Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah mencuri mangga

 


Pohon mangga punya pak haji Dahlan sedang berbuah lebat, hal ini menggoda trio sekawan Agus, Herman, dan Jaey yang masih bujangan tanggung. Maklum, di desa mereka sangat jarang ada pohon mangga, kalaupun ada biasanya sedikit buahnya, herannya tanaman milik pak haji kok tiap musim mangga suka berbuah banyak.

Karena buahnya bergerombol itu maka mereka menunggu pak haji lengah karena kalo minta ditolak, maklum ia terkenal pelit.

Sambil minum es limun di warung Bu Heni maka mereka menyusun strategi, tentunya sambil bisik-bisik karena takut ketahuan yang punya warung.

Malam harinya setelah jam 10 malam dan yakin pemilik rumah sudah tidur maka trio sekawan itu beraksi. Mereka lalu beraksi memanjat pohon tersebut. Biarpun agak susah karena tinggi tapi akhirnya berhasil juga, Agus dibagikan bawah untuk menangkap sedangkan Jaey dan Herman yang memanjat.

Mereka lalu segera memetik buah yang sudah matang. Sudah 10 mangga mereka ambil, Herman celingak-celinguk karena buah yang ada di hadapannya itu masih kecil-kecil semua, pemuda tanggung itu lalu melihat sebuah mangga yang besar tapi ada di ujung. Ia segera mengambilnya, tapi sayangnya malah jatuh ke bawah.

Sementara itu pak haji Dahlan sedang asik membaca buku. Tiba-tiba ia curiga mendengar suara benda jatuh di gentengnya. Segera saja ia keluar sambil membawa tongkat.

Melihat pemiliknya datang mereka segera saja kabur. Pak haji cuma bisa marah-marah karena ia kalah lari dengan ketiga anak nakal itu." Bocah sialan, memangnya kau pikir ini mangga nenek moyang mu apa asal main panjat saja "

Sambil terus lari Herman menjawab." Makanya pak haji, sediakan tangga biar kami gampang memanjat."

* * *

Esok harinya ketika satria pulang dari pasar ia penasaran melihat mangga ada di dapur. Maklum, buah itu jarang ada di daerahnya. Maka iapun bertanya pada anaknya Jaey.

Ketika tahu kalo buah itu dari pak haji Dahlan maka Satria pun lalu kesana. Bukan untuk meminta karena tahu pemiliknya orang tua yang pelit tapi untuk mencuri juga. Kebetulan rumahnya sepi sekali, ia segera saja naik ke atas. Karena sudah dewasa maka mudah saja ia naik.

Tapi belum sempat ia memetik satu mangga pun, pak haji sudah keburu keluar.

"Pencuri sialan, akhirnya kamu tertangkap juga." Teriaknya sambil mengacungkan tongkat ditangannya.

Mendengar teriakan tersebut Satria kaget. Segera saja ia meluncur kebawah, karena terburu-buru ia terpeleset dan hampir jatuh kebawah. Beruntung ia cukup sigap hingga tak jatuh.

Begitu sampai di bawah maka Satria langsung menampar orang tua itu." Kenapa pak haji teriak-teriak, kalo aku sampai jatuh dan luka memang mau ngobatin apa!!!"

Setelah itu Satria langsung pergi.

Pak haji hanya bisa mematung.

* * *

Karena kesal gagal mencuri mangga maka Satria tidak langsung pulang tapi keluyuran dulu. Saat ada di perempatan jalan ia melihat Dani, pemuda yang suka bikin onar di kampungnya, karena itu ia sudah dua kali masuk penjara.

Sebelum masuk penjara kedua kalinya, tubuh Dani mulus tanpa tato, tapi di tahanan kali ini ia merajah tubuhnya agar tampak menyeramkan. Salah satu tato yang dibanggakannya ialah tato naga yang ada warna merah di dadanya.

Sebenarnya Satria ingin menghindar tapi sayangnya sudah terlihat olehnya. Terpaksa ia berbasa-basi.

"Eh bang Dani. Tato apa itu bang?" Tanyanya, padahal umurnya lebih muda tapi ia memanggil bang.

"NAGA!!!" Bentaknya.

Mendapat bentakan seperti itu langsung saja Satria kabur. Dani hanya tertawa-tawa saja.

Tak lama kemudian lewat seorang pria berbadan tegap. Melihat seorang pemuda dengan badan penuh tato petantang petenteng di pinggir jalan maka pria itu pun berhenti.

"Tato apa itu." Tanyanya.

Dani melihat pria berbadan tegap itu, ia terkejut ketika melihat sepucuk senjata api ada di pinggangnya. Ternyata ia polisi yang sedang patroli.

"Tato.. tato cacing Ndan."

"Kenapa merah begitu?" Tanyanya lagi.

"Anu, habis minum obat cacing, permisi Ndan."

Setelah itu Dani langsung kabur.

TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

48 komentar untuk "Kisah mencuri mangga"

  1. Yah kegantung deh ceritanya. Gimana nasib Pak Haji? Masak gara-gara nggak memberi mangga yang belum matang dianggap pelit wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya memang sengaja dibikin menggantung kang.😄

      Hapus
  2. Saya sempat berharap Satria ngajak Dani buat berburu mangga juga, tapi keburu ciut duluan. Dani nya pun demikian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa satria bisa ciut duluan ya mbak, padahal cuma dilihatin tato doang.😂

      Hapus
  3. Di kampungku, tato di tubuh seseorang menandakan dia sudah pernah di penjara. Selamat malam, Mas Agus. Salam literasi untuk kita semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh berarti jika ada orang masuk penjara maka di rutan ia ditato ya Bu?

      Hapus
  4. Kirain Satria mau ngajakin Dani curi Mangga eh taunya cuma nanya Tatto. Ketika Satria yg nanya Dani jawabannya galak, ketika _Raimas Ambarita_ yg nanya Dani jadi ciut 🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    2. Kelihatannya sih mau ngajak nyuri mangga tapi sayangnya satria sudah kabur duluan.😂

      Hapus

  5. Lhoo harusnya judulnya Kisah preman bertato dan pencuri mangga.😁😁😁


    Berarti yang sukses mendapakan mangga curian si Jaey yee...Karena pas Satria pulang kerumah sudah banyak mangga didapur.🤣🤣🤣🤣🥭🥭🥭🥭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul juga ya, apa perlu ganti judul ya, tapi malas bikin gambarnya kang.😂

      Anaknya lebih sukses dari bapaknya.😁

      Hapus
  6. Tukang nyolong mangga sama pemiliknya masih lebih garang tukang nyolongnya ya, Mas. Kasihan itu Pak Haji kena tampar Mas Satria. Apa gak takut kualat ya, Mas Satria? 🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mirip dengan tukang utang mbak, kadang lebih galak yang ngutang dari pada yang nagih.

      Nah, itu makanya kualat dibentak sama Dani.😁

      Hapus
    2. Tapi kayaknya Dani kualat juga ya, habis bentak Mas Satria. Nampaknya Mas Satria ini orang keramat juga. 🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    3. Betul mbak, mas satria orang keramat, bahkan dulu punya blog yang namanya Satria Putra Keramat.😅

      Hapus

    4. 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄🙄🙄😳😳

      Hapus
    5. Benarkah begitu, Mas Sat? 🤭😂

      Hapus
  7. wuanjir si satria galak amat ya, ha-ha, pak haji di gemplang kepalanya padahal ia pencuri tapi yang paling asik tuh si dani, naganya kok tiba-tiba jadi cacing merah ya,..wkwkckk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah kang kuanyu, pencuri lebih galak dari pada pemiliknya.🤣

      Makanya Satria kualat kena bentak Dani.😂

      Hapus
  8. Sekali dibentak Dani, si Satria langsung kabur..wkwkwk..cemen.. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya cuma dibentak, tidak sampai digaplok seperti pak haji.😂

      Hapus
    2. Kalau sampai digaplok apes banget dia dan pasti langsung semaput..hihihi

      Hapus
    3. Begitu sadar Satria sudah ada di rumah pak haji.

      Ternyata Dani suruhan pak haji.🤣

      Hapus
  9. Lagi musim mangga, dimana2 pohon mangga berbuah lebat, tapi kok ya niat banget nyuri mangga jam 10 malem wkwk.

    Aku kesel ama Satria mas, lah dia maling kok malah marah2, lebih galak dia dari yang punya mangga, hadeh, tepok jidat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini ceritanya bukan lagi musim mangga mbak.

      Begitulah satria mbak, mungkin semalam ngga dikasih mangga sama Jaey anaknya.😂

      Hapus
  10. Mas agus, bujangan tanggung itu kayak gimana...? 😂😂

    Yang maling mangga dan yang punya mangga malah galakan yang maling. Yang penting galak dulu, walaupun salah..wkwkkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bingung juga bujangan tanggung itu kayak gimana.😅

      Benar mas, yang penting galak dulu, soal benar salah urusan belakangan.🤣

      Hapus
  11. wkwkwk kasian pak haji di tampar si satria, dia kan yang punya mangga masa mau di tampar, harysnya bales pak haji nanti jadi berantem di tempat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya anaknya pak haji yang namanya khanif yang berantem.🤣

      Hapus

    2. 🙄😳😳😳😳🤪🤪🤪🤪

      Hapus
  12. Hahahah lebih galakan malingnya dari pada pemiliknya..Ampun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting galak dulu, soal benar salah belakangan.🤣

      Hapus
  13. pak haji harus segera dinasehati,biar mangga cepet dibagikan jd gak perlu pada nyuri lagi hahaha

    BalasHapus
    Balasan

    1. Tul itu....Eehh berarti gue kiro donkk!!..🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    2. Nah, betul ini sarannya.😅

      Hapus
  14. sudah dicuri mangganya, ditampar pula....
    so sad.....

    BalasHapus
  15. tak bagus mencuri buah mangga...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendingan beli di pasar satu karung ya pak.😅

      Hapus
  16. baca komen atas saya aku kok ngakak ya mas...hahhaha..bisa ajah..mending beli mangga satu karung kata mas wkwkwkwk


    btw aku di sini agak ngikik baca kocaknya sifat satria dan bang dani hihi...ada ada aja bikin pengen ku ngelus dada..kok bisa begitu si satria manjat pohon malam malam hahhaha...

    maksudnya remajanya pada lucu lucu..uda akhil baligh masih penekan pohon mangga mas, kayak anak-anak..dulu mbul sering naik pohon juga sih, nyari buah buahan tapi seringnya jambu kluthuk tempat Mbah buyut ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Satria mah bukan remaja lagi tapi sudah kakek kakek, eh udah gede maksudnya, makanya tidak dapat buah mangga.😅

      Jambu kluthuk itu yang lebih banyak bijinya dari pada daging nya kan? 🤔

      Hapus
  17. Kasian Satria, ngebet banget sama mangga 😋😋

    BalasHapus
  18. Jadi pengen komen NEXT!
    macam di KBM hahaha.

    Terus kok saya jadi ngiler mangga ya :D
    Kebayang Satria bisa ambil mangga matang, terus saya minta deh, hahaha.

    Eh ga jadi ding, gimana kalau nantinya ternyata mangganya udah dipelet :D

    BalasHapus
  19. Gimaneee itu maling lebih galak dari yg punya 😅. Kasian amat si pak haji ditampar ih 😁. Haduuuh tapi gantung nih mas, padahal penasaran tindakan pak haji gimana abis ditampar satria 😄

    BalasHapus
  20. tato macan juga merah warnanya, apalagi kalo abis ujan2an.. wkwkwk

    BalasHapus
  21. satria gimana sih ga ada akhlak.. wakakakakak..
    masa yang punya pohon mangganya malah ditampar.. tercengang aku tuh. hahaha

    BalasHapus