidak kenal. Awalnya aku kira ia pembeli yang ingin membeli kue dagangan ku karena nomor itu memang khusus buat jualan online. Tiap aku angkat dan jawab teleponnya tidak ada suara, serem pokoknya. Tiap aku putuskan maka beberapa menit kemudian ia menelpon lagi dan masih tanpa suara." Jelasnya dengan wajah ketakutan.

"Coba aku lihat nomornya."

Ningsih lalu memberikan smartphone miliknya. Herman memperhatikan nomornya, sebuah nomor dari operator seluler yang hanya 10 angka, mungkin nomor lama, tapi mengapa ia iseng mengganggu Ningsih, kurang ajar betul. Tapi pemuda itu hanya tersenyum, ia mengutak-atik hape itu dan menyerahkan lagi kepada pacarnya.

"Sudah, ia tidak akan bisa mengganggu mu lagi dek. Nomornya sudah aku blokir. Selamanya ia tidak akan bisa menelpon ataupun SMS kamu kecuali blokirnya dibuka."

"Sudah mas, aku sudah blokir nomornya sejak pertama ia nakutin aku, tapi tidak mempan."

Tentu saja anak muda berusia 25 tahun itu terkejut." Ah masa sih?"

"Kalo tidak percaya, silahkan mas Herman tunggu saja, sebentar lagi juga ia akan menelpon. Tapi mudah-mudahan saja memang nomornya sudah ke blokir oleh mas tadi."

Pemuda itu melihat jam tangannya, kurang beberapa menit lagi memang pukul 21.00.

Benar saja, tak lama kemudian ada telepon masuk, padahal jam 9 malam masih beberapa menit lagi. Herman yang penasaran segera saja mengangkat teleponnya.

"Hei, kamu jangan ganggu berani ganggu pacar saya lagi ya." Bentaknya pada sang penelepon.

Terdengar suara wanita kaget disana." Maaf kamu siapa ya, kenapa hape Ningsih ada sama kamu, dan apa maksudnya aku mengganggunya." Suaranya seperti wanita separuh baya.

Herman tentu saja naik pitam." Aku ini pacarnya Ningsih tahu, kenapa sih kamu suka menerornya, ayo jawab."

Suara wanita diseberang sana langsung meninggi." Siapa yang menerornya, aku cuma mau bilang besok tidak usah mengirim kue dulu karena toko ku tutup karena aku ada perlu penting."

Apa...! Tentu saja Herman jadi bingung dan panik, jangan-jangan ini langganan pembeli dari pacarnya. Ia lalu memberikan kepadanya.

Segera saja terjadi percakapan dan Ningsih beberapa kali minta maaf karena ternyata salah pengertian. Untunglah setelah dijelaskan dengan sabar oleh dirinya, wanita diseberang sana mengerti.

"Ia Bu Lisa, pemilik toko di kampung sebelah yang sudah jadi langganan saya. Untung berhasil aku jelaskan tadi. Kalo tidak, katanya aku disuruh cari pacar lagi, jangan mau sama cowok galak." Katanya sambil tertawa.

Herman tentu saja mukanya jadi merah. Beruntung Ningsih mengademkannya dengan bilang tidak apa-apa.

Tak lama kemudian muncul telepon lagi. Pemuda itu langsung mengangkatnya dan berkata sopan." Selamat malam, ini dengan siapa?" Karena nomor yang masuk tidak ada namanya, hanya berupa angka.

Tak ada suara apapun yang terdengar. Anak muda itu mengaktifkan loud speaker, tapi yang terdengar hanya suara seperti orang menyapu halaman dengan sapu lidi.

Srak srak srak...

Siapa pula yang menyapu malam malam begini, kurang kerjaan apa.

Tentu saja Herman jadi merinding juga apalagi ketika dilihatnya kekasihnya itu sudah pucat mukanya. Segera saja ia matikan telepon itu.

Belum sempat berpikir hapenya berdering lagi dari nomor yang sama. Dari awalnya takut pemuda itu jadi naik pitam, harus jaga gengsi didepan pacarnya dong.

"Halo, dengan siapa ini?"

Ajaib, kali ini ada suara yang menyahut, suara seorang lelaki agak tua." Saya Dadang, ingin beli kue dan tolong diantarkan sekarang uhuk uhuk..." Ia menyebutkan kue apa dan juga alamat sebuah desa disertai suara batuk batuk lalu telepon pun terputus.

Kebetulan kue yang dipesannya ada. Ketika ia cek di google maps ternyata tidak terlalu jauh walaupun tak dekat juga.

"Tak usah digubris dek, biarkan saja." Kata Herman ketika melihat kekasihnya itu diam saja.

"Kurasa sekarang kita harus kesana mas."

Hah, tentu saja ia kaget. Untuk apa mengantarkan kue kesana, mana sudah malam pula jam 9 lewat.

"Aku ingin tahu seperti apa mereka mas, kenapa mereka iseng sekali dan kalo bisa meminta agar jangan menelpon ku lagi, apalagi malam hari begini."

"Apa tidak sebaiknya tunggu besok saja, ini sudah malam lho." Katanya mengingatkan.

"Mas Herman takut ya?"

Di skakmat seperti itu tentu saja pemuda itu langsung dongkol. Segera saja ia menyanggupi.

Lima belas menit kemudian mereka sudah menuju desa yang dituju. Kampung itu sudah sunyi sepi, hanya satu dua orang saja yang ada di luar rumah.

"Sepertinya di perempatan jalan ini kita belok kiri ya?" Tanya herman pada pacarnya, dilihatnya suasana sunyi sepi, hanya bunyi jangkrik yang terdengar karena kiri kanan hanya kebon saja.

"Kayaknya sih begitu mas."

Motor Nmax milik pemuda itu jalan kembali. Ternyata dari perempatan jalan itu tidak terlalu jauh, hanya 500 meteran sudah tampak sebuah bangunan yang berdiri sendiri, tak ada yang lainnya. Rumah itu sendiri memiliki gaya klasik seperti di film film Suzanna tahun 1980an. Cukup besar dan megah walaupun catnya sudah pudar semua, sungguh tempat yang cocok buat uji nyali. Pintu pagar tampak terbuka, mungkin sudah tahu akan ada tamu yang datang.

Walaupun agak bimbang karena pencahayaan lampu yang temaram di teras rumah. Kiri kanan rumah hanya tampak kegelapan malam.

"Mas, kita pulang saja yuk." Kata Ningsih sambil tangannya memegang erat tangan pemuda itu. Herman sendiri sebenarnya agak takut juga tapi demi jaga gengsi lelaki ia menggelengkan kepalanya walaupun dalam hati ia sebenarnya gemas juga pada pacarnya, sudah dibilang waktu di rumah tapi tetap ngeyel pergi.

"Sudah tanggung, biar aku yang bicara sama mereka, kamu tunggu saja di motor ya."

Gadis muda itu menggeleng, di jalan sendirian, mana daerah asing lagi. Lebih baik berdua bukan.

Srak srak srak...

Tiba-tiba terdengar suara seperti orang menyapu halaman. Sontak mereka berdua menengok ke sumber suara, dalam kegelapan malam tampak seorang wanita sedang menyapu memakai sapu lidi, cuma karena agak jauh dan gelap jadi tidak terlalu kentara, apakah ia muda, dewasa atau sudah tua.

Edan, malam malam begini menyapu. Sungguh seperti tidak ada pekerjaan saja.

Pintu rumah tiba-tiba terbuka dan seorang lelaki separuh baya berdiri di belakang mereka, wajahnya tampak kaku, pakaian nya juga tak kalah dengan rumah miliknya yakni pakaian tempo dulu seperti di film Suzanna. Tentu saja kemunculannya bikin mereka berdua kaget bukan main.

"Se..Selamat malam, apakah bapak pak Dadang, kami datang untuk mengantarkan pesanan anda." Entah dapat kekuatan darimana, Ningsih bisa bicara juga.

"Silahkan masuk." Tuan rumah mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk dengan membuka pintu lebih lebar, suaranya terdengar agak kaku.

Herman dan Ningsih saling berpandangan, sebenarnya mereka enggan tapi pembeli harus diperlakukan dengan baik bukan. Ingat, pembeli adalah raja, asal jangan raja ngutang saja.

Mereka berdua lalu duduk di sebuah sofa yang empuk biarpun desainnya agak jadul. Ada sebuah lukisan dinding yang mengingatkan Herman pada lukisan milik kakeknya di desa.

Setelah menyerahkan paket kue dan menerima pembayaran maka mereka berdua lalu meminta diri.

"Tunggu dulu, kalian sudah capek jauh-jauh datang. Cicipi dulu makanan istriku, aku yakin kalian lapar bukan karena jaraknya jauh." Tuan rumah mencegah.

"Ah tidak usah pak Dadang, kami tidak lapar karena sudah makan sebelum berangkat kesini tadi." Jawab Herman, tapi sialnya tiba-tiba perutnya berbunyi keruyukan karena memang sejak pulang kerja tadi ia belum makan, bedebah.

Hehehe... Pak Dadang tertawa." Tak usah sungkan, masakan istriku sangat enak, aku yakin kalian akan ketagihan nanti. Lastri, cepat kesini. Siapkan hidangan untuk anak-anak ini."

Seorang wanita muda berusia 25 tahun keluar sambil membawa masakan di atas nampan. Kalo saja tuan rumah tidak bilang istrinya pasti pemuda itu menyangka dia anaknya. Nampan itu berisi beberapa makanan yang masih hangat, terlihat dari asap yang mengepul. Ia kah yang menyapu tadi di halaman rumah?

Karena tuan rumah memaksa, akhirnya mereka berdua terpaksa makan, mana perut belum diisi lagi. Tak heran Herman yang tadinya sungkan malah balik menyantap makanan dengan lahap, tak terasa sudah habis dua piring, kalo tidak malu sebenarnya ia ingin nambah lagi. Ningsih sendiri hanya makan sekedarnya saja.

Akhirnya mereka berdua lalu pulang. 

"Enak juga makanan tadi ya, tidak kalah dengan rumah makan di puncak."

"Enak sih, tapi entah mengapa perasaanku kok tidak enak mas."

"Ya memang sih, aku juga tadinya begitu, tapi ternyata mereka baik, tidak seburuk yang aku duga."

Gadis itu sebenarnya ingin mengangguk tapi urung ketika ia melihat sesuatu yang janggal." Mas, perasaan waktu kita berangkat tadi tidak lewat kuburan kan?"

Mendengar hal itu pemuda itu terkejut, lebih terkejut lagi ketika ia lihat kiri kanan jalan ternyata pemakaman umum yang luas. Buru buru ia kebut motornya.

Akhirnya sampai juga mereka di rumah penduduk. Dua tiga orang tampak duduk bermain kartu di poskamling, sedangkan ada juga yang sedang asyik ngobrol.

"Wah, anak zaman sekarang memang kalo pacaran itu suka kelewatan, sampai tengah malam begini." Tegur seseorang yang memiliki wibawa, mungkin ia ketua pemuda atau RT kali, usianya sekitar 40an.

"Maaf pak, kami memang pacaran tapi baru jam 9, rasanya belum tengah malam."

"Jam 9 kepalamu, ini sudah hampir jam satu, enak saja dibilang masih jam 9."

Mereka berdua tentu saja terkejut, Herman buru buru melihat jam di ponselnya, memang benar pukul 00.47. bagaimana mungkin, mereka cuma berbicara dan makan sebentar saja, tidak sampai setengah jam, kok dari jam 9 tahu-tahu sudah tengah malam.

Karena takut akhirnya Herman lalu bercerita terus terang kalo mereka baru mengantarkan pesanan di sebuah rumah yang ada di seberang sana. Tak lupa mereka menceritakan ciri-ciri orang dan juga tempat tinggalnya.

Mendengar ceritanya, salah seorang yang sudah tua geleng-geleng kepala." Kalian ini dikerjai hantu pak Dadang dan Lastri istrinya."

"Hantu?" Tentu saja Herman dan Ningsih terkejut bukan main.

"Iya, dulu 40 tahun lalu disana itu ada sepasang suami istri. Biarpun Lastri tampak muda tapi sebenarnya umurnya sama dengan Dadang suaminya. Konon istrinya memiliki pesugihan agar awet muda, sedangkan suaminya minta kekayaan tapi ada syaratnya yakni harus memberikan korban, entah benar atau tidak. Beberapa pemuda ditemukan mati dengan tidak wajar. Warga desa yang marah lalu membakar kediaman mereka disana itu dan suami istri itu tewas terbakar disana." Ujar kakek yang bercerita sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Ah masa sih pak, tapi kenapa mereka masih mengganggu?"

"Entahlah, tapi ada kabar kalo tumbal nyawa yang harus mereka dapatkan berjumlah 40, sedang korban yang selama ini ada belum sampai segitu jadinya mereka gentayangan cari mangsa terus. Tiap orang yang kesana biasanya jadi tumbal mereka tidak bisa keluar rumah, kalo yang bisa keluar biasanya sakit perut. Kalian beruntung bisa keluar dan tidak apa-apa."

Makin merinding mendengarnya, akhirnya mereka berdua lalu permisi pamit. Dan benar saja, begitu sampai di rumah Ningsih, mereka mengalami sakit perut sangat hebat.

TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

111 komentar untuk "Mengantarkan pesanan"

  1. mas agus....duh....ini nita baca hampir pukul 24.00 nih suguhannya horror...😱😳😭👻

    #uji nyali kan mbul hahhahahahhaha

    mas mas...ini mbul penasaran penganan apa tuh yang dibawain lastri istri pak dadang, kan pinisepuh bilang kalau ditawarin makanan sama orangvasing terlebih malam (malamnya dimensi lain) jangan mauk, ni pasangan so sweet forever always herman ningsih kok akhirnya mau...mungkin ga enakan ya jadi mau nyomot makanannya..tapi untung aja bisa keluar dari itu rumah, kalau nda keesokan harinya akan eng ing eng...hiiiyyy sweremm

    #bismilah yaaa jadi pertamax si mbulnya semoga aman jaya hihihi 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau siang rumahnya nggak kelihatan mbul ..🤣🤣🤣

      Menu makanannya mungkin Jantung Bebek Mercon.🤣😋

      Makanya keduanya pulang pada sakit perut..🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    2. Sengaja publish nya tengah malam biar lebih syahdu bacanya mbul.😱

      Kurang tahu penganan apa yang dibawa Lastri sama Dadang, nanti tanya herman saja kalo datang.😄

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Mungkin bukan oseng mercon mbul tapi gethuk lindri.😁

      Hapus
    5. bisa jadi kak agus 😁🙃

      Hapus
    6. Wah emotnya keren bisa nyengir sambil mendelik gitu.😱

      Hapus
    7. mie nyemek kali menunya :F

      Hapus
    8. Mie nyemek itu mie kayak apa sih?

      Hapus
    9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Jeng jengg.. udah feeling feeling bahwa ini cerita horror dan beneran dong 😂
    Aku kebayangnya apa yang dimakan sama Herman dan Ningsih itu binatang mati atau daun mentah gitu kayak di film-film 🤮.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cacing raksasa yee Huuu..😂😂

      Hapus
    2. Cacing raksasa mah punya kang satria.😁

      Hapus
    3. Iya, kalau nggak cacing, kepala monyet kayak yang di cerpen Kak Agus waktu itu 😂

      Hapus
    4. Kepala monyet? 🤔

      Memang aku pernah bikin cerpen seperti itu ya, kok aku malah lupa.😂😂😂

      Hapus
    5. yang nulis pake kepala monyet itu bukankah karangannya simpleman sang penulis cerita viral kkn desa penari 😉

      Hapus
    6. Walah, salah kira aku 🤣 terbiasa baca cerpen Kak Agus jadi ingatnya baca di sini 😂
      Moon maap salah ternyata, kabur dulu kalau gitu hiahahah

      Hapus
    7. Oh ternyata KKN desa penari ya, pernah baca sih cuma ngga semuanya, sepotong-sepotong gitu jadinya ngga tahu kalo ada kepala monyet.😂

      Hapus
  3. Tumben komedinya sedikit 🤣
    Cuma bagian ini Herman ngaku sudah makan tapi malah nambah dua piring ya, malah mo nambah lagi yg ketiga piring 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nambah 2 piring campur cacing, Kelabang sama kalajengking yee huu...🤣🤣🤣


      Berati hebat si Herman perutnya anti mainstream.🤣🤣🤣

      Hapus
    2. Sengaja dikit saja humor nya soalnya kan genre-nya horor. Tapi bener juga kata kang satria, perut Herman anti mainstream banget soalnya mau nambah lagi bininya eh makannya.😁

      Hapus
  4. Cerita dari Herman dan Ningsih yang terus berlanjut. Pasti selalu ada kocaknya haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih ada kocaknya, bagian mana ya? 🤔

      Hapus
    2. Bagian pas baju komeng sobek2 mungkin 🤣

      Hapus
    3. Oh pas Komeng naik buraq itu ya kang jaey.😆

      Hapus
  5. Seraaaammm untung saya bacanya dah pagi..
    Jd kebayang2 apaaa yg mereka makan malam itu di rumah pak Dadang & Lastri??
    Hiiihhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin yang mereka makan Nasi bebek hitam khas Beb Mbul mbak Anis..🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    2. wow bebek hitam ala beby mbul van helen 🦆🦆🦆 dibawa bawa? harus bayar royalti ni kang satria wakkakakakkak

      intinya siang hari rumah pak dadaaaang ga kelihatan tapi kakau malam hari kayak rumah pondok indah...(bayanginnya sih semegah ituw)

      Hapus
    3. Kayaknya bukan rumah pondok indah, kurang serem itu mah, lebih serem lagi rumah calon mertua.😱

      Hapus
    4. ah bagaimana mungkin Mbak Mbul tega memberikan resep pamungkasnya pada para demit?? Wong saya aja baru daftar jadi murid belum dibocorin resepnya lhoo

      Hapus
  6. Langsung klik dan baca, ngga nyadar kalo ujungnya horor, walau ngga terlalu serem sih.

    Saya juga pernah tuh, dapat telpom nomor tak dikenal. Pas diangkat ngga ada suara. Biasanya kalo dan sebel langsunv saya blokir. Untungnya ngga pake horor kaya Ningsih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo aku juga pernah dapat telepon iseng yang horor, suruh kirim uang 20 juta buat pajak hadiah mobil Avanza.😱

      Hapus
  7. Kok malah komentar-komentarnya yah yang lebih merinding dibanding cerpennya 😅.

    BalasHapus
    Balasan
    1. komentar komentar di blog mas agus selalu imajinatif ya mba rini....😂🤭

      Hapus

    2. Iyaa mungkin juga banyak demitnye kali yee mbul jadi imajinatif..🤣🤣🤣

      Hapus
    3. Ini demitnya datang.😁

      Kaboorrr 🚶🏃💨

      Hapus
    4. maksdunya atasnya mas agus pas gitu ya? kang sa...tria dong hohohow hahahha

      Hapus
    5. Bukan aku yang bilang kang Satria demit lho.🙄

      Hapus
  8. Wah ternyata hantu dadang yang pesan kue. Kalau begitu Herman n Ningsih dikasih makan apa ya sama hantu Dadang dan Lastri? Kasihan sampai perutnya sakit. Apa makan kembang ya mereka kayak Suzanna dalam film?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya bukan makan kembang tapi makan sambel mercon makanya sampai sakit perut.😂

      Hapus
  9. Udah lama nggk mampir sini.. hai mas agus.. sehat kah??
    Lohh kok seram amat Mas Agus.. aku nggk mbayangin nek ceritanya bakal jadi seram. Heheh. Tak sangka pengen romantis2an itu si ningsih.. heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yang kangen cerita horor makanya edisi kali ini agak serem mas Bayu.😄

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Oke tunggu saja, ini lagi bikin yang baru cuma lama, maklum banyak kesibukan sama Rongdo.😂

      Hapus
    4. ckckkck...

      eh salah deng yang kemaren kangen cerita horror mas eko pranoto hhahahah

      Hapus
  10. ehh sumpah deh aku baca komen mba nita ga jadi lanjut baca deh, besok pagi aja hahahaha
    lahh labelnya cerpen, pasti bukan horor kalau gitu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja label nya belum dikasih cerpen horor biar yang baca ngga seram duluan.😄

      Hapus
  11. kirain romantis, ternyata ada hal hal serem.....

    mantul..... have a nice weekend

    BalasHapus
  12. Bener kan jebakan batman. Apa gw bilang 🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat anda dapat hadiah motor beat di dealer terdekat, jangan lupa bawa uang 15 juta.😂

      Hapus
  13. pfhhttt capek ya si herman sama ningsih tuh pasti, kayak dikejar kejar sama sapi hehehe
    lahh dari jam 9 tau tau jam 1 dini hari. kalau aku udah pasti gemeteran juga pas tau kalau rumah pak dadang sebenernya nggak ada
    si Ningsih ini baik banget, ada konsumen malam malam pun ya tetep dianterin
    memang kita harus baik sama pembeli, karena pembeli adalah raja , iya kan mas agus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar pembeli adalah raja asal jangan raja ngutang sama hantu saja ya mbak.😄

      Tenang mbak, biarpun Ningsih begitu Herman tetap setia kok.😁

      Hapus
  14. Haii, Om Agus. Piye kabare 😁
    Aku baca ini di sore hari lagi seendirian di rumah dong, jadi serem sendiri wwkokwk

    Aku mau komen di bagian Herman yg angkat telepon, langsung marah-marah. Ga taunya bukan yg menerornya, melainkan si ibu yang mau berurusan tentang dunia per-kue-an yaak hahaha
    Kasihan Herman, untunng ibu itu bisa menerima penjelasan Ningsih 😁😁

    Terus, ini pak Dadang siapa? Apa Pak Dadang Dewa Kipas yaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah masa sih serem sendiri, kirain serem rame-rame mas.😁

      Kayaknya pak Dadang itu nama lengkapnya Dadang Nugraha.😂

      Hapus
  15. standing applause dulu sama cerpen ini
    eh aku merinding lo
    apalagi pas baca 40 tumbal memang kadang ada kejadian mirip kayak gini engga bakal berhenti kalau belum pas

    dan kadang dininabobokkan soal waktu yang sebenarnya
    kayak masih bentar eh ternyata udah lama
    bagus mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh memang daerah malang masih ada hal mistis seperti itu ya mas Ikrom? Nyari tumbal buat pesugihan?

      Hapus
  16. serem banget mas agus ceritanya, gw sampei ketakutan bacanya meski siang-siang dan rame banget, apalagi di bagian 40 tumbal yang kurang itu jadi gentayangan, gw kira si herman dan ningsih akan jadi tumbal selanjutnya.. dan nanti setalh mereka jadi tumbal, cerpen selanjutnya akan berjudul, kisah cinta herman dan ningsih yang tak lekang oleh waktu meski mereka telah di tumbalkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti selanjutnya yang jadi lakonnya ialah mas khanif saja ya, soalnya Herman dan Ningsih sudah putus kontrak.😁

      Hapus
    2. berarti yang ke depan tokohnya mas khanif dan ceweknya miranda kali ya mas yang mirip asmirandah hahhahaha, biar mas khanif senang

      Hapus
  17. Saking asyiknya pacaran, jam 00,47 dikira pukul 9. He he ... Ceritanya menarik, Mas Agus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Atau mungkin waktu kita berbeda dengan waktu mereka ya,..heem, serem

      Hapus
    2. Sepertinya sih beda waktu ya kang kuanyu, soalnya kan disana beberapa menit tapi aslinya sudah berjam-jam.

      Hapus
  18. Wuaduh.. Jangan pernah ke sana Mas Agus.. Bisa-bisa jadi Tambal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Upsss.. Tumbal Maksud saya...

      Hapus
    2. Jadi tambal,..tambal ban ya mas Ancis 😃

      Hapus
    3. Ngga apa-apa, tambal ban juga banyak duitnya lho kalo laris.😄

      Hapus
    4. betul juga tuh..appaun kerjaannya yang penting khalal :-p

      Hapus

  19. Maaf, gak baca pek selesai ceritanya serem sih??

    BalasHapus
  20. Wow, serem juga nih ceritanya,..tapi ngomong-ngomong yang di makan herman sama ningsih itu apa ya,.mungkinkah,...heem, terasa enak katanya, uh serem,..di kehidupan nyata pernah nih kejadian dan sangat mengerikan, dulu saya pernah cerita mirip ini di kkn desa penari, dimana mereka makan kue hajatan, ternyata hajatan setan dan yang di makan tersebut adalah kepala kera,..mantap mas Agus, ceritanya mengalir, jadi enak bacanya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tahu juga yang dimakan Herman dan Ningsih itu apa, nanti kalo Herman datang tanya saja, tapi mungkin makannya ayam geprek yang sambalnya level 333 makanya pulangnya sakit perut.😁

      Hapus
  21. Wuaa sereeemmm 😭😭 td malem mau baca tp ga jd liat ada tag cerita horornya. Baru baca pagi2 n ttp aja bikin merinding. Klo di Padang, ada yg namanya orang bunian namanya Mas agus. Mereka suka ngebujuk orang buat ikut, dikasi makan keliatannya enak2 (padahal mungkn cacing n daun), trus waktunya juga ga kerasa kaya gini. Bisa hilang berhari2, padahal dia ngerasa cuma pergi bentar 😣😣 Untung Herman dan Ningsih selamat yaa.. Gpp lah sakit perut aja, dr pd dijadiin tumbal kaaann. Merinding 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kemarin malah belum ada tag horornya, sekarang baru ditambahkan.

      Iya sih, kadang ada juga cerita anak kecil yang diculik kalong wewe, katanya makan kue yang enak, padahal makannya itu yang serem.😱

      Hapus
    2. kalau yang ini kayak cerita hansel n gretel mas (*・ω・ノノ゙☆゚゚

      Hapus
    3. Hansel and Gretel itu yang tentang penyihir kan mbul? 🤔

      Hapus
    4. hu um mas....itu yang 2 anak kecil kakak beradik di hutan lihat rumah kue tahunya tu rumah punya nenek sihir. Tadinya adik kakak ini ditawari kue manis eeeh abis itu mau dimasak dalam kuali ama nene sihirnya mas
      >_______<

      Hapus
    5. Nenek sihirnya yang makan anak itu atas saya apa bukan? 🙄

      Kaboooorrr 🏃💨

      Hapus
    6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    7. eh salah....atas saya maksudku

      😂

      Hapus
    8. Atas saya.🙄

      Atas saya kan mbul, berarti benar dong.😁

      Hapus
    9. sekarang atas saya, berarti mas agus dong 😂🤣

      Hapus
  22. cerita hantu yaaaa.. apa yang dimakan sampai dua piring tu... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya itu sambel mercon level 333 makanya sakit perut.😂

      Hapus
  23. Takkira mau cerita cerita romantis penuh guyon. Weew ternyata hantunya pak dadang pesen roti. Pas! yang ngontrak samping rumah ibuk saya itu namanya pak dadang.
    Pasti besok aku kalo ke sana keingat ceritanya mas agus ini. Kalau pak dadang yg ngontrak dekat ibukku ini nyuguhnya cireng atau cincau. Soale dia jualan keliling gituan hehe gak bikin sakit peruut.
    Di cerita Ini horrornya tidak banyak bumbu bumbu konyolnya kayak sebelum sebelumnya, creepy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ngga nyangka yang ngontrak sama ibu mbak Dewi namanya sama pak Dadang, apa pak Dadang dewa kipas yang mahir catur?

      Hapus
  24. Kali ini aku merindiiiiiing hahahahah. Kirain bakal berakhir kocak kayak biasa. Mana bacanya sendirian pulsa :D.

    Serem amat udh mati juga masih minta tumbal :o. Jadi pertanyaannya, apakah yg dimakan Herman dan Ningsih????? :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, Mbak, apa yang dimakan Herman dan Ningsih. Mana Herman habis dua piring, lagi, itupun mau nambah sepiring lagi niatnya.🙈

      Hapus
    2. Mungkin ayam geprek makanya Herman pengin nambah lagi, tapi karena kepedesan jadinya sakit perut.😄

      Hapus
    3. Baca ini aku jadi lapar, mas. Pengen ayam geprek juga, tapi kok udah jam segini. Penjual ayam geprek udah pada tutup kalau malam gini sih. 😭😭😭

      Hapus
    4. Tenang mbak, rumah pak Dadang masih buka kok jam segini, mau nambah juga bebas.😱

      Hapus
    5. Ogaaaaaah 😱. Mas Agus aja deh yang ke sana. Biar kehidupan percintaan Mas Herman dan Mbak Ningsih lebih tenang dan bahagia. Hehehe.

      *Kaboooor 🏃🏃🏃

      Hapus
  25. Ngeri banget mas baca jam segini, sial bener perut Herman bunyi keroncongan dan gak bisa di bohongi kalo dia lapar, dan yang aneh nya mereka berapa jam makan dan ngobrol nya sampe larut malam.
    Oh iya emang kue yang di jual si Ningsih ini berupa apa ya mas, kok bisa ada stok nya sampe malam, haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kue kering kang Andy makanya biarpun sampai sebulan juga tidak basi soalnya sudah pakai formalin.😂

      Hapus
    2. Wkwkwkw hadehh...tapi Kan lebaran masih lama mas Agus, kok pesan nya sekarang ya. Haha

      Hapus
  26. Yaah ...aku telat datang komen.
    Ngga pas tengah malam *)

    Tapi ngga kalah serem juga dibaca sore hari gini ..., rada bikin jadi menciut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah masa sih mas Hino takut, bukannya sering melihat penampakan kalo jalan-jalan.😱

      Hapus
  27. Hantu Pak Dadang dan Lastri punya Hp juga menelpon dari alam lain :))

    Untung masih bisa keluar dari rumah itu ya, Man Herman. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya salah satu korban pak Dadang punya hape, jadinya hapenya disita pak Dadang dan buat nelpon cari mangsa baru.😂

      Hapus
  28. Hiiiii, ngeriiiiiii 😱. Ternyata Pak Dadang dan Lastri jahat ya, Mas... Duh, jangan-jangan Herman dan Ningsih dijadikan tumbal beberapa hari kemudian gimana, maaaaaas?? 😱😱😱

    Btw hantunya Pak Dadang keren, mas. Melek teknologi lho, dia. Sampai bisa telpon segala. 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, mbak Roem kan yang ngajari hape pak Dadang, masa lupa.😱

      Sebagai gantinya, mbak Roem dapat kiriman skincare baru tiap bulan.😁

      Hapus
    2. Jadi, selama ini yang kirimi aku skincare itu Pak Dadang??!. Oh nooooooo. Tak pensiun aja deh jadi beauty blogger. 😭

      Hapus
  29. terus jadinya gimana, mati beneran? hahaha ha.
    kok serem ya, untung bacanya di kamar, terus komennya pakai suara, hehehe.

    lagian udah tahu terlalu malam, tetep aja dianterin, pakai acara mau makan pula di rumah orang asing.

    terus tiba-tiba saya merinding dong, ternyata saya takut juga, hahaha.

    tapi serius loh, jangankan di malam hari, siang hari aja saya takut angkat telepon, apalagi malam , tanpa nomor yang jelas pula.

    yang ada, kalau bukan penipu, hantu deh yang telepon 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tahu Herman dan Ningsih mati apa ngga, takutnya sih gitu soalnya Herman nya belum nongol lagi.😱

      Kalo aku biasanya jika ada telepon asing masuk takutnya malah tukang kredit mbak yang neror minta setoran.😂

      Hapus
    2. Hahaha, bisa aja Mas, Kalau saya malah takut nanti yang nelpon para penipu. Tapi ngomong-ngomong kalau baca yang ini, jadi merasa mending ditelepon penipu deh daripada ditelepon hantu, hahaha.

      Hapus
  30. Jadi mereka udah masuk ke alam lain ya wkwkkw, cuma makan sebentar tiba2 udah hampir jam 1 pagi aja, ngeri amat.

    Btw yg dimakan mereka itu apaan mas? jangan2 ulet kaya yg di tipi2 itu

    BalasHapus
  31. Hantu pak dadang sungguh meresahkan ya, udah mati juga pake gentayangan. Seharusnya sebelum masuk tadi herman ngucap salam, kalau nggak dijawab berarti ada yang mencurigakan....
    Jadi inget kkn desa penari deh, karena mereka juga kan dikasih makan sama makhluk goib😱

    BalasHapus
  32. Untung bacanya siang bolong 😂

    Itu si herman makan sampe habis 2 piring pula. Apaan tuh ya yg dimakan

    BalasHapus
  33. Wow, asiknya nih cerita horornya kembali lagi hahahah :) Jadi apaan tuh yang dimakan Ningsih? Jangan2 ulat2 yang masih hidup wkwkwkwkw :) Ih, kayak disirep gitu ya nganterin pesanan plus makan2 n ngobrol tau2 udah dini hari. Kabooooorrrrrr!

    BalasHapus