Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah cinta di pinggir ibukota

 Sambil menunggu lanjutan dari cerita bersambung Kekasih dari alam kubur maka aku bagikan cerpen lainnya dulu ya, soalnya baru menulis separuh belum selesai.

 Sebenarnya waktu awal menulis sudah ada bayangan bagaimana ceritanya, tapi setelah banyak kegiatan ini itu akhirnya malah lupa, maklum tidak ditulis.

Cerpen yang aku bagikan ini diilhami oleh artikel seorang teman. Tenang saja, bukan cerpen horor kok, takutnya pengunjung blog ini pada kabur semua kalo cerita seram terus.


"Nif, kamu mau ke toko kan, aku titip rokok ya." Seru Agus ketika melihat temannya khanif hendak keluar. Ia mengeluarkan uang 20 ribuan.

"Iya mas Agus, cuma aku kan baru disini dan belum kenal daerah sini. Yang ada toko sembako dimana sih." Jawabku. Maklum aku baru dari kampung halaman dan inilah pertama kalinya aku merantau keluar kampung ke Bekasi karena diajak oleh Satria, temanku saat SMP dulu.

"Kamu ikuti saja gang itu, tidak jauh kira-kira 100 meter lah. Nanti ada toko kecil dengan spanduk SRC, disitu toko sembako yang murah, kalo yang lebih murah lagi ada tapi jauh dekat pasar." Agus menjelaskan sambil menunjuk ke suatu jalan. Aku hanya manggut-manggut sambil menerima uang 20 ribuan itu.

Karena cuma 100 meteran maka aku putuskan untuk jalan kaki saja soalnya cukup dekat. Aku perhatikan rumah-rumah di sepanjang jalan sangat bagus dan juga besar, hampir semuanya bertingkat, beda dengan kampung ku yang bahkan ada satu dua yang masih dari bambu walaupun sebagian besar sudah tembok tapi jarang ada yang tingkat.

"Woi, kalo jalan lihat-lihat mas." Seru seorang tukang ojek menegurku dari belakang karena aku terlalu jalan di tengah. Aku minta maaf dan dalam hati hanya mengumpat diri sendiri, ketahuan sekali kampungannya.

"Maaf Bu, toko sembako ada dimana ya?" Tanyaku pada seorang wanita yang sedang menyiram tanaman hias. Aku bertanya karena sudah 10 menit jalan tapi masih belum ketemu.

Ibu itu menghentikan kegiatannya." Itu mas. Baru datang ya." Tebaknya sambil menunjuk sebuah toko kelontong yang tidak jauh dari posisinya. Aku hanya nyengir saja, setelah mengucapkan terima kasih akupun menuju toko tersebut.

"Assalamualaikum, beli mie sama telor mbak." Kataku pada seorang wanita yang tampak sedang asyik bermain hape sehingga sepertinya ia tidak melihatku. Begitu mendengar seruan ku ia langsung meletakkan ponselnya. Tokonya tidak terlalu besar tapi barangnya aku lihat cukup komplit

"Mie apa mas?" Tanyanya padaku sambil menyebutkan beberapa merk mie instan terkenal. Aku terperangah karena wajahnya agak mirip dengan artis idolaku tapi ia lebih muda sehingga tampak lebih cantik. Ia memakai pakaian biru tua yang kontras dengan kulitnya yang putih tapi seakan menambah kecantikannya. Ya Allah, apa aku sedang bermimpi.

"Mas, mau beli apa tadi?" Wanita muda itu bertanya lagi karena aku hanya bengong melihatnya.

Aku tergagap, tersadar dari pesonanya." Anu dek, beli mie itu lima bungkus." Kataku menyebut merk-nya. Aku juga ubah sebutan nya, dari mbak jadi dek karena ia lebih muda dariku.

Ia tersenyum, duh manisnya." Ngga sekalian 10 mas, harganya lebih murah kalo 10 bungkus."

Aku hanya mengangguk angguk saja seperti orang dihipnotis. Ia dengan cekatan langsung mengambilnya dan menaruhnya di depanku." Apa lagi mas?"

Aku mendadak linglung mau beli apalagi, akhirnya aku putuskan beli seingatku saja. 

Setelah mengambilkan pesananku gadis itu langsung menulis di kertas sambil memasukkan barangnya ke kantong plastik yang sudah ditandai." Semuanya 65 ribu mas."

Aku segera mengambil dompet untuk membayarnya. Beruntung aku sudah gajian kemarin sehingga ada uang. Sebenarnya dari kampung orang tuaku memberikan duit untuk keperluan sehari-hari sebelum terima gajian, tapi sayangnya sudah ludes karena harga makanan di Bekasi lebih mahal daripada daerah asalku, mana sering titip makanan dan biasanya uang kembalian nya diambil oleh Agus atau Satria, buat ongkir katanya. Ini pertama kalinya aku keluar kontrakan dan berniat beli mie instan agar tidak terlalu boros. Sebenarnya niatnya hanya beli beberapa saja karena aku juga tidak terlalu suka makan mie kecuali kalo terpaksa pulang kerja lembur tidak ada makanan lain.

"Ini kembaliannya ya mas." 

Aku menerimanya dan setelah mengucapkan terima kasih lalu pulang. Entah kenapa hatiku jadi riang.

"Wah tumben nih Nif, kamu beli mie agak banyakan." Tegur Satria ketika ia melihat temannya itu pulang sambil bawa banyak mie, mana bersiul-siul lagi.

"Lagi pengin saja kang." Jawabku sekenanya.

"Nif, rokok pesananku mana." Agus datang setelah ia selesai mandi.

"Astaghfirullah, aku lupa." Jawabku sambil memukul kepalaku sendiri.

"Dasar, masa masih muda sudah pikun. Sana beli lagi."

Aku hanya mengangguk sambil keluar. Ah tak apalah, toh nanti ketemu dengan dia.

Melihat aku semangat keluar padahal baru pulang belanja maka Satria langsung menggoda." Cie, jangan-jangan kamu naksir Miranda nih Nif?"

"Miranda?" Tanyaku bingung, siapa Miranda itu, dengar namanya juga baru sekarang.

"Alah, tidak usah pura-pura Nif."

"Beneran kang, emang Miranda siapa kang?" Tanyaku ingin tahu.

"Itu lho, yang punya toko sembako itu. Kamu pulang dari sana tiba-tiba ceria, padahal sebelumnya loyo kecapekan. Benar kan?" Tebaknya.

"Eh, itu, itu..." Aku gelagapan karena terkaan temanku itu kok tepat sekali.

Melihat tingkahku makin kencang ketawanya sehingga aku jadi salah tingkah. Mungkin mukaku agak sedikit merah." Sebaiknya kamu..."

Ucapan Satria langsung dipotong oleh Agus." Udah Nif, cepetan beli rokokku, mulut udah asem nih pengin ngerokok, awas kalo sampai lupa lagi, aku pulangkan kamu."

Aku langsung mengangguk saja. Huh dasar Agus sukanya main perintah saja, mentang-mentang wakil mandor jadinya ia seenaknya saja, gerutu ku dalam hati. Walaupun begitu sebenarnya aku senang sih akhirnya bisa ketemu lagi dengan Miranda. Ah, apakah ini namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?


Sepanjang perjalanan ke toko maka aku membatin. Namanya cakep banget ya, sesuai dengan orangnya. Namanya kok juga mirip dengan artis idolanya sih, apa mungkin ia masih saudaranya ya.

Ah, semoga saja ia menjadi jodohku. Akan ku bawa nanti Miranda pulang kampung ke rumah orangtua ku, yang selalu mendesak ku agar selalu punya istri.

Aku yakin bapak ibuku akan setuju kalo melihatnya, soalnya mereka bilang terserah ku, yang penting cocok di hati, dan begitu melihatnya aku memang langsung cocok. Sikapnya sopan dan ramah saat melayaniku, beda dengan Warsih, empunya toko di kampung halamanku yang cemberut kalo aku belanja sedikit dan bawel kalo aku hendak ngutang, seakan aku tidak mampu bayar hanya karena aku pengangguran. Untungnya sekarang aku sudah punya pekerjaan biarpun cuma buruh.

Entah kenapa rasanya kok cepat sekali aku sampai di sana dan Miranda sedang melayani seorang ibu-ibu yang sedang belanja. Ia tampak sibuk mencatat dan mengambil barang pesanan sedangkan aku sibuk memandang wajahnya, sambil pura-pura melihat-lihat rokok yang ada di etalase toko. Penginnya sih bantu tapi tidak mungkin kan.

Duh, kok cepat banget batinku ketika ibu tersebut sudah selesai dan pulang.

"Beli apa mas, apa ada yang kurang belanjaan tadi atau ketinggalan?" Tanyanya padaku. Duh, tentu saja hatiku senang, berarti ia masih ingat padaku.

"Anu dek, beli rokok."

"Rokok apa mas?"

Mendadak aku kembali lupa, tadi Agus pesan rokok apa ya.

"Ntar aku tanya dulu ya dek." Kataku cepat sambil membuka WhatsApp lalu mengirim pesan.

Kang, tadi Agus pesan rokok apa ya, tolong tanyakan. Aku segera mengirim pesan dan untungnya langsung centang biru bertanda langsung dibaca.

Cie, pasti asyik ngobrol dengan Miranda nih makanya lupa. Bukannya langsung menjawab pesanku, malah kang Satria meledek.

Aduh kang, tolong jangan becanda saja ntar dek Mira ngambek. Balasku.

Cie, belum apa-apa sudah manggil dek Mira. Satria malah tambah menggodaku, sambil tak lupa menambahkan emot ketawa.

Ya sudah lah, nanti aku asal beli rokok saja, kalo salah biar nanti kang Satria yang diomelin Agus. Jawabku sambil menyertakan emoticon ngambek.

Akhirnya ia menulis juga merk rokok yang diminta oleh Agus, sebuah merk rokok yang baru yang bungkusnya merah berisi 16 batang, pantesan aku tidak terlalu familiar tapi harganya murah.

"Dek, boleh dong minta nomor WA nya, barang kali aku mau beli sesuatu disini tapi takut barangnya tidak ada, soalnya kontrakan ku jauh." Kataku beralasan sambil harap-harap cemas barang kali ditolak.

"Tentu boleh mas. Ntar aku tanya suamiku dulu ya, soalnya aku tidak hafal nomornya." Jawabnya, sebuah jawaban yang bagiku tampak petir di siang bolong.

Tak lama kemudian seorang pria berusia hampir sama dengan Miranda keluar. Ia juga ramah dan dengan cepat memberikan nomor WA nya sementara wanita muda itu keluar sambil menggendong anaknya yang masih kecil membuat aku makin kecut.

Aku pun pulang kembali ke kontrakan dengan langkah loyo.

TAMAT


Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

61 komentar untuk "Kisah cinta di pinggir ibukota"

  1. Haha, ternyata sudah bersuami tapi ga papa yang penting pas pulangnya dikasi gorengan sama cewe itu kan Nif? πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan cuma gorengan, bahkan dikasih permen juga biar gak nangis.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Maunya dikasih rongdo katanya πŸ˜…πŸ˜…πŸ‘

      Hapus
    3. Itu mah bukan khanif tapi kang satria.πŸ˜†

      Hapus
  2. Ternyata sudah berkeluarga ya Miranda. Kasihan mas Agus. Sabar ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasihan mas Agus nya ya, tidak dibelikan rokok.πŸ˜‚

      Hapus
  3. Lah, piye toh mas, ternyata istri orang :D

    Harusnya kan keliatan sudah bersuami atau tidak. Setidaknya body nya agak mengembang, apalagi sudah punya anak 1.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin rajin perawatan kang makanya tidak kelihatan sudah punya anak atau belum.πŸ˜‚

      Hapus
    2. hihi, bisa juga sih
      tapi serajin2nya, tetap keliatan kok mas, asal udah pro sih (maksudnya orang laki yang udah nikah, pasti tahu ciri2 wanita yang udah nikah)

      Hapus
    3. Nah itu, disini ceritanya khanif masih lugu, jadinya tidak tahu mana yang sudah nikah atau belum.πŸ˜„

      Hapus
    4. Sebenarnya si khanif tau cuma dia pura-pura aja mungkin biar ada sampingnya.. wkwkwk

      Hapus
    5. Mungkin bagi khanif ngga masalah udah punya anak, yang penting mirip Mierongdo ya mas.πŸ˜‚

      Hapus
  4. Rupanya temannya memang sengaja ngga langsung ngasih tahu, biar dia mau balik ke warung lagi.

    Saya sering merlihat toko dengan spanduk bertuliskan SRC. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, apa kepanjangan SRC?

    Rumah bertingkat tidak mesti kaya, bisa jadi kebutuhan. Saya pernah lewat sebuah jalan, dan rumah di sana kebanyakan bertingkat meski terbuat dari kayu. Awalnya saya pikir apa itu merupakan tren di sana. Rupanya daerah tersebut sering banjir, rumah yg tidak bertingkat pas banjir kemarin terendam hingga atapπŸ˜”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agus dan satria sengaja ngerjain khanif ya mbak.πŸ˜‚

      Entahlah apa kepanjangan dari SRC, mungkin sebuah merk kali ya.

      Kalo di daerah Kalimantan apalagi yang langganan banjir memang wajar rumahnya tingkat, tapi kalo di Bekasi apalagi daerah Tegal, rumah tingkat sebagai status sosial seseorang. :)

      Hapus
    2. Kalau ngga salah SRC itu kepanjangannya Sampoerna Retail Community.

      Hapus
    3. Wah, terima kasih Mas Herman. Akhirnya rasa penasaran saya terjawab.

      Hapus
  5. Pikirannya sudah berandai-andai hidup bahagia bersama Miranda, ee Mirandanya sudah berkeluarga ternyata. Bisa aja mas agus bikin ceritanya :)
    Btw, salken ya mas agus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak Anin.

      Eh manggilnya Anin apa sekar ya? πŸ˜…

      Hapus
    2. Gimana kalau dipanggil Miranda saja? 🀣🀣

      Hapus
    3. Yang penting jangan dipanggil Jaey Aza.πŸ˜†

      Hapus
    4. Sangat-sangat menghermankan kalau sampai dipanggil Jaey.. wkwkwk

      Hapus
    5. nah mas khanif sama mba miranda ini aja hehehe...

      becanda...

      padahal miranda yang nyiptain kan mbul ya, pada ga bayar royalti ke mbul huhu

      Hapus
    6. Bayarnya pakai ucapan terima kasih saja.πŸ˜„

      Hapus
    7. Bayar pakai backlink 🀣🀣

      Hapus
  6. He he ... Ternyata Miranda bini orang. Selamat malam, Mas Agus.

    BalasHapus

  7. 🀣🀣🀣🀣🀣🀣 Berarti ini cerita kisah nyata yaa.😊😊😊 Kisah nyata sewaktu Khanif di Bekasi..πŸ˜‚πŸ˜‚

    Yang akhirnya bertemu dengan pujaan hatinya MieRongdo, Cuma sayang sungguh sayang Mierongdo sudah gendong anak..🀣🀣🀣πŸ€ͺπŸ€ͺ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kurang tahu kang, ini kisah nyata apa kisah ngelantur, soalnya hanya Karangan ku saja.πŸ˜‚

      Hapus
  8. Ya Allaaaahhh ngakak wakakakakka.
    Udah membayangkan kisah cinta yang manis, dengan Miranda cantik dengan lesung pipit, yang kalau tersenyum semakin manis dan cantik.

    Lalu kirain, dia bercanda kalau mau tanya suaminya, lah kok beneran wakakakaka
    Bisaaaa aja nih Mas Agus, menipuuuhhhh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin cerpen kalo endingnya ngga ngeselin, sepertinya ngga enak mbak.πŸ˜‚

      Hapus
  9. Turut mendoakan semoga Mas Khanif segera bertemu pujaan hatinya, yang baik perangai serta wajahnya, amin

    tapi aku jadi kepingin masak mie nyemek nih kak soalnya baca tadi di cerita ada beli mie instan pas banget buat malam malam mendung gini nyeduh mie anget-anget ditambah kubis dan telor kopyok, nyummy...hehehe

    salam kenal ya kak agus

    δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dugaanku orang ini salah makan, mendadak kalem πŸ€£πŸ™πŸ™

      Hapus
    2. Bukan salah makan tapi habis minum obat kang jaey.πŸ˜‚

      Hapus
    3. Kalo dipikir pikir emang tumben komentarnya kalem ya kang Jaey.πŸ˜„

      Hapus
    4. hmmmmm....kenapa bisa kalem begitu ya? πŸ€’

      Hapus
  10. kak rokoknya harusnya beli di warung Prima aja lengkap kak, nanti biar nitip tetangga sebelah seorang anak bernama mbul aja yang suruh beliin kalau mas khanif yang beliin lupa soalnya lagi fokus ke mbak mbak warungnya kak ��, paling si mbul ga minta imbalan kak, cuma permen doang, permen foxxx wkwkkw

    selamat malam kak agus,
    have a super week

    δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

    BalasHapus
    Balasan
    1. asem aku malah bawa toge 2...wkwkwk...emotikon minta ditabok

      #punten kak agus, cuma turut meramaikan kolom komen si mbul

      ΰ²₯‿ΰ²₯

      Hapus
    2. Warung prima itu yang gimana sih mbul, apa yang ada Astrea Prima nya ya? πŸ€”

      Ada tauge nya berarti kayaknya pakai WiFi nih.πŸ˜„

      Hapus
    3. warung dekat tempat mbul mas...hewhewhew

      biasa mbul suruh beli rokok pas masih bocil di situ ma bapak, tapi sekarang bapak uda berhenti ngrokok sih hehe

      δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    4. Oh warung mbul waktu kecil kalo nongkrong ya.πŸ˜…

      Hapus
    5. Iya πŸ€£πŸ€£πŸƒ‍♂️πŸƒ‍♂️

      Hapus
    6. iyaaach...#pake suaranya putri duyung shirahosi beby mbul wkwkkw

      Hapus
  11. aku udah senyum2 bacanya. eh taunya udah punya suami dong si miranda.. wkwkwk.. ngenes banget 🀣🀣

    BalasHapus
  12. kasian banget sih gw, gak di dunia nyata dan di cerpen kok nasibnya sama.. eh tapi beneran sih, kemaren waktu gw kerja di depok warung langganan gw yang jualan lumayan cakep, gw kenal bentar tapi dia malah balik ke bandung, katanya mau nikahan :D

    BalasHapus
  13. Tubruk terus, mas. Kali aja memang jodoh.. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah inilah, ajaran sesad...wkwkwkkw

      🀣

      Hapus
    2. Harusnya dipepet terus mas khanif kalo belum nikah.🀣

      Hapus
    3. Kalaupun sudah nikah tubruk terus kali aja dia nyungsep.. wkwkwk

      Hapus
    4. Makin sesad ajarannya πŸ‘†πŸ‘†

      Tapi gue setuju πŸ€£πŸ€£πŸƒ‍♂️πŸƒ‍♂️

      Hapus
    5. 🀣🀣🀣

      Hapus
  14. kalau sudah berkeluarga, banyak yang lain ....

    😁😁

    Nice story

    BalasHapus
  15. Dikira single eh tenryata double
    tapi kasian juga liatnya

    BalasHapus
  16. Endingnya bikin lemes wkwkwk

    BalasHapus
  17. haha endingnya kecut. Suaminya minta dimarahin itu mas, naro istri cantik sembarangan :D

    BalasHapus
  18. Miranda, orangnya cantik, namanya aja kekotaan, beda sama Warsih yang mungking ndeso gituh hihihihi :D Saking lama mandangin wajah cantik Miranda, Satria sampai lupa tuh apa pesenan rokok si Agus wkwkwkwkw.

    BalasHapus
  19. Kok nggak tanya sih, Miranda punya adik cewek nggak. Siapa tahu bisa dikenalin, jadi nggak begitu kecewa. Biar nggak dapat kakaknya tapi dapat adiknya, hehe.

    BalasHapus
  20. Kebiasaan bangettt ya satria ga bilang2 kalo Miranda udh nikah hahahahaha. Aku ngebayangin muka Khanif pas didatangin suami Miranda 🀣🀣.

    BalasHapus
  21. Hahhahah ngakak bang,,, sepertinya kisah seperti ini sudah sering terjadi, sayapun pernah merasakannya pas awal2 ngekos dulu,,...

    BalasHapus