Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dendam dari Liang Kubur 2

 


Rumah besar yang ada di pinggir desa malam itu tampak ramai karena ada suatu acara, apalagi kalo bukan tahlilan. Kegiatan ini untuk mendoakan anak gadis tuan rumah bernama Windi Amira Sari yang baru meninggal dan dimakamkan tadi siang.

Rumah tersebut milik Satria yang terkenal sebagai juragan sembako dan juga bakul buah-buahan di kampung mereka bahkan sampai ke kecamatan. Tak heran kalo yang datang tahlilan sangat banyak, halaman rumahnya sampai penuh. Maklum tuan rumah terkenal dermawan dan tidak pelit dalam berbagi.

Walaupun begitu banyak juga orang terutama para pemuda yang menyayangkan kematian dari Mira, tadinya mereka berharap bisa mempersunting anak gadisnya, selain cantik anak orang kaya lagi.

Sementara itu Satria, yang sebagian rambutnya sudah memutih sendiri tampak tegar biarpun sesekali air matanya turun, jelas ia terpukul dengan kematian anaknya. Maklum Amira anak satu satunya dengan istri terdahulu nya yang meninggal karena penyakit. Setelah istrinya meninggal ia lalu menikah lagi dengan Maya, yang juga memberikan satu anak bernama Gono.

Maya sendiri tampak terpukul, ia tak henti-hentinya menangis bahkan jatuh pingsan sampai akhirnya ia dibawa ke kamarnya.

Orang-orang terutama kaum ibu memujinya, biarpun cuma anak tiri tapi ia sangat terpukul dengan kematiannya. Pasti ia sangat sayang pada almarhumah.

Akhirnya acara tahlilan itu selesai juga jam 9 malam, tapi tidak semua orang pergi. Ada beberapa warga yang tetap berjaga di rumah tersebut, untuk menghibur Satria juga daripada di rumah saja. Lelaki berusia 50 tahunan itu tentu saja berterima kasih atas perhatian warga kampung. Suguhan kopi dan rokok juga beberapa kue cemilan dihidangkan untuk para penduduk.

Sementara itu di dalam kamar, Maya terbangun dan tersenyum ketika melihat tidak ada seorangpun. Ia menarik nafas lega, karena sebenarnya capek juga pura-pura sedih, padahal dalam hatinya girang.

Ya, ia girang karena anak tirinya itu sudah mati. Ah, ini salahmu sendiri Mira, Sebenarnya ia tidak ingin membunuhnya kalo saja anak tirinya itu bisa kompromi.

Ini semua berawal sebulan yang lalu ketika anak tirinya itu memergoki ia sedang bersama dengan mantan pacarnya di sebuah warung makan. Amira memang sepertinya tidak mengadu pada bapaknya, karena sikap Satria masih seperti biasa sayang padanya. Tapi sikap anak tirinya itu sekarang acuh tak acuh padanya, padahal sebelumnya cukup menghormati.

Walaupun demikian Maya khawatir kalo suatu saat anak tirinya itu mengancam dirinya, ia lalu mengadu pada pacarnya tentang hal itu. Sumargo, yang juga khawatir karena takut kehilangannya dan terutama uangnya yang didapat dari Maya, lalu menyusun rencana agar ancaman itu dilenyapkan. 

Lelaki itu pergi ke seorang dukun, yang memberikan sebuah jamur beracun lalu menyerahkan padanya. Maya yang tahu kalo anak tirinya itu hobi makan jamur tentu saja girang, tapi ia tentu saja tidak bodoh, jika hanya Amira saja yang mati pasti dicurigai.

Oleh karena itu ia mengatur rencana. Setelah memasak jamur beracun itu, yang dicampur dengan jamur lainnya, ia lalu menghidangkan makanan itu saat makan siang saat Satria sedang di luar rumah mengurus bisnis buah buahan.

"Ini nak Mira, ibu masakkan sayur jamur kesukaanmu, kalo masakannya kurang enak harap dimaklumi ya."

Gadis muda itu yang memang suka makan jamur tentu saja senang, tapi ia tidak langsung makan, tumben amat ibu tirinya itu memasak untuknya.

Maya yang tahu hal itu tentu saja paham. Ia lalu mengambil sedikit jamur yang beracun dan beberapa jamur yang tidak beracun karena warnanya sedikit berbeda. Ia juga memilihkan jamur yang tidak beracun itu untuk anaknya Gono.

"Tapi Bu, aku tidak suka jamur." Anak yang baru berusia enam tahun itu manyun ketika piringnya dikasih sayuran itu.

"Tidak apa-apa nak, ibu juga tidak suka jamur, tapi kamu harus menghormati kakakmu. Nih ibu makan ya." Katanya sambil memakan jamur yang tidak beracun. Gono terpaksa makan.

Melihat hal itu maka hilanglah kecurigaan gadis itu." Makasih banyak ya."

Amira lalu makan jamur itu dengan lahap, bahkan ia masih nambah, karena kebetulan sudah seminggu lebih ia tidak makan jamur, sedangkan Maya hanya makan sedikit saja, itupun yang tidak beracun.

Biarpun tidak beracun tapi karena tercampur dengan yang beracun akibatnya fatal. Maya langsung perutnya sakit tidak karuan dan langsung muntah-muntah, begitu juga anaknya. Sedangkan Amira tentu saja langsung meninggal keracunan.

Wanita berusia 27 tahun itu tersenyum. Tidak sia-sia ia membayar mahal dukun di kota sebelah, jamurnya memang manjur. Tidak masalah dengan uang, toh dengan matinya anak tirinya maka harta kekayaan Satria akan jatuh ke tangannya, yang memang jadi niatnya saat menikah dengan juragan sembako itu. Ia juga memiliki rencana lain, yaitu melenyapkan suaminya juga, tentu saja tidak sekarang, tunggu beberapa bulan lagi atau tahun depan hingga orang-orang tidak curiga. Dan sepertinya tidak ada yang curiga, karena ia pintar berakting menangis sedih.

Maya beranjak dari tempat tidurnya lalu menuju lemari pakaian miliknya. Ia lalu mengambil sebungkus rokok yang ada di lemari kayu tersebut. Selain rokok, tentu saja ada benda-benda rahasia lainnya yang ia simpan. Ia tahu betul sifat suaminya yang memegang teguh kehormatan dirinya, tidak berani membuka sesuatu yang bukan miliknya biarpun itu milik istri sendiri. Dan jika memang Satria perlu sesuatu yang ada di lemari tersebut maka ia akan meminta istrinya untuk mengambilnya.

Setelah yakin tidak ada yang melihat karena sudah hampir tengah malam, maka Maya lalu menuju ke kamar mandi. Ia segera menutup pintu lalu menghisap rokok tersebut. Ah, nikmat sekali. Hampir gila ia tidak bisa mengisap rokok itu, karena para tetangga sibuk menghibur dirinya yang menangis sedih kehilangan anak tirinya.

Saat sedang asyik mengisap itulah tiba-tiba hawa dalam kamar itu berubah dingin. Ia agak menggigil dengan perubahan itu, tapi tidak curiga karena ini sudah tengah malam. Tak lama kemudian pintu kamar mandinya ada yang menggedor, sangat keras sehingga ia hampir terlompat.

"Sebentar pah." Serunya, menyangka kalau yang menggedor pintu itu suaminya.

Gedoran itu masih ada walaupun tidak sekeras tadi. Buru-buru wanita berusia 27 tahun itu memasukkan rokok dan bungkusnya ke kloset lalu menyiramnya dengan air, setelah itu ia langsung menyiram dengan karbol juga agar bau asap rokok ikut hilang, sementara suara ketukan makin kecil dan menghilang. Hawa dingin juga berangsur menghilang.

"Uh, suami yang tidak sabaran." Batinnya. Kalaupun suaminya tahu ia menghisap rokok maka ia bisa berdalih kalo sedang khilaf, kalau Satria masih marah ia punya jurus jitu yang tidak mungkin ditolak suaminya, tinggal bawa suaminya ke kamar lalu digoyang maka biasanya amarahnya akan reda, walaupun itu sebenarnya tidak cocok karena sedang masa berkabung. Lagipula merokok bukan masalah besar karena suaminya tahu kebiasaan dirinya itu, hanya sejak menikah ia memang sudah tidak merokok lagi kecuali kalo suaminya sedang pergi.

Maya membuka pintu kamar mandi, tidak ada siapapun diluar, tidak suaminya ataupun bi Saidah pembantunya atau para tetangga. Suasana sunyi sepi, tidak ada suatu suara pun, bahkan suara jangkrik samping rumah yang biasanya berbunyi kini diam.

Aneh batinnya, siapa gerangan yang kurang ajar itu. Tapi kalo dipikir-pikir tak mungkin suaminya juga, ia tahu Satria itu tidak pernah berbuat kasar. Kalaupun ia ada perlu penting maka akan memanggil, bukan menggedor-gedor pintu secara kasar.

Karena tidak mendapatkan sesuatu maka Maya lalu kembali ke kamarnya biarpun ia mulai gelisah akibat gedoran tadi. Hawa dingin muncul kembali.

Begitu ia masuk kamar maka matanya terbelalak. Di lantai keramik depan lemarinya berserakan beberapa batang rokok, dan yang paling membuat dirinya khawatir adalah kertas-kertas yang jatuh. Kertas itu berisi surat cinta dari mantan pacarnya, rayuan darinya, dan juga balasannya bahwa Maya masih mencintainya.

Dengan muka pucat maka wanita berkulit putih itu langsung memungutinya. Saat sedang mengambil kertas itulah tubuhnya merasa menggigil karena hawa dingin. Ia berpaling dan melihat jendela kamarnya terbuka lebar.

Astaga, bagaimana mungkin batinnya. Tadi sore ia sudah memastikan kalo jendelanya itu sudah terkunci, kenapa sekarang bisa membuka.

Maya segera saja meraih daun jendela untuk menutup kembali, saat itulah tiba-tiba muncul di hadapannya seseorang yang sangat dikenalnya, seorang gadis muda berwajah cantik tapi mukanya pucat.

"A.. Amira..." Serunya terkejut luar biasa melihat kemunculan gadis itu. Bagaimana mungkin, tadi siang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri anak tirinya itu dikubur.

Belum hilang rasa kejutnya, lehernya tiba-tiba terasa sakit dan dingin. Ternyata kedua tangan Amira sudah mencengkeram dengan erat, sangat kuat seperti dijepit dengan besi saja. Perempuan itu berusaha berteriak minta ampun tapi sayangnya suaranya tidak keluar, yang ada nafasnya makin sesak dan dadanya terasa  mau pecah karena kekurangan udara, tubuhnya sudah lemas.

Tiba-tiba lehernya terasa lega, ternyata Amira melepaskan cekikan nya. Maya bisa sedikit menarik nafas lega, tapi sayangnya itu hanya sebentar, kepalanya tiba-tiba didorong dengan sangat keras ke dalam. 

Maya yang memang sudah kehabisan tenaga tak punya daya. Kepalanya membentur ranjang besi, dimana kalo tidak ada seorangpun di rumah ia bisa bermain cinta dengan mantan pacarnya. Benturan yang sangat keras itu berakibat fatal, kepala bagian belakangnya retak dan mengeluarkan banyak darah, menggenangi tubuh pemiliknya.

Roh Amira tersenyum puas ketika melihat ibu tirinya itu sengsara kelojotan dan akhirnya mati. Setelah itu iapun menghilang di kegelapan malam.

Suara benturan keras itu terdengar oleh Satria dan juga beberapa tetangga. Bergegas mereka menuju ke dalam dan berapa terkejutnya Satria ketika melihat istrinya sudah mati dengan mata melotot ketakutan. Para warga juga ngeri melihat tubuhnya yang bergelimang darah.

Rampok, begitu pemikiran para penduduk apalagi melihat jendela yang terbuka. Mereka segera melihat keluar tapi sayangnya tidak ada seseorang ataupun sesuatu di luar rumah, hanya hawa dingin yang menggigit.

* * *

Suasana kuburan Krapyak dini hari itu masih sunyi senyap. Suara burung hantu yang hinggap di sebuah dahan pohon membuat khanif terbangun. Ia pun bingung ketika melihat dirinya sedang berada di tengah pemakaman umum. Samar-samar ia ingat kalo dirinya hendak membongkar makam kekasihnya Amira dan dikejutkan oleh kemunculan seorang wanita dan juga roh kekasihnya itu, tapi kenapa sunyi sepi.

Pasti aku bermimpi batinnya. Niat untuk membongkar makam ia urungkan, bahkan suara burung hantu yang kembali terdengar membuat ia takut. Bagaimanapun ini kuburan Krapyak yang terkenal angker di kota Brebes, mana tengah malam pula. Buru-buru pemuda itu ambil sekopnya lalu kabur. Biarlah urusan bongkar kuburan lain hari saja.

Sementara itu sesosok bayangan putih berdiri tidak jauh dari batang pohon dibelakangnya. Ia seorang gadis ayu tapi mukanya pucat, yang hinggap di dedaunan. Siapa lagi kalo bukan Windi Amira Sari, yang tentunya hanya berupa roh.

Arwah gadis itu menatap kekasihnya itu dengan wajah bimbang, teringat ia dengan percakapan dengan perempuan muda yang membangkitkan dirinya di kuburan umum itu setelah ia selesai membunuh ibu tirinya.

"Mengapa wajahmu murung, apakah kamu gagal membunuh ibu tirimu?"

Mira menggeleng. Wajahnya yang sebelumnya agak murung kini sedikit ceria." Tidak, aku sudah berhasil membunuhnya, kini aku lega, ayahku kini aman dan terbebas dari wanita jahat itu. Kamu tahu, ia tadi aku cekik sampai kehabisan nafas dan ku benturkan kepalanya hingga pecah hahaha..."

Wanita muda yang diajak bicara ikut tersenyum senang." Lantas kenapa kamu sedih."

"Dia." Jawab gadis itu sambil memandang kekasihnya yang tertidur pulas di sebelah makamnya." Aku sangat mencintainya, tapi sayangnya kini aku sudah mati dan tidak bisa bersamanya lagi. Apakah aku masih bisa menemuinya di malam lain?"

Perempuan muda berpakaian kebaya itu menggeleng." Tidak bisa, kekuatan ku hanya bisa untuk malam ini saja, untuk selanjutnya roh mu mungkin bisa menemuinya tapi sayangnya ia tidak akan bisa melihatmu. Lagipula terlalu lama di dunia manusia maka roh mu bisa celaka."

Mira tambah sedih. Melihat hal tersebut maka wanita didepannya itu tidak tega, ia lalu membisikkan sesuatu kepadanya.

Tentu saja Amira senang." Terima kasih banyak atas bantuanmu, sungguh aku sangat berterimakasih. Kenapa kamu begitu baik padaku."

Perempuan misterius itu tersenyum." Aku hanya merasa senasib denganmu Mira, aku juga punya dendam besar, sebagian dendam itu sudah terbalas, sedangkan sebagian lainnya belum."

"Kenapa tidak bisa membalas dendam, bukankah Anda sangat sakti?"

Perempuan muda berkebaya itu hanya tersenyum saja tidak menjawab.

"Kalo boleh tahu, siapakah nama mu?"

"Larasati." Jawabnya. (Untuk mengetahui siapa Larasati bisa baca Petaka Desa Kaligangsa)

* * *

Setelah mengikat sekop di jok belakang maka Khanif lalu menyalakan kendaraan roda dua miliknya. Ia masih linglung karena kejadian kejadian yang dialaminya malam ini. Pemuda itu merasa seperti bertemu dengan roh kekasihnya tapi bagaimana mungkin. Mana ada roh, ia juga melihat kuburan pacarnya itu, masih utuh seperti biasa, padahal bukankah sebelumnya ia bongkar untuk diambil jenazahnya untuk di otopsi penyebab kematiannya.

Pasti aku berhalusinasi, ternyata benar kuburan Krapyak itu angker pikirnya sambil menarik gas motornya sehingga kendaraan roda dua itu makin kencang larinya, beruntung sudah dini hari sehingga aman. jalan raya yang menghubungkan antar desa ke kecamatan itu memang sepi.

Amira, aku pasti akan membongkar rahasia kematian mu dan aku berjanji akan menyeret siapa yang membunuhmu, katanya pelan sambil tetap memacu kendaraan nya. Jalanan yang agak rusak tidak terlalu ia hiraukan tapi motornya kini agak ia pelankan. Ia akan mengajak temannya besok malam saat membongkar makamnya, kalo perlu dengan upah tinggi agar temannya mau.

"Mas khanif, ini aku mas..." Sebuah suara pesan seperti angin berhembus masuk ke telinga pemuda itu, membuat ia tersentak. Reflek ia menoleh dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sesosok wanita dengan pakaian putih berada di pinggir jalan diantara rimbun pohon bambu.

"A.. Amira..." Desisnya tak percaya. Wanita itu melihatnya dengan wajah sayu lalu ia pergi melayang ke depan. Akal sehat pemuda itu hilang, karena takut kehilangannya maka ia lalu menggeber motornya ke depan dengan kencang tanpa melihat dari arah berlawanan sebuah truk datang.

Pengemudi truk itu kaget bukan main ketika ia sedang asyik mengemudi tiba-tiba sebuah motor datang kearahnya dengan melaju kencang.

"Goblok, minggir!!!"

Tapi sayangnya musibah tidak dapat dihindarkan, truk besar itu menghantam dengan keras kendaraan roda dua itu hingga mental ke pinggir lalu masuk ke jurang yang ada disisi jalan bersama pengendaranya. 

TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

4 komentar untuk "Dendam dari Liang Kubur 2"

  1. Akhirnya cinta mereka bersatu dan dapat terbang bersama merajut cinta di alam lain dan hinggap duduk berdua di dahan pohon sambil ngemil jamur wkwk

    Dan sementara, Satria mengajarkan ilmu bela diri ke Gono dan memberi anaknya itu bumbung bambu 不不

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hingga akhirnya sang anak menjadi pendekar Bumbung bambu yang pilih tanding.不不不

      Hapus
    2. Hingga akhirnya tidak ada seorang pendekar pun yang bisa menandingi pendekar bumbung bambu.

      Karena gabut maka Gono lalu pilih mangkal di perempatan lampu merah sebagai pengamen angklung.

      Hapus
  2. Akhirnyaaaaa ada cerita horor lagiiii. Lama amat mas ga update .

    Duuuuh tapi ceritanya langsung ngenes gini yaaa 不. Agak ga respect nih Ama si Amira. Masa mati ngajak2 sih

    BalasHapus