Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sebuah Gigi Emas bagian dua

 


Mata mayat itu lalu menatap korbannya. Otak Bayu menyuruhnya untuk segera lari, kabur sejauh mungkin, tapi kakinya justru mendekat kepadanya.

"Ja.. jangan." Hanya itu suara yang sempat keluar karena keburu lehernya dijepit oleh dua tangan mayat hidup yang ada didepannya. Jepitan itu begitu kuat laksana jepitan besi sehingga lelaki itu merasakan nafasnya sangat sesak, yang baru kali ini dialaminya. Ia ingin meronta ronta tapi sayangnya tenaganya tak ada. Dadanya sangat sesak dan paru-paru nya pun akhirnya pecah.

Krak, suara leher patah terdengar, barulah mayat itu melepaskan cekikan nya, tubuh Bayu pun tanpa ampun jatuh di lantai keramik. Pintu kembali tertutup seolah-olah tidak ada apapun, hawa dingin pun berangsur menghilang.

Sementara itu Nina sudah selesai mandi dan sedikit berdandan. Dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya maka ia pun keluar kamar mandi.

Ia heran ketika melihat kekasihnya tidak ada ditempat tidur. Ketika ia berkeliling mencari dilihatnya orang yang sedang dicarinya tergeletak di lantai.

"Idih, kok malah tiduran di lantai, pengin coba gaya baru ya." Godanya sambil tertawa, tapi tawanya langsung hilang berganti jeritan ketika ia membalikkan tubuhnya dan dilihatnya kekasih itu sudah mati dengan mata melotot dan leher yang patah. Wajahnya sendiri terlihat sangat ketakutan.

Baca episode sebelumnya Kisah Gigi Emas bagian pertama.

Satria meletakkan koran yang dibaca ke meja. Ia tidak terlalu tertarik dengan berita presiden SBY memberikan subsidi untuk rakyat miskin dalam menghadapi krisis ekonomi karena jelas ia tidak akan dapat bantuan. Ia lebih tertarik dengan berita matinya seorang penggali kubur di sebuah rumah seorang janda. 

SEORANG TUKANG GALI KUBUR MATI DI RUMAH JANDA, DIDUGA DIBUNUH SELINGKUHAN NYA, demikian judul halaman depan. Koran itu memberitakan kalo pasangan itu bertengkar lalu si wanita membunuhnya. Sementara di halaman dua koran itu ada berita tentang sebuah kuburan yang dibongkar, padahal kuburan tersebut masih baru. 

Ah persetan dengan semua berita itu. Ia lebih pusing memikirkan Riska istrinya itu.

"Apa ini?" Katanya pagi ini ketika istrinya memberikan kopi sambil membawa dua lembar kertas.

"Ini iuran kuliah Dahlan, anak kita kang, terus satunya lagi tagihan kartu kredit dari bank." Jawabnya sambil menyebutkan nama bank-nya.

"Bukannya Minggu kemarin ia baru ku kasih uang untuk bayarnya."

"Iya kang, tapi tahu sendiri kan kalo Dahlan itu banyak temannya, jadi katanya uangnya ia pakai untuk mentraktir makan."

Tentu saja Satria dongkol bukan main. Padahal bulan kemarin ia baru saja menghajar anaknya, penyebab nya karena ia menemukan lintingan ganja di kamarnya plus juga uang kuliahnya belum dibayar sehingga terpaksa ia bayar lagi. Begitu anaknya pulang langsung ia seret ke halaman belakang, diikat plus dicambuk pakai rotan tapi dasarnya anak bandel. Apalagi istrinya pasti selalu membela nya.

"Kasihan kang, ia pasti hanya ikut-ikutan." Begitu bela istrinya ketika sampai sore ia masih belum membuka ikatannya.

"Iya pak, ampuni Dahlan pak, Dahlan janji tidak akan pakai narkoba lagi." Rengeknya.

Segalak apapun orang tua pasti hatinya luluh, apalagi Dahlan adalah anak satu satunya.

"Kang, kok malah melamun. Jadi tidak bayarnya?" Ujar Riska ketika melihat suaminya hanya memperhatikan kertas saja.

"Berapa semuanya?" 

"Lima juta kang."

"Lima juta?" Satria kaget." Bukannya Minggu kemarin kamu baru aku kasih lima juta Ika."

"Sudah habis, buat bayar arisan, buat beli baju plus sepatu, dan juga ke salon. Bukannya akang pengin aku cantik terus."

Satria hanya bisa mengeluh dalam hati saja lalu memberikan uang yang diminta. Riska langsung memeluknya." Kemarin aku ke toko baju langganan ada tas bagus kang, katanya dari Prancis dan di kota ini hanya ada tiga saja."

Tentu saja ia makin pusing mendengarnya." Bukannya di lemari mu sudah banyak tas Ika. Mulai sekarang mulailah berhemat karena katanya Indonesia akan terkena krisis ekonomi."

Istrinya hanya tersenyum lalu setelah mencium suaminya ia lalu pamit pergi. Ah, pasti untuk menghamburkan uang yang tadi diterima nya. Seharusnya ia sudah tahu sejak pacaran dulu kalo ia memang pemboros, tapi wajah cantiknya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Padahal teman-temannya sudah memberi tahu kalo dirinya mata duitan.

Ah biarlah uang toh bisa dicari. Ia mengambil teleponnya lalu memencet beberapa angkat. Agak lama baru teleponnya diangkat.

"Selamat pagi bos Afui, ada barang nih."

"Pagi Satria, maaf kas lagi kosong, penjualan akhir akhir ini lagi goncang, soalnya tahu sendiri katanya dunia mau krisis."

"Hanya beberapa potong saja bos, dijamin tidak akan mengecewakan."

"Maaf Satria, beneran lagi kosong."

Dengan kecewa terpaksa ia memutuskan teleponnya lalu segera kedalam untuk mengambil barang. Ia akan menawarkan langsung pada beberapa orang langganannya.

Dengan mengendarai mobil kijang LGX warna emas andalannya ia lalu keluar rumah. Sebenarnya Riska sudah beberapa kali meminta agar ganti dengan Pajero tapi tak mau kalau disuruh berhemat.

Dari pagi sampai sore ia sudah menawarkan barang nya ke beberapa toko emas tapi sayangnya belum ada yang mau. Alasannya penjualan lagi menurun. Akhirnya setelah hampir Maghrib ia menelpon Herman, penadah juga seperti dirinya, barang kali saja ia punya uang lebih.

Setelah bertemu di sebuah rumah makan yang agak sepi maka Satria lalu mengeluarkan barangnya, sebuah gelang besar sekitar 50 gram dengan manik berlian, beberapa buah kalung tidak kalah bagus, yang tentunya ia terima dari para penjambret beberapa hari yang lalu. Sebenarnya kemarin ada kenalan lama yang ingin menjual banyak barang, hasil dari rampokan toko emas tapi ia tolak, terlalu ngeri membeli barang seperti itu.

"Tiga juta kang." Ujar Herman setelah melihat barangnya.

"Tiga juta." Laki-laki itu terbelalak." Masa segitu saja. Tambahkan dua juta lagi Man."

"Tak ada lagi kang, kamu tahu sendiri sekarang lagi susah jual barang beginian, selain pasar lagi lesu, juga karena polisi makin memperketat pengawasan. Kamu kenal Udin kan, ia ditangkap polisi kemarin, yang beli barang nya kemarin ternyata intel yang menyamar."

Satria mendengus." Salah dia sendiri ngga waspada. Udah, tambah satu juta lagi dah."

"Tidak ada kang, nanti kalo cair aku tambahkan deh."

Sue, makinya. Terpaksa ia menerima uang yang ada. Sambil memasukkan barangnya ke dalam tas maka Herman pun berujar." Kamu kenal Bayu tidak, tukang gali kubur yang tadi pagi masuk koran?"

Hmmm, ada apa dia bertanya seperti itu, apa ia tahu aku mendapatkan gigi emas dari orang sialan itu batinnya tapi Satria hanya diam saja.

"Aku kenal Nina selingkuhannya."

Satria menyeringai." Sudah berapa kali kau tidur dengannya eh."

"Hasyu." Maki Herman." Bapaknya tetanggaku kang dan aku beberapa kali melihatnya lewat. Tak mungkin ia membunuh karena ia tidak seperti itu. Suaminya yang dulu suka main tangan memukul bahkan kadang membawa pacar gelapnya ke rumahnya itu sebabnya ia bercerai, tapi ia tidak membunuhnya padahal harusnya ia lebih punya alasan kuat."

Satria angkat bahu." Mungkin sekarang ia lagi kalap."

"Bisa juga ia kalap, tapi tenaga dari mana bisa mematahkan leher, kalo mencekik mungkin saja, lagipula penggali kubur itu tubuhnya lebih besar dan tenaganya lebih kuat."

Satria tetap acuh tak acuh, bukan hal menarik baginya.

"Kata bapaknya, Nani tidak pernah membunuh. Jangankan membunuh orang, membunuh hewan juga enggak pernah, bisa saja ini perbuatan setan yang balas dendam."

"Setan?" 

"Iya, kabarnya selain sebagai penggali kubur, ia juga suka menggerayangi kuburan orang untuk dijarah hartanya, siapa tahu ada setan yang tidak terima lalu balas dendam." 

Hampir saja Satria tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Herman, tapi diurungkan karena ia masih ingin menjalin hubungan dengannya." Man Herman, jaman sudah canggih begini kok kamu masih percaya sama dongeng seperti itu, sekarang sudah dibuktikan kalo di bulan tidak ada kelinci, setan itu cuma untuk lamunan orang penakut saja."

Herman hanya angkat bahu lalu iapun pulang. Percuma saja berdebat karena ia tahu Satria tidak percaya hal gaib.

Sebelum memasukkan mobil Toyota LGX nya ke garasi Satria kembali lagi melihat seseorang di bawah lampu penerangan depan pagar rumahnya. Sudah dua kali ia melihatnya, sosoknya tidak terlalu jelas karena agak jauh plus juga suasana malam yang cukup gelap biarpun ada sinar lampu tapi sekilas ia memakai jas hitam yang bagus. Sudah pula ia bertanya kepada istrinya Riska tapi katanya tidak melihat. Ah dasar, ia hanya bisa melihat uang dan benda kesenangannya saja.

Apakah ia seorang intel polisi yang ingin menangkapnya? Oh oh, ia tentu akan kecewa karena seperti biasa ia selalu bermain rapi. Barang yang biasanya ia terima tidak akan langsung dijual dulu tapi disimpan dengan rapi biar suasana reda, baru setelah adem, barang jambretan atau barang gelap itu ia jual, biarpun untuk itu memang harus keluar modal dulu.

Ia juga selalu pilih-pilih dulu, tak berani sembarangan menerima barang, apalagi hasil rampokan yang ada korban jiwanya, semurah apapun ia tidak akan terima, terlalu ngeri resikonya kalo sampai tertangkap. Belum lagi kalo mertuanya tahu ia bekerja sebagai penadah, bisa dimarahi habis-habisan karena modalnya dulu darinya.

Orang tuanya tahu kalo Riska anaknya itu suka berfoya-foya makanya menantunya itu diberikan modal yang besar. Beruntung pula Satria tahu bagaimana caranya memutar modal itu agar tidak cepat habis. Ia berdagang usaha toko emas kecil-kecilan dan juga beberapa usaha lainnya seperti toko sembako yang ia percayakan pada temannya, walaupun sebenarnya keuntungan terbanyak ya dari barang gelapnya.

Hawa agak dingin ketika ia masuk kedalam ruangan khusus dimana ia menyimpan barang hasil dari Bayu beberapa hari lalu. Untuk barang kecil seperti itu memang ia taruh dirumahnya sendiri karena tidak akan bermasalah karena ia tahu pekerjaan Bayu sebagai penjarah makam. Selain dirinya, hanya istrinya yang tahu kode brangkas itu.

Ia memasukkan kode kunci lalu membuka kotak berangkas nya, tapi betapa kecewanya ketika ia tidak melihat barang yang ia cari.

Ah brengsek, pasti pekerjaan Riska batinnya. Siapa lagi kalo bukan dia yang suka menggerayangi brangkas tersebut selain dirinya, kalaupun nanti ribut dan ia terpojok maka ia selalu berkilah kalo itu harta warisan orang tuanya yang diberikan pada Satria. Lelaki itu biasanya mengalah karena memang kenyataannya seperti itu, orang tuanya hanyalah petani kecil yang bahkan untuk kuliah dirinya terpaksa berhutang sana sini, sama seperti dirinya waktu kuliah juga kerja serabutan agar dapat ijazah, yang sayangnya ijazahnya kini hanya jadi pengisi lemari saja.

Saat ia hendak keluar dari ruangan itu tiba-tiba hawa dingin makin menggigit, belum juga hilang keheranannya, dari kegelapan muncul seseorang yang memakai jas hitam.

Satria tercekat karena mengenali siapa sosok yang tahu tahu ada di ruangan khusus itu, karena ia memang beberapa kali bertemu dengannya, baik untuk transaksi maupun hal lain walaupun tidak terlalu akrab.

"Koh.. Koh Alan....."

"Mannaaa... Ghighiiikuuu...Satriiaaa..." Suara dari alam gaib itu berbisik di telinganya, membuat nyalinya ciut, karena ia ikut melihat sendiri sosok yang ada di hadapannya itu dikuburkan walaupun dari agak jauh. Suara sosok didepannya tampak tersendat-sendat, mungkin karena lehernya terjepit, terlihat ada bekas cekikan disana.

"Aku, aku tidak tahu koh... Sumpah." Jawabnya dengan nada gemetaran. 

"Jangaannn... Bohoonngggg, akhuu... menciuummm... Bauuuu... ghighiiikuuu..."

"Sumpah koh, tadinya memang aku, aku membelinya dari tukang gali kubur itu. Cuma, cuma aku tidak tahu kalo itu milikmu koh. Kalo tahu aku tidak berani. Ampuni aku koh..." Katanya menghiba.

Mata mayat hidup itu tampak memerah." Berapaaa.. kamuuu.. membelinyaaaa..."

"Lima ratus ribu, eh tujuh ratus ribu koh." Jawabnya cepat, sepertinya ia melihat ada harapan agar tidak jadi korban seperti Bayu.

"Ambilll... Uangnyaaaaa..."

Satria langsung mengeluarkan dompetnya." Ini koh, ada yang tiga juta. Aku berikan semuanya kepadamu, aku janji tidak akan mengulangi lagi perbuatan ini."

Koh Alan menyeringai memperlihatkan sebagian giginya yang hilang, tangannya dengan sigap menerima lembaran uang tersebut." Lihattt.. matakuuu... Satriaaa."

Walaupun tidak mengerti apa maksudnya tapi lelaki itu menurut saja, baru saja ia melihatnya tiba tiba tangan mayat tersebut secepat kilat masuk ke mulutnya, menyumpalkan lembaran uang itu ke tenggorokannya.

"Akhu... tidaakkk.. butuuhhhh... Uangmu.. manusiaaa... Tamaakkk. Akhu.. hanyaaa... Butuuhhhh... Ghighiiikuuu..."

Satria megap-megap karena tenggorokannya tersumbat oleh uang, menghambat saluran pernafasan nya, dadanya jadi sesak. Ia berusaha bernafas lebih kencang tapi tambah celaka karena uang kertas tersebut malah makin kedalam, masuk kedalam paru parunya. Tak lama kemudian iapun mati dengan mata melotot ketakutan, hawa dingin dalam kamar tersebut pun berangsur angsur hilang.

Sore hari sebelumnya peristiwa itu, di sebuah rumah mewah di pinggir kota tampak Riska sedang berbincang-bincang asyik dengan Nita, salah satu pemilik toko butik terkenal di kota tersebut. Selain untuk membeli baju baru, wanita itu juga kesana karena ada keperluan.

"Ini lho jeng Nita, gigi emas ini sangat cocok buat mas Adam suami jeng Nita. Lihat, bentuknya sangat bagus bukan."

Nita melihat-lihat gigi taring terbuat dari emas itu. Sebuah gigi yang unik dan berkilau, memang sangat pas untuk suaminya yang seorang pengusaha.

"Tapi, harganya pasti mahal jeng Riska."

"Ah tidak, untuk jeng Nita aku kasih murah saja. Bisa juga ditukar dengan baju brokat yang aku pesan kemarin."

Mata wanita cantik bernama Nita itu berbinar." Boleh saja kalo jeng Riska mau. Besok akan aku suruh pegawai ku menyelesaikan jahitannya dan langsung aku antar ke rumah jeng Riska."

Akhirnya setelah selesai ngobrol mata Nita lalu membawa kedua gigi emas itu kedalam untuk diperlihatkan pada suaminya saat pulang nanti, tidak tahu kalo itu akan mengundang masalah kedepannya.

Bersambung

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

55 komentar untuk "Kisah Sebuah Gigi Emas bagian dua"

  1. Setelah Bayu dan Satria kayaknya yang bakalan jadi korban selanjutnya si Nita nih. Jadi penasaran sama lanjutannya kira-kira si Nita matinya dicekik, kejepit pintu atau ketiban rak piring?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah tumben jam dua belum tidur mas.😄

      Enaknya ketiban piring apa kejepit pintu ya mas? 🤔

      Hapus
    2. Matinya ketiban emas satu rak..🤣🤣🤣😋

      Hapus
    3. Bisa jadi, yang penting jangan ketiban kang satria, bisa gawat itu.😂

      Hapus
    4. Bukannya ketiban Herman..🤣🤣🤣🤣🤣

      Terus diajak tapa kegunung semeru.🤣🤣🤣

      Hapus
    5. Biasa penyakit lama kumat lagi, mas..hihihi

      Kayaknya lebih enak kalau matinya keselek pintu dah...hihihi

      Iya gawat banget tuh kalau ketiban Satria, kan Satria udah mati kelolodan duit..wkwkwk

      Hapus
    6. Mau enggak ya kalo Nita keselek pintu.😂

      Kalo udah mati kan ketiban nya tidak terlalu berat, soalnya rohnya doang.😄

      Hapus
    7. Pasti maulah kan unik tuh kalau mati keselek pintu, bakalan viral dah..hihihi

      Hapus
    8. Betul juga ya, siapa tahu viral dan nanti bisa jadi judul sinetron azab.🤣

      Hapus
    9. ketiban emas apa ketiban mas? ambigu kata katanya wkwkwk

      Hapus
    10. Kayaknya ketiban emas Herman.🤣

      Hapus
    11. emas herman kan punyanya ningsih mas wwkwkkwkwkw

      Hapus
  2. Satu persatu tewas dicekik Koh Alan.. hmm pembunuhan berkalung/berantai ini, siapakah selanjutnya? Kemungkinan Riska terus kemudian Suami Si Nita.

    Kalau penulis salah makan kemungkinan Suami Si Nita adalah bernama Herman tapi kalau habis makan obat kemungkinan penulis akan membuat Koh Alan mencekik dirinya sendiri, hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    2. Ada kemungkinan ke situ, kang jaey. Kita tunggu aja penulis habis salah makan atau habis minum obat atau habis salah makan obat?

      Hapus
    3. Yang benar keracunan susu basi lagi..🤣🤣🤣

      Hapus
    4. Klo habis salah bantal termasuk juga gak 😅

      Hapus
    5. Kayaknya koh Alan jadi tenang nanti setelah dikasih J phone buat hiburan di peti mati.😄

      Hapus
    6. nah ni gimana nih...mas her suami anita di cerbung satunya wkwkkwkwk
      berarti antara salah makan
      atau salah nguntal obat wkwkkwk

      Hapus
    7. Kalo cerbung satunya ngga tahu mau dilanjutkan apa enggak, soalnya belum ada ide.😄

      Hapus
  3. Yaah kok bersambung lagii 😆😆 Btw itu 50gr pake berlian lg cma dihargai 3jt? Tega bener Herman ngehargain segituu 😆😆 klo 5gr segitu okelah.. hehehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Si Herman bukannya tega tapi yang jualnya yang lagi kumat mungkin dia habis salah makan..wkwkwk

      Hapus
    2. Namanya juga barang Spanyol mbak makanya dihargai murah.😁

      Hapus
  4. Ini ada adegan untuk 17+++ gak, Mas Agus? Aku baca awal-awalnya agak deg-degan, nih. Soalnya aku masih 14 tahun, masih di bawah umur. 🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh banyak mbak Roem, banyak adegan hotnya, jangan baca deh, ini untuk yang umur dibawah 90 tahun saja.🤣

      Hapus
    2. aku masih di baqah unur 17 tahun kak

      Hapus
    3. 17 tahun apa 71 tahun mas khanif.🤭

      Hapus
    4. kalau mbul 11 tahun...nah tuh ga bisa dibalik angkanya 🤣

      Hapus
    5. Ah, itu dibelakang angka 11 ada nol nya satu tuh.🙄

      Hapus
    6. ga ada...nolnya uda diumpetin...atau dipindah depan 011 🤭

      Hapus
  5. lagi2 korban gigi emas koh ahlan mati, korban selanjutnya mbak mbul nita atau suaminya ?, hmm tunggu episode selanjutbya ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin saja korban selanjutnya ialah khanif.😁

      Hapus
  6. wah... jadi penasaran nih ngikuti jalan ceritanya... ..

    # mantul ceritanya ....👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kang, jadi semangat bikin lanjutannya.😃

      Hapus
  7. Cerita horor begini nanti malam bisa mimpi ketakutan. Hikhikkkk ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti bacanya siang hari saja ya Bu nur.😄

      Hapus
    2. hihi iya bu Hati-hati ya. Kalau ranjangnya punya kaki, mending dilepas. biar gada yang tidur di bawahnya.

      Hapus
  8. adam? wuih mas sutradara lagi sugih duit...bisa ngecasting adam levin masuk ni cerpen wkwkkwkwkw...

    kirain agus..hahaha...kok adam ya 🙄🤔🤭

    ya amplop hmmm...itu yang di atas lagi doain apa sih mas? kok doanya kek gitu wkwkkw...#awas digigit sama koh alan loh mas-mas semuanya wkwkkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan Adam Levine tapi Adam Suseno mbul.🤣

      Agusnya jadi tukang becak, kurang pas jika sama Nita yang rumahnya gedong.😂

      Hapus
    2. hussss ga boleh

      itu punya mba inul...hihihi

      Hapus
  9. duh mesakke kalau mas uda nulis panjang ku belom komen panjang, biat adminnya semangat...sek sekkkk tak komen panjang sek yo mas wkwkkw

    eh ini yang bener nani apa nina sih? kok dari kemaren ada tulisan nani ada pula nina hihi

    dahlah kelas berapa tuh, masih sekolah kok uda ngeganja? duh ckckckk

    nemu istilah baru --> tidak ada kelinci di bulan

    (´・ェ・`)

    ga tau kenapa aku pengen ngakak tiap baca koh alannya ngomong ya...kenapa ya wkwkwkkw?

    gigi taring bertuah, siapa yang memegangnya akan kena celaka...waduhduuuh...mungkin pada kepentok begitu soalnya lagi krisis...jadi ngira ira ni cerpen dibikin eranya presiden SBY..hmmmm lumayan lama juga ya, ama yang dulu tetep sama kah endingnya..atau ada edit edit dikit?





    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh maaf yang ini lupa dibalas.😂

      Entahlah Nani apa Nina mbul, aku juga keder soalnya, anggap saja saudara kembar.😄

      Kurang tahu Dahlan kelas berapa, mungkin SMK kali.😁

      Tadinya mau dibikin era pak Harto tapi kayaknya ada yang kurang pas di bagian satu yaitu Bayu pegang hape, akhirnya digeser ke zaman SBY.😄

      Hapus
  10. Alur ceritanya mengesankan, kalau dibuat novel bisa ini

    BalasHapus
  11. Jadi, siapa yang kedapatan memegang, atau membawa gigi itu sepertinya bakalan mati ya? Atau, Sebenarnya itu bukan Hantu Koh Alan? mana mungkin hantu memegang sosok sedang kan ia di alam yang berbeda? haha, ini presepsi saya mas agus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya hantunya disini bisa megang kang, jadinya bisa nyekek gitu atau megang duit.😄

      Hapus
  12. Bahahahahah 😅😅😅
    Seram Mas Agus. Tapi pengen ketawa.. *alibi, biar bisa tidur nyenyak malam ini..*
    Wahh, kasihan amat Satria. Mati disumpal Uang.. Neng Riska pasti kaget pas ngeliat suaminya udah meregang nyawa dengan mata melotot.. pasti si Riska bingung. Mau ngamanin uangnya apa suaminya dlu...

    Eduunnn.. Gigi Emas ditukar Baju Brokat 🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh serem amat tuh, kayaknya Riska lebih milih duit ya.😂

      Hapus
  13. ini ceritanya mau dibungkus berapa episode nih mas? kayaknya lbh bagus dibikin filem aja nih mas... yuk aku yang sutradarain.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya jumlah episodenya hampir sama dengan sinetron tersanjung kang.🤭

      Hapus
  14. wah ada korban baru nih.. Mbul, namamu dipake, siap2 minta royalti.. wkwkwk

    Mau baca gini aja aku kudu nunggu siang-siang.. wkwkwk takut ada yang ikutan baca bareng di belakang..

    BalasHapus
  15. Duuuh mas, salah aku bacanya pas sdg sendirian, malem2 pulaaaa hahahahah. Seremnya dapeeeeet. Yang pada tamak ketemu batunya.. penasaran dengan korban selanjutnya :D

    BalasHapus
  16. lanjottt, untung bacanya masih jam segini :D

    BalasHapus