Doa anak Herman


Herman dan Ningsih sudah pacaran selama setahun. Pertemuan mereka awalnya dari acara kumpul bareng sesama alumni sebuah kampus, ternyata mereka berdua berada dalam universitas yang sama biarpun tidak pernah bertemu, atau mungkin pernah ketemu cuma sekilas saja sehingga tidak menimbulkan kesan yang mendalam.

Herman saat itu bersama sahabat karibnya yaitu Satria. Ia dikenalkan dengan Ningsih, yang kebetulan adalah salah seorang penggemar cerpen cerpennya di blogger. Yup, selain sebagai mahasiswa satria juga merangkap pekerjaan sebagai blogger, dan dari kegiatannya itu ia dapat uang untuk biaya kuliahnya. Sebenarnya wanita itu menyukai sang cerpenis, cuma berhubung Satria sudah memiliki pacar maka akhirnya ia jadian dengannya setelah acara reunian itu. Herman sendiri begitu melihat wanita cantik itu langsung jatuh cinta.

Setelah setahun pacaran maka Herman dan Ningsih memutuskan untuk menikah saja karena sudah cocok. Acara pernikahan di gelar di kediaman mempelai wanita.

Setelah menikah maka ia ikut dengan suaminya di Jakarta, apalagi Herman sudah bekerja sebagai staf kantor di sebuah perusahaan di ibukota.

Satu dua tahun pernikahan mereka lancar saja karena Herman adalah suami yang bertanggung jawab. Ia selalu menafkahi istrinya lahir dan batin, pendapatannya sebagai staf kantor sudah cukup untuk membiayai kehidupan mereka berdua, selain itu ia juga sangat penyayang dan setia. Baginya Ningsih adalah wanita pertama dan terakhir di hatinya. Ningsih tentu saja sangat senang.

Memasuki tahun ketiga barulah muncul sedikit masalah. Orang tua Ningsih selalu bertanya kapan mereka akan punya cucu, maklum karena hanya punya satu anak saja yang sudah di peristri oleh Herman. Sementara untuk orang tuanya sendiri santai saja, karena dari kakak dan adik Herman mereka sudah punya setengah lusin cucu.

Masa masa ini tak pelak kadang membuat Herman stres kalo berkunjung ke rumah mertuanya. Belum diberi kepercayaan oleh Allah, begitu jawabannya.

Padahal bukan mereka tak berusaha untuk memiliki anak. Bikin anak seminggu bisa tiga empat kali, Ningsih juga rajin minum jamu tradisional yang bisa menyuburkan kandungan. Selain itu, tentu saja mereka juga berobat ke dokter. Tak lupa pula mereka berdoa tiap hari terutama Ningsih tiap mau tidur meminta agar ia diberi keturunan.

"Ya sudah sabar saja, mungkin belum rejeki mu mas Herman." Begitu kata sahabatnya Satria saat mereka sedang ngopi bareng di beranda rumahnya dan ia berkeluh-kesah. Satria kadang ke tempatnya, Herman juga kadang main ke rumah kawannya itu.

"Iya sih kang Satria, tapi bagaimanapun saya agak jengkel juga kalo ditanya terus."

"Tak usah ditanggapi mas her, anggap saja masuk kuping kanan keluar kuping kiri." Ujar Satria menenangkan temannya tersebut.

Tapi memang usaha tak mengkhianati hasil. Setelah empat tahun akhirnya Ningsih hamil juga. Tentu saja Herman girang bukan main. Keluarga besarnya segara saja di beritahu, dan tentunya mertuanya yang tidak sabar menimang cucu.

Setelah sembilan bulan maka lahirlah anak Herman. Mereka sepakat untuk memberinya nama Heni, singkatan dari nama nama mereka berdua yaitu Herman dan Ningsih. Kelahiran Heni seolah menjadi titik balik bagi rumah tangga Herman, karena mertuanya kini jadi lebih sayang padanya. Bukan cuma itu, ia juga diberikan sebuah hadiah berupa Mobil Ayla. Tentu saja ia sangat senang sekali, niatnya untuk kredit mobil segera ia batalkan. 

Selain itu, mereka berdua jadi rajin ke Jakarta untuk menengok cucunya, gak heran Heni jadi dekat dengan kakek neneknya.

Heni menjadi anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Badannya juga sehat karena kedua orang tuanya selalu memperhatikan.

Seperti ibunya yang suka berdoa, Heni sebelum tidur juga kadang suka berdoa. Ia mendoakan kedua orangtuanya agar bahagia, begitu juga dengan kakek dan neneknya ikut didoakan.

Heni kini sudah berusia lima tahun dan sekolah TK. Suatu malam sebelum tidur ia berdoa." Ya Allah, bahagiakan lah papa, mama, dan nenek. Terimalah kakek di sisimu, amiiin."

Herman yang hendak menyelimuti anaknya tentu saja jadi heran karena tak biasanya Heni berdoa seperti itu, tapi ia tidak bertanya.

Keesokan harinya ketika ia sedang kerja di kantor ada telepon yang masuk. Ternyata dari Ningsih, tak biasanya dia menelpon saat ia kerja kecuali ada keperluan darurat.

Benar saja, ternyata memang ada hal yang penting sekali." Mas Herman, cepat pulang mas. Bapak meninggal dunia tadi, katanya kena serangan jantung." Katanya dengan Isak tangis.

Tentu saja Herman terkejut sekali. Tiga tahun lalu mertuanya itu memang pernah dibawa ke rumah sakit karena sakit jantung. Ternyata kini penyakitnya kini kambuh lagi bahkan merenggut nyawanya. Tentu saja ia segera minta ijin dan pulang ke rumah, dan disambut oleh tangisan istrinya.

Saat sedang pulang kampung menuju rumah mertuanya entah kenapa ia teringat dengan doa anaknya itu. Apa mungkin anaknya itu tahu dan punya firasat karena ia dekat dengan kakeknya, tapi rasanya mustahil bukan.

Di kampung halaman istrinya mereka disambut isak tangis lagi. Setelah pemakaman mertuanya dan tahlilan selama tiga hari Herman lalu berangkat ke ibukota seorang diri, maklum dirinya terikat dengan pekerjaan sehingga tidak bisa cuti banyak.

Setelah beberapa waktu kemudian keadaan kembali normal dan Ningsih juga sepertinya sudah merelakan kepergian bapaknya. Ia lalu meminta agar ibunya ikut ke Jakarta tapi ditolak. Dikampung halamannya ada keponakannya yang bisa mengurus dan juga ia tidak biasa merantau jauh dari kampung halaman. 

Kehidupan berjalan seperti biasa, Herman kini karirnya makin bagus dan menduduki jabatan bagus di kantor. Heni juga sudah berumur tujuh tahun dan sudah kelas satu SD.

Dan malam itu seperti biasa Heni berdoa."Ya Allah, bahagiakan lah papa, mama, dan nenek. Terimalah nenek di sisimu, Amiiin."

Herman yang mendengar doa anaknya jadi tersentak. Teringat dia dengan doa Heni semalam sebelum mertuanya meninggal. Saat ia mau bertanya, anaknya sudah keburu tertidur. 

Dikamar, ia tidak bisa memicingkan matanya malam itu. Teringat ia dengan doa Heni sebelumnya, apakah ini sebuah pertanda.

Bulu kuduknya berdiri, mungkinkah ini firasat anak kecil yang tajam. Ia sendiri tidak bisa cerita ke istrinya, takutnya istrinya yang masih percaya hal gaib jadi histeris dan minta pulang malam itu juga, kan bisa berabe. 

Keesokan harinya ia berangkat kerja seperti biasa. Sebelum berangkat ia menelpon dulu kepada mertuanya sehingga membuat istrinya heran. Tumben amat suaminya itu menelpon ibunya.

"Halo Bu, apakah ibu baik-baik saja?" Katanya setelah telepon diangkat.

"Alhamdulillah ibu baik-baik saja. Bagaimana keadaan Heni." Mertuanya bertanya balik.

Syukurlah ia tidak apa-apa, batin Herman. Ia lalu menjawab dan setelah ngobrol agak panjang percakapan itu pun berakhir. Ia pun berangkat kerja dengan perasaan lega.

Walaupun begitu ia tetap agak was-was juga. Sepanjang hari ia melihat telepon, takut tahu-tahu istrinya menelpon dan mengabarkan mertua perempuannya meninggal. Beberapa rekan kerjanya bertanya mengapa ia resah, yang ia jawab dengan tidak ada apa-apa.

Sore hari ia pulang kerja dengan perasaan lega. Tak ada telepon dari kampung istrinya. Ia pun berpikir kalo itu hanyalah kebetulan semata.

Saat sedang makan malam dengan anak istrinya itulah hapenya Ningsih berdering. Ia pun lalu mengangkat dan tiba-tiba hapenya jatuh, begitu pula dirinya. Ternyata telepon itu berasal dari tetangganya yang mengabarkan bahwa ibunya sedang dibawa ke rumah sakit karena tertabrak oleh mobil yang dikemudikan oleh orang yang mabuk dan kini keadaannya kritis. 

Herman yang mendengar hal itu langsung shock bukan main. Selain tersentak oleh kabar duka itu juga teringat dengan doa anaknya. Tak salah lagi memang kalo doa Heni pastilah sebuah firasat.

Mereka tentu saja segera pulang kampung, tapi sayangnya baru satu jam perjalanan, tetangganya mengabarkan kalo ibunya sudah tiada. Ningsih langsung saja pingsan, Herman yang kalut pikirannya hampir saja menyenggol sebuah truk, beruntung tidak terjadi apa-apa.

"Apa mungkin anak kecil bisa punya firasat kang Satria? Bisa tahu kalo seseorang akan meninggal?" Tanya Herman pada kawan karibnya itu pada suatu hari setelah ia kembali ke Jakarta.

"Mungkin juga sih, apalagi jika dia anak indigo, soalnya anak seperti itu perasaannya tajam."

"Wah masa sih. Memang kang Satria pernah lihat anak seperti itu selain Heni?"

"Pernah." Jawab Satria." Tapi bukan firasat bisa melihat orang mau meninggal tapi bisa melihat makhluk halus. Kamu tahu ponakan ku Keyla kan, jadi suatu malam aku dan Keyla itu jalan jalan di Mall. Eh, pas lagi di lantai dua, tiba tiba ia mepet ke aku seperti orang ketakutan. Tentu saja aku tanya kenapa, katanya tadi ada Miss K lewat. Tentu saja aku jadi merinding. Bukan cuma di pusat belanja saja, katanya di rumahku dibagian belakang juga ada Mr. G yang nongkrong."

"Serem amat sih."

Beberapa bulan setelah percakapan itu seperti biasa Herman menyelimuti anaknya sebelum tidur. Betapa kagetnya ia ketika hendak tidur Heni berdoa." Ya Allah, bahagiakan lah papa dan mama. Terimalah papa di sisimu, Amiiin." Setelah berdoa seperti itu iapun tertidur.

Tentu saja Herman jadi panik. Celaka, apakah besok ia akan mati pikirnya.

Esok harinya ia berangkat kerja dengan perasaan kacau. Ia khawatir apakah nanti akan terlibat kecelakaan maut yang merenggut nyawanya dan karena itu ia memacu mobilnya dengan sangat hati-hati. Alhamdulillah ia sampai dengan selamat.

Ditempat kerjanya Herman pun tetap tak tenang. Apakah nanti akan terjadi gempa lalu gedung kantornya runtuh, pikirnya. Melihat ia gelisah beberapa rekannya menanyakannya tapi tidak digubris olehnya. Mungkin semalam tidak diberi istrinya kali, begitu kelakar beberapa temannya.

Pulang kerja ia tidak pulang ke rumah tapi mampir ke Mall. Sengaja ia berada di keramaian yang menurutnya aman. Ia terus-menerus melihat jam dengan resah, berharap jam 12 malam cepat berlalu.

Akhirnya tengah malam pun lewat dan syukurlah tidak terjadi sesuatu apapun. Herman menarik nafas lega. Sepertinya aku saja yang terlalu berlebihan pikirnya.

Jam satu malam barulah ia sampai di rumah. Sesampainya di tempat tinggalnya ia segera mencari Ningsih yang sedang duduk di ruang tamu dengan wajah kalut. Melihat Herman datang maka istrinya itu langsung bertanya." Kemana saja sih mas kok baru datang. Aku hubungi kantor tadi katanya sudah pulang tapi kok ngga balik ke rumah. Aku telpon nomornya juga tidak aktif."

"Maaf dek Ningsih tadi aku ada urusan penting dan kebetulan pula baterainya habis jadi hapeku mati. Tapi aku tidak apa-apa kok." Jawabnya.

"Oh syukurlah, aku menghubungi soalnya ada hal penting."

"Hal penting apa?" Tanya Herman.

"Temanmu Satria meninggal dunia sore tadi."

TAMAT

Subscribe to receive free email updates:

119 Responses to "Doa anak Herman"

  1. emmmm...jadi twistnya itu adalah...

    eng
    ing eng

    hore gw jadi team garcep


    #Awas spoiler allert..
    ternyata itu adalah anak satria ya...hohoho


    artinya main serong deh ya si ningsihnya

    bagus mas ceritanya

    tapi memang merinding sih kalau kebetulan dekat orang yang punya kemampuan lebih..takut tar ada penglihatan2 ke kitanya huahahha, trus diramal ramal deh, apesnya yang biasanya diomongkan yang serem2 misal meninggal hiks

    betewe mister G kali mas..bukan miss G, kecuali kalau genderuwonya perempuan xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya benar, Mr. G ya bukan Miss. G, ntar aku ubahlah.

      Masa sih itu anaknya satria, nanti kalo orangnya datang ditanya yuk.πŸ˜‚

      Delete
    2. ya mungkin sebentar lagi yang bersangkutan akan nongol
      xixixi

      eh mas..klo itu anak doi berarti namanya ga heni lagi tapi sani, atau sarni or satriani eeeeh ahhaha, suwe sekali aku ini

      #kabooor

      Delete
    3. Yang pas itu sepertinya Satriani ya mbak. Kalo Sani rasanya jadi aneh.

      Ah, paling paling datang komentarnya cuma sueee sambil kasih emot ini 😬😬😬...🀣

      Delete
    4. Suuuueeee...Kenapa gw yang modar.😬😬😬

      Kan gw cuma nyeningin Mertokunya Herman..🀣🀣🀣🀣

      Delete
    5. Katanya kebanyakan goyang rongdo makanya dengkulnya lemes dan mokad kang.πŸ˜‚

      Delete
    6. astagfirulloh ngakak πŸ˜†πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    7. Bwuuahaha ...πŸ˜‚!
      Mangkanyaa rajin minum susu kuda liar doong ..,biar ngga dengkul lemes 😜

      Delete
    8. Sudah minum susu kuda liar bahkan kuda lumping juga mas, tapi masih kesurupan jadinya mokad.πŸ˜‚

      Delete
    9. Bang Satriaaaaaaaa kenapa masih bisa komen, kan udah meninggal. eh. Kabuuurrrr

      Delete
  2. haha berabe juga ya kalo punya anak seperti itu, tau aja kalo orang mau mati, yang jadi bapaknya pasti was was banget :D.. gw pikir herman seharian itu bakal jadi gila nebak kapan di mati :D

    ReplyDelete
  3. Tadinya kuperkirakan, setelah selamat seharian, kemungkinan Herman akan meninggal dalam tidurnya atau keselek tulang ikan bandeng saat makan. Tapi setelah baca komentar Nyonya Embul, saya baru ngeh, rupanya Heni punya dua Ayah, haha Herman dapat ampas πŸ˜‚πŸƒ‍♂️πŸƒ‍♂️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha awas ntar Herman nya datang dan langsung gigit sandal kang.πŸ˜‚

      Delete

    2. Lhaa kan dia minta percontohan punya anak...πŸ™„πŸ˜²πŸ˜²

      Sebagai sahabat yang baik kan harus saling membatu termasuk cara ingin punya momongan..πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ˜‹πŸ€£

      Delete
    3. Ini namanya teman teladan ya kang.🀣

      Delete
    4. harusnya scroll komennya belakangan mas jaey, soalnya aku mah suka mendadak komen spoiller dan minta ditimpuk hahhaha, karena saking antusiasnya setelah kelar baca cerita πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜

      Delete
    5. Betul banget teman teladan, mas Agus dan teman yang seperti ini yang harus dilestarikan karena sudah sangat langka... Ada museum kosong apa ngga ya?

      Delete
    6. Waduh, kang satria mau dikubur di museum ya.😱

      Delete
    7. ntar cerbung ke dua aku kok aku pengen pake nama 5 sekawan ini yak, xixixiix...ntar kapan kapan bikin ahhhh ahhaha

      Delete
    8. Boleh saja mbak, asal ada pulsanya buat bayar royalti.🀣

      Delete
    9. Lima sekawan? Siapa aja tuh?

      Delete
    10. tunggu tanggal mainnya, masih kugodog dulu hahhahahahha

      Delete
    11. Emangnya jamu digodok?

      Ah pasti jamu nganu ya biar idenya lancar.πŸ˜„

      Delete
  4. Lah bisa begitu.. wkwkwk
    Dasar si Ningsih memang hobinya main belakang.. wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mampir gan ke blog ane, ada new post πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    2. Sudah ke TKP, kunbal juga dong gan ke blog saya..hihihi

      Delete
    3. Selamat sore gan, nice post, jangan lupa kunbal ya.πŸ˜‚

      Delete
    4. Pada mantul komennya ya mas him.🀣

      Delete
  5. Ikut berduka cita sedalam-dalamnya (sedalam sumur pompa pengeboran minyak) kalau .... Satria meninggal dunia 😰

    Tisuu mana tisuuu ...
    Sedih banget baca endingnya 😒πŸ˜₯

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini mas tisu, harganya 5000 rupiah saja... ayo tisunya tisunya siapa mau beli, murah murah laris manis :D

      Delete
    2. Adanya tisu magic mas him bekas semalam, mau ngga.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    3. Maaf mas Khanif , tisu jualanmu ngga laku πŸ™.
      Aku lebih minat dan tergodaaah buat beli ... jualan tisunya mas Agus, tisu magic ✨🀭

      Delete
    4. Heemm!! Sepertinya ada perayaan MWB kembali..🀣🀣🀣🀣

      Delete
    5. Ketahuan mas Himawan suka beli tisu basah nih.🀭

      Eh, emang mwb kembali ada kang satria? πŸ€”

      Delete
    6. Ntar gw mau Review blog Sarilah & Adminnya ditunggu aja tanggal mainnya..🀣🀣🀣

      Delete
    7. @ Agus :

      Yoiiii, mas ...
      Aku beli tuh tisu basah kan buat basmi virus covid-19.
      Biar mati tuntas gitu kumannyaa 🀭

      Eh* .. atau malah tambah kuat strong ya diusap pakai tisu basah, wwkkk

      Delete
    8. Waduh jangan kang, malu lah kalo blog ngga jelas seperti saya di review.πŸ˜‚

      Delete
    9. @Himawan,

      Maksudnya tambah strong kumannya ya, bahaya dong.πŸ˜‚

      Delete
    10. Tes balas komen dalam komen πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    11. Yaah jatoh kebawah komennya, tadi balas komen Satrio πŸ˜†

      Delete
    12. Ternyata cuma pemanis aja ya kang, jatuhnya tetap aja paling bawah.

      Delete
    13. Kenapa bisa begitu ya, padahal sudah reply komennya Satrio.πŸ˜‚

      Delete
    14. Sudah dinonaktifkan blogger mgkn fitur itu, padahal kalo masih berfungsi asik juga jadi ky di fb bls komen dlm komen πŸ˜‚

      Delete
    15. nahhhh review kang sat, bantaiiii blognya wkwkwkw, becanda, maksudnya kan mas agus dah jadi seleb blog hahah jadi pantas tuh direview hahahhahahahaiii

      Delete
  6. mungkin juga disebabkan doanya tulus???

    ReplyDelete
  7. aku bacanya deg-degan, tapi memang ada ya kekuatan anak kecil yang punya firasat seperti ini
    lahh aku jadi mikir pas terakhir, doa heni yang "papa" itu, tapi satria :D, kan kan kan ada apa gerangan ningsih dan satria

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha mungkin hanya sekedar teman mbak antara Ningsih dan satria. Entah teman apa.πŸ˜‚

      Delete
  8. bestkan kalau ada pasangan yang cocok..

    hidup lebih damai dan tenteram

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, cocok sama pasangan bikin damai dan tentram.😊

      Delete
  9. Selalu suka sama tulisannya mas Agus nih πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ada penggemarnya juga.πŸ˜„

      Tapi kok ngga minta tanda tangan ya.πŸ˜‚

      Delete
    2. Kalo saya ke Jawa, dan bisa berkesempatan ketemu. Njenengan wajib ngasih tanda tangan loh mas.. πŸ˜€πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    3. Kalo cuma tanda tangan gampang bang, asal jangan minta rongdo ya.πŸ˜„

      Delete
    4. Rongdo itu apa yaa mas, aku ndak faham ._.

      Delete
    5. Anu, anak kecil ngga usah tahu apa itu rongdo bang.😁

      Delete
  10. Hah...😱😱 jadi-jadi itu kamsudnya satria adalah...
    Wah, kasihan banget herman. Ternyata selama ini heni bukanlah anaknya😟
    Saya jadi sedih. Tapi bahagia Herman nggak jadi menyusul mertuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya apa mbak Astria?? πŸ€”

      Alhamdulillah, yang penting Herman selamat ya, yang penting kan Heni manggilnya papa.πŸ˜„

      Delete
  11. Lahdalah jadi ini toh kuncinya bisa punya anak setelah empat tahunπŸ€” mas Satriaa mas Satria, ini Heni jangan-jangan ada turunan dari ponakanmu si Keyla🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya bapaknya satria itu yang indigo lalu turun ke Keyla terus ke...πŸ˜‚

      Delete
  12. Astagaaaahh kan jadi mengira-ngiraaaa...
    Jadi anaknya si KangSat itu?
    Jadi aslinya si Herman itu memang ahh.. bikin ending kayak gini tuh menyebabkan pembaca gatal-gatal dah hahaha.

    Btw, sayanya yang pikun atau memang mas Agus ini yang keren banget imajinasinya ya? sampai bisa gitu dihubung-hubungkan, sampai jadinya masuk akal.

    Btw ayo deh bikin novel, beneran.
    bakalan laris tuh, saya pesan deh kalau Mas Agus bikin novel.
    Bikin kayak cerpen, tapi saling sambung menyambung, menarique!

    Apalagi pakai nama para blogger hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, ini inspirasi nya dari guru saya yaitu kang satria sama mas Herman mbak, saya cuma menulis saja.πŸ˜„

      Sebenarnya pakai nama blogger buat bikin cerpen itu kadang terasa aneh mbak, bagusnya sih pakai nama yang natural gitu, cuma udah kebiasaan seperti itu jadinya pakai nama teman teman terus, untung ngga ada yang minta royaltinya.πŸ˜‚

      Delete
    2. hahahhaa, enakan pakai nama teman sebenarnya, asal konsisten :D
      Dan asal temannya ga protes.

      Apalagi karena khususnya pembaca di blog ini udah familier ama tokohnya yang mana sambung menyambung antara satu cerpen ke cerpen lain.
      Jadinya sebenarnya kalau dikumpulkan udah jadi buku tuh :D

      Cuman memang lebih enaknya kalau bikin buku, ide ceritanya lain, tokohnya aja yang sama :D

      Delete
    3. Kalo protes nanti ngga aku kasih komisi mbak.πŸ˜‚

      Ide cerita itu yang kadang susah nyarinya mbak, mungkin harus banyak bertapa agar dapat wangsit.🀣

      Delete
  13. Haduh, mas. Aku tadi salah baca judul. Aku bacanya 'Doa Anak Haram'. Ternyata Doa Anak Herman. Yaampun aku.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Wah, dari sini akhirnya ketahuan kalau anaknya Herman ini sesungguhnya bukan anak Herman, melainkan anak Satria. Jadi seharusnya namanya bukan Heni (Herman dan Ningsih), tapi Sani (Satria dan Ningsih). Wah, harus selamatan ganti nama nih. Hehehe.🀭

    Ngomong-ngomong gimana bakalan nasibnya Ningsih ya? Harus dibuat part 2 nya nih mas.πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang saja mbak, saya maklumi kok karena lagi tanggal tua jadi ngga fokus baca, saya juga kadang begitu.πŸ˜‚

      Masa sih anak Satria, tapi kan dia cuma main saja ke rumah Herman. Apa mungkin saat Herman kerja terus...
      Ah sudahlah.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Kemudian ada part dua nya tapi di blognya mbak Roem, mbak yang nulis sendiri lanjutannya.🀭

      Delete
    2. Gak jago bikin cerita aku, mas.🀣🀣🀣

      Eh, tapi kalau dipikir-pikir berarti Heni gak pernah mendoakan Herman dong, mas? Terus Heni anggap Herman itu apanya?πŸ€”

      Delete
    3. Tidak perlu jago bikin cerpen mbak, aku juga asal saja kok bikinnya, yang penting ada postingan baru di blog.😁

      Ya Heni anggap Herman papa nya dong.πŸ˜„

      Delete
  14. Wkwkwk plot twist sekali, aku udah curiga dari pertengahan setelah Herman cerita ke Satria, ternyata benar ini anak Satria 🀣

    Aku malah masih penasaran kenapa anaknya Herman bisa berdoa seperti itu πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk kak Lia memang tajam ingatannya, jadinya bisa cepat baca twist nya.πŸ˜„

      Namanya juga cerpen kak, biar pas sama judulnya gitu.πŸ˜‚

      Delete
  15. Replies
    1. Kena serangan asma gitu maksudnya kak 😱 ?

      Delete
    2. Bukan, sepertinya lagi olah raga senam mas Hino.πŸ˜„

      Delete
    3. Oooh ... , kirain ..., terkena serangan bengek wwwkkk πŸ˜†.
      Maaf kak Abaz, becanda loh πŸ™

      Delete
  16. Kangen main di sini. Maaf, Mas Agus, saya baru bisa main, hehe.

    Baca ini saya pelan2 banget pas tahu papa mau meninggal. Kapan ya meninggalnya. Ternyata kok endingnya bikin ketawa, hahaha.

    Bagus ceritanya, Mas Agus.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak apa-apa mbak Pipit, santuy saja.πŸ˜„

      Ternyata yang meninggal itu papa satria ya, bukan papa Herman.πŸ˜‚

      Delete
  17. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Duka yang dalam atas kematian Satria

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, sedih banget ya satria meninggal.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  18. Tuh kan, tuh kan.. sudah kuduga ini Mas Agus. Pasti ada plot twist nya, eh firasatku bener. Pas di awal-awal baca kok ada di tokoh Satria ini, mana pula Ningsih sukanya sama Satria bukan Herman. Ini jadi semacam kunci dari cerpennya Mas Agus kali ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kak Pipit memang pintar, bisa cepat menangkap twistnya.πŸ˜„

      Delete
  19. anakku adalah anak temanku

    (auto lagu kumenangisssssss)

    eh aku ikut mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya satria
    ehh


    habis satria every time everywhere tokohnya hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anakku adalah anak temanku.
      Kok jadi ingat judul sinetron Indosiar yang kadang unik unik.🀣

      Delete
  20. Astaga... Ini saya bacanya lagi klimaks. Kok malah ending jauh lebih klimaks... eng ing enggg..
    Sumpah kaget.. tak terduga.. Pengen nangis rasanya.. wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengin nangis tapi kenapa ketawa kang Bayu.😁

      Delete
  21. Oalah, jadi Satria papanya Heni ya? Keren lah, plot twist bgt ini deh hahaha

    Tapi kalau sungguhan Heni ada, serem juga ya. Bisa membaca masa depan, soal kematian lagi. Btw Mas, kalau pas Herman yang meninggal, statusnya sebagai apa ya didalam doanya Heni πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kurang tahu juga satria papanya Heni apa bukan, coba tanya kang satria saja nanti kalo datang.πŸ˜„

      Iya serem lah, apalagi yang didoakan kok orang meninggal melulu, doakan naik jabatan kek, jadi presiden kek.πŸ˜…

      Delete
  22. Nah, yang ini bikin plot twist ending yang tak terduga. Lalu cerita masih bisa disambung dalam benak pembaca, setelah Satria meninggal lalu apa yang akan terjadi pada Ningsih atau Heni? Herman cersyukur bukan dia yang meninggal tetapi sobatnya? Mau marah gimana caranya karena istri selingkuh dengan sahabatnya?
    Aha, inilah keuatan fiksi, membebaskan pengarang untuk berimajinasi dan pembacanya tinggal menambahkan sesuai persepsi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, enaknya kalo bikin cerita fiksi itu bebas ngarangnya makanya banyak yang jadi novelis kayak satria.πŸ˜„

      Delete
  23. waduh endingnya.. padahal papa herman udah pede banget kalau bakal diterima di sisiNya. ternyata bukan dia.
    ketawa dikit aja lah takut didoain heni :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok dikit ketawanya nggun.....Nggak usah malu2 lah sama mas Hermansyah..🀣🀣🀣

      Delete
    2. Waduh, papa Herman sudah pede gitu ya, baru tahu.😱

      Mungkin pede karena punya anak ya.πŸ˜‚

      Delete
  24. Datang lagi dimari 😁.
    Kirain udah ada update karena aku juga pengin jadi pengomentar pertama di blognya mas Agus yang keren ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orangnya lagi dirumah janda mas.....Makanya belum update.😊😊🀣🀣

      Delete
    2. Belum mas Hino, entah kenapa akhir akhir ini lagi malas update artikel, maunya BlogWalking saja.πŸ˜„

      Delete
    3. Sama nih kyk mas Himawan. Aku pengen kesini baca update cerpen terbarunya Mas Agus. Ternyata belum update ya. Kyk nya lagi sibuk nih adminnya.🀭

      Delete
    4. Lagi belum ada ide mbak Roem, mungkin mau ngasih ide tidak apa-apa.πŸ˜„

      Delete
    5. Nganu, mas. Review produk kecantikan lagi aja. Hehehe.🀭

      Delete
    6. Sebenarnya ada ide sih buat produk kecantikan, cuma agak absurd. Takutnya nganu mbak.πŸ˜‚

      Delete
  25. Waitt waittt...
    jadi si anaknya itu anaknyaaa........ Aduuhh ku kira bakalan endingnya serem macam film final destination, ehh ternyata lebih serem dari final destinantion. :D
    .
    Pesan moralnya adalah sebelum menikah wajib berdoa dan istiqoroh biar diberikan petunjuk dan jalan terbaik agar menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah dan warahmah :)

    ReplyDelete
  26. Duuuh miris dan ngakak baca ending wkwkwkwkwk.... Harusnya dibikin lanjutan, gimana reaksi Herman, LBH kaget pas tau sahabatnya meninggal ato fakta doa anaknya hihihihi...

    Amit2 kalo dapet anak gini, yg bisa punya firasat Mulu . Duuh ga tenang hiduuup :p.

    ReplyDelete
  27. halo Mas Agus, akhirnya saya baca2 lagi cerita2 plot twist karya Mas Agus.. Tapi maaf mas, untuk cerita yang ini udah nebak endingnya dan ternyata bener haha.. :D :D

    ReplyDelete
  28. Aku jadi mikir apakah Heni yang ini adalah Bu Heni pada cerpen setelah ini ya ? . Kalau gitu mungkin inilah salah satu clue Rahasia awet Mudanya (cocokologi). Aku kebetulan baca yang itu dulu sebelum nemu cerpen yang ini πŸ˜‚

    ReplyDelete
  29. Bwahahaha... Saya ngekek baca endingnya, Mas. Seruuu! :D

    ReplyDelete
  30. Jadi ini bapaknya satria ya. Oh ketahuan dong ya! Hahaha.
    Tapi, nyesek banget jadi Mas Hermannya :(
    Kenapa nggak bini nya aja yg mati sih :( benci :(
    Sekalian sama anaknya juga mati sebel ih ngapain anak selingkuh diajak hidup bareng :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. *selingkuhan
      Serem ya mas komentar saya? Hehe

      Delete
    2. Hahaha lumayan serem mbak, tapi menurutku Heni ngga salah, yang salahkan orang tua nya

      Delete