Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gadis bergaun putih part 4


Diluar kamar mandi, dua laki-laki berbeda usia berkelahi dengan sengit yaitu Satria dan tamunya. Biarpun ia baru berusia dua puluh lima tahun dan kuat tapi karena tamunya itu seperti kerasukan setan maka tenaganya besar sekali. Mereka berdua bergumul di lantai dan tiba-tiba, lutut kanan pria itu mendarat telak di selangkangan tuan rumah.

Gadis Bergaun Putih part 1

Gadis Bergaun Putih part 2

Gadis Bergaun Putih part 3

Sekuat apapun Satria, ia langsung lemas dan semaput jatuh ke lantai. Ia hanya pasrah saja ketika kedua tangan lawannya itu langsung mencekik lehernya, kuat sekali. Nafasnya pun langsung tersengal-sengal.

Ya Allah, apakah aku akan mati? Batinnya.

"Apa... Apa kau akan mencekik mati aku seperti kau mencekik mati Laras?" Teriaknya ditengah keputus-asaannya.

Teriakan itu membawa hasil. Pria itu sedikit mengendurkan cekikan nya, mungkin sangat terkejut dengan ucapan Satria padahal itu hanya tebakannya saja.

Tapi sayangnya ia malah tambah beringas dan setelah itu makin mengencangkan jepitan kedua tangannya." Tak ada seorangpun yang boleh tahu tentang hal itu anak muda, kalo tidak maka aku terpaksa membunuh lagi."

Satria tentu saja tambah sengsara, tangannya berusaha menggapai apa saja yang bisa dipukulkan pada lawannya itu tapi nihil. Pandangan matanya makin kabur.

Disaat kritis seperti itulah, sebuah linggis tahu-tahu bergerak dan mendarat di punggung laki-laki paruh baya itu, linggis itu melayang diudara seperti dikendalikan oleh sebuah tangan tak terlihat.

Pria paruh baya itu tersungkur dan terkejut bukan main, apalagi dilihatnya ada sesosok tubuh samar-samar mendekatinya. Sosok itu dulu sangat dekat dengannya tapi kini ingin membunuhnya. Ia berusaha mencari bungkusan yang dibawanya tapi nihil, mungkin hilang disaat ia bergulat dengan Satria.

Ketika linggis itu mengayun lagi maka tak ayal nyalinya pecah. Tanpa bungkusan itu tak mungkin ia bisa mengusir roh Larasati. Ia segera berkelit lalu lari menuju pintu. Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil menjauh.

Satria sendiri hanya bisa membiarkan tamu biadab itu pergi. Keadaannya tidak memungkinkan untuk mengejarnya. Ia berusaha bangun sambil berpegangan pada dinding tapi karena tak ada tenaga maka ia terjatuh kembali. Sebelum menyentuh lantai, sesosok wanita langsung menangkapnya sehingga tubuhnya tidak terbanting.

Larasati menangis memeluk kekasihnya itu. Air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Sudahlah, aku tidak apa-apa kok." Ujar Satria.

"Astaga, mas Satria, kau tidak apa-apa?" Sebuah suara mengagetkan mereka. Satria yang sedang dipeluk oleh Larasati hampir saja jatuh karena tiba-tiba ia menghilang, beruntung tangannya masih sempat bergerak ke dinding sehingga ia tidak roboh.

Ternyata yang datang adalah pak Khanif, ketua RT setempat dan juga pak Herman yang sedang ronda. Segera saja ia memapah tuan rumah menuju sofa agar bisa duduk.

"Astaghfirullah, siapa yang berbuat kejam begini padamu nak Satria." Tanya pak Herman. Muka orang yang menyewa rumahnya itu memang babak belur dan ada lebam dilehernya.

"Tadi aku lihat ada mobil kabur dari sini, apakah dia?" Tak pak khanif juga. Ia lalu memeriksa keadaan novelis itu." Aku akan memanggil dokter."

Ketua RT itu lalu keluar sementara pak Herman meminta Satria untuk menuju kamarnya agar lebih nyaman tapi ditolaknya.

"Siapa dia nak Satria?"

"Maling." Jawabnya singkat.

"Maling?" Pak Herman kaget." Tapi aku lihat mobilnya itu ada dari tadi. Aku dan pak RT kira dia temanmu dari kota makanya tidak kami datangi. Aku kesini karena mendengar suara berisik. Ah, kalo saja kami datang lebih cepat." Katanya menyesal.

"Maling sialan itu berpura-pura mobilnya mogok lalu minta tumpangan disini. Setelah itu aku tidur tapi karena ada suara berisik maka aku pun bangun. Tak disangka, begitu ia kepergok, bukannya kabur malah berniat membunuh ku." Jawabnya sambil bersender di sofa. Ia masih lemas tak bertenaga, mungkin karena tendangan di selangkangannya.

Tak lama kemudian pak RT datang, bukan cuma dengan dokter tapi juga dengan dua orang lain yaitu Agus dan Jaey, yang tentu saja mereka berdua kaget melihat keadaan novelis itu.

Dokter yang tampak berumur lebih tua dari pak Herman karena rambutnya sudah beruban itu lalu memeriksa tuan rumah. Ia lalu berdiri." Tidak apa-apa, semuanya hanya luka luar, kalo diolesi salep nanti juga sembuh. Untung tidak ada luka patah tulang, tapi sebaiknya ia dibawa ke klinik saja sih agar lebih mudah diobati."

"Tak usah, aku tidak apa-apa kok pak dokter."

"Tapi..." Dokter itu masih ragu.

"Beneran tidak apa-apa."

"Ya sudah, kalo memang tidak apa-apa. Nanti aku tulis resep obat untuk dibeli. Oh ya, selain salep untuk luka luar, nanti ada salep untuk itumu juga biar lekas sembuh dan greng lagi. Sekarang apotik masih tutup jadinya minum obat ini dulu ya." Katanya sambil tersenyum. Yang lain jadi mesem-mesem sementara Agus dan Jaey malah cekikikan.

Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar uang, yang ditolak oleh pak dokternya, maka ia pun pergi.

"Aku tadi sudah minta Rozak yang lagi ronda untuk mengejarnya. Semoga saja tertangkap sehingga ia bisa dimintai pertanggungjawaban nya." Begitu kata pak RT.

Satria hanya diam mendengarkan, sementara pak Herman manggut-manggut." Oh ya nak Satria, kamu bilang tadi dia pencuri. Apakah ada barangmu yang hilang?"

"Entahlah, aku tidak sempat memeriksa."

"Wah gawat, mana malingnya sudah kabur." Kata Agus. Ia lalu keluar.

"Kenapa kamar mandinya berantakan mas?" Tanya Jaenudin setelah ia berkeliling. Satria agak terkejut karena ia sebenarnya sedang memperhatikan di pojok ruangan dimana seseorang sedang memperhatikan nya dengan air mata mengalir. Larasati tentu ingin merawatnya tapi dengan banyak orang disisinya maka tak mungkin ia menampakkan diri.

"Entahlah, mungkin ia mengira aku punya harta karun disitu. Sialan, padahal tidak ada apa-apa disitu selain celana kolor ku yang kotor belum dicuci."

Pak Herman tampak berpikir sejenak." Kalo tak salah, sebelum dibeli pak Jonathan dulu di sekitar sini ada sebuah sumur tua ya."

"Betul sekali, cuma sayangnya airnya kurang jernih jadinya jarang ada yang memakainya. Tapi sejak dibangun rumah, sumur itu menghilang, mungkin di urug pak Jonathan." Sahut pak khanif.

Hati Satria langsung menangis. Tentu mayat Larasati dikubur didalamnya makanya polisi juga tidak bisa menemukannya.

"Aku menemukan ini di dapur, apakah ini milik mas satria apa maling itu." Agus kembali sambil membawa bungkusan dari kain berwarna hitam. Setelah dibuka isinya adalah kembang tujuh rupa, kemiri, bawang putih, akar pohon dan lainnya yang satria tahu dari guru spiritualnya kalo itu adalah bahan untuk mengusir roh halus dan melepaskan kutuk.

"Ya, itu milikku." Jawab Satria setelah berpikir sejenak.

"Untuk apa bahan bahan ini nak?" Tanya pak RT heran. Ia yang biasa hidup di kampung memang kadang pernah melihatnya, tapi masa Satria yang orang kota memerlukannya.

"Enggg... Itu untuk ramuan herbal." Ujarnya sekenanya.

"Ramuan herbal, untuk apa?" Tanya khanif lebih lanjut.

Sebagai novelis, mudah saja bagi ia menjawab." Itu aku dapat dari temanku, katanya untuk membuat badan segar dan juga katanya bisa menjernihkan pikiran agar ide menulis bisa lancar."

"Wah, temanmu itu berdusta. Apa kau tahu..." Belum sempat pak RT meneruskan ucapannya tapi sudah dipotong oleh pak Herman.

"Ini kok seperti interogasi pak RT." Katanya sebal. 

"Aku harus mengetahui duduk perkaranya Herman." Jawab khanif yang seusia dengan Herman.

"Kalo begitu, tangkap malingnya Nif. Bukan malah menyudutkan korban." Tegurnya. Pak khanif jadi malu dan langsung diam.

Tak lama kemudian sayup-sayup terdengar azan Subuh di kejauhan. Pak khanif dan pak Herman lalu permisi sedangkan Agus dan Jaey disuruh untuk menunggu.

"Gus, tolong belikan aku makanan dong di warung Bu Nita."

Tentu saja Agus terkejut." Waduh mas. Aku tidak berani, tahu sendiri Bu Nita itu galak dan aku juga masih punya hutang."

"Ini uang 100 ribu, tolong belikan nasi tiga bungkus buat kita bertiga. Sisanya terserah mau buat beli rokok atau apa saja buat kamu." Kata Satria sambil menyerahkan uang bergambar pak Karno. Tentu saja Agus kegirangan, segera saja ia pergi, hanya tinggal jaey yang geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.

"Mas Jaey, apotik sekarang sudah buka belum ya?"

Jaenudin agak terkejut juga dengan pertanyaan nya." Belum mas, baru jam 5. Biasanya apotek buka jam 8. Lagi pula aku harus jaga kamu."

"Kamu kenal sama penjaganya kan, tolong belikan sekarang dong. Badanku rasanya sakit semua. Tenang saja, tak mungkin maling itu kembali." Kata Satria sambil meringis. Melihat keadaannya maka Jaey tidak banyak cakap lagi, segara ia keluar rumah.

Begitu kedua orang itu pergi, Larasati segera saja muncul dan memeluknya. Air matanya kembali bercucuran di kedua pipinya." Sudah, aku tidak apa-apa kok sayang. Sungguh, hentikan tangismu ya, nanti kalo ada yang tahu malah nanti gawat."

Satria dan Larasati akhirnya bisa saling berpelukan walaupun hanya beberapa saat, tapi itu sudahlah cukup. 

"Apakah disitu kamu dikuburkan sayang?" Tanya Satria. Yang ditanya hanya diam saja. Satria langsung memeluknya kembali." Sudahlah, tidak apa-apa."

Pagi harinya mereka tidak bisa bersama lagi karena banyak yang berkunjung ke rumah mungil itu. Pak RT dan pak Herman tentu saja datang kembali. Agak siangan dikit Bu Nita juga datang sambil membawa kue dan makanan. Ia datang karena diberi kabar oleh Agus. Tentu saja ia terkejut ketika melihat keadaan tuan rumah.

"Waduh, siapa yang tega sekali padamu cah bagus."

Satria lalu mengarang cerita yang sesuai dengan keterangannya tadi pagi. Setelah mendoakan agar ia cepat sembuh maka pemilik warung makan itupun pulang.

Siangan dikit maka datang Bu Heni. Sama seperti tukang warung itu, ia pun bertanya macam-macam yang dijawab sekenanya. Setelah ia pergi masih ada beberapa tetangga yang datang menengok.

Sore harinya barulah Satria benar-benar kaget ketika melihat pak RT itu datang kembali dengan sebuah mobil polisi. Setelah basa basi sebentar maka ketua RT itu langsung bicara ke tujuan.

"Aku yakin, ada sebuah misteri kenapa pencuri itu hendak membongkar kamar mandi. Mungkin disitu ada mayat Larasati, istri muda dari seorang pengusaha yang hilang tak tentu rimbanya." Begitu kata pak khanif yang hanya dijawab dengan bahu diangkat oleh Satria.

"Kita harus membongkarnya sekarang." Demikian lanjut ketua RT itu lagi. Tentu saja Satria terkejut sekali.

"Jangan sekarang."

"Kenapa? " Tanya ketua RT itu tak mengerti. Petugas polisi juga bertanya mengapa tidak boleh sekarang.

Novelis itu mencari akal." Seperti yang bapak lihat, aku masih shock akibat kejadian tadi pagi. Badanku juga masih sakit semua. Aku tak ingin tambah kaget karena ada mayat disini. Kumohon pak polisi."

Ketua RT dan polisi itu saling bertatapan. Karena alasannya masuk akal maka permintaannya dikabulkan. Tiga hari lagi baru akan dibongkar kamar mandinya.

Malam harinya begitu para tamunya pergi maka Larasati langsung datang dan memeluknya. Ia menangis tersedu-sedu. Satria lalu menghiburnya." Sudahlah sayang. Semoga dengan ditemukannya jenazahmu nanti kau akan tenang di alam sana. Aku janji akan selalu mengingat mu." Katanya sambil mengecup keningnya. 

Tangis Larasati makin menjadi, kini baru disadarinya mengapa ia selalu gelisah belakangan ini, karena akan berpisah dengan orang yang dicintainya. Mereka lalu saling berangkulan sambil seakan tak ada lagi hari esok.

Hari-hari berikutnya masih ada satu dua orang yang datang menengok. Yang rutin adalah Agus karena selalu dapat makanan gratis. Kalo malam ia menawarkan diri untuk menginap tapi selalu ditolak oleh Satria. Tak ingin merepotkan kamu, begitu alasannya. 

Satria sendiri punya alasan menolak karena memang ingin menikmati saat-saat terakhirnya dengan kekasihnya biarpun mereka berbeda alam. Ia kini tidak pernah menyentuh lagi keyboard laptop nya. Dulu waktu diputuskan oleh Vera ia memang pernah kecewa tapi masih bisa mendapat inspirasi menulis. Sedangkan mengetahui bahwa ia akan ditinggal selama-lamanya oleh Larasati maka ia langsung kehilangan semangat.

Hari yang dinantikan datang juga. Polisi akhirnya datang lagi ke rumah tersebut dan Satria sudah kehabisan alasan untuk menolaknya. Setelah memakan waktu seharian karena kamar mandi itu di beton dengan kuat, maka sore harinya akhirnya selesai juga. Ternyata memang benar kalo dulunya kamar mandi itu bekas sumur yang di urug. Setelah petugas polisi terjun ke bawah sumur, ditemukan tulang belulang manusia berjenis kelamin perempuan.

Tentu saja penemuan itu bikin geger. Para wartawan pada datang meliput apalagi diketahui bahwa yang menyewa rumah itu adalah seorang novelis yang cukup terkenal. Satria sendiri yang memang sudah bersiap-siap dengan pertanyaan para jurnalis bisa menjawab dengan lancar.

Dengan adanya penemuan mayat itu maka pak Jonathan, suami dari Larasati tak bisa mengelak. Ia ditangkap tanpa perlawanan sama sekali, sepertinya sudah pasrah.

"Kau tahu Satria. Sebenarnya aku sangat mencintai Larasati. Ia sebenarnya tidak banyak menuntut padaku, ia hanya ingin diperhatikan olehku. Justru hal itu yang tidak bisa aku lakukan karena aku punya istri tua dan juga lima anak yang aku urus. Belum bisnis ku juga harus ku kelola bukan." Begitu kata pak jon ketika Satria berkunjung ke penjara. Pria yang dulu ia lihat masih tegap itu kini sudah berubah layu seperti kakek-kakek, seakan usianya bertambah puluhan tahun hanya dalam sebulan.

"Maka ketika kami bertengkar malam itu aku khilaf. Ia meminta cerai padaku. Tentu saja aku tolak, ia minta lagi agar aku mengenalnya pada istri pertama ku, yang tentu saja ku tolak juga. Ia marah dan mengamuk, tentu saja tidak aku ladeni. Tiba tiba ia meludahi ku. Amarahku tentu saja langsung naik, ia langsung aku cekik. Tentu saja hanya cekikan biasa karena aku masih sayang padanya. Tapi ia terus menantang ku hingga aku khilaf. Begitu sadar tahu tahu ia sudah meninggal." Kata pak jon menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Satria hanya diam saja mendengarkan.

"Begitu tahu Larasati meninggal maka aku panik. Aku belum mau dipenjara. Akhirnya aku kubur di sumur tua itu lalu aku buat sebuah kamar mandi agar orang tidak curiga. Maafkan aku Satria, karena kau telah mandi di atas makam kuburannya."

Novelis itu tetap diam menyimak.

"Sejak kejadian itu bisnis ku entah mengapa merosot. Anakku juga banyak yang sakit, satu sembuh maka lainnya dalam beberapa bulan akan ada yang sakit. Aku lalu bertanya ke dukun. Katanya hal ini karena kutukan perempuan yang aku bunuh. Akhirnya aku diberikan sebuah bungkusan yang harus aku taruh langsung dalam kuburannya, itu untuk menetralisir pengaruh jahat. Maafkan bapak Satria, sejujurnya bapak tidak berniat menyakiti kamu malam itu."katanya sambil menangis lagi.

Satria tetap diam.

Melihat pemuda itu diam saja, pak Jonathan tentu saja heran." Mengapa kau diam saja Satria. Tidakkah kau ingin membalas perbuatan ku malam itu? Kalau kau ingin pukul aku, pukullah sesukamu."

Pemuda itu menghela nafas baru menjawab." Untuk apa kulakukan, karena apapun yang aku lakukan padamu ia tetap tidak akan kembali."

Tentu saja pak Jonathan heran."apa maksudmu satria?"

Novelis itu tidak menjawab. Ia malah bangkit berdiri lalu keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan pak Jon yang masih tak mengerti.

Yah, sejak pemakaman Larasati di kuburan umum memang dia tidak pernah datang lagi. Satria sendiri yang paling giat mengurusnya sehingga membuat keluarga Larasati sendiri terheran heran.

Pernah ia datang sekali dalam mimpinya untuk mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia menghilang kembali dalam kabut, seperti ketika pertama kali ia bertemu Satria. Setelah itu tak pernah datang lagi biarpun ia masih menghuni rumah mungil itu.

* * *

Pesta pernikahan itu berlangsung meriah. Mona dan Erik tampak berbahagia di pelaminan. Beberapa teman mereka menggoda sehingga suasana tambah ramai. Walaupun senang, tapi Mona masih gelisah juga karena novelis itu belum datang juga.

"Tenang saja sayang, aku yakin ia akan datang, ia bukan orang yang suka ingkar janji bukan?" Erik berkata menghibur istrinya.

"Tentu saja. Ia biasanya datang tepat waktu. Kau kan sudah sering bertemu dengannya dan tahu kalo ia benci orang yang terlambat."

"Tentu saja, kecuali mungkin ia menemukan kekasih baru dan lupa datang kesini." Ujar Erik sambil tertawa. Mona sendiri ikut tertawa sambil membayangkan, apakah itu sekretaris barunya yang belum sempat ia lihat wajahnya seperti apa.

"Kau lihat, kekasih lamanya itu masih setia menunggu. Semoga saja ia datang. Kalo tidak..." Pengantin pria itu menghentikan ucapannya karena pahanya sudah dicubit oleh istrinya.

Sementara itu Vera yang memakai gaun berwarna merah muda tampak gelisah di tempat duduknya. Walaupun pacarnya Toni berusaha menghiburnya tapi ia tetap resah, cuma perasaan itu tidak ia perlihatkan untuk menghormati kekasihnya.

Walaupun ia sudah putus dengan Satria, tapi ia penasaran dengan cerita Mona yang mengatakan mantan kekasihnya itu sudah memiliki kekasih baru yang membuatnya sudah melupakannya. Tentu saja Vera tambah penasaran karena ia tahu novelis itu tidak mudah jatuh cinta, tapi sekali kasmaran maka ia akan setia.

Setelah menunggu beberapa saat maka Vera lega juga. Dilihatnya Satria datang dengan pakaian rapi. Wajahnya masih tetap gagah biarpun sepertinya ia kurang bersemangat.

"Akhirnya kamu datang juga mas Satria. Kamu masih seperti biasa."

Satria tersenyum." Dan kamu masih tetap cantik Vera."

Sebuah senyuman manis muncul di wajah Vera." Gombal. Kenapa kau tidak bawa kekasih barumu itu kesini?"

"Kekasih baru?" Tanya Satria tak mengerti.

"Ah tidak usah mengelak. Aku lihat kamu tadi turun di tempat parkir dengan seorang gadis bergaun putih disamping mu. Tentu itu pacarmu yang baru bukan. Kenapa tidak kau bawa kemari?"

Perkataan itu membuat Satria tersentak. Akhirnya sebuah senyum pun muncul di wajahnya. Sementara itu musik pesta pernikahan tetap mengalun menghibur para tamu undangan.

TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger yang ingin berbagi pada dunia terutama tentang film dan serial tv, suka nonton film tapi lewat gadget terutama handphone

99 komentar untuk "Gadis bergaun putih part 4"

  1. Waaahhh happy ending!

    Kayak nonton drakor tauk, episodenya dari awal ke akhir itu naik turun klimaksnya :D
    Tapi menarik banget, dan memang pas banget nih Mas dipisah jadi beberapa bagian, kadang kalau kepanjangan orang jadi capek bacanya, karena di layar ya.
    Dengan dibikin per bagian ini, orang lebih fokus bacanya, karena setiap partnya ditayangin dulu, nanti part lainnya menyusul, jadi informasi nggak numpuk semua di pikiran :D

    Btw, ujung-ujungnya penasaran juga, apakah si gadis bergaun putih alias Larasati pacarnya Kang Sat, eh mantannya ding, itu bakal selamanya menjalin hubungan dengan novelis tersebut?

    Kalau novelis itu punya pacar, entar diganggu lagi deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, kirain kayak nonton sinetron Indosiar mbak.πŸ˜‚

      Benar mbak, kalo dijadikan satu itu hampir 15.000 kata, yang baca takutnya bisa pingsan duluan atau baterainya keburu lowbat, kalo dibikin beberapa bagian kan enak bacanya.πŸ˜„

      Kalo penasaran mbak Rey bisa bikin cerpen nya sendiri, bagaimana baiknya, apakah kang satria enaknya jadi tumbal saja ya.🀣

      Hapus
    2. wakakakakakak, kuberi tahu satu rahasia ya..

      Saya tuh kekurangannya, sulit berimajinasi hal-hal yang tema fiksi.
      Kalaupun saya nulis fiksi, pasti saya hubung-hubungkan dengan kisah nyata.

      Nggak tahu kenapa, makin tuwah, ini otak makin susah mikir hal-hal yang belum pernah terjadi :D

      Hapus
    3. Wah, kebalikan dong sama saya, kalo saya sukanya ngayal mbak karena bebas sih, bisa juga nanti bikin cerpen tentang mbak Rey jadi Miss K.πŸ˜‚

      Hapus
  2. Fiyuh.. syukurlah happy ending πŸ˜‚πŸ˜

    ngomong-ngomong, temen-temen bloggernya Si Agus kok jadi pada kopdaran semua di cerpen ini yah πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga ending mbak, jadinya dikumpulkan jadi satu biar bayar royalti nya sedikit mbak.πŸ˜„

      Hapus
  3. Akhirnya jomblo2 juga...Suuueee..🀣🀣🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang kang, nanti akan ada lanjutannya lagi kok tapi beda judul. Kisahnya tentang kang satria yang lagi mangkal nyari pacar di lampu merah.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Suuueeee...πŸ€£πŸ˜‚

      Hapus
    3. Oke ditunggu lanjutannya.. wkwkwk

      Hapus
    4. Ini lagi baca baca lagi nyari lanjutannya hihihi.

      Mungkin nanti satria jadi tukang ojek lagi ya

      Hapus
    5. Jadi tukang ojek lagi, dibawa ke alam gaib lagi dong..hihihi

      Hapus
    6. Begitulah, tapi kali ini bukan dibawa ke alam gaib kerajaan siluman ular tapi alam gaib penuh rongdo.😁

      Hapus
    7. Itu mah maunya dia bukannya di bawa.. wkwkwk

      Hapus
  4. Deg-degan penasaranku lanjutan kisah akhir ini berujung ... legaaa .., plus sedih juga karena kok .. jadi jomblo kayak sayaaaa , hahhaa πŸ˜†.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu ibu tukang warung dan tukang sayur jomblo juga, barangkali minat πŸ˜‚πŸƒ‍♂️πŸƒ‍♂️

      Hapus
    2. Wah, sepertinya kang jaey minat juga sama tukang warung nya nih, biar bisa makan gratis terus tiap hari.😁

      Hapus
    3. Kalau tukang warungnya berubah jadi Hermansyah apa masih minat kang Jaey..🀣🀣🀣

      Hapus
    4. Kayaknya tetap minat kang, yang penting bisa makan gratis.🀣

      Hapus
    5. Hermansyah itu yg mana ya hihi

      Hapus
    6. sama anak tukang sayur kali :D

      Hapus
    7. Mungkin makhluk yang dari planet named, kang Jaey

      Hapus
    8. Itu mah Son Goku mas.πŸ™„

      Hapus
    9. Kirain raja iblis Satrio.πŸ˜„

      Hapus
  5. Gadis bergaun putih diparkiran? Dan Vera bisa melihat itu, Hmm.. apakah Larasati hidup lagi? hihi..

    Aku lupa ngomentari yg ngilu itu di part 3, untung di part 4 ini ada tayangan ulangnya (sesuatu yg ngilu itu) πŸ˜‚πŸ˜‚

    Oh yg mobilnya mogok itu maling sekaligus jonatan sekaligus mantan suami Laras.. πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm, sepertinya harus tunggu kang satria konfirmasi, apakah itu memang Larasati ataukah cuma rongdo yang dibawa ke kondangan agar tidak disangka jomblo.πŸ˜‚

      Iya, kang satria masih jomblo saja karena itunya belum sembuh kali ya.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Seperti itu bukan Larasati tapi cuma rongdo yang nyasar...kaburrrrrrrrr

      Hapus
    3. Betul, masa yang pakai gaun putih cuma Larasati saja, siapa tahu kang jaey dengan ilmu telekinesis nya bisa menggerakkan baju putih disampingnya satria.πŸ˜„

      Hapus
    4. Ilmu teletubies πŸ˜‚

      Hapus
    5. Ilmu Teletubbies, berpelukan dong..hihihi

      Hapus
  6. hahhaha, ngakak bagian si agus paling rajin nengok lantaran mau numpang makan gratis, tapi satrianya ga mau soalnya mau yang-yangan bareng si hantu di detik detik terakhir...wkwkwk

    seruuuuu banget bacanya hihi

    tapi kasiman juga ya, tapi tu dokter mas mengatakan mau kasih saleo agak terbata bata gitu ya ngucapnya hahahah, kocak sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan lumayan dapat makan gratis mbak, kalo di warung Bu Nita kan harus bayar, mana galak lagi tukang warungnya.πŸ˜‚

      Kenapa dokternya terbata bata bilangnya ya, apa terkesima oleh pesona novelis gatel eh ganjen itu.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    2. Oh mungkin sebel sama si agus kali, soalnya tiyap bikin cerita pendeskripsian tokohnyan selalu dibikin ibu2..πŸ˜…

      Dokternya cowok kan... kayaknya sih bukan terpesona melainkan agak rikuh karena salepnya buat nganu πŸ˜‚

      Hapus
    3. Oke deh, nanti aku kasih peran cewek cantik yang masih tingting, tapi punggungnya bolong ya.πŸ˜‚

      Kayaknya kalo dokter masalah itu mah sudah biasa. Berarti yang bener masalah apa dong sampai terbata bata ngomong nya.πŸ˜„

      Hapus
    4. hahhaha bercandaaa

      yayaya terserah cerpenisnya saja deh, saya mah tinggal baca saja

      tadinya malah ga fokus ke tokoh figurannya, soalnya fokus ke cerita tokoh utama hantu ama lawan mainnya..

      ntar deh gw bikin fiksi sendiri saja biar bisa bikin karakter yang semau gw πŸ˜‚

      ya mungkin ternyata dokternya, walau cowok terkesima juga dengan karisma seorang novelisnya

      btw baru tau kemiri bisa buat ngilangin kutukan, aku mah taunya buat bumbu sayur lodeh saja 🀣🀭

      Hapus
    5. Biasa bercanda mbak biar ngga garing kayak kanebo kering.πŸ˜‚

      Ayo bikin cerpen mbak, pasti bagus karena mbak orangnya teliti, kalo saya masih ada tiga empat yang kurang pas jalan ceritanya.

      Kalo soal kemiri aslinya cuma karangan saja, namanya juga cerita. Tapi coba mbak mbul tanya orang pintar, barang kali betul.😁

      Hapus
    6. Kalau mbak Nita bikin cerpen pasti bagus nih jalan ceritanya dan mendetail banget..

      Hapus
    7. Tunggu saja dua tiga hari ini mas, nanti cerpennya terbit.πŸ˜„

      Hapus
    8. Justru kalau aku yang bikin fiksi kualitasnya masih sue sekali, masih belom sebagus mas kal el n mas agus hahah, tapi aku uda bikin dong, cuma iseng iseng aja hahah #sambil tutup muka pake panci 😝

      Hapus
    9. Tuh betulkan tebakanku mas Kal El, sudah terbit tuh cerpennya mbak mbul, ayo buruan pantengin Gustivi channel.😁

      Hapus
    10. @Gustyanita, itu kenapa tutup panci nya bolong tengahnya sih, apa habis digigitin ya.😱

      Hapus
    11. Iya udah terbit dan sepertinya bakal jadi cerbung yang maha panjang.

      Hapus
  7. haha jadi disini yang jadi biang keroknya pak jon tow, untunglah dia sudah tobat dipenjara, lain kali kalo khilaf jangan langsung nyekik orang pak jon :D.. btw anak penjual warung bu nita cantik apa ya, kok penasaran gak di kasoh peran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya pengin jadikan pak RT khanif itu yang nyekek Larasati, cuma takut mas khanif ngambek jadinya diubah.πŸ˜‚

      Hapus
    2. haha gpp mas, jadi antagonis tukang nyekek orang :D

      Hapus
    3. Waduh serem amat mas khanif jadi tukang nyekek orang jadi takut..

      Hapus
    4. Sepertinya kalo mas Herman ngga bayar utang ntar juga dicekek.😁

      Eh, itu mah Bu Nita ya.πŸ˜‚

      Hapus
    5. haha kan itu seumpamanya saja :D.. untunglah di cerita jadi pak rt yang sok banget sepertinya :D

      Hapus
    6. Iya, RT nya berwibawa ya, soalnya sesuai sama karakter mas khanif.πŸ˜„

      Hapus
  8. Saya pikir jasadnya si Larasati dikubur di tempat yang berbeda ternyata tetap masih di dalam sumur.

    Kalau dipikir-pikir si Larasati udah kayak manusia biasa aja bukan kayak arwah yang gentayangan..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terus gimana dong Hu...Mungkin nanti ada lanjutannya kali yee..

      Judulnya : "PEMBANGKIT ARWAH" 😳😳

      Hapus
    2. Salah kang, judul selanjutnya adalah goyangan rongdo.πŸ˜‚

      Hapus
    3. Goyangan rongdo itu kayak gimana ya gayanya ...apa kayak goyangan tsunami.
      Atau ...kayak goyang ngedance hip-hop πŸ€” ?

      Hapus
    4. Bukan kang, saya juga kurang tahu seperti apa, coba tanya kang satria yang jadi makelar rongdo saja, sepertinya tahu.πŸ˜„

      Hapus
    5. Ada dulu film raffi ahmad, judulnya "siang mencekam", raffi nemuin satu keluarga dibunuh, mayatnya disembunyikan dibawah tangga loteng, tangga lotengnya ada kamar2nya, cuma mau bilang aja sepertinya itu satu2nya film horor yg sutingnya siang, hihi..

      Hapus
    6. Itu film tahun berapa, kang?

      Hapus
    7. Dari tahun lebaran kuda mas, atau dari jaman kuda gigit bakmi.😁

      Hapus
    8. Tul sul πŸ˜†πŸ˜†

      Hapus
  9. mas Agus.. maafkan.. saya hanya baca akhirnya.. wakakakkkk..
    ntar baca2 lagi kalau sempat... habis sampai part 4... panjang amat ga kelar semalam ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak apa-apa mbak Monica, santai saja, yang penting sudah membaca biarpun bagian terakhir.😊

      Hapus
  10. Wah ceritanya ternyata panjang juga ya, bisa dijadiin novel nih tapi maunya happy ending dan mas satria beneran dapat pacar bukan arwah haha udah kayak fan fiction saya πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dijadikan novel takutnya ngga laku mbak, cukup buat isi blog saja lah biar ngga keliatan kosong.😊

      Hapus
  11. Akhirnya aku bisa baca sampai tamat, dan terjawab sudah siapa gadis bergaun putih itu sebenarnya 😁
    Cerita yang bagus kak Agus! Endingnya juga membuat hati senang dan lega hahaha.
    Aku suka! Keren lah keseluruhan ceritanyaπŸ‘πŸ»

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalo kak Lia suka, nanti aku buat yang lainnya lagi. Eh, tapi boleh pakai nama Lia untuk karakter cerpen tidak ya?

      Hapus
  12. Yaah, tamat. Jadi Larasati bakal menampakkan diri lagi, Mas Agus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tahu kang, coba tanya kang satria saja, siapa tahu itu cuma pacar sewaan saja biar tidak disangka jomblo.🀣

      Hapus
  13. good job, mas! so, boleh hantar manuskrip ini ke publisher... mana tahu boleh diterbitkan buku nanti ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga usah mbak, buat isi blog saja.πŸ˜‚

      Hapus
  14. Ih Vera, udah tau satria gak gampang jatuh cinta dan kalau sudah kadung jatuh cinta bakal setia, lha kok masih aja selingkuh. Mana minta putus pula. Akhirnya satria sama Laras deh. Hehehe.🀭

    Ngomong-ngomong, selamat mas Agus. Ceritanya bagus banget. Dulu bikin cerpen, sekarang cerbung, ditunggu buat novel nya ya, mas. Mudah-mudahan bisa terkenal macam satria eh Tere Liye maksudku, mas.🀭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, kan di bagian dua sudah diceritakan kalo satria lebih suka menulis novel dari pada pacaran sama Vera, jadinya dia kabur.πŸ˜‚

      Ok mbak, tapi kalo beli novelnya jangan buat bungkus gorengan ya.πŸ˜‚

      Hapus
  15. Kereen bet. Ada horor, romansa juga. MAntep banget kang Agus.
    Produktif juga dalam sehari bisa menghasilkan dua tulisan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu sebenarnya buat dalam lima hari kang, cuma publish nya memang bersamaan biar pembaca ngga penasaran.😊

      Hapus
  16. Wah... Udah tamat. Apakah endingnya berarti larasati kembali lagi? Tapi masak iya satria mau sama arwah terus? Saya berharap larasati hidup lagi, tapi ya mana mungkin😭.

    Btw ceritanya keren mas. Coba bikin yang lebih panjang trus kirim ke penerbit. Siapa tahu rejeki.😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang mbak, di episode depan nanti kisahnya tentang satria yang ketabrak mobil, jadinya nanti barengan terus sama Larasati.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Lho koq Satria bakalan dimatiin...???

      Hapus
    3. Ah ngga mbak, cuma becanda kok. Ini cerpen kan sudah tamat.πŸ˜‚

      Hapus
  17. Aku nggak nyangka kalau ini akan berujung pada kisah pembunuhan Laras. Dan lumayan sedih juga pas Satria harus merelakan Laras agar dimakamkan secara layak.
    Tapi-tapi, ending nya mengharukan, walaupun Satria nggak bisa liat Laras, tapi Satria tersenyum gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin Laras sudah muncul lagi cuma masih malu menampakkan diri. Entahlah coba tanya kang satria saja.πŸ˜„

      Hapus
  18. Pak Herman tampak berpikir sejenak." Kalo tak salah, sebelum dibeli pak Jonathan dulu di sekitar sini ada sebuah sumur tua ya." air e bening mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Airnya bening apalagi kalo musim hujan ya mas, kalo musim panas kering.πŸ˜‚

      Hapus
  19. Aku msh agak kurang trima niiih. Laras ceritanya ga bener2 bisa tenang di alamnya yaaa :D. ato dia cuma sekali mau nemenin satria. Sebagai fans satria, aku pengennya dia move-on dan pacaran Ama manusia beneran hihihihi ..

    Aaahhh, bagus nih ceritanya mas. Mana panjang lagiii. Untung pas aku baca semua seri udh ada, jd ga usah lama2 nunggu kelanjutannya :p. Bikin cerita bersambung LG, yg super serem kalo bisaaa ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ntar satria pacaran sama manusia lain yaitu Vina πŸ˜„

      Wah, bikin cerpen bersambung nya nanti saja deh, kemarin nulis cerpen agak dikejar waktu jadinya pekerjaan agak terbengkalai, bini ngomel.πŸ˜‚

      Hapus
  20. Ga sia-sia ngebacanya dengan sabar, akhirnya happy end :)
    Satria masih terus ditemani sang pujaan hati...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah akhirnya happy ending ya mbak.πŸ˜„

      Hapus
  21. Lah ternyata semua pemerannya ada di kolom komen ya hihihihi

    Seruu ceritanya, Mas. Sedih banget sama kisahnya Laras. Rasanya meninggal dibunuh itu paling ngeri ya. Tidak terbayang sedihnya keluarga yang ditinggalkan. Untungnya akhirnya terjawab sehingga tidak ada hal yang penasaran lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Kartika, ini cerpen pakai nama teman blogger semua yang dari mywapblog.πŸ˜„

      Hapus
  22. Kukira yang bergumul di lantai itu Satria dan cewek lain hahahaha upss wkwkwkwkw... Wah serem juga ya ada sumur tua. Tapi bisa jadi ada harta karun yang belum terungkap. Btw, kepengen si gadis bergaun putih itu beneran berubah jadi manusia aja deh, Mas Agus :) Biar nikah aja trus punya anak. Panjang lagi episodenya hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk kalo itu mah maunya satria bergumul sama cewek di lantai.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Wah, ntar tambah panjang episodenya kalo Laras jadi manusia, bisa bisa mengalahkan episode tukang ojek pengkolan.πŸ˜„

      Hapus
  23. Wuiih.. Ceritanya bagus, Mas. Baca dari awal dengan sabar.. Ehehhe menarik idenya, seorang novelis yang jatuh cinta dengan hantu. Idenya yang di kubur di sumur jadi teringat film horor lawas, Lentera merah.

    Kalau ada pengembangan cerita lagi pasti mau baca deh,. Soalnya penasaran alasan Laras kembali ke Satria. Haha walaupun si Satria ngga bisa lihat.

    BalasHapus
  24. Dari part 2 sampai part 4 langsung dikebut siang ini, dan ternyata nggak serem. Hahaha ... kalau yang kayak gini jadinya cerita romantis biasa yang dibaca malam hari juga nggak bikin takut. Btw, kirain ceritanya bakalan ada tambahan vampir atau dukun beranak lewat ... ternyata nggak ada.

    BalasHapus
  25. Akhirnya bisa menamatkan cerita ini, hehehe. Saya baca ini kok jadi teringat Si Manis Jembatan Ancol ya hehehe..

    BalasHapus
  26. Hari ini kebut part 3 dan 4 sekaligus.
    Pinter tenan mas satria ini membolak balikkan hati emak emak yang baca cerita ini.
    Kayaknya masih mau bersambung nih. Deg degan lho pas muncul lagi si gaun putih di akhir cerita.
    Apa tokoh si agus dijadikan kaya raya tidak ngutang terus gitu. Trus selingkuh sama mbak larasati

    Mbok dibikin versi bahasa jawa trus dikirim ke Panjebar semangat hehe
    Disana ada bagian cerita cerita mistis gitu. Tapi boso jowo mas

    BalasHapus
  27. Berapa kata ini mas Agus kalau ditotal. 10 ribu lebih kali yah..?

    Pak Jonathan ini keterlaluan yah... Numpang dengan dalih. Rasanya pas pak Jonathan mau kabur, gue pengen dteng terus merapalkan mantra "Avada Kadabra" atau mantra "crutio" mantra kutukan di serial film Harry Potter. Hahah tpi nnti nggk nyambung.

    Kasian larasati. Pak Jonathan juga, maruk amat sama istri. Hahaha. Pke acara istri tua, istri muda..

    Untung ada si Agus. Pemberi kesan sedikit humor saat kondisi lagi klimaks.. jadi nggk terlalu tegang.. tapi tetep saya smpet emosi sama Pak Jonathan.. hahaha

    Akhirnya bahagia yah.. yah walaupun beda dunia. Tapi nggk apalah.. namanya juga cinta.. haha

    BalasHapus
  28. Sukaaaaak sama ceritanya mas Agus!!!! Beruntung kali ini endingnya Satria ga matiiik.

    BalasHapus
  29. untung baik baik aja sang novelis, apakah selanjutnya satria akan pindah rumah,,kita tunggu saja pemirsa :D

    BalasHapus
  30. Maraton td baca yg 3 dan lanjut yg 4. Sukaaa banget sama endingnyaa.. walau ga pake plot twist khas mas agus yg biasa, ttp aka bagus. Hehehe.. larasati semoga tenang di alam sana yaa 😁

    BalasHapus