Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menawar nazar yang dibuatnya sendiri


Udin sedang bingung. Usaha tokonya selalu sepi dan akibatnya ia memiliki hutang yang menumpuk. Sudah berusaha cari kerja lain tapi gagal juga. Akhirnya ia minta kepada para sahabatnya, siapa tahu ada yang bisa memberikan solusi. Beberapa temannya memberikan solusi dan juga masukan, tapi tetap saja ia belum bisa melunasi hutangnya. Yang ada malah tambah banyak kasbonnya di warung ataupun toko lain.

Suatu hari, Agus teman sekolahnya dulu memberikan saran agar ia berkunjung ke ustadz Satria, tokoh masyarakat yang terkenal alim. Udin menurut lalu ia bergegas menuju rumah pemuka agama tersebut.

Oleh ustadz Satria, ia disarankan meminta petunjuk kepada Allah dan juga diminta agar ia perbanyak berdoa untuk membuka diri agar dapat hidayah Allah. Dalam rangka menunjukkan keseriusannya agar mendapat petunjuk dan juga solusi, maka ia sebaiknya membuat nazar.

"Kau sebaiknya membuat nazar." Saran pak ustadz." Dengan membuat nazar, itu berarti kau serius menunjukkan niatmu agar dapat hidayah Allah."

Akhirnya Udin pulang ke rumah. Pada suatu sholat malam, ia akhirnya mengucapkan nazar." Ya Allah, jika semua hutang-hutang ku lunas. Maka aku bernazar akan menjual tokoku ini. Uangnya semuanya akan aku berikan kepada semua fakir miskin."

Hari berganti hari, bulan pun ikut berganti. Daerah tempat tinggalnya tiba-tiba menjadi salah satu proyek infrastruktur pemerintah. Para pekerja datang, begitu pula dengan uang. Toko Udin pun mendadak ramai karena kebetulan tempatnya memang strategis.

Nasibnya pun kini mulai berubah. Pelan pelan ia bisa melunasi hutangnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya lunas semua. Tentu saja ia senang, sehingga lupa kepada nazarnya karena sibuk

Suatu hari saat Udin terbangun tengah malam, tiba-tiba ia melihat tasbih dan juga sajadah dimana malam tersebut ia mengucapkan kaulnya.

Oh iya, aku harus melunasi nazarku. Mengapa aku begitu lupa ya, batinnya.

Sejak saat itu, Udin berupaya untuk melaksanakan kaul nya. Ia merasa sudah janji kepada diri sendiri dan juga kepada Allah dan janji itu harus ditepati. Ia tidak mau menjadi orang munafik.

Akan tetapi muncul masalah. Ia merasa sangat sayang jika harus menjual tokonya, apalagi pembelinya sekarang rame. Udin berpikir, jika uang hasil menjual tokonya itu disedekahkan semua pada fakir miskin, alangkah sayangnya. Ia kini menyesal mengapa dulu terlalu bersemangat membuat nazar. Coba misalnya ia bernazar dengan barang yang lebih murah, motor misalnya, tentu sudah ia lakukan.

Tapi nazar tidak dapat dicabut dan tentu saja harus dilaksanakan. Udin kini berfikir keras bagaimana caranya agar ia tidak terlalu rugi dalam melaksanakan kaulnya. Untuk masalah ini, ia tidak bisa minta bantuan teman, malu kan. Padahal hasil keuntungan dari toko tersebut sudah banyak. Rumahnya yang dulu hampir rubuh kini sudah bagus.

Akhirnya ia dapat akal. Ia akan menjual toko tersebut seharga 100 ribu, itu harga yang sangat murah. Selain itu, ia akan menjual juga guci yang ada di toko tersebut seharga 500 juta. Toko dan guci tersebut adalah kesatuan. Jika seseorang ingin membeli tokonya maka harus membeli juga gucinya, tidak akan dijual tokonya saja.

Tentu saja orang pada terheran-heran begitu membaca pengumuman yang ditempelkan Udin di tokonya. Agus yang iseng lalu mencoba membeli.

"Udah Din, aku beli saja tokomu itu 10 juta, 100 x lipat daripada harga yang kau tawarkan, tapi aku ngga butuh guci itu, bolehkan hehehe..."

Tentu saja Udin menolak mentah-mentah.

Seminggu kemudian, datang orang kaya dari kota yang ingin membeli tokonya dan juga gucinya. Langsung ia beli 500 juta lebih 100 ribu tanpa menawar. Udin tentu saja sangat senang. Segera saja ia melaksanakan nazarnya dengan memberikan uang 100 ribu tersebut kepada fakir miskin. Sementara itu, uang 500 juta ia simpan rapat-rapat, tidak ia bagikan sedikitpun. Udin lalu membeli sebuah toko lagi dengan sebagian uang tersebut.

"Begitulah manusia." Ujar ustadz Satria." Mereka punya tekad kuat untuk melaksanakan ajaran agamanya. Tetapi manusia cenderung menafsirkan ajaran agama sesuai apa yang menguntungkan mereka. Jika mereka tidak segera menghapus kebiasaan tersebut, sungguh mereka tidak benar-benar belajar."

TAMAT
Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger yang ingin berbagi pada dunia terutama tentang film dan serial tv, suka nonton film tapi lewat gadget terutama handphone

104 komentar untuk "Menawar nazar yang dibuatnya sendiri"

  1. Seperti ketika manusia berdoa, merasa tuhan paling mendengarnya, tapi ketika berbuat dosa, seolah tuhan tak akan melihatnya (mendadak serius) πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, terima kasih tausiyah nya mamah Dedeh, eh Rini.😊

      Hapus

  2. Bagiku berdoa itu adalah anjuran tuhan, tapi nazar itu sangatlah wajib untuk ditunaikan jika tidak ya? Akan kena karma karena itu menyangkut dirinya sendiri dan tuhan. Dan nazar itu, adalah keikhlasan hati bukan suatu paksaan dari siapapun karena jika itu paksaan dari orang lain maka nazarnya pun juga tak akan berkah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mbak tari. Itu Udin juga menunaikan nazarnya kok.😊

      Hapus
  3. Mau komentar apa ya, bingung?

    Komentari ini aja, ternyata si Udin ilmu ekonominya mateng..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya udah, kalo bingung pegangan kang satria aja.😁

      Hapus
    2. Nah, bener nih, Mas Herman. Si Udin ilmu ekonominya Mateng banget. Apa karena sudah terlatih karena sudah mengelola toko begitu lama? Sungguh mengherankan πŸ€”

      Hapus
    3. Sepertinya sih begitu, mungkin join juga sama mbak Roem jualan produk kecantikan.πŸ˜…

      Hapus
    4. Iya mbak Roem, saking matengnya ilmu ekonomi si Udin nazar pun diakalin pakai prinsip ekonomi.. hihihi

      Atau join sama mas Dahlan..hihihi

      Hapus
    5. Nazar saja ditawar, emangnya Tuhan pedagang.πŸ˜…

      Hapus
    6. Itulah hebatnya si Udin..hihihi.., btw si Udin itu orang mana ya jadi pengen berguru..hihihi

      Hapus
    7. Kalo ngga salah sih orang Depok mas Herman, coba chat kang satria barang kali tahu.😁

      Hapus

    8. Udin orang Cikande Huu....Depok sampe pinggirannya nggak ada yang punya nama Udin.😬😬😬

      Hapus
    9. Bukannya pak ustadz nama lengkapnya Dahlanudin? 😱

      Hapus

  4. Jadi begini Pak KH. Ustad Agus Sarilah. MBA, MWB, MMM

    Nazar itu tidak bisa dibuat main2..Terkecuali Jika nadzar kita adalah kemaksiatan maka akan haram memenuhinya, Sebagai gantinya yaa kita wajib menunaikan denda sumpah, Yaitu memerdekakan hamba sahaya atau memberi makan sepuluh orang miskin atau memberi pakaian kepada mereka, Jika dari tiga pilihan ini. Jika kita tidak mampu maka kita harus berpuasa tiga hari. Jika nadzar kita sesuatu yang mubah maka silakan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan. Dan jika nadzar kita adalah ibadah maka wajib melaksanakannya, Tidak diganti dengan yang lain kecuali jika kita tidak mampu melaksanakannya, maka kaffaratnya adalah denda sumpah. Wallahu A’lam. Lain kali jangan bernadzar, ia tidak mendatangkan kebaikan dan hanya dilakukan oleh orang yang pelit.

    Terus Kaffarah apa artinya...😱😱


    KAFFARAH.....“Barang siapa yang bernazar dengan sesuatu yang tidak sanggup dilakukannya maka wajib atasnya membayar kaffarah sumpah.”

    Mau lebih detail lagi silahkan pak KH. Ustad Agus Sarilah MBA,,MWB, MMM Untuk membuka Surat al-Ma’idah ayat 89. Karena kalau saya tulis detail puaanjaang dan agak bingung nulisnya pak Haji....Jadi Mohon maaf juga Pak Haji.πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™ Karena harus ada tulisansan Arabnya secara detail juga.😊😊


    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih tambahannya pak ustadz, terbukti tidak salah memang tokoh satria menjadi ustadz karena ilmunya mumpuni, Al-Qur'an hafal dan hadits juga ingat semua. Semoga pak ustadz mendapat pahala yang banyak, Amin Ya Robbal Alamin.🀲🀲🀲

      Hapus
    2. Uwwwoooooo keren banget nih pak ustadznya, bukan hanya ahli bikin cerpen 99++++ tapi juga pemahaman tentang Islamnya kereennn.. :D

      Hapus

    3. Sungkem pak ustad satria? Biar Tari berkah cari rejeki dan cari jodohnya.

      Hapus
    4. Ikutan sungkem juga biar blog saya berkah.

      Hapus
    5. Ikutan sungkem biar blog saya rame walau tanpa organ tunggal atau suling tunggal..hihihi

      Hapus
    6. Pukul pakai panci aja mas kalo mau blognya rame.πŸ˜‚

      Hapus
    7. Ikut sungkem juga barangkali dikasi duit πŸ˜†

      Hapus
    8. Biasanya wkwkwk mas.πŸ˜…

      Hapus
    9. Biasanya xixixi πŸ˜†

      Hapus
    10. Saya mau ikutan sungkem sih, tapi bukan mahrom, dan lagi corona wakakakakak

      *Kaboooorrrrr :D

      Hapus
    11. Tapi ustadnya sekarang kok jarang nongol ya, apa karena ada wabah Corona jadi dirumah saja ya.🀭

      Hapus
    12. Ustadnya belum sembuh.
      Jahitan sunatnya belum kering sempurna ...

      Wwkkk ..
      Kabuuurr 🀸🀸🀸🀸

      Hapus
  5. Kalau temanya agama, karena ilmu ku masih cetek, jadi aku ga bisa komen panjang, sebab takut salah hehe
    Tapi lumayan jadi belajar bab ilmu pernazaran yg dibungkus cerita

    Unik juga ya, setting waktu ceritanya mirip kisah2 dongeng yang suka ngadain sayembara aneh, maksudnya klo di kehidupan real kyknya sih mustahil ada orang jual toko 100 ribu, trus bawaannya guci 500 juta, kayaknya cuma ada di dongeng semata..., lain kali kalau bernazar berarti yang harus bener2 dipertimbangkan dulu sebelum ngucap ya...biar di kemudian hari ga susah sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga sama kok mbak mbul, ilmu agamaku masih cetek sekali, yang sudah khatam ilmu agama itu ustadz Satria.😊

      Ketahuan,Aku bikin cerpen ini memang setelah baca buku kisah kisah Islam.πŸ˜…

      Hapus
    2. Nganu, Mbak Nit, tapi pernah ada kejadian beli rumah dapat bonus pemilik lama yang bisa dijadikan istri lho. Jadi rumah dan pemilik rumahnya itu suatu satu kesatuan yang diperjual belikan. Sepertinya sih motifnya sebelas dua belas sama kisah cerpennya mas Agus ini. Jadi pemilik lama yang janda itu sebenarnya butuh uang tapi gak mau kehilangan rumah itu. Jadi dia akhirnya punya ide seperti itu. Entah rumah itu akhirnya laku apa tidak.πŸ˜…

      Hapus
    3. Menurut yang aku dengar sih rumahnya laku mbak, pemiliknya juga jadi suami baru dari yang jual rumah.πŸ˜…

      Hapus
    4. Eh iyaaaa, saya pernah dengar tuh, saya kira hoax, beneran ya tuh jandanya.
      Terus yang beli kakek-kakek gitu gimana yak? :D

      Hapus
    5. Ngga kok mbak, yang beli pria yang sudah beristri, akhirnya dia hanya jual rumahnya saja.πŸ˜…

      Eh, tapi dia sudah menikah lagi sih, sama duda 38 tahun. Begitu info yang aku dapat.πŸ˜‚

      Hapus
    6. Hahahaha, si Mas Agus update bangeeettttt!
      Saya bahkan cuman dengar kabarnya gitu.

      Lagian kan aneh-aneh saja, menikah sama pembeli :D

      Hapus
    7. Udah laku ya rumahnya, Mas Agus. Aku malah baru tahu. Eh, itu kalau gak dijadiin istri harga rumahnya bisa turun gak ya, mas? Hehehe.🀭

      Hapus
    8. Saya tahu juga karena nyari info di google, soal harganya turun atau ngga tahu juga, coba mbak kesana mencari tahu.πŸ˜…

      Hapus
  6. Tapi ide si Udin ini brilian sekali lho, Mas Agus. Kok kepikiran ya, pake cara seperti itu. Kan dia jadi bisa bayar nazar tapi tetap untung. Tinggal yang dilakukannya itu sesuai dengan ketentuan agama atau tidak. Kalau tidak ya berarti urusannya si Udin sama Tuhan-nya aja.πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan jangan Udin dikasih bocoran info sama Dahlan ya mbak.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Udin ini ya, udah namanya sejuta Udin, ternyata akalnya juga sejuta hahahaha

      Hapus
    3. Iya ya, Udin itu nama yang banyak dipakai, misalnya Reynudin.πŸ˜…

      Hapus
    4. Hahhaha, ngarang aja, belum pernah tahu ada nama Reynudin.
      Zainudin kali :D

      Hapus
    5. Mas agusudin mungkin ada. πŸ˜‚

      Hapus
    6. Sekalian Roemudin aja.πŸ™„

      Hapus
    7. Boleh juga tuh, mas, roemudin.πŸ˜…

      Hapus
  7. Si Udin udah niat bernazar tapi kayaknya dia blom iklas, kebanyakan kayak sifat manusia pada umumnya,,,, makanya jgn buat nazar kalo ga sanggup, karena itu janji kita langsung sama yg diatas.... Iya ngga sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang diatas itu siapa mbak? Apakah genteng? πŸ˜…

      Betul, memang kalo ngga sanggup bernazar maka sebaiknya jangan, nanti malah nawar kayak si Udin.😁

      Hapus
    2. Yang diatas itu maksud sy buah rambutan, tinggal disengget pake bambu, ato lebih enak sambil nongkrong diatas pohon sambil digigit semut rangrang πŸ˜‚

      Hapus
    3. Oh, kebiasaan ngambil rambutan pak haji tanpa permisi ya mbak.πŸ˜‚

      Hapus
    4. Koq saya geli liat koment mbak Rey, mbk Roem tentang nama perUdinan, kalo Henidin cucok ga yaak πŸ˜‚,numpang nimbrung

      Hapus
  8. Jujur sering dengar Nadzar, bahkan teman saya banyak yang namanya Nadzar hahaha.
    Tapi hanya dari cerpen ini saya lebih mengerti seperti apa Nadzar itu dan bagaimana tujuannya.

    Tapi manusia memang kebanyakan gitu ya, seolah lupa kalau Allah itu memenuhi semua rongga langit dan bumi dan universe.

    Seolah Allah nggak tahu gimana kelakuannya.
    Apa nggak takut kualat gitu ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada juga yang namanya Nazarudin ya mbak, πŸ˜…

      Iya mbak, sudah sifat manusia kali ya, kalo lagi susah ingat sama Allah, rajin sholat, giliran sukses malah lupa.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Ada bangetttt, di Sulawesi itu banyak yang akhir namanya pakai udin.

      Jadi Nadzar nama panjangnya Nadzarudin :D
      Agus nama panjangnya Aguswati *eh salah ya hahahaha

      Hapus
    3. Lhaaaaah, mau komen nama Nazarudin mungkin ada. He lha dalah udah keduluan mas Agus.πŸ˜‚

      Hapus
  9. saya nazar harus di tulis juga di catetan, soalnya pelupa. Sebelumnya juga harus mateng banget nazarnya, karena pamali kalo ngga di lakukan jika sudah bernazar. idenya bisa aja ya si udin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kang, kalo aku jangankan nazar, kalo ada perlu yang penting juga dicatat soalnya pelupa.πŸ˜‚

      Udin memang terlalu.

      Hapus
  10. Duh ada-ada saja si Udin, padahal kalau dia betulan tulus menjual tokonya dengan harga normal dan menyedekahkan hasil penjualannya, bisa jadi Allah akan memberikan rejeki yang berlipat ganda untuk Udin (dan mungkin lebih besar daripada sekedar 500 juta rupiah) :D sayangnya Udin lupa, kalau kalkulator Allah itu jauh lebih bagus angkanya daripada kalkulator manusia :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali ya mbak, siapa tahu nanti rejekinya berlimpah dan bisa bikin toko lagi yang lebih besar.

      Hapus
    2. Iya mas Agus, saya selalu percaya kekuatan sedekah, apalagi Udin sudah bernadzar. Seandainya betulan dilakukan sesuai dengan nadzarnya tanpa diakal-akalin seperti yang diceritakan, bukan nggak mungkin Udin bisa dapat rejeki jauh lebih besar daripada sebelumnya :D Mana tau tokonya jadi buka cabang di lima kota misalnya :>

      Hapus
    3. Maaf komentar tadi typo mas hehehe :))

      Hapus
    4. Betul sekali mbak, tapi manusia (mungkin juga saya.πŸ˜‚) kadang hanya melihat yang tampak saja, berat kalo disuruh menunaikan ibadah termasuk nazar.

      Tidak apa-apa mbak, aku juga kadang typo kok kalo komentar.😊

      Hapus
  11. Mantap jg akal si udin, kayak akal si anu.. si abu nawas ya, hehe..

    BalasHapus
  12. Owalah si Udin, malah ngakal-ngakalin nazar.
    Sungguh perbuatan yang nggak bagus tuh.
    Tapi licik amat dah akalnya itu. Ckckckc...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ngga mau rugi ya kang, nanti kalo bangkrut baru nangis.πŸ˜‚

      Hapus
  13. Ya ampun dah udin ini. Haha ngakaka dong baca malam-malam buat pengantar tidur nih. Din udin otaknya uang yakk *duh

    Saya gak kepikiran apa yang dipikirkan udin, out of the box sekaliii🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, makanya kata mbak Rey, Udin itu sejuta nama karena banyak dipakai orang, akalnya juga ada sejuta.πŸ˜…

      Hapus
  14. menginspirasi, paling adminnya jika diposisi seperti itu ,akan meniru akalnya he,,he,,

    BalasHapus
  15. Membaca tulisan ini membuat saya wawas diri dan 'melihat kembali ke belakang' ada resah yang membuat bulu kuduk berdiri apalagi di musim ini, wabah corona merajalela. Lagi - lagi kembali bernazar, setelah itu lupa, persis seperti yang diulas dalam postingan ini. Sungguh saya jadi takut, tetapi tulisan ini menjadi refleksi menarik untuk saya secara personal. Membayar hutang napas hidup yang diterima dengan cuma - cuma pun belum saya lakukan. sungguh manusia macam apa aku ini hehee...

    Mas Agus ini tulisan terbaik yang saya temui di blog ini, saya suka sekali tulisan gendre ini, selalu menghadirkan refleksi batin yang meluluhkan nurani... terima kasih telah menghadirkan tulisan yang penuh reflektif ini.


    Sebenarnya banyak tulisan reflektif di blog ini, namun terkadang dikemas dengan gaya komedia sehingga saya tidak begitu memahami maksud tersirat dibalik pesan yang disampaikan, namun postingan ini lugas dan menginspirasi, tidak menghilangkan ciri khas mendayo - dayo tetapi berkurangnya unsur komedia membuat saya memahami post ini dengan penuh reflektif, sekali lagi terima kasih mas... Nice post...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti pak guru sukanya tulisan yang agak serius ya, soalnya lebih gampang dicerna kali ya pak guru. Kalo aku kadang lebih suka yang ada humornya, biar suasana agak fresh gitu.

      Makasih apresiasinya pak guru.😊

      Hapus
  16. Waah mas Agus bisa " lobang idungnys tambah gede nih di puji ama bang Martin diatas.... πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saking gedenya bisa buat ngisap sampean mbak masuk lobang hidung.πŸ€ͺ

      Hapus
    2. Bhuwaahahaha .. lubang sumur kaliiiij akhhh 🀣🀣🀣

      Hapus
    3. Yaampun, ngakak aku, Mas. Mbak Heni juga bisa-bisa aja. Biasanya orang dipuji besar kepalanya, kali ini malah besar lubang hidungnya.πŸ˜‚

      Hapus
    4. Hi hi, sakit perut q mbak kalo baca komen" diblog ini, error kabeh πŸ˜‚

      Hapus
    5. Apakah yang komen pada ketularan... adminnya?? *eh kabuuuur πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

      Hapus
    6. Ketularan yang kabur kali.πŸ™„

      Hapus
  17. Jleb banget paragraf terakhirnya. Duh, manusia-manusia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Termasuk aku juga kang, kalo dapat rejeki suka lupa.πŸ˜‚

      Hapus
  18. gw gak tau antara pinter dan licik si udin ini wkwkwk... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kayak Abu Nawas ya mas khanif.πŸ˜…

      Hapus
    2. kayak si kancil mencuri mentimun mas hehehe :D

      Hapus
  19. Kekinian benaaar idenya .. hahaha πŸ˜….

    Besok aku juga mau ngikutin cara jual kayak gitu, akh.
    Jual kebun seharga 500 perak, tapi pembeli wajib beli juga kotak jam seharga 1 milyar .. xixixi ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh juga tuh, tapi jangan kebunnya orang yang dijual ya mas him.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Kebon punya nenek, sih 😁

      Hapus
    3. Mumpung neneknya udah tua jadikan lupa, jual aja kebonnya ya mas.πŸ˜‚

      Hapus
  20. Si Udin cerdas juga, Mas Agus. Dia Yang Maha Asyik barangkali tertawa-tawa di atas sana. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin juga ya kang.

      Ini baru komentar lain, out of the box.πŸ˜…

      Hapus
  21. ilmu dagang si udin bisa dipraktekin tapi jangan bersinggungan dg hal2 yang berkaitan dg agama.

    nazar itu berat,, skrg saya gak pernah nazar lagi takut khilaf.. :D

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kang, nazar itu berat apalagi kalo buat mainan ya.πŸ˜”

      Hapus
  22. Ini bacanya kok aku ikutan gemes Ama si Udin hahahaha. Bikin nazar ga nepatin :p. Amit2 hukuman dari Tuhan :p.

    Aku pernah bikin nazar dulu, gara2 sempet terlibat Ama case yg lumayan rumit wkt di kantor .sampe2 berdoa kalo aku bisa kluar dari situasi ini, aku bakal umroh. Wkt itu jujurnya ga prnh kepikiran umroh padahal tiap THN aku slalu traveling. Dan Alhamdulillah aku bisa kluar selamat dari masalah kantor :D. Lgs deh arrange umroh bareng suami. Takut kalo ketunda malah dpt masalah baru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh begitu ya mbak. Nazar memang harus ditepati ya mbak, takutnya nanti kualat kalo ngga ditepati.πŸ˜‚

      Hapus
  23. Si Udin mah nakal...niat nazar tapi kok ngakalin juga.
    Ntar Tuhan marah lho ya?
    Ada aja... masa jual rumah 100 ribu plus guci 500 juta.
    Yang terakhir itu nggak berkah .
    Udin... Udin... kok ke goda syaitan jadi serakah begitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Godaan setan memang lebih kuat daripada godaan janda ya mbak.πŸ˜‚

      Hapus
  24. Trims mas, jleb banget nih kemaren ngalamin hal yang mirip2. Uh malu saya ma Tuhan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa diambil hikmahnya ya bang day.😊

      Hapus
  25. Awalnya saya mikir, murah amat ya harga tokonya. Ternyata ilmu dagangnya Udin warbiyasak, hehe.

    Ada pesan yang bagus tentang nadzar di cerita ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya sudah dekat bulan Ramadhan mbak Pipit, share cerpen yang ada pesannya gitu.😊

      Hapus
  26. Udin udah tobat sekarang. Sudah haji pula. Juragan konveksi dia sekarang.
    Barusan saya tulis di blog saya tuh πŸ˜ƒ

    BalasHapus
  27. Kira2 udin kena azab gak tuh? Nakal.. πŸ˜‚

    BalasHapus
  28. Jadi dia ngga sayang tokonya, tapi uangnya. Udah gitu ngakalinnya ngga tanggung-tanggung, ckckck.

    BalasHapus