Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengalaman sebagai supir ambulans jenazah



Sudah 8 bulan Herman bekerja sebagai supir baru setelah ia kena PHK akibat pabrik permen cicak tempat ia bekerja sebelumnya bangkrut karena kalah bersaing. Beruntung ia memiliki keahlian khusus yaitu bisa menyetir mobil sebagai supir sehingga ia bisa cepat mendapatkan pekerjaan.

Awalnya ia memang tidak mau bekerja sebagai supir kali ini karena sebelumnya ia adalah supir mobil yang mengantar barang produksi pabrik ke beberapa toko agen tapi karena kebutuhan hidup terus mendesak ditambah mencari pekerjaan lain semakin susah akhirnya ia mau juga kembali menyetir mobil.

Jika sebelumnya ia mengendarai truk maka kali ini lebih spesial karena ia mengendarai mobil... Jenazah.

Iya, mobil jenazah yang biasa buat memgantar orang mati, kalo mengantar orang hidup mah namanya angkot bro.

Beruntung awal kerja ia memiliki jadwal shift pagi sampai sore sehingga tidak terlalu seram. Lebih beruntung lagi karena tiap ia mengantarkan jenazah pasti ada keluarga almarhum yang ikut, tentu saja sebagai penunjuk jalan, biarpun zaman makin canggih berkat google maps dan internet, tapi lebih enak diantar langsung bukan.

Tapi sejak temannya yang satunya lagi mengundurkan diri sebagai sopir terpaksa ia kadang bekerja larut malam. Alhamdulillah tidak ada gangguan apapun sih, semua aman saja tidak seperti yang diceritakan oleh orang lain atau sangkaan orang.

Sebagai sopir ia sudah sering mengantar jenazah ke berbagai kota di pulau Jawa, seperti kali ini, Herman kembali mengantarkan jenazah ke kota Pekalongan Jawa tengah.

Sudah beberapa kali ia lewat kota tersebut seperti hendak ke Semarang atau Surabaya jadi tidak terlalu asing. Jadi ia slow saja mengantar.

Seperti biasanya maka ada beberapa keluarga almarhum yang ikut. Isak tangis mengiringi perjalanan Herman dari Jakarta ke kota batik Pekalongan itu apalagi ia dapat kabar kalo almarhum meninggal karena bunuh diri akibat ditinggal kekasihnya.

Herman sendiri seperti biasa ikut mengucapkan belasungkawa dan menghibur keluarga almarhum.

Tak ada yang aneh dengan perjalanan ini , lancar saja seperti biasa. Mobil jenazah yang dikemudikan dirinya sampai di kota Pekalongan jam 10 malam tapi rumahnya masih agak jauh ke selatan.

Akhirnya setelah melewati hutan kecil dan perbukitan sampai juga mereka di tempat tujuan jam 11 malam lewat. Ia segera memarkirkan mobilnya di depan rumah keluarga almarhum agar lebih leluasa mengangkat jenazah.

Begitu sampai di rumah, keluarga almarhum langsung disambut Isak tangis oleh keluarga lainnya. Walaupun sudah biasa melihat pemandangan seperti itu tapi hatinya trenyuh juga.

Ia lalu duduk di kursi yang sepertinya sudah dipersiapkan untuk pelayat atau tamu.

Seorang lelaki paruh baya datang kepadanya." Bapak sudah dapat minum belum pak?"

Herman memperhatikan orang yang menyapanya, umurnya tampak lebih tua darinya sehingga agak sungkan juga ia dipanggil pak." Belum mas."

"Mau kopi atau teh hangat pak?"

"Apa saja pak, yang penting hangat untuk menyegarkan badan."

Ia segera berlalu kedalam dan tak lama kemudian datang kembali sambil membawa segelas kopi dan sebungkus rokok."Monggo diminum."

Setelah mengucapkan terima kasih Herman lalu minum beberapa teguk." Maaf bapak siapa ya, apakah keluarga almarhum?"

"Oh bukan pak, saya Dahlan, ketua RT disini." Jawab lelaki separuh baya berumur 50 tahunan itu.

"Kalo boleh tahu, kenapa almarhum meninggal ya pak, apa ia kena penyakit?" Tanyanya, sementara isak tangis masih terdengar dari dalam rumah. Seorang wanita tua tampak pingsan, mungkin ibunya. 

Ketua RT itu menghela nafasnya." Dudung meninggal bukan karena sakit tapi..."

Herman jadi tidak enak hati jadinya.

Akhirnya setelah menghabiskan kopi dan rokoknya ia pun permisi karena sudah lewat tengah malam. Tak lupa ia titip salam kepada keluarga almarhum agar diberikan ketabahan dalam menghadapi ujian tersebut.

Setelah permisi dan tak lupa menerima amplop yang agak sungkan ia terima akhirnya iapun pergi.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari ketika Herman pulang. Ia lalu memacu mobilnya dengan sedikit pelan karena keadaan gelap gulita, takutnya nyasar masuk jurang kan gawat, soalnya daerah perbukitan.

Awalnya ia merasa biasa saja sampai ia merasa aneh. Dalam keadaan sepi dan gelap gulita ia merasa agak sedikit janggal.

Mobil miliknya terasa membawa sesuatu. Dugaan itu dipikirkan karena saat ia melewati sebuah tanjakan mobil terasa agak berat, harusnya jika kosong maka lancar saja tapi kok ini agak beda. Memang tidak berat sekali tapikan tetap mempengaruhi padahal bagian belakang kosong, tidak ada penumpang, hanya dirinya sendiri.

Tapi karena tidak terlalu mengganggu maka ia acuhkan saja, mungkin hanya perasaannya saja batinnya.

Di sebuah belokan jalan maka ia memutar mobilnya agak cepat. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang. 

Gubrak.

Tentu saja ia kaget bukan main. Sontoloyo, suara apa sih dibelakang batinnya dalam hati.

Ia mencoba melihat ke belakang lewat kaca spion tengah. Nihil, tak tampak sesuatu kecuali ranjang tempat jenazah yang kosong.

Maka Herman kembali tenang. Mobil kembali belok kanan di daerah hutan jati. Kembali terdengar suara gubrak dari belakang. 

Herman langsung tegang, tak mungkin jika tidak ada sesuatu di belakang maka ada suara. Entah mengapa ia jadi serem sendiri, teringat dia dengan obrolan dengan pak RT Dahlan tentang mayat Dudung yang katanya ditemukan dengan mata melotot dan lidah menjulur di kontrakan dengan leher terikat tali tambang.

"Ampun Dung, aku hanya mengantarkan jenazah mu saja, tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, aku hanya menjalankan tugas saja." Katanya lirih tapi karena keadaan sunyi sepi jadinya terdengar jelas di telinga Herman.

Seakan mengerti omongan Herman, dari arah belakang kembali terdengar suara glodak.

Melihat hal itu pecah juga nyalinya. Sambil membaca doa sebisanya ia larikan mobil colt diesel itu dengan kecepatan tinggi.

Suara kembali terdengar dari arah belakang bahkan kali ini bunyi glodak glodak terdengar kencang sehingga membuat Herman makin ngeri. Tak salah lagi, memang ada sesuatu di belakang yang ikut membonceng mobilnya.

Sial baginya, jalanan yang ia lalui itu daerah yang sepi karena sudah masuk dini hari, mana hutan lagi sehingga tidak bertemu dengan kendaraan lain. Kegelapan makin mencekam, ia kini tidak berani lagi melihat ke belakang lewat spion tengah.

Ia ngebut makin kencang, tujuannya adalah agar ia sampai di desa terdekat. Akhirnya di kejauhan tampak lampu, ia pun lega.

Sementara itu di desa sekelompok pemuda tampak sedang main gaple di pos ronda, ada satu dua yang tidak main gaple tapi lebih asyik bermain hape.

Satria, pemuda ceking berkulit hitam karena kerja di sawah berkata sambil membanting kartunya." Kalian tahu tidak, aku dan Agus beberapa malam yang lalu melihat hantu. Benar kan Gus?"

Agus, pemuda yang agak kurus mengangguk.

Melihat hal itu yang lain jadi penasaran. Khanif, pemuda yang suka keluyuran malam hari langsung bicara." Mana ada hantu di jaman sekarang. Aku sering nyari belut dan ikan di sawah tengah malam tapi belum pernah melihat hantu. Kalo ketemu begal sih kadang kadang ada."

"Wah berani juga kamu nif, terus kamu tangkap perampok itu?"

Anak muda yang ditanya itu hanya nyengir." Ya enggak dong mas, aku hanya melihat orang dengan pakaian seperti ninja lewat sambil membawa karung, sepertinya barang hasil rampokan. Ia juga melihatku tapi acuh saja. Aku juga diam saja sih, soalnya dia bawa golok."

"Hu... Dasar." Teriak Agus dan Satria.

Pemuda bernama jaey yang tadi bertanya pada khanif bicara pada satria." Memang kalian lihat hantu apa kemarin?"

Agus kini yang bicara." Jadi lima hari yang lalu aku sama mas Satria jalan jalan ke daerah sono. Saat itu malam Selasa habis isya. Aku lalu pesan sate blengong karena lapar, begitu juga mas Satria. Saat sedang asyik makan itulah sebuah ambulans lewat dan berhenti tidak jauh dari tempat kami makan, sekitar 50 meteran lah. Melihat mobil itu, tukang sate itu langsung pucat, tanpa basi basi ia pergi meninggalkan dagangannya. Aku dan Satria saling pandang, akhirnya kami berdua.."

Agus sengaja berhenti dulu.

Melihat hal itu, Sudibyo, pemuda yang sebelumnya bermain hape jadi penasaran." Lalu gimana mas Agus?" 

"Bagi dulu rokokmu kang Dibyo?"

Uh, terpaksa Sudibyo mengeluarkan rokok 234 miliknya, masih utuh dan segelan. Agus lalu mengambil sebatang, tapi belum sempat ia kembalikan beberapa tangan lain langsung menyambar. Ketika kembali ke pemiliknya, rokok itu sudah kosong melompong, hanya tinggal bungkusnya saja.

"Bangzaattt..." Maki Sudibyo sambil meremas bungkusnya lalu membuang keluar pos ronda. Yang lain jadi tertawa.

"Terus bagaimana lanjutannya Gus?"

Yang ditanya menghembuskan rokoknya dulu baru menjawab." Akhirnya karena penasaran kami berdua lalu coba menengok ambulans itu, tak ada siapapun didalamnya, jadi bagaimana caranya mobil jenazah itu bisa bergerak lewat tadi."

"Ah, masa sih." Beberapa teriakan terdengar.

"Ih ngga percaya, tanya saja tuh mas Satria."

Yang lain langsung memandang satria, mereka sudah tidak ingat sedang bermain gaple." Agus ngga bohong. Sumpah, aku kalo tidak melihat sendiri juga tidak akan percaya. Katanya itu ambulans hantu, begitu kata tukang sate itu."

"Ambulans hantu?"

Satria lalu melanjutkan ceritanya." Melihat tidak ada seorangpun didalam mobil, mana hawanya serem aku dan Agus lalu langsung kabur. Kami lalu ketemu tukang sate itu, katanya dulu di daerah itu ada rumah milik keluarga kaya, sayangnya mereka sekeluarga tewas kecelakaan saat sedang jalan-jalan. Mobil ambulans yang mengantar jenazah mereka kabarnya sering balik lagi sendiri ke rumah tersebut. Oleh saudara nya, rumah itu akhirnya di robohkan karena katanya angker tapi mobil ambulans tersebut kadang-kadang masih sesekali kesana, seperti yang kemarin."

Suasana tampak hening setelah Satria menyelesaikan ceritanya, semua yang sedang jaga tampak terdiam. Belum sempat bertanya, tiba-tiba muncul sebuah mobil jenazah, berhenti tepat di depan pos ronda.

Melihat hal itu, Agus dan Satria langsung pucat, tanpa di komando lagi mereka berdua langsung lari. Melihat kedua temannya kabur, tentu saja yang lain ikut-ikutan kabur. Dalam sekejap pos kamling yang tadinya ramai jadi sunyi sepi.

Herman sendiri heran bukan main. Tadinya ia senang akhirnya bertemu juga dengan orang lain tapi ketika melihat mereka berlarian kabur setelah mobilnya berhenti, rasa senangnya berubah menjadi takut, tak mungkin para warga itu lari kalo tidak ada sesuatu. Mungkinkah mereka juga melihat makhluk yang menerornya dibelakang tadi.

Tak salah lagi, memang ada setan di mobilnya. Segera saja ia keluar mobil lalu menyusul mereka, tapi baru beberapa langkah ia lari sebuah mobil patroli menghentikannya.

Sebelumnya Briptu Himawan sedang berpatroli keliling kampung yang menjadi tugasnya ketika ia melihat beberapa orang berlarian.

Naluri polisinya segera saja muncul, tak mungkin mereka lari jika tidak ada sesuatu, jika ada kecelakaan lalu lintas sepertinya tidak akan seperti itu, mungkinkah ada perampok bersenjata api pikirnya.

Segera saja ia menghentikan mobilnya." Selamat malam, ada apakah gerangan hingga kalian lari seperti dikejar setan?" Tanyanya ramah.

Melihat polisi yang menegur mereka, Agus, Satria, dan lainnya jadi lega. Mereka lalu ribut bercerita kalo tadi muncul sebuah ambulans hantu.

"Ambulans hantu?" Tanya polisi itu dengan kening berkerut. Sebagai petugas yang jaga malam ia memang sudah asing dengan perampokan atau pencurian malam hari, tapi kalo kasus bertemu ambulans hantu bahkan sampai membuat orang orang lari ketakutan baru kali ini dialaminya.

Akhirnya karena tidak ada yang mau menunjukkan tempatnya maka ia sendiri akhirnya memutuskan untuk kesana. Baru beberapa saat ia melihat ada seseorang yang menuju arahnya.

Briptu Himawan agak tertarik karena berbeda dengan para pemuda kampung itu, orang yang terakhir lari ini memakai pakaian dinas dari rumah sakit. Ia tahu karena kadang kadang bertemu orang orang seperti itu dalam tugasnya.

"Selamat malam pak, ada apakah bapak lari?" Tanyanya ramah.

Melihat yang bertanya padanya adalah polisi maka Herman jadi lega. Walaupun begitu ia agak sangsi juga, diliriknya ke bawah, sepatunya menapak ke tanah.

"Malam pak, kebetulan bapak datang. Tolong saya pak, tadi saya ditakuti oleh hantu?"

"Hantu?" Tanyanya dengan kening berkerut." Apakah ambulans hantu itu yang menakuti bapak?"

Herman yang berusia tiga puluhan jadi bingung." Itu bukan ambulans hantu pak, tapi kendaraan dinasku. Aku tadi sedang bertugas mengantarkan jenazah ke desa sana. Tapi dalam perjalanan pulang diganggu oleh setan di belakang."

"Memangnya bapak melihat langsung hantunya?"

"Ya tidak lihat langsung sih, cuma waktu nyetir tiba-tiba terdengar suara glodak glodak berisik dari belakang, padahal tidak ada siapapun disana. Pasti itu ulah hantu Dudung, jenazah yang tadi aku antar."

Himawan agak tertarik walaupun ada rasa tegang juga. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menuju mobil tersebut berada. Herman sendiri tidak mungkin meninggalkan kendaraan dinasnya, bisa dipecat ia kalo kembali ke Jakarta tanpa mobilnya.

Akhirnya mereka sampai juga di mana mobil jenazah itu. Ditemani oleh Himawan yang memegang lampu senter akhirnya Herman berani juga membuka pintu belakang. Ia langsung menjerit karena melihat ada seorang manusia berpakaian putih putih di lantai mobil.

Setelah ia perhatikan dengan teliti, ternyata itu bukan manusia tapi jenazah.

Iya, jenazah Dudung yang ternyata belum diturunkan dari mobil. Mungkin karena sedih atau capek perjalanan dari Jakarta maka keluarga nya lupa menurunkan jenazahnya tadi.

Herman sendiri shock karena keadaan Dudung berantakan sekali, semua tali pengikat tubuhnya copot, mungkin terlepas ketika ia jatuh dari ranjang atau mungkin karena dibawa ugal-ugalan tadi saat ia ngebut.

"Oalah sontoloyo tenan, sedih sih sedih tapi mbok ya almarhum dibawa turun juga dong. Akhirnya kan jadi pekerjaan dua kali."

Akhirnya dengan terpaksa ia merapikan kembali jenazahnya. Setelah selesai ia lalu menuju ke Briptu Himawan.

"Pak polisi, temani aku ke rumah almarhum dong."

"Maaf pak, tadi ada panggilan dari pos, aku harus kembali kesana." Jawabnya lalu segera berlalu pergi.

Kampret.


TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

119 komentar untuk "Pengalaman sebagai supir ambulans jenazah "

  1. Mungkin Mas Hino ogah diajak nganter mayat sama herman....Karena ngebet ingin mangkal diLamer sama si Agusl.kali yee...不不不不不

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wwkkkkk ...
      Woiiii, malem.minggu neeh ..
      Yuuuk.mangkal barengaaan

      Hapus
    2. Cie, kang satria penginnya malam mingguan mangkal di lamer juga nih.

      Hapus
  2. memang supir yg ngangkut jenazah gitu sendirian ya? ga ada yg nemenin sampe malem? wah serem juga yah wkwkwk beneran gitu kah? atau fiksi doang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha sampean kan ada dalam cerita masa nggak tau Mas? Wkwkwk

      Hapus
    2. itu bukan saya mas, itu sudibyo saya sudibjo.. maaf salah orang

      Hapus
    3. Sejujurnya aku ngga tahu apakah sopir yang mengantar jenazah itu sendirian apa ada temannya kang, tapi memang sendirian kalo ngga ada yang nemenin.

      Hapus
  3. wah wah berani nggak ya naik ambulans jenazah tengah malam sendirian, saya mah ogah bang,
    BTW triglesirida itu kolestrol jahat Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo begitu ajak pacar saja bang biar ngga sendirian.

      Eh, tapi pacarnya mau ngga ya naik mobil jenazah.

      Hapus
  4. hahahaha herman kurang tidur sepertinya, lahh tadi di rumah dudung ngapain dong ya, duhh aku salfok sama si herman

    BalasHapus
    Balasan
    1. herman dirumah dudung cuma ngopi sama ngerokok, kelupaan kali jenazahnya gak di turunin :D

      Hapus
    2. Mungkin karena asyik ngobrol sama pak RT Dahlan jadinya lupa nurunin jenazahnya mbak.

      Hapus
  5. Dari dulu ngeri banget kalau lihat ambulans jenazah, baca ini jadi tambah ngeri bang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti Michiko cocok jadi supir ambulans, biar tidak ngeri soalnya.

      Hapus
  6. yaila ternyata jenazah si dudung masih ketinggalan di mobil tow, kirain beneran hantu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga mikirnya tadi herman hantu...ternyata........

      Hapus
    2. tapi gw ga habis kira ya, kok bisa gitu sampei lupa nurunin jenazah, lha emang keluarganya tadi yang di tinggal terus gimana pas supir jenazahnya balik :D

      Hapus
    3. Mungkin keluarga nya mengandalkan Herman buat nurunin jenazahnya Dudung, tapi malah Herman nya ngopi dan ngobrol saja karena ngandelin keluarga almarhum.

      Hapus
  7. Kenapa yaak, kalo mobil jenazah yang katanya gratis. Sopirnya masih harus kita bayar? Padhal kan gapapakali yaak ga dibayar tuh sopir. Palingan dia jadi sedikit agak sewot ahahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin buat uang rokok mas, tapi biar lebih jelasnya tanya Herman saja.

      Hapus
  8. Supirnya belum makan, kebanyakan makan, atau salah makan tuh sampai pelupa begitu 不

    Kasian Sudibyo rokoknya dikeroyokin 不

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya salah makan Mas, sama seperti orang yang balas komennya sendiri ini juga salah makan haha..

      Hapus
    2. Kayaknya belum makan kang jaey, makanya ngga fokus.

      Hapus
  9. paragraf awal aku sampek ngitungin berapa kali kata 'beruntung' amas agus hahaha

    ngenes juga mas herman...masih muda dipanggil pak...jitak aja tuh pak rt dahlan mas her wkwkkw

    pas ada sekumpulan pemuda main gaple dan main hape..aku sampai ikut membayangkan masa...serasa aku ikut di tekape dan merasakan efek merinding juga dada berdebar debar...lha kupikir ambulan yang dimaksud satria n mas agus itu ambulannya herman..ternyata lain ya..ambulannya herman masih diaupirin orang hahhahaa...

    bagjs juga emaaaasss bikin cerita ginian serasa aku kayak nonton beneran klo dijadiin sinetron horror wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. ealahhhh kepleset jari...aku typo...diaupirin maksudnya disupirin...bagjs maksudnya bagus huehehe


      kangen juga ih seharian kemaren ga mampir ke sini serasa ada yang kurang...ntar aku ramaikan lagi blog mas agus xixixixi

      #kabooooorrr

      Hapus
    2. Sepertinya cuma dua kali kata beruntung nya mbak, tapi harusnya tidak berdekatan ya.

      Iya, kadang kan saya ronda jadinya main gaple untuk kegiatan dari pada bengong saja di pos ronda, tapi sebenarnya jarang yang ngobrol cerita horor sih, kebanyakan cerita politik atau cewek.不

      Hapus
    3. sekarang balasan komennya agak resmi gitu ya...apa cuma perasaanku aja...hehehe

      iya ya..begitulah obrolan para lelaki ya..memang umumnya begitu

      Hapus
    4. Iya ya, kenapa begitu ya.

      Jangan jangan blognya ada yang hack.

      Hapus
  10. hahahahhahaha kok bisa lupa apa sengaja dilupain
    kukira tadi itu hantu seperti biasanya mas wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya lupa lupa disengaja, mungkin karena belum makan atau ngopi mas.

      Hapus
  11. Wkwkwkw aku kira akhirannya akan plot twist, Kak 不. Kayak.. ternyata bunyi glodak-glodak karena ada kaleng nyangkut di pintu belakang mobil 不. Eh endingnya beneran masih ada jenazah di dalamnya kasihan kan Mamang Herman jadi harus bolak-balik huuu. Tapi pekerjaan menjadi supir jenazah memang horor, apalagi kalau dapat shift malam. Aku sih udah keburu lemes duluan deh kalau kayak gitu 不

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya mau kaleng bekas sih, cuma karena tengah malam sepertinya tidak ada anak kecil yang jahil ngiket kaleng di ambulans jadinya ganti lainnya mbak.

      Hapus
  12. Tuumbyeeen Sudibjo ngrokoknya 234 ..., setauku dia biasanya ngisep lisong, loh .. wwwkkk

    Apik iki critane, mas Agus.
    Ada serem ada juga kocak2nya .
    Auto kebayang gimana sangarnya pak Himawan pakai seragam polisi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lisong itu apa mas, apa yang kayak cerutu itu ya, misalnya cigarilos?

      Atau yang lintingan pakai mbako kali ya.

      Hapus
  13. Jenazah Dudung.... ulala...bikin deg2an si Herman aja ya. Kasian juga ya dia kena PHK trus banting setir jadi supir produksi trus supir mobil jenazah hihihihi. Itu si Briptu pake ninggalin segala, jadilah si Herman kerempongan urus Dudung yang abis gledak2 hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kata kang satria sih, mas Himawan nya takut ngantar mbak, jadi nya balik ke pos saja.

      Hapus
  14. Untung belum sampe Jakarta udah ketahuan ya. Bisa bisanya lupa nurunin jenazah gitu. Haha

    Briptu Himawan pinter ngelesnya, padahal ngeri itu ga berani antar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi kalo suruh nganter cewek sepertinya Briptu Himawan mau asal punggungnya jangan bolong saja.不

      Hapus
  15. Ada 2 tokoh baru ya? Yg satu perokok.. yang lainnya polisi hahahaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang, biar ngga bosan tokohnya itu itu saja.

      Hapus
  16. Terus keluarga yang dikampung menangisi siapa
    Kok sampai lupa itu jenazah diturunkan
    Wah semelekete tenan
    sudah terlanjur pak RT nya baik hati pula

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya nangisnya karena Dudung bunuh diri mas, tapi kenapa malah lupa nurunin jenazahnya ya?

      Hapus
  17. yaaaa.. sedih banget.. masa keluarganya lupa bawa jenazahnya.. wekekek.. kepriwek itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena capek perjalanan dari Jakarta ke Pekalongan kali mbak.

      Hapus
  18. jiaaaaahhhh masa jenazahnya ketinggalan dituruniiinnn piyee toooh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya belum pada makan jadinya pada lupa mbak.

      Hapus
  19. Ini maksudnya bikin plot twist di akhir ya? Entah kenapa aku bacanya masih aja horor. Huhu berimajinasi jika ternyata setelah sampai di rumah Dudung, jenazahnya sudah di bawa turun. Jadi yang dibawa ugal-ugalan tadi entah apa dan entah siapa huft

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang bikin plot twist nya di ending, tapi memang lihat mobil ambulans atau jenazah ngeri ngeri serem.

      Hapus
  20. Ada-ada aja sih. Masa jenazahnya ketinggalan. Ibunya Dudung pingsan karena jenazah anaknya raib mungkin tuh.五

    Tapi kalau dipikir-pikir, salah Herman juga. Harusnya dia bantu nurunin jenazahnya juga, jadi gak bakalan ada kejadian jenazah ketinggalan . Tapi untung di tengah jalan ketahuan. Kalau sudah sampai rumah sakit lagi baru ketahuan, gimana.. 不不不

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar juga ya, jangan jangan ibunya Dudung pingsan karena jenazah anaknya dibawa lagi sama Herman.

      Hapus
  21. Kok iso sih jenasahnya ketinggal gitu mas, wkwkwk

    Btw, bapak mertuaku juga sopir mobil jenasah loh, tp beliau ga pernah mau crita tentang kejadian apapun selama bekerja, hahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh bapak mertua mbak Meta supir mobil jenazah ya, mungkin tidak cerita biar anak anaknya ngga cemas.

      Hapus
  22. Mas agus, knapa pas baca cerita ini, iklan adsense yg muncul di bawah malah iklan peti mati ya bisa pas gt. Jd makin merinding..

    Btw, sa ae itu briptu himawan bilang ada panggilan bos. Bilang aja dia jg takut mau nemenin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa iklannya peti mati mbak, serem juga ya. Biasanya malah yang nongol iklan obat kuat mbak.

      Mungkin Briptu Himawan mau nganterin pacarnya kali yang punggungnya bolong.

      Hapus
  23. Wah keren sih ini haha
    baca awal-awal serius dan tegang, ini nanti hantu apaan dah eh ternyata endingnyaaa wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain hantu apa ya mbak, ternyata hantunya Dudung.

      Hapus
  24. wah yang selama ini kita kenal sebagai seorang blogger, ternyata mas Himawan Sant juga seorang polisi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ke depannya Himawan jadi detektif Conan kang.

      Hapus
  25. mas itu pas makan sate blengong lagi di daerah mana yaa? brebes bukan? ehehe... sate kesukaan ayahku nih soalnyaa..

    tapi ini pemerannya kok aku kenal semua yaa, wkwk. Kayaknya kalo mas agus jadi sutradara yang sering komentar di sini bakal keangkut nih..

    Tapi, btw pas sampai di lokasi, tuan rumah berarti nggak keinget sama jenazahnya yaa, atau ngga diharapkan sampe lupa diturunin? wkwk kocak bangt sih. aku sekarang kalau baca nggak mau bikin ekspektasi, karena suka belok dari dugaanku.

    Keren-keren mas agus ceritanyaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang daerah sekitar Tegal Brebes mbak, sate blengong paling enak sama ketupat menurutku sih.

      Kayaknya sampai rumah tuan rumahnya menyangka Herman yang akan nurunin jenazahnya, eh Herman nya ngobrol terus jadinya lupa.

      Hapus
  26. Cieeee Mas Agus, Kang Satria, Masher lomba vakum..

    Siapa ya kira2 yg menang, yg duluan bikin posting akan kalah..

    Ayo semangat vakum 不不不

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya sayalah yang bakalan menang.. hahaha

      Hapus
    2. Kalo mas Herman mah jangan ditanya lagi, sering vakum soalnya lagi nyupirin mobil ambulans.

      Hapus
  27. Agak surprise mas Hino perannya jadi polisi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah dikasih pulsa jadinya mas Himawan jadi polisi bang.

      Hapus
  28. assalamualaikum....mas agus...sehat kan mas? kok sepi ya...喫朮

    semangat nulis lagi mas agus ☺

    penggemarmu ini dah bolak balik dateng loh hehehe...

    ttd
    fans blognya mas agus...si nita mbul

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa nih, udah lama ga nongol. Komentar jg ga ada yg dibales. Om agus ke mana yaa?

      Hapus
    2. Tok tok, ikutan ketok2 ah di sini, nyariin yg punya blog udah lama ga muncul. Udah lama nih ga posting nih mas agus. Mudah2an sehat selalu yaaa..

      Hapus
    3. Alhamdulillah aku baik baik saja kok, cuma lagi ada keperluan penting jadinya vakum ngeblog dulu sementara, mohon maaf ya.

      Makasih sudah mampir.

      Hapus
    4. Semoga sehat selalu om Agus dan keluarga...
      Anyar nih hari ini komen'e

      Hapus
  29. Ngakak. Huahahah... kok bisanya lho lupa almarhumnya nggak dibawa pulang? Kan bikin salah paham sekampung, eh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena pada saling mengandalkan mbak, keluarganya mengandalkan Herman untuk nurunin Dudung, Herman nya capek lalu ngopi dan ngandelin keluarganya.

      Hapus
  30. Astaga.... kok apes banget sich Herman? Mau nggak mau harus balik lagi mana polisinya nggak mau nganterin lagi..wkwkwk..
    Mimpi apa semalam su Herman.kasihan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin mimpi ketemu cewek cantik kali mbak, makanya apes.

      Hapus
    2. Mas Agus tumben belum ada postingan baru. Sibuk lagi mendulang emas dan berlian ya?.wkwkwk. becanda

      Hapus
  31. semoga baik baik saja ya mas Agus lama juga nggak bertegur sapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah aku baik baik saja kang, cuma lagi ada keperluan penting jadinya belum update lagi

      Hapus
  32. Halowww.. bagaimana ini.. Mas Satria hilang, eh Mas Agus juga ikut-ikutan...

    BalasHapus
  33. Kok aku malah ngakak ya, ga jadi serem. Intinya, takut hanya ada dalam pikiran dan sugesti kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa juga dibilang begitu kang, kalo sudah takut maka lihat apapun jadi ketakutan.

      Hapus
  34. Padahal awalnya tadi udah ngerasa horor
    Endingnya malah jadi kasian sama jenazahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Supirnya ugal ugalan sih nyetirnya ya bang, kasihan Dudung nya.

      Hapus
    2. Untung cuma fiksi ya maazzzz

      Hapus
  35. Ada dikit merinding

    Hihihi

    Baru baca ambulance :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal bacanya siang ya mbak, apalagi kalo malam hari.

      Hapus
  36. Astaga Endingnya bikin ngeri bin ngikik...
    Ya ampun Mas, kok bisa2nya yang penting malah kelupaan. Itu keluarganya Dudung gimana kali yah.. hahaha Kocak-kocak..

    Mas Agus gimana kabarnya?? Sehat kah? Sudah lama kita tidak bersapa.. heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin keluarga nya Dudung mengandalkan Herman untuk nurunin jenazahnya tapi Herman nya malah ngobrol dengan pak RT, jadinya pada lupa.

      Alhamdulillah baik baik saja kang, cuma lagi ada kegiatan penting jadinya belum update blog

      Hapus
  37. ternyata banyak banget yang merindukan mas agus, ada kok tapi belum update saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ada yang kangen aku, hiks jadi terharu.

      Hapus
  38. Menarik cerpennya mengangkat profesi sopir ambulans dengan suka dukanya. Sering saya dengar sang sopir mengantar jenazah sendirian tengah malam ke daerah terpencil. Banyak suka duka, termasuk pengalaman mistis membuat mereka terbiasa dengan profesinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo saya sebenarnya belum pernah ngobrol langsung dengan supir ambulans pak, lihat mobil ambulans nya saja sudah takut.

      Hapus
  39. Mas aguuuus, ini kan harusnya cerita seram yaaa. Tapi dari pas Agus dan satria kabur ngeliat ambulans, aku lgs ngakak! Kenapa jadi kocaaaak wkwkwkwkwkwk

    Memang yaaa, polisi Hima juga jagoannya, walopun ga mau nemenin balik :p. Piye toh jenazahnya malah kelupaan :p.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja dicampur, horor plus komedi mbak, biar yang baca ngga tegang.

      Hapus
  40. Balasan
    1. Selamat malam juga bang.

      Eh, tapi ini sudah siang bang.

      Hapus
  41. asyik bawa mobil nih mas agus selamat malam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, bukannya ini sudah siang jam 10.

      Hapus
    2. lupa waktu saya bang kalau lagi blogwalking he he btw buras itu singkatan bang BUKAN RAS

      Hapus
  42. Wah keren nih!!
    Mampir di lapak saya yak
    ditunggu
    Terima kasih

    BalasHapus
  43. Halo mas Agus, seru ceritanya. Mana foto mobil ambulance nya agak-agak menyeramkan.

    Btw, nama-nama karakter dalam ceritanya kayak kenal. Pernah lihat di beberapa blog. Semoga kemiripan nama hanya kebetulan belaka, sebab kalau benar nama mereka dipakai, wajib bayar royalti lho. Hehe.

    Sehat-sehat ya mas, supaya bisa bikin banyak cerita lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, harusnya saya malah yang dikasih pulsa karena nama mereka nongol dalam cerpen kang Agung.

      Hapus
  44. Saya yang pernah ada di dalam mobil aja. Duh!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa ada dalam mobil bagian belakang kang?

      Hapus
  45. selamat petang bang semoga sehat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sehat bang biarpun lagi bokek.

      Hapus
  46. Saya langsung bilang astaghfirallah sambil ketawa karena endingnya kasihan banget si dudung, jadi keluarganya tadi nangisin apaan di dalam rumah? Kasihan juga sama herman yang kudu balik lagi padahal udah senam jantung selama perjalanan.
    Semoga mas herman diberi ketenangan di sana.
    Amin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengherankan ya, kenapa mereka pada nangis di dalam, jangan jangan habis ditangisi lalu digotong lagi dalam ambulans.

      Hapus
  47. Walah kok yo ketinggalan si almarhum dudung :) tiwas jadi ikut deg degan .takkira yang glodak glodag di belakang itu hantuu.
    pak polisi himawan ternyata takut hantu juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain aku yang glodak glodak itu kaleng bekas rengginang Bu guru.

      Hapus
  48. Wkwkwkwkwkw bayangin yang dimuat hidup lagi, auto teriak

    BalasHapus
  49. Wakakak ... kirain akhirnya bakalan horor. Ada aja idenya.

    BalasHapus
  50. wakakakakakaka, kok bisaaaa gitu ya, saking capek dan sedih, semua larut bersedih, jenazahnya lupa wakakakakakakak

    Untung bacanya siang, dan bikin ngakak.
    Padahal, baca judulnya aja udah seram, sampai awalnya nggak berani baca endingnya, ternyata malah ngakak :D

    BalasHapus