Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Usul membuat rumah sakit khusus pejabat di saat Corona adalah ide bagus

 


Setelah capek pulang dari sawah maka Agus lalu leyeh-leyeh di teras rumah. Sebenarnya ia agak malas juga ke sawah biarpun waktu panen sudah dekat, apalagi sebabnya kalo bukan karena harga gabah kembali anjlok sehingga kalo dihitung dari ongkos dan hasil panen cuma cukup buat makan.

Saat sedang santai menikmati angin sore sambil minum kopi bikinan istrinya terdengar suara dari toa masjid mengabarkan kalo seorang warga meninggal dunia.

Innalilahi wa inailaihi rojiun, ucapnya. Ia kenal dengan orang yang meninggal itu, kadang ngobrol beberapa kali di warung kopi milik Bu Heni biarpun tidak terlalu akrab. Akhir akhir ini ia tidak kelihatan, kabarnya lagi sakit. Kena covid, begitu kata tetangga.

Akhirnya ia lalu masuk ke dalam membawa beberapa kilo beras plus kopi untuk diberikan kepada keluarga almarhum yang ditinggalkannya.

Esok harinya ia duduk santai depan rumah karena memang tidak tiap hari ke sawah. Jalan depan rumahnya sepi, padahal biasanya ramai oleh pedagang yang lalu lalang, baik itu tukang sayur, gojek, maupun warga kampung yang beraktivitas. Tentunya ini karena korona yang makin lama makin mengganas. Di berita ia lihat kalo banyak pasien tidak bisa ditangani dengan baik oleh tenaga medis yang sudah kelelahan. Banyak juga pasien yang terlantar bahkan ada beberapa yang dirawat di tempat parkir atau lainnya.

Update berita korona juga makin bikin parno, baik yang kena virus tersebut ataupun yang meninggal, makin naik tiap hari. Tak peduli rakyat kecil atau pejabat, semua bisa kena.

"Mas Agus, lagi ngapain?" Seseorang berseru dan ketika ia melihat ternyata Herman temannya. Ia memakai masker kain.

"Biasa lagi nyantai mas Herman. Kamu ngga ke pasar?"

"Sudah mas, tapi pembeli sepi akhirnya pulang." Jawabnya. Agus menengok dan memang sayuran miliknya masih banyak.

"Sekarang lagi ada PPKM darurat mas, jadi mungkin pembeli takut ke pasar biarpun kota ini tidak di lock down."

"Yah, apa boleh buat. Memang keadaan lagi begini." Katanya lalu selonjoran di lantai. Agus lalu berseru dan tak lama kemudian istrinya sudah datang membawakan sebuah teh manis untuk tamunya.

"Sekarang jualan juga sebenarnya aku agak ngeri Gus, takut ketularan covid gitu, cuma kalo aku tidak jualan siapa pula yang ngasih duit. Nanti anak istri tidak makan."

"Namanya juga rakyat kecil mas, yang penting hati-hati saja dan selalu jaga kebersihan biarpun kampung kita ini sedikit yang kena. Kalo jadi pejabat enak kali ya, biarpun kerjanya sebentar dan tidak capek tapi duitnya banyak. Biarpun mereka kena covid juga ada duit untuk berobat ke rumah sakit yang bagus. Lha kalo kita serba salah, ngga kerja tidak dapat duit, tapi yang parah kalo kena."

"Nah mas Agus, kebetulan ngomongin pejabat. Tadi aku baca berita di internet kalo ada seorang wakil rakyat yang mengusulkan bagaimana kalo di buat rumah sakit khusus pejabat. Apa ngga keterlaluan ini." Kata Herman yang memang hobi membaca berita di dunia maya. Ia memang hobi membaca bahkan seingat Agus, dulu kadang beli koran kalo ada berita ramai.

"Wah edan itu mah, masa pejabat saja dibikin rumah sakit khusus segala. Terus rakyat biasa tidak boleh berobat kesana gitu? Hanya khusus pejabat negara saja?"

"Yah kurang tahu juga, ini juga kan baru usul dan sudah mendapatkan reaksi keras dari masyarakat. Partainya juga buru-buru klarifikasi kalo itu adalah pendapat pribadinya, bukan suara partai. Menurutku usul itu ngga peka sama rakyat kecil." Ujar Herman sambil memperlihatkan smartphone jadulnya yang memuat berita heboh tersebut. Agus hanya geleng-geleng kepala saja membacanya.

"Lagi ngapain nih kalian." Seru seseorang. Ketika mereka berdua melihat ternyata Satria teman mereka yang berbicara. Ia memakai masker kain warna hitam tapi sudah agak kusam, mungkin karena sering dicuci.

"Biasa kang Satria, mas Herman lagi ngobrol berita terbaru yang lagi panas. Emang kamu ngga kerja kang?" Kata Agus, seingatnya temannya itu bekerja di pabrik.

"Enggak Gus, pabrik sementara off dulu karena order turun drastis. Emang ada berita hot apaan sih? Apa ada artis terkena prostitusi online?" Katanya penasaran.

"Bukan itu kang, yang hot bukan itu. Kenapa kang satria mikirnya hanya itu saja sih kalo ada berita panas. Jadi begini, ada seorang pejabat mengusulkan agar dibikin rumah sakit khusus untuk pejabat saja. Apa tidak gila ini, rakyat kecil mah berobat juga susah payah, bahkan kadang juga dirawat di pelataran rumah sakit padahal sama-sama bayar. Ini maunya kok buat khusus pejabat negara saja. Tidak peka dengan penderitaan rakyat kecil" Kata Herman berapi-api. Maklum ia beberapa hari mengantar pamannya ke rumah sakit dan ditolak karena sudah penuh. Akhirnya pamannya di rawat di rumah saja, untungnya bisa sembuh.

Satria duduk lalu nyeruput kopinya tuan rumah. Agus masuk ke dalam lalu keluar sambil membawa segelas kopi.

"Makasih Gus." Ujar Satria." Memang beneran berita itu atau cuma berita tidak jelas?"

"Beneran kang, nih baca sendiri di portal berita online. Website ini mah sudah pasti jaminan kalo beritanya benar." Herman lalu memberikan hapenya. Satria manggut-manggut sambil membaca.

"Wah ini ide yang brilian. Membuat rumah sakit khusus pejabat di saat pandemi ini adalah ide bagus lho. Bagi yang mengkritiknya bahkan nyinyir itu berarti mainnya kurang jauh."

Tentu saja Agus dan Herman jadi kaget. Temannya malah setuju bahkan menyebutnya ide brilian, dasar gendeng batin mereka.

"Bagus gundul mu kang. Ini kan namanya tidak paham dengan kesengsaraan rakyat, maunya di istimewa kan saja, atau jangan-jangan kang Satria ini mau jadi pejabat nih, makanya malah dukung."

Satria santai saja diprotes temannya. Ia minum kopi dulu baru jawab." Lha mana mungkin aku jadi pejabat, tapi aku dukung gagasan tersebut bahkan heran kenapa ide bagus seperti ini baru ada yang mengusulkan sekarang."

Herman dan Agus hanya nyengir saja diberikan alasan seperti itu, kesambet dimana nih orang kenapa malah ngacau begini ngomongnya.

Melihat reaksi dua temannya maka Satria tahu kalo mereka tidak puas." Oke teman-teman, akan aku jelaskan kenapa gagasan ini aku sebut bagus. Nah kalian tahu bukan kalo tetangga kita dulu ada yang nyaleg tapi akhirnya gagal, padahal ia sudah keluar uang ratusan juta untuk kampanye. Ia kalah dan akhirnya stress. Jadi pejabat itu tidak mudah, dari awal sudah susah, itulah sebabnya kalo sudah diangkat jadi pejabat mereka harus diistimewakan, apalagi yang di Senayan sana, itu lebih susah lagi."

Agus hanya diam sambil nyeruput kopinya, sedangkan Herman cuma mesem-mesem saja.

"Selain itu perlu diingat kalo jadi pejabat itu bebannya berat, mereka harus bertanggung jawab memikirkan rakyatnya, bahkan saking beratnya, sampai saat rapat pun kadang mereka ketiduran karena kelelahan mengurus rakyat. Merekalah garda terdepan dalam mengurus masyarakat, selalu dekat dengan rakyat biarpun hanya saat kampanye. Menolong masyarakat yang kesusahan, belum lagi kalo mereka studi banding keluar kota atau luar negeri, duh capek lho. Tak heran kalo mereka jatuh sakit saking capeknya mengurus rakyat. Kalian berdua yang cuma kerjanya ke sawah sama ke pasar itu mah tidak akan kuat."

Sueee, maki mereka berdua.

"Nah, karena itulah saat sakit mereka harus diistimewakan, di buat rumah sakit khusus pejabat, biar mereka bisa tenang berpikir untuk kepentingan rakyat walaupun tidak ada aksi, coba bayangkan kalo sampai ada pejabat negara yang mati di jalan atau meninggal karena IGD sudah penuh, lalu jadi berita dan viral. Bisa malu pemerintah kita, negara lain akan mencibir kita, ngurus pejabat yang sedikit saja tidak becus, bagaimana mengurus rakyat kecil. Karena itulah agar pamor pemerintah baik, harus dibuat rumah sakit khusus untuk mereka."

"Kalo bikin rumah sakit mah aku setuju kang karena sekarang memang lagi banyak orang yang sakit karena korona tapi untuk semua kalangan, rakyat biasa boleh, pejabat boleh, artis boleh, tapi kalo cuma untuk administratur negara, ya jelas aku tidak setuju." Agus akhirnya mengeluarkan pendapatnya.

"Lha kamu salah Gus, rumah sakit khusus pejabat ya sesuai namanya jelas hanya untuk aparatur negara lah, jangan dicampur dengan rakyat kecil apalagi rakyat miskin. Kalo aku yang jadi presiden nya, sudah langsung aku buatkan."

"Lalu, kalo misalnya ada rakyat kecil yang mau berobat biarpun sudah sekarat tetap ditolak kang?"

"Ya, ndak bisa."

"Lho, kenapa tidak bisa. Ini mah keterlaluan." 

"Bukan keterlaluan Gus, orang biasa memang tidak bisa kesana karena rumah sakit khusus pejabat yang aku usulkan itu dibuatnya nanti di Nusa Kambangan." Kata Satria mengakhiri pembicaraan nya.

TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

63 komentar untuk "Usul membuat rumah sakit khusus pejabat di saat Corona adalah ide bagus"

  1. Ha ha ... Usul Satria sangat cerdas. Buat rumah sakit khusus pejabatnya di Nusakambangan. Tenang. Selagi aku yang jadi ketua, pejabat tak bakalan masuk rumah sakit Nusakambangan. Terutama Kroni2 AKU.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, Satria memang cerdas luar biasa, ide nya out of the box ya Bu.πŸ˜„

      Hapus

  2. 🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣

    Mau pejabat mau rakyat sebenarnya urusan sakit atau rumah sakit nggak usah dibeda-bedakan Bambank..πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya dibedakan lha kang, ngga baik buat kesehatan pejabat, gimana nanti ketularan penyakit miskinnya rakyat kecil.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Nggak apa2 ketularan miskin biar bisa belajar menjadi orang yang kaya hati..πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜‰

      Hapus
    3. Wah kang Satria komentar nya udah kayak pejabat.πŸ˜„

      Hapus
  3. Eehhh bentar2 ...Tapi emang benar lho gw kalau lagi ngumpul dengan teman dekat suka minumin kopi atau minuman apa saja milik teman2 Gw...🀣🀣🀣🀣🀣🀣

    Tapi teman dekat yaa..😁😁😁


    Berarti admin blog ini mantan dukun kali yee ...πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜πŸ˜πŸƒπŸ’¨

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, bukannya kang satria sendiri yang menulis di status FB.πŸ€”

      Hapus
  4. Aku kira RS khusus pejabat itu alias RS (jiwa) untuk yang mentalnya pada sakit gituu πŸ˜… Ternyata di Nusa Kambangan yaa hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa juga sih RS khusus pejabat yang sakit mentalnya, bisa mbak Frisca tulis sendiri di blognya mbak.πŸ˜„πŸ˜€

      Hapus
    2. ahahaha aku skip dulu mas Agus untuk nulis soal itu wkwkwk Kurang bakat nulis cerpen kaya mas Agus πŸ™ˆ

      Hapus
    3. Ah masa sih, coba saja dulu, kayaknya bisa deh.πŸ˜„

      Hapus
  5. Hadeuh ada aja ya pejabat yang ngomongnya ga d jaga, lagi kondisi seperti ini ya bikin gemes aja nih 😁

    Tadi aku salah dikira korona semakin menggemaskan ternyata mengganas πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya enggak salah sih, berita korona makin hari makin menggemaskan.

      Hapus
  6. Dimana2 emang lagi marak yang dibahas soal covid.
    Tapi emang sih makin banyak korban.
    Temen sekantor aja ada yang sedang berjuang karena sakit covid.

    Heran deh yang dipikirkan yang katanya wakil rakyat itu.
    Yang dipikiran mereka hanya untuk kepentingan pribadi semata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga teman kantor nya cepat sembuh ya kang.πŸ˜€

      Ah engga dong, wakil rakyat pasti selalu memikirkan rakyat, bagaimana caranya agar bisa hidup enak dari uang rakyat.πŸ˜‚

      Hapus
  7. Ya silakan bikin tapi pakai duit sendiri jangan pakai duit negara πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya enggak pakai duit negara kang, tapi pakai duit rakyat.πŸ˜†

      Hapus
  8. Aduh gak habis habisnya berbeda pendapat kalian. Sesekali akur dan berusara bulat napa....he he he...cari donator kaya yang baik hati dan berhati mulia saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Sofyan yang jadi donaturnya ya, bikin rumah sakit khusus pejabat.🀭

      Hapus
  9. Ternyata kebiasaan si Satria main nyeruput kopi orang masih belum hilang..hihihi.

    Angkat Satria jadi presiden pemikirannya cemerlang banget..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜³

      Hapus
    2. Tenang mas Herman, nanti kang Satria diangkat jadi presiden.πŸ˜ƒ

      Presiden kerajaan Sunda Empire.πŸ˜†

      Hapus
    3. Wkwkwk.. presiden kerajaan Sunda Empire.. wkwkwk.. boleh juga tuh dan pas banget.. wkwkwk

      Hapus
    4. Terus siapa yang jadi ibu negaranya, apakah jaey.πŸ˜†

      Kaboorrr πŸšΆπŸƒπŸ’¨

      Hapus
    5. Kalau sama Jaey bukan jadi presiden tapi mangkal di lampu merah..hahaha.. ikutan kaburrrr

      Hapus
    6. πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ˜¬πŸ˜¬πŸ˜¬πŸ˜¬πŸ˜¬

      Hapus
    7. πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›

      Hapus
  10. kalo rumah sakitnya di nusakambangan berarti di penjara dong mereka :D.. usul kang satria boleh juga, biar pada lapok pemerintahnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan penjara mas, tapi tetap rumah sakit, bedanya disana kalo diisolasi itu tidak empat belas hari tapi empat belas tahun.πŸ˜†

      Hapus
    2. wkwkw 14 taon lama banget mas, kenapa ga 14 bulan aja :D

      Hapus
    3. Kalo mas khanif mau disana 14 bulan juga boleh.πŸ˜„

      Hapus
  11. Daripada ke Nusakambangan mending rumah sakit jiwa aja Mas haha ...

    Miskin empati banget para wakil (ngakunya) rakyat. Dengar-dengar, malah ada yang kepengen diprioritaskan segala ckckc

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajar dong pejabat negara itu diprioritaskan karena tugasnya berat banget mbak.

      Negara ini jadi aman, kesehatan rakyat terjamin, lapangan pekerjaan banyak, sudah gitu ekonomi Indonesia maju pesat di saat dunia kacau karena korona. Itu semua berkat kerja keras para pejabatnya.πŸ˜„

      Hapus
    2. Hmmmmm.....
      Iya yaaaaaπŸ˜”

      Hapus
    3. 😁😁😁

      Hapus
  12. Sebuah pemikiran yang menarik kang, biarkan saja mereka di Nusa Kambangan, pakai bangunan lamanya hahaha.

    Oh yah, untuk teman-teman yang ingin mencari tempat untuk guest post bisa banget loh, di web kami Yoexplore . co . id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terus tempat isolasi mandirinya di bangunan yang paling pojok yang katanya banyak penghuninya ya kang.πŸ˜„

      Hapus
  13. Halo om Agus, apa kabar? Sudah lama tidak buka blog. Sudah lama pula tidak ke sini. Dua judul postingan terakhir cukup nackal yaak hahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan biar diangkat jadi komisaris atau PNS Do, minimal buzzer lah.😁

      Hapus
  14. Naah ini cocoooook hahahahaa. Sekalian akses kapal menuju kesana juga dihapus, biar ga ada yg kabur dari RS nya πŸ˜‚. Sekali masuk, biarkan utk selamanya mas :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh gawat mbak kalo tidak ada perahu yang kesana, nantinya ngga bisa dijadikan contoh teladan dong.πŸ˜‚

      Hapus
  15. siap2 ppkm sampek akhir juli
    hehe
    siap2 dah

    BalasHapus
  16. Saya jarang banget baca berita, termasuk perkembangan corona. Baru tahu ada pejabat yang usul agar dibuat rs khusus untuk pejabat, ckckck.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usul yang wajar mbak, karena pejabat itu istimewa.😁

      Hapus
  17. Ealah, Satria ini makannya apa ya Kak? Kok kalau ngomong selalu pintar banget sih :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin makannya bangku sekolah makanya pintar mbak, beda sama Agus dan Herman ya g makan nasi.πŸ˜‚

      Hapus
  18. Menurutku lebih baik RS Jiwa udah gitu lanjud ke nusa kambanganπŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  19. Sungguh meresahkan ya usulan rumah sakit khusus pejabat ini :D Partai langsung komen, takut disangka omongan dari mereka. Padahal ga tau juga ya sebenernya wkwkwkwk :D Sama ajalah kalau mati dikuburnya juga pakai tanah heuheu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, apa yang meresahkan mbak. Ini ide bagus lho. Pejabat sudah capek-capek kerja untuk rakyat, wajar kalo dibikin rumah sakit khusus pejabat dong di Nusa Kambangan.πŸ˜„

      Hapus
  20. Bismillah komisaris BUMN.. wkwkwkwk...

    Gimana kalo bikin RS nya di gedung DPR aja? Daripada cuma dipake buat tidur siang, kan #kabur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terserah Bu Komisaris sajalah, bikin rumah sakitnya dimana.πŸ˜ƒ

      Hapus
    2. wkwkwk di parkiran gedung DPR aja, Mas Agus.. #kabur

      Hapus
  21. Keenakan mereka kalau sampai mereka dibuatkan rumah sakit khusus mereka, jangankan sudah ada, ketika mereka opname di RS, mereka minta diperhatikan ekstra se ekstra-ekstranya. Bahkan dari kalangan mereka juga ada yang minta digratiskan alias tanpa membayar sepeserpun.
    Betul tuh, mereka hanya dekat dengan masyarakat kalau pas masa-masa kampanye saja, setelah itu wis ada yang gak peduli dengan rakyat.
    Jengkel saya sama mereka kalau seenaknya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajar kang, jadi pejabat itu mahal ongkosnya, makanya kalo sudah jadi anggota DPR ya berobatnya harus gratis.🀭

      Hapus
    2. Betul juga sih mas, mumpung lagi jadi hehehe

      Hapus
  22. Usul dari satria ga salah sih. Tapi sebaiknya ga usah diterapkan. Rawan bikin kecemburuan sosial yang nantinya bikin negara jadi kacau. Tanpa itu aja, negara jadi kacau.

    Aturan ppkm emang memberikan efek samping ke banyak warga mas agus. Termasuk aku. Aku jadi susah nyari nasi goreng kalau sudah di atas jam 8...wkwkwkk

    Sehat-sehat terus mas agus :D

    BalasHapus
  23. up to date ceritanya nih, sesuai dengan topik terkini...
    matul

    BalasHapus
  24. wakakakaka, iya juga ya, mendingan di NusaKambangan, biar mereka sembuh dari koronces, tapi jadi makanan para napi di sana wakakakaka.

    Ada-ada saja sih, meski mungkin alasannya masuk akal, tapi nggak etis diucapkan di saat banyaknya rakyat yang kesulitan mendapatkan perawatan saat ini.

    banyak yang isoman akhirnya meninggal, ada juga yang meninggal saat belum dapat tempat di RS, menyedihkan :(

    BalasHapus
  25. Biarkan mereka tenang di sana, Mas Agus. :D

    BalasHapus
  26. hahaha untun rumah sakit khusus pejabatnya direncanakan di nusa kambangan
    aku sedihh kalau tiap lihat berita copid, yang mana ada ibu bawa anaknya sakit ke rumah sakit sampai ga dapet ruangan, dan akhirnya rela tidur di halaman rumah sakit sambil bawa oksigen

    BalasHapus