Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ku Tunggu Jandamu

 


"Mas khanif, ini untukmu." Seru mas Supri sambil menyerahkan seikat petai yang hijau dan besar-besar, pertanda sudah tua. Sayur petai ini sebagai oleh-oleh sebab ia baru pulang kampung dari Lampung.

"Ah tidak usah mas." Kataku sungkan apalagi aku sendiri tidak terlalu hobi makan petai.

"Ngga apa-apa mas, ini oleh-oleh. Aku baru pulang kampung kemarin."

"Iya mas khanif, apalagi mas kan sudah sering bantu aku." Seorang wanita muda disebelahnya ikut menimpali. Ia adalah Miranda, istri dari Supri.

Baca cerita sebelumnya: Kisah Cinta di Pinggir Ibukota.

Karena Mira sendiri yang meminta maka aku tidak kuasa menolak. Padahal aku membantunya selama ini ikhlas selama suaminya pulang kampung karena ada keperluan penting. Bantunya juga cuma sedikit, paling hanya membawakan barang-barang belanjaan ke dalam toko kelontong nya.

Mira sendiri tinggal dengan Sulis adiknya tapi entah kenapa aku kurang tertarik padanya, padahal ia tidak kalah cantik dengan kakaknya.

Mira adalah pemilik toko kelontong langganan ku selama aku bekerja di Bekasi. Sudah tiga bulan aku kerja di pinggir ibukota ini. Walaupun kerjaku sebagai buruh bangunan tapi tidak apa-apa lah, yang penting halal, apalagi Cari pekerjaan di zaman sekarang susah kalo cuma lulusan SMA.

"Makasih banyak ya mas Supri." Kataku lalu pulang sambil membawa seikat petai. Hubungan aku dengan mas Supri cukup baik, apalagi ia orangnya ramah. Kadang kalo ia mengadakan acara selamatan mengundang ku dan kami jadi ngobrol walaupun sebenarnya aku tidak terlalu pintar bicara.

Kadang aku merasa bersalah juga padanya karena diam-diam menyukai istrinya biarpun cuma dalam hati saja.

"Wah beli petai dimana kamu Nif?" Tanya Agus ketika melihat temannya itu pulang bawa seikat petai, mana tua lagi, pasti enak kalo dicolet sambel terasi. Satria yang sedang duduk main hape begitu melihat oleh-oleh itu juga langsung bangun dan ikut memilih.

Aku lalu menjelaskan bahwa itu oleh-oleh dari mas Supri. Mereka lalu memintanya, yang langsung saja aku perbolehkan.

"Nif, ngomong-ngomong kamu tidak jalan-jalan dengan Nurul? Mumpung malam Minggu lho, kalo sudah kerja kan kamu alasannya capek." Tanya Satria sambil duduk mengupas petai.

"Tidak kang, aku lagi malas saja." Sahutku. Nurul sendiri anak penjual warung nasi yang biasanya aku datangi. Ia cantik dan yang menambah nilai plus ialah memakai jilbab.

"Wah Nif, sampai kapan mau jomblo terus. Kalo cari yang sreg sesuai hati mah susah, mending cari yang mau saja. Umurmu itu sudah dua puluh tujuh lho, aku saja sudah punya anak dua. Lha kamu kok masih betah sendirian. Kalo aku belum punya istri, sudah aku embat tuh Nurul. Emang dia kurang cantik apa." Ujar Satria lagi, maklum sebagai teman saat SMP ia agak khawatir juga dengan temannya itu sudah umur segitu tapi belum punya pasangan. Tadinya ia khawatir kalo sahabatnya itu punya kelainan.

"Memangnya kang Satria dulu sama mbak Nadia itu asal embat saja apa."

Yang ditanya tertawa." Aku kasih tahu rahasianya deh Nif. Jadi waktu itu aku pergi ke pasar malam lalu melihat dia. Aku lalu ajak dia untuk kenalan. Seminggu kemudian aku apel ke rumahnya dan dia agak kaget tapi mau menerimaku. Sejak itu kami jadian. Nah, sebulan kemudian aku ajak dia jalan-jalan naik motor ke danau Banyu Biru lalu langsung aku lamar. Tentu saja Nadia kaget, mungkin mau menolak ku karena kok buru-buru tapi tidak berani. Akhirnya dipakai alasan kalo dia belum siap dan tunggu dua tiga hari lagi baru kasih jawaban. Wah, tentu saja aku tidak mau. Aku bilang, kalo lamaranku diterima ya besok aku akan datang dengan kedua orangtuaku kerumahnya, kalo tidak mau maka putus sekarang juga. Dia tentu saja bimbang tapi akhirnya mau juga hahaha."

"Oalah gitu toh. Terus setelah itu besoknya kang Satria langsung melamarnya?"

Satria tertawa lagi." Enggak, begitu dia nerima, maka aku langsung pulang untuk beritahu bapakku agar melamarnya besok. Tentu saja bapak marah-marah karena dadakan, mana aku belum pernah ngajak Nadia ke rumahku. Akhirnya lima hari kemudian baru lamaran karena harus menyiapkan dulu segala keperluan. Dan Alhamdulillah, lamaranku diterima orangtuanya dan kini kami sudah punya anak dua."

"Tapi, aku tidak berani kang, siapa tahu Nurul atau orang tuanya menolak ku. Terus, apabila diterima, apakah nanti aku bisa cocok dengannya." Ujarku bimbang.

"Alah Nif, untuk orang kuli kasar kayak kita, tak perlu cocok apalagi nunggu tumbuh rasa cinta. Yang penting dia mau dan kamu mau, udah jadian. Insya Allah dengan hidup bersama bertemu tiap hari nanti cinta itu akan datang sendiri. Ingat, witing tresno jalaran soko kulino. Soal dia nolak ya tidak apa-apa, anggap saja pengalaman."

Tentu saja aku hendak protes karena menurutku cinta itu penting untuk memasuki kehidupan rumah tangga, tapi aku cuma bisa protes dalam hati karena aku tidak pintar bicara, lagipula ada benarnya juga sih perkataannya.

"Mau kemana Nif?" Tanya Satria ketika melihat sahabatnya itu berdiri.

"Mau ke warung Nurul kang." Jawabku singkat.

"Nah, gitu dong. Udah pepet saja dulu, soal hasil belakangan." Katanya menyemangati ku.

"Enggak kang, aku baru ingat kalo tadi pagi makan gorengan tiga lupa dicatat."

"Jancoook." Makinya membuatku tertawa. Aku memang ngutang di warungnya, kalo gajian baru bayar. 

* * *

Hujan deras membuatku langsung menepi ke pinggir jalan ke sebuah ruko. Kutaruh motor Honda Beat milik bos ku. Tak lama kemudian beberapa orang datang untuk berteduh juga.

Sudah setengah jam hujan turun tapi masih belum reda juga. Kulihat air sudah menggenangi jalan raya tadi hingga sebatas dengkul orang dewasa. Beruntung ruko tempatku berteduh itu tempatnya agak tinggi sehingga air belum sampai kesini, semoga saja tidak. Jalan raya itu sendiri sudah sepi, jarang ada motor lewat, hanya beberapa mobil saja yang berani menerobos banjir.

Beberapa pengemudi motor tampak menuntun motornya yang mogok menuju tempat ku bernaung sehingga jadi makin penuh. Beruntung pemilik ruko maklum dan membiarkan saja, apalagi beberapa orang yang tidak enak tampak beli makanan yang ada di ruko tersebut. Ada juga yang berteduh ke ruko lainnya yang bersebelahan. Ada empat rumah toko disini, bangunannya besar, lebih besar sedikit dari toko kelontong milik Miranda.

Tiba-tiba mataku terbelalak ketika melihat dua orang sedang menuntun motor di tengah jalan, siapa lagi kalo bukan mas Supri dan Miranda. Aku segera saja kesana apalagi banjir sudah naik setinggi pinggang dan mas Supri tampaknya sudah kepayahan mendorong motornya.

"Makasih banyak mas khanif." Kata mas Supri ketika melihatku mendorong motornya ke arah pinggir, sementara Miranda setia mendampingi disebelahnya.

Habis belanja tadi, begitu kata mereka ketika kutanya kenapa hujan-hujanan. Kulihat mas Supri menggigil hebat, mungkin sudah lama kehujanan.

"Aku belikan teh manis hangat ya." Kataku melihat kondisinya.

"Ah tidak usah mas khanif." Katanya menolak.

"Mas, tolong cepat belikan ya, takutnya nanti penyakitnya kumat lagi." Pinta Miranda kepadaku, sebuah permintaan yang mustahil ku tolak. Ia memang sudah menganggap ku sebagai keluarga nya sehingga tidak sungkan minta tolong.

Aku lalu segera berlari ke rumah makan yang terletak tidak jauh dari ruko. Tak sampai lima menit aku sudah balik lagi dan langsung aku berikan padanya.

"Makasih banyak ya mas khanif, maaf merepotkan mu." Kata mas Supri. Ia segera minum. Tak lama kemudian tubuhnya yang menggigil sudah berkurang, mukanya yang tadinya pucat juga mulai normal. Aku pun lega, begitu juga istrinya sudah tidak khawatir lagi.

Begitulah, aku makin akrab dengan keluarga mas Supri termasuk dengan Zahra anaknya, begitu juga dengan Sulis. Mas Supri bahkan iseng menjodohkan aku dengan adiknya Miranda, yang aku tolak dengan halus dengan alasan aku cuma kerja kasar. Kalo kakaknya sih, ah sudahlah.

Hingga suatu saat proyek yang aku dan teman-temanku kerjakan sudah selesai. Aku terpaksa pulang kampung karena memang sudah tidak ada pekerjaan lagi. Mau ngekost di Bekasi juga sepertinya tidak mungkin karena aku tidak punya pekerjaan lain, terus bagaimana dengan bayaran kost nya.

Di kampung halaman seperti biasa tidak ada pekerjaan sehingga aku tiap hari kerjanya hanya main hape atau pergi mancing. Biarpun begitu aku masih tahu kabarnya karena masih berhubungan lewat WhatsApp.

Dari Sulis aku tahu kalo daerah Bekasi masih hujan saja, kadang mas Supri masih kehujanan. Gedung yang dulu kami bangun juga katanya mau dibuka. Sulis juga bertanya bagaimana kabarku, yang aku jawab seadanya.

Hingga suatu hari tiba-tiba mas Supri memintaku share location atau berbagi tempat. Tentu saja aku heran dan bertanya kenapa.

Ternyata ia sedang menengok salah satu pamannya yang ada di Semarang karena ada keperluan. Karena tahu kota tempat ku tinggal agak dekat jadinya ia minta sekalian bertemu. Kini urusannya selesai dan mumpung masih ada waktu ia ingin bertemu.

Tentu saja aku kaget tapi juga senang, berarti ia masih ingat padaku. Aku lalu bertemu dengannya di terminal kota, ternyata ia hanya sendirian, tidak dengan istrinya. Walaupun agak kecewa tapi aku gembira.

Ku minta dia singgah di desaku, yang ia turuti. Bapak ibuku senang saja apalagi ketika aku cerita kalo mas Supri sering kasih jajanan. Setelah puas ngobrol , ku ajak keliling tempat rekreasi yang tidak jauh dari tempatku. Tak lupa waktu pulang ku bawakan oleh-oleh.

Hingga suatu ketika aku kembali dapat pekerjaan di proyek yang tidak jauh dari tempatku dulu, bahkan kontrakan yang aku dan teman-temanku tempati juga masih sama. Sudah setahun aku tidak bertemu dan kaget ketika melihat mas Supri makin kurus. Miranda juga sedikit kurus tapi entah kenapa menurutku ia makin cantik. Ah sial, kenapa aku masih memperhatikan istri orang saja.

Sedangkan Sulis sudah tidak ada karena ia kini sudah menikah dan ikut suaminya yang bekerja di Bogor.

Seperti biasa aku membeli bahan makanan di tokonya sambil ngobrol. Mas Supri cerita kalo penyakit lamanya sekarang suka kambuh, itu sebabnya ia makin kurus. Aku hanya berdoa semoga ia cepat sembuh.

Hingga suatu ketika aku mendapati toko sembako nya tutup ketika hendak belanja. Tentu saja aku kaget, lebih kaget lagi ketika tanya tetangganya katanya mas Supri dibawa ke rumah sakit. Saat itu juga ku ajak Satria dan Agus untuk menengok. Akhirnya dengan mobil milik kendaraan proyek kami bertiga menuju rumah sakit.

Disana sudah menunggu istrinya dan juga Sulis beserta suaminya. Ia senang ketika aku jenguk bersama dengan temanku. Miranda yang menggendong Zahra lalu cerita kalo semalam suaminya itu sempat kritis, beruntung sekarang sudah lewat dan menurut dokter sudah normal kondisinya.

Aku tentu saja lega, tak lupa kasih semangat semoga cepat sembuh. Setelah ngobrol satu jam akhirnya aku lalu pulang karena jam besuk sudah selesai.

Tapi sayangnya takdir berkata lain. Setelah tiga hari dirawat akhirnya mas Supri meninggal dunia. Tentu saja aku merasa kehilangan seorang teman yang sudah ku anggap anggota keluarga.

Tanpa diminta aku langsung mengurus semua keperluan nya. Aku mondar-mandir mengurus surat kematian, termasuk untuk acara tahlilan tujuh hari. 

"Makasih banyak ya mas khanif, kalo tidak ada kamu entah bagaimana aku mengurus nya." Ujar Miranda kepadaku setelah acara tujuh hari selesai. Wajahnya masih berduka, tapi setidaknya sudah mulai ada semangat lagi, sementara Zahra anaknya tidur di pangkuannya.

"Tidak apa-apa Mira, ini sudah kewajiban ku karena mas Supri sudah ku anggap sebagai saudara." Jawabku singkat sambil menanyakan keadaannya. Ia menjawab tidak apa-apa.

Sejak itu aku jadi rajin bertemu dengan Miranda dengan alasan untuk belanja, bahkan kalo tidak ada pekerjaan proyek maka aku tidak sungkan untuk membantunya beli barang di toko grosir langganannya. Tak heran aku makin dekat dengannya bahkan Zahra juga kadang aku emong atau ajak jalan-jalan. Sulis sendiri akhirnya kembali menemani kakaknya karena tidak ada yang membantu jualan.

Agus dan Satria sendiri sering meledekku suka dengan Miranda tapi tidak ku gubris. 

Tapi sayangnya sampai saat ini aku belum berani mengatakan cinta padanya, entah kenapa aku masih takut ditolak biarpun hubungan kami sudah dekat.

Hingga akhirnya kerjaan di proyek pun hampir selesai dan harus kembali ke kampung halaman. Akhirnya akupun berdiskusi dengan Satria karena sudah setengah tahun berlalu sejak kematian suaminya.

"Kang, tolong dong bagaimana ini caranya, kita kan sebentar lagi mau pulang kampung."

"Lha, memang kenapa Nif?" Ujarnya pura-pura tidak tahu.

"Yaelah kang, masa kang Satria tidak tahu sih."

"Emang aku tahu apa Nif? " 

Tentu saja aku jadi dongkol. Akupun akhirnya berterus terang kalo jatuh cinta dengan Miranda, janda muda cantik yang jadi idamanku. Satria tertawa mendengar ceritaku.

"Ya udah kalo kamu memang cinta padanya, silahkan katakan Nif, kan sekarang dia sudah janda, tidak masalah kalo kamu ingin memperistri."

"Nah itu kang, cuma aku belum tahu bagaimana cara yang tepat." Kataku minta saran.

Akhirnya pada hari Minggu maka aku pun mengajak jalan-jalan Zahra yang kini sudah berusia tiga tahun ke taman tidak jauh dari pemukiman. Anak tersebut sangat senang bisa bermain di taman. Miranda tersenyum melihat anaknya gembira.

"Makasih banyak ya mas, sudah bikin bahagia Zahra." Katanya sambil tersenyum melihat anaknya bermain ayunan.

"Ah, tidak apa-apa dek Mira. Apapun akan kulakukan agar kamu bisa bahagia." Jawabku.

Ia hanya tersenyum tanpa menjawab. Aku lalu berusaha menenangkan debaran dadaku. Inilah saatnya aku harus berterus terang mencintainya dan memintanya jadi istri ku, batinku. Sebab sudah banyak waktu lagi, Minggu depan aku segera pulang, bisa saja sih ngekost dulu, tapi belum tentu ada kesempatan baik mengajaknya jalan-jalan lagi. Saat ini suasana agak sepi, beberapa pengunjung taman agak menjauh.

"Dek.. dek Mira..." Entah kenapa lidahku terasa kelu. 

Wanita yang usianya lebih muda dariku biarpun sudah menjadi janda itu menengok sambil tersenyum manis." Ada apa mas khanif?"

Senyum itu melegakan ku. Akhirnya aku pun mencoba berani mengungkapkan perasaanku. Ku katakan kalo aku mencintainya dari dulu.

Wajahnya tampak terkejut sehingga aku khawatir. Ah ingin rasanya kutarik kembali kata-kataku tapi tidak mungkin. Tapi kekhawatiran ku ternyata berlebihan, bibirnya kembali mengulas senyum sehingga aku lega. Ah, sepertinya ia mau menerima ku sebagai suaminya. Semoga saja ia mau ku ajak ke daerah asalku, tapi kalo misalnya ia mau di Bekasi saja juga tidak apa-apa, yang penting ada Miranda di sampingku.

Akhirnya ia menjawab juga, padahal kalau pun tidak sekarang juga tidak apa-apa.

"Maafkan aku mas khanif, aku berterimakasih atas cintamu padaku, tapi maafkan aku, aku masih ingin sendiri untuk saat ini, sekarang aku hanya ingin fokus membesarkan Zahra dahulu."

Sungguh jawaban yang sangat tidak ku duga. Ingin rasanya ku bertanya apa kekurangan ku sehingga ditolaknya tapi sayangnya mulutku diam membisu.

Hari yang cerah itupun berangsur-angsur meredup karena awan hitam datang, dan hujan gerimis mulai turun seperti hatiku yang menangis.

TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

75 komentar untuk "Ku Tunggu Jandamu"

  1. Baru ditolak sekali pepet terus mumpung Mirandanya masih menjanda jangan kasih kesempatan dia ngelak..wkwkwk

    Cantik dan memakai jilbab kenapa ngga dipepet juga tuh si Nurul kalau jadi kan enak ngga usah ngutang lagi di warungnya..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. karna maunya cuma sama asmirandah, yang lain engga haha :D

      Hapus
    2. Wah berarti mas khanif nanti punya dua istri ya mas Herman, Miranda dan Nurul.πŸ˜„

      Hapus
    3. Enggak apa-apa mas khanif nunggu Asmirandah sampai kapanpun.

      Aku pernah baca artikel ada seorang lelaki yang menunggu wanita pujaannya sampai 40 tahun. Akhirnya di umur 65 dia menikah dengan wanita itu.πŸ˜„

      Hapus
    4. Boleh, Mas. Dibuat lagi sekuelnya judul Balada Dua Istri.. hihihi

      Hapus
    5. Rencananya sih ada sekuelnya tapi judulnya bukan balada dua istri.

      Hapus
    6. Wah seru nih, ada cerpen lagi kah, menikah pas usia 65 🀣

      Hapus

    7. 🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    8. Mungkin bukan usia 65 tapi 90++.πŸ˜…

      Hapus
    9. Bakalan seru nih cerpen berikutnya soalnya pakai kode 90++, tunggu ah.. hihihi

      Hapus
    10. Sekarang scene yang ngenes ngenes bagiannya mas khanif.🀣

      Hapus
    11. Kayaknya si khanif dapat bayaran mahal nih.. wkwkwk

      Hapus
    12. Bayarannya cukup ucapan terima kasih.πŸ˜…

      Hapus
    13. makasih balik mas hihi :D

      Hapus
    14. Cuma makasih doang, ngga dikasih pulsa nih aku? πŸ™„

      Hapus
    15. pulsa pintenan mas #mumpung khanif abis gajian tuh mas
      wwwkkw

      #canda

      mas agus mah pop ice aja ya apa ais krim, gitu nif wakakkak

      Hapus
    16. Bukannya mbul juga habis gajian, kan tanggal muda.πŸ˜…

      Hapus
  2. nangis dikamar hiks :(

    ceritamu sedikitnya mirip sama kehidupanku, emang sengaja ngepasin ya mas agus hihihi

    pas banget sih, kemaren aku juga ada temen kerja namanya supri, tapi dia masih single sih haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa nangis mas, ini kain lap buat ngusap.πŸ˜‚

      Kalo aku bawa nama mas Supri teringat blogger Supriyadi itu mas.πŸ˜„

      Hapus
    2. Supri teringat blogger Supriyadi kalau Nurul mungkin teringat blogger Nurul Sufitri kali ya atau Nurul si blogger dari Lampung?

      Hapus
    3. Bukan, tetangga saya disini yang jualan namanya Nurul mas.πŸ˜…

      Hapus
    4. Maaf, sebagian komen dihapus ya.πŸ™

      Hapus
    5. Nah loh komentar siapa yang dihapus?

      Hapus
    6. Hiya-hiya namanya mirip dengan saya mas Agus. Hehe, kasihan Miranda harus menjanda, Zahra juga jadi yatim. Sempet seneng sih saya, baca namanya mirip wkwk. Tapi ya... jadi pemeran pembantu saja ternyata. Terimakasih mas Agus

      Hapus
    7. Kalo mau jadi peran utama harus kirim dulu pulsa 50k mas Supri.πŸ˜„

      Hapus
    8. pukpuk, sabar ya Khanif.. hehehehe

      Hapus
  3. Haha "kutunggu jandamu" tapi pas sudah janda tetap aja gagal maning.. gagal maning.. ditolak again.. πŸ˜…

    Dibawa nyanyi aja mas Nif. 🀣

    "Denting peluru tak bertuan, hari2 yg tak berderang, setiap detik nyawa ini kupertahankan untukmu, alasanku ada disini, dan panas hujan yg kurindukan, di neraka kan kumenangkan, hariku bersamamu."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sunset Di Tanah Anarki, cocok banget tuh lagu. Saya setuju kalau khanif nyanyikan lagunya sambil merenung di pojokan..hihihi

      Hapus
    2. Merenung apa menangis mas.πŸ˜‚

      Hapus
    3. Merenung sambil menangis aja mungkin, biar adil πŸ˜…πŸ˜…

      Hapus

    4. Sambil berkhayal juga tentang Mirongdo.😁😁😁

      Hapus
    5. Yang penting jangan ngayalin kang Satria.🀣

      Kaboorrr πŸšΆπŸƒπŸ’¨

      Hapus
    6. Memangnya kenapa mas kalau ngayalin mas Satria paling-paling resikonya diajak mangkal..hihihi

      Hapus
    7. Nah itu, nanti disuruh bayar gimana.

      Sebenarnya bingung mau lanjutin yang ini dulu apa kekasih dari alam kubur.πŸ˜…

      Mungkin suhu bisa kasih saran.πŸ˜ƒ

      Hapus
    8. Kalau saran saya lebih bagus dua-duanya saja digabungin jadi satu.. wkwkwk.. judulnya "Kutunggu Kau Di Pintu Neraka.. wkwkwk

      Hapus
    9. Saran yang sungguh brilian. Judulnya kayak novel Wiro Sableng.πŸ˜…

      Hapus
    10. Apanya yang parah, apakah mbul suka mangkal juga.πŸ˜…

      Hapus
    11. ga mangkaaaal laaaahh huft

      kalau mengkal baru iyaaah

      tapi mengkal metikin mangga mengkal maksud Mbul...mbul abis naik pohon mangga indramayu metik mangganya yang dah mengkal hohoho

      Hapus
  4. Sebenarnya rada geregetan dengan Hanif yang menyukai isteri orang. Tapi masalah perasaan memang tak bisa diatur. Selama perilaku nya tidak bertentangan dengan norma, kita tak boleh menghakimi hati orang lain.

    Semoga Hanif diberikan jodoh terbaik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini namanya rumput tetangga selalu kelihatan hijau mbak.🀣

      Hapus

  5. Akhirnya Khanif merenung dipojokan sambil meratapi nasibnya dan akhirnya ia bersenandung galau...

    "Mengering sudah bunga dipelukan, Sampai kapankah jadinya aku harus menunggu, Hari bahagia bersama cinta kembali janji berjuta makna".🀣🀣🀣🀣


    Gue kirain pas Supri sama Miranda kebajiran dan motornya Mogok Khanif ada niat ngeracunin Supri dengan teh hangat yang ia beli.😁😁😁


    Tapi ternyata tidak Khanif memang orang yang berbudi luhur...Mungkin penolakan Miranda memberi kesempatan Khanif untuk mencari yang terbaik.😁😁 Ciiieeee ilee..🀣🀣🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi kang, kalo Miranda terima maka tidak ada petualangan cinta khanif selanjutnya.πŸ˜…

      Hapus
    2. Nah ini lagunya lebih cocok lagi nih bisa bikin nangis berjam-jam di dekat tiang jemuran.. hihihi

      Hapus
    3. Emang lagunya siapa itu mas Herman, apa lagunya bang haji Rhoma.πŸ˜„

      Hapus
  6. semangat ya mas khanif semoga segera diberikan jodoh terbaik,

    kasihan mas supri meninggal :'(

    tapi mbul pengen petenya nih mas agus, boleh ga mas? kayaknya enak yang bijinya udah tua..rasa petenya lebih manis πŸ˜ƒ

    mas mau nanya sedikit tentang cerpen mohon cek email dong mas, thengkyuuu (。•́ωก̀。).。oO

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang mbul, nanti mas khanif akan dapat gandengan baru di episode selanjutnya.

      Tapi setelah beberapa iklan yang lewat berikut ini.πŸ˜…

      Hapus
    2. wah mantab akan ada sekuelnya nanti mas khanif dapat lawan main baru pengganti miranda hihi...tapi yakin mas khanif ga mau kalau ga sama asmi randa eh salah mirandah maksud mbul...hehe..

      semangat ya mas nulisnya, ceritanya mas selalu ditunggu tunggu Mbul yang dah jadi penggemar setia hehehe ☺

      Hapus
    3. Sekuelnya nanti kemungkinan di blog terwelu ucul atau di blognya mas khanif sendiri.πŸ˜…

      Hapus
    4. sekuel di terwelu mah tokohnya emoh miranda, soalnya tokoh utama dah dihak paten mbul nita dan tiwi aja ..hihihi...



      Hapus
  7. Khanif jadi loyo deh, sia sia PDKTnya selama ini sm miranda , pas kebetulan sdh jadi janda eh malah ketolak .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru sekali ditolak, kata Tabin Pepet terus sampai dapet.πŸ˜„

      Hapus
  8. Kata orang janda itu menggoda πŸ˜‚πŸ˜‚, mungkin cerita ini menggambarkan sedikit betapa menariknya seorang janda dan anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan-jangan koh kuanyu lagi deket sama janda muda nih.πŸ˜„

      Hapus
  9. bhahahhaa baru ditolak sekali dah galau, berjuang dongs! Zaman sekarang pun duid bertindak kwkwkwkw


    (AKHIRNYA BISA KOMENTAAARRRRRRR) ngebacanya mah dah dari pagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa Tang, sibuk ngitung duid kah πŸ˜…πŸ˜…

      Hapus
    2. πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„

      Hapus
    3. Paling kuotanya habis, setelah diisi baru bisa komentar.πŸ˜„

      Hapus
    4. Eh tapi apa maksud si Tang, "duit bertindak", mau membeli cinta kah? 🀣

      Hapus
    5. Kurang tahu kang, coba kang jaey chatting saja minta penjelasannya, kalo perlu sedetail mungkin hihihi.πŸ˜„

      Hapus
    6. Iya perlu di intograsi Nona Tang ini, hehe.. becanda Tang biar ga spaning kata Mbul.

      Spaning apa ya? 🀣

      Hapus
    7. Cie, kang jaey manggilnya nona Tang.πŸ˜„

      Hapus
  10. wow.... menunggu?
    apa tabah sampai akhir hayat?

    BalasHapus
  11. Cara PDKT "aku", lumayan bagus. Membawa si Zahra jalan2. Tapi sayang endingnya mengewacakan " aku". He he ..... Selamat pagi, Mas Agus. Sehat selalu ya. Mari kita saling memotivasi. Teruslah berkarya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya bagaimana biar khanif bisa diterima Miranda ya Bu? πŸ˜…

      Hapus
  12. Karena saya juga suka baca blog khanif, jadi saya bisa bilang kalo ini beneran mirip khanif . Deskripsi sifatnya, galaunya, tempat kerjanya, plek ketiplek mirip khanif😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kok bisa mirip gitu ya, apa ini kebetulan belaka? πŸ˜…

      Hapus
  13. Cerpen yang menyesakkan dada iya Mas....:'(
    Baik yang meninggal, yang ditinggalkan, maupun yang ditolak (biar caranya aluuuuuuus)

    #taktaruh bawang dulu
    #abis itu kelincinya mlayu sebelum dipanggang...gegegegegeg

    kabuuurr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah masa sih, kalo dadanya sesak coba minum napacin, kalo masih sesak juga mungkin perlu dikasih nafas buatan.🀣

      Hapus
  14. Ku menangiiiisssssssssss!!!!

    Eh kok jadi pengen kasih backsound a la Rossa di sinetron Indosiar sih hahahaha.
    Ngenes banget endingnya, tapi tenang saja, tetap semangat.

    Pokoknya pepet terus, sampai berhasil hahahahaha

    BalasHapus
  15. semoga mas khanif dan miranda menemukan kebahagiaan masing masing
    gimana ya kira kira endingnya, apa menggantung begini
    aku kan galau mikirin hahahha

    ini kayaknya si khanif lama di jawa timur deh, fasih banget ya bilang jancokkk hahhaha

    BalasHapus
  16. Ini kok berasa kayak bukan cerita Yaa jadinya, seolah2 khanif beneran nembak wanita, tapi ditolak πŸ˜…. Tadi ya pengen komen, cewe mah kalo nolak di awal itu biasa, cuma mau ngetes. Tetep Pepet aja, ntr tembak lagi pas Nemu timing pas, dijamin ga ditolak πŸ˜„. Tapi keinget, ini cuma cerita hahahaha

    BalasHapus
  17. harusnya si khanif nyanyi jambu alas mas....by almarhum didi kempot

    tapi kasihan hiks...maksudnya yang suaminya meninggal dan istri dan anaknya yang ditinggal selama lamanya

    #siapkeun tissue

    BalasHapus