Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengantre di pom bensin

 


"Mas, tolong belanja di pasar ya." Kata istriku.

"Ntar dek, ini lagi tangggung." Jawabku. Aku memang lagi main hape, membalas beberapa komentar yang datang ke blogku. Istriku juga sudah tahu kebiasaan ku ini. Awalnya sih kadang ngomel karena dianggap buang-buang waktu, tapi sekarang sudah biasa. Apalagi sejak terima gajian adsense biarpun setahun sekali karena jarang yang klik iklan di blog.

"Kalo bisa sekarang mas, ini sudah jam sembilan, takutnya pedagang langganan mas sudah pulang."

"Tapi..."

"Sekarang mas." Teriaknya.

Aku terpaksa mengangguk, menyimpan hape lalu pergi ke belakang sebentar untuk buang air kecil yang dari tadi kutahan. Setelah itu aku kedalam mengambil kertas daftar belanjaan dan langsung menstarter motor Honda Beat milikku yang masih kredit. Saat agak jauh sedikit sayup-sayup kudengar suara istriku seperti memanggil tapi aku cuekin.

Rumah kontrakan ku agak jauh dari jalan raya, mana jalannya sebagian sudah rusak lagi, padahal pakai beton tiga tahun lalu. Menurut kabar burung, katanya sebagian uang untuk pengecoran jalan ada yang ngembat sehingga kualitas menurun dan cepat rusak, entah burung siapa itu yang sok tahu.

Setelah 15 menit akhirnya sampai juga di jalan raya. Kularikan motorku dengan kencang karena takut pedagang langganan ku sudah tutup. Saat itulah kulihat indikator bahan bakar tinggal satu dan berkedip-kedip manja.

Kampret maki ku dalam hati. Kulihat di pinggir jalan ada Penjual bensin eceran tapi karena sedang ngirit maka aku lewati saja, soalnya 1 km lagi ada pom bensin, apalagi sekarang bbm yang diecer dijual pinggir jalan cuma pertamax, kalo di SPBU kan bisa ngisi pertalite yang lebih murah.

Tak lama kemudian akhirnya aku sampai juga di SPBU, dan betapa kagetnya ketika melihat antrian kendaraan roda dua yang panjang di bagian pertalite, sudah seperti orang antri nunggu uang BLT di kelurahan. Sejak harga Pertamax naik orang kebanyakan beralih ke BBM yang lebih murah, kalo di bagian Pertamax cuma tiga motor saja. Maklum petugasnya ada dua, anehnya yang bagian pertalite cuma satu saja, sungguh mencurigakan.

Kampret, batinku. Biarlah antri sebentar tidak apa-apa, yang penting dapat BBM murah, lumayan 15 ribu dapat hampir dua liter, bisa buat dua hari, kalo beli Pertamax paling cuma sehari. Biarlah pedagang langganan di pasar sudah pulang, masih banyak yang lainnya pikirku.

Kumatikan mesin motor lalu ku dorong ke depan. 

Setelah dua puluh menit akhirnya tinggal beberapa motor lagi sebelum giliran ku. Ku hitung ada lima motor, kalo misalnya satu motor satu menit paling hanya lima enam menit pikirku.

Motor di depanku maju ke depan, akupun ikut memajukan kendaraan roda dua ku. 

"Kang, mau isi bensin apa gimana?" Tegur seorang petugas SPBU di depan ketika melihat seorang pengendara motor di depan masih santai saja di duduk di jok motor. Mendengar teguran itu aku tentu saja ikut melihat dan jengkel, karena pemuda berkacamata itu baru turun dari jok nya. Okelah, jika motornya seperti Nmax yang memang tidak usah buka jok tidak apa-apa, tapi ini motor lama yang harus buka jok.

Huuu... Teriakan kesal beberapa orang yang antre di belakang nya berkumandang, termasuk aku. Lha gimana, sudah duduk-duduk santai, sekarang ia mencabut kunci motor, membuka jok belakang, dan membuka tutup bensin dengan gerakan slow motion. Udara siang yang sudah panas terasa makin mendidih.

Setelah pemuda itu selesai maka giliran orang selanjutnya yaitu bapak-bapak setengah baya. Tak ada yang aneh, hanya semenit transaksi selesai. 

"Full ya." Seru seorang pria seumuran denganku ketika ditanya petugas. Karyawan SPBU itu lalu mengisinya. Karena isi full maka harus pelan-pelan karena takut luber dan tumpah.

"Dikit lagi mbak." Katanya sambil menggoyangkan motornya.

Kampret batinku, ini sudah satu menit lebih tapi masih belum selesai juga. Apa ngga tahu dibelakangnya masih ada puluhan motor yang juga nunggu giliran apa, mana panasnya cuaca bikin pengin nonjok. Ibu-ibu di depanku juga sepertinya ingin ngamuk dilihat dari gerak tubuhnya yang tidak sabaran tapi ia memilih diam, makeup nya sebagian sudah luntur kena keringat, mungkin takut kalo ngamuk bisa viral.

Akhirnya bensinnya penuh juga. Setelah membayar dengan uang 100 ribu, yang bikin ngedumel karena waktu makin terbuang. Ia lalu duduk kembali dan menstarter motor nya.

Motor itu tegak tak bergeming, laki-laki itu tetap sibuk memencet tombol starter tapi kendaraan roda dua itu tetap berulah, mesinnya tidak mau menyala. Ia ganti mengengkol tapi tetap belum hidup juga.

"Kang, maju dikittt kenapaaaa!!!" Teriak ibu-ibu di depanku. Akhirnya emosinya meledak juga. Umpatan orang-orang di belakangku yang ikutan antre terdengar riuh rendah, akhirnya pria itu mendorong motornya maju ke depan.

Akhirnya tinggal satu lagi giliran ku batinku, semoga saja bensinnya tidak habis, kalo habis bisa rusuh nih. Aku membuka jok dan tutup bensin agar lebih cepat, bukankah mempermudah pengisian BBM itu baik, apalagi tiga motor di belakangku juga melakukan hal sama.

"15 ribu mbak." Kataku pada petugas SPBU yang sigap melayani ku.

"Dari nol ya." Katanya memperlihatkan meteran pom bensin itu, aku hanya mengangguk. Ia lalu mengisinya.

Aku tidak terlalu memperhatikan meteran itu berjalan karena aku langsung merogoh kantong untuk menyiapkan uang. Aku terkejut ketika kutarik tanganku tidak ada dompet, hanya ada kertas daftar belanjaan.

Kurogoh kantong satunya lagi, barang kali di saku satunya lagi, dompet sialan itu tetap tidak kutemukan, yang ada hanya hape Xiaomi jadul milikku. Saat itulah ponsel itu bergetar dan layarnya menyala, sebuah pesan chat masuk dari istriku.

”Mas, dompetmu ketinggalan."

Modyar.

TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

9 komentar untuk "Mengantre di pom bensin "

  1. Nggak apa2 dompet ketinggalan ajak saja mbaknya kerumah pasti percaya dirimu orang jujur...

    Kalau mbaknya nggak mau diajak kerumah kasih jaminan Ktp aja pasti dia langsung jatuh cinta.🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, dia ngga mau jaminan KTP kang, maunya motor saja.😂

      Hapus
  2. hehehe......
    biasanya kita terburu buru, makanya apa apa lupa.....

    saya sendiri, kadang sudah jauh baru ingat apa yang mau dibawa, terpaksa membalik kembali ke rumah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain aku doang yang pelupa, ternyata ada temannya.😅

      Hapus
  3. Astagaaaaaa, ini kenapa otak saya nggak nyampe mikirin endingnya bakalan kek gini, biarpun sebenarnya setiap kali mau antri isi BBM, saya tuh udah was-was, takut dompet ketinggalan, takut duitnya nggak cukup.

    Apalagi saya tuh mudah panik, kalau ditungguin orang antri kek gitu.
    Lah ini, pas banget ada orang yang slow motion, lah ditambahin drama lupa dompet wkwkwkkww

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain endingnya Agus ngutang sama SPBU ya mbak, soalnya bensinnya ngga mungkin disedot lagi.😂

      Hapus
  4. alhamdulilah masih ketinggalan di rumah sama sang istri ya mas, kalau tuh dompet hilang di jalan, kan malah bikin nyesek....bisa bisa kumpulan duit warna merah milik sultan agus sarilah ketriwal semuah

    gegeggekk...motor diengkol, ga tau kenapa tiap baca kalimat ini spontan tawaaaaaa 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi gimana dengan bensinnya yang sudah masuk tuh, masa disedot lagi.😂

      Hapus
  5. Memang cuma mas Agus yg bikin ending plot twist banget 🤣🤣🤣🤣.

    Skr antrian beli pertalite makin panjang ya mas. Kemarin dong pas aku ke Takengon, giliiiiiing, yg beli pertalite Ampe 2 km antriannya, puanjang bangetttt 😅. Aku sampe takjub Ama suami. Ntah Krn stoknya langka atau gimana itu. Serem aja kalo sampe abis di tengah antrian 🤣

    BalasHapus