Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lika Liku Asmara bagian kedua

 


Pukul satu siang Miranda datang ke kios dengan wajah polosnya yang manis. Aku sebenarnya ingin memarahinya tapi melihat wajahnya yang ayu maka aku menahan kemarahanku.

"Kok wajahmu pucat mas, sedang tak enak badan ya?" Tanyanya padaku. 

Ya Allah, apa sebaiknya ku lakukan. Aku sangat mencintainya tapi haruskah ku hidup dengan wanita yang selingkuh di belakangku.

"Mira, ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan pak Udin?" Kataku dengan datar.

Ia agak terkejut dengan pertanyaan yang tidak disangkanya.

"Mas khanif, kenapa bicara begitu, aku dan dia hanya sekedar teman bisnis saja. Tak ada hubungan selain itu."

Ya Allah, kenapa ia masih tega berbohong juga batinku. Aku menarik nafas dulu baru bicara." Tadi ada seorang wanita bernama Amanda chat kesini. Apakah kamu kenal dia?"

Raut wajahnya langsung berubah drastis begitu ku sebut nama itu. Ia diam seribu bahasa.

Melihat perubahan tersebut maka benar dugaan ku. Ya Allah, kenapa bisa begini, wanita yang sangat kucintai dan ku percaya ternyata tega berkhianat di belakangku.

Setelah lama saling diam maka aku pun berkata mengapa ia mau berhubungan dengan pak Udin, yang lebih pantas menjadi bapaknya, aku minta ia jujur. Aku tidak bilang kalo ia berkhianat karena belum tahu sebab pastinya.

Melihat sikapku yang tidak marah-marah maka Miranda bukannya lega tapi malah makin sedih. Akhirnya ia berterus terang kalo orang tuanya di kampung berhutang pada rentenir. Awalnya bapaknya hanya hutang 20 juta untuk modal usaha tapi sayangnya usahanya bangkrut. Modalnya habis sedangkan bunga dari hutang tersebut terus bertambah. Tiap bulan kena bunga 10% atau 2 juta. Dalam tiga tahun sudah bertambah 72 juta plus pokoknya 20 juta, totalnya 92 juta. Bapaknya sudah melunasi sekitar 20 jutaan, masih sisa 70 juta.

Satu satunya harta yang bisa digunakan untuk melunasi hutang itu adalah tanah dan rumah yang ditempati orang tuanya.

"Tapi kalo rumah itu disita, dimana orang tua ku tinggal mas."

"Kenapa kamu tidak bilang, bukankah ada uang tabungan kita, sekarang ada 70 juta kan." Tanyaku.

"Maaf mas, aku tidak mau merepotkan mu, lagipula saat itu tabungan kita belum banyak."

Sampai suatu hari ketika ia mengambil baju pesanan, Mira lalu bercerita pada pak Jaenudin bahwa orang tuanya terlilit hutang dan bisakah ia meminjam uang. Nanti ia akan bayar dari keuntungan dari kiosnya.

Pak Udin tersenyum dan bilang pada wanita itu kalo ia bisa meminjamkan uang, tapi tidak mau dipotong dari laba dagang pakaian, tapi ia meminta Miranda menemaninya satu malam, maka ia akan berikan. 

"Lalu kamu mau saja?" Tuduh ku.

Gadis itu menggeleng." Aku tentu saja tidak sudi, ingin aku memakinya tapi aku khawatir nanti kita diusir dari kios ini jadi aku memilih diam dan pulang. Mas khanif masih ingat tidak kalo waktu itu aku sakit."

Aku mengingat-ingat, memang beberapa bulan lalu ia pernah jatuh sakit setelah mengambil pakaian. Ku kira karena kecapekan.

"Dua bulan lalu bapak meneleponku, bilang kalo rentenir itu mengancam, kalo tidak mau menyerahkan rumah maka akan dilaporkan ke polisi agar dipenjara. Aku kalut, tak mau orang tuaku dipenjara. Aku ingin bicara agar bisa memakai uang tabungan kita berdua, Tapi sayangnya uangnya kurang. Akhirnya ketika kamu hendak ke pak Udin aku mendesak agar aku yang kesana saja."

"Awalnya aku bilang kamu mau pinjam uang untuk melunasi hutang bapakku tapi ia keukeh kalo hanya mau jika aku sudi tidur dengannya. Ia bahkan bilang kalo sebenarnya jatuh cinta padaku sejak pertama melihatku. Karena tidak ada pilihan lain maka terpaksa..." Habis itu ia mencucurkan air matanya.

Hatiku langsung adem begitu mendengar penjelasannya. Cuma ku sayang kan mengapa ia tidak berterus-terang kalo orang tuanya memiliki hutang. Aku rela memberikan semua uang ku, dari pada...

Ah, tapi nasi sudah menjadi bubur.

"Apakah... Apakah kamu saat ini sedang hamil Mira? Benarkah yang dikatakan oleh pak Udin?" Tanyaku dengan hati-hati.

Wanita cantik itu menggeleng." Aku... Aku tak tahu mas."

Akhirnya aku lalu pergi keluar untuk membeli sebuah tes pack. Ternyata hasilnya positif. Aku tak percaya sementara dia hanya menangis. Ia berterus terang kalo ia beberapa kali berhubungan dengannya, bukan cuma sekali, karena pak Udin tidak mau memberikan uang sebesar itu kalo cuma sekali.

Melihat ia benar-benar sedih maka kemarahan ku pun reda. Aku mengenang semua kebaikan nya, ia memang salah tapi tidak sepenuhnya salah.

"Tak usah khawatir Mira, aku janji akan bicara dengan pak Udin. Ia harus menikahi mu."

"Tapi... Tapi bagaimana denganmu mas?"

Aku tersenyum getir." Mungkin kita tidak berjodoh."

Ia hanya kembali menangis menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Setelah tangisnya reda ia lalu pergi pulang. Aku hanya bisa memandangi punggung wanita yang kucintai itu pergi. Ya Allah, kenapa nasib ku begini. Kuatkan lah hatiku.

Sebelum bicara dengan pak Udin maka aku telepon dulu orang tuanya Mira. Aku memang memiliki nomor teleponnya, untuk silaturahmi.

Bapaknya Mira kaget ketika aku menelepon dan ia langsung bicara sebelum aku bertanya.

"Maaf ya nak khanif, uang yang bapak pinjam, bapak janji akan mengembalikan, tapi tolong jangan ada bunganya ya. Bapak orang tak mampu."

Tentu saja aku terkejut, ternyata Mira berbohong dengan mengatakan itu uangku. Ah tentu saja, kalo ia bilang terus terang masalah bisa panjang. Belum tentu orang tuanya setuju. Aku bilang padanya kalo masalah hutang itu tidak usah terlalu dipikirkan.

Kini setelah tahu masalahnya aku jadi mantap. Biarlah aku tidak bahagia, yang penting wanita yang kucintai bisa hidup bahagia biarpun dengan orang lain.

Sore itu juga aku mengirim pesan pada pak Jaenudin. Tadinya aku ingin menelpon tapi khawatir nanti malah tidak bisa mengendalikan diri aku ubah chatting saja, setidaknya bisa ada waktu buat berfikir kalo ia membalas apa.

"Selamat sore pak Udin."

Agak lama juga pesanku tidak dibalas padahal sudah centang biru. Setelah lima belas menit barulah pria paruh baya itu membalas.

"Selamat sore juga khanif, apakah ada yang pesan model baru lagi." Ia menjawab begitu, karena memang biasanya kalo aku menghubungi nya kalo ada pesanan.

"Tidak pak, aku hanya ingin tahu apa hubungan bapak dengan Mira."

Aku tak tahu apa reaksinya, mungkin kaget, ataukah biasa saja, entahlah. Tapi yang jelas lama tidak dibalas.

Melihat ia tidak membalas maka aku langsung masuk ke tujuan tanpa basa-basi." Aku sudah tahu hubungan bapak dengan Mira pacarku, bahkan sejauh mana hubungan kalian berdua. Istri bapak juga sudah cerita kemarin."

Lama juga tak dibalas, padahal kulihat ia mengetik tapi tidak dikirim. Akhirnya ada balasannya tapi hanya satu kata." Lalu.."

"Bapak harus bertanggung jawab menikahinya karena Mira sekarang sedang hamil."

Lama lagi tidak dibalas, setelah lima menit barulah ada balasan." Aku berjanji akan menikahinya jika istriku Amanda menerimanya."

"Tak perduli istri bapak menerima atau tidak, bapak harus menikahi Mira secepatnya, jadi laki-laki harus bertanggung jawab pak." Ketikku dengan gemas. Kalo saja di depanku ini ada pak Udin, mungkin sudah aku kasih bogem mentah saking marahnya.

Tak ada balasan sama sekali, tak lama kemudian akunnya pun offline.

Sejak kejadian itu aku jadi malas untuk berdagang di kios tersebut dan cuma rebahan saja di kontrakan. Teman-teman ku banyak yang bertanya kenapa, tapi aku jawab lagi malas saja. Biarpun ada yang tidak percaya tapi masa bodoh amatlah. Aku juga menonaktifkan akun jualan online.

Aku juga tidak ke kostnya Miranda, karena menurutku ia sudah bukan milikku lagi.

Sejujurnya aku masih belum bisa melupakan Miranda, gadis yang aku cintai. Memang mudah ku ucapkan di depan dia kalo aku mengikhlaskan nya, tapi ternyata tidak segampang itu. Semakin aku mencoba melupakannya, aku malah makin mengingatnya, senyumnya, tawanya.

Ya Allah, kuatkan hatiku.

Akhirnya setelah seminggu maka aku ke tempat kostnya, semoga saja ia masih disana untuk sekedar melepas rindu, ataukah ia sudah dibawa pak Udin ke kota sebelah.

Ternyata Mira masih di tempat kost itu. Aku agak terkejut walaupun sebenarnya agak senang juga. Setidaknya aku masih bisa melihatnya sebelum ia resmi menjadi istri orang, entah istri yang ke berapa.

Begitu melihatku ia menangis tersedu-sedu. Tentu saja aku merasa tak enak tapi juga merasa juga. 

Ternyata kecurigaan ku betul. Pak Jaenudin belum menikahinya bahkan mendatangi tempat kostnya juga tidak. 

"Aku sudah telepon dia dan pak Udin bilang kalo tidak mungkin menikahi ku tanpa restu istrinya. Usaha konveksi maupun puluhan kios sewaannya itu semuanya berasal dari keluarga istrinya, kalo ia menceraikan nya maka ia akan jatuh bangkrut katanya."

Bajingan maki ku dalam hati. Sudah jelas Miranda tak mungkin dikawini pak Udin, Amanda istrinya saja sudah marah besar kemarin, dan lelaki sialan itu jelas lebih memilih istrinya dari pada Mira.

Aku menarik nafas dalam lalu memegang kedua bahunya." Mira, apakah kamu masih mencintaiku sayang?"

Gadis berkulit putih itu agak terkejut dengan pertanyaan ku tapi ia mengangguk dengan sesenggukan.

Aku segera saja menelpon pak Udin. Tak lama kemudian ia mengangkat.

"Kapan anda akan menikahi Mira pak Udin?" Kataku dengan kasar. Aku sungguh sakit hati wanita yang aku cintai disakiti seperti itu.

"Aku belum menemukan waktu yang tepat Khanif." 

"Waktu yang tepat, sampai kapan Mira harus menunggu hah! sampai anaknya lahir dan orang-orang pada tahu ia hamil tanpa suami, apa anda tahu betapa malunya dia!!!" Bentak ku.

 Ia diam tak menjawab.

Akhirnya aku langsung bicara ke tujuan." Pak Udin, kalo anda tidak mau bertanggung jawab biarlah aku yang akan menikahinya. Anak dalam tubuhnya itu akan menjadi anakku, aku akan membesarkan dan merawatnya seperti anakku sendiri. Tapi camkan ini, jangan pernah engkau datang lagi ke kehidupan kami, jangan pernah engkau sekalipun menengoknya atau anak Mira apalagi mengaku sebagai bapaknya, MENGERTI!!!"

Sebenarnya aku ingin bilang mengerti bajingan, tapi hanya ucapkan dalam hati.

Ia seperti menarik nafas lega." Maafkan aku khanif, aku janji akan memberikan uang untuk biaya kelahirannya."

"Aku tak butuh uang mu! yang kuinginkan engkau bersumpah tidak akan datang lagi dalam kehidupan kami."

Ia pun bersumpah tidak akan lagi mengganggu kami. Aku langsung memutuskan telepon.

Miranda langsung memelukku dengan erat dengan bercucuran air mata." Maafkan aku mas.. maafkan aku mas khanif."

Aku tersenyum lantas balas memeluknya." Sudahlah Mira, ini juga bukan salahmu. Keadaan membuat mu begini."

Ia menatapku seakan tak percaya." Apakah mas khanif benar-benar akan menikahi ku biarpun aku sedang mengandung?"

"Tentu Mira, aku janji, apakah perlu kita ke KUA sekarang?"

"Kalo mas khanif memang mau menikahi ku, aku juga punya syarat."

"Apa syarat itu Mira?" Balasku, kalo ia ingin menganggap anak dalam perutnya itu sebagai anakku tentu akan langsung ku sanggupi. Tapi sayangnya jawabannya membuat ku terkejut.

"Aku ingin menggugurkan anak ini mas."

"Kenapa Mira, apa kau khawatir aku tidak akan menyayanginya?"

Ia menggeleng." Aku percaya mas akan sayang kepadanya, tapi aku tidak menghendaki anak ini. Aku tidak ingin ia lahir dan setiap melihatnya maka aku akan teringat tragedi ini. Mungkin mas kuat, tapi hatiku rapuh mas. Dengan begini kita bisa hidup bersama tanpa ada sesuatu yang mengganggu."

Aku termenung, ucapannya memang masuk di akal.

Melihat aku diam saja maka ia menangis." Kalo mas khanif tidak mau, maka lebih baik aku mati bunuh diri mas, aku tidak bisa hidup jika tiap hari harus teringat kejadian ini."

"Jangan Mira, syaratmu aku terima." 

Mira tersenyum dan kamipun kembali berpelukan, ia kembali menangis tapi kali ini tangis bahagia.

TAMAT

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

23 komentar untuk "Lika Liku Asmara bagian kedua"

  1. Nah akhirnya Hapy ending cintanya bersatu kembali tapi belum pasti menikah ya, bisa2 Mirandanya kabur lagi bersama lelaki lain 不不

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul juga Huu...Dan kemungkinan juga khanif yang berselingkuh bersama Amanda.不不不

      Hapus
    2. Sepertinya Khanif tipe setia forever huu yg tak bergeming wlw seribu bidadari menggoda 不

      Hapus

    3. Betul nggak tuh nif..不不不

      Hapus
    4. @Jaey... sama bidadari nggak bergeming, tapi masa nggak bergeming sama anak pak lurah?

      Hapus
  2. Ow ini lanjutan dari rebutan amanda di kolom komen post cerpen minyak goreng maren ya mas antara Khanif dan ayangnya amanda? makanya dibikin muncul satu lagi miranda. Miranda dan Amanda jadi satu deh di senetron piring terbang...eh cerpen rasa sinetron hidayah 不

    ampe bingung mo komenin apa mas, takut salah ngomong hihi

    aku mengambil metode bisnis dagang bajunya aja iya mas. soalnya sebelumnya bisnis teh thai dan lainnya kandas seperti lagu syahrini ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisnis thai tea nya maksud mbul yang kandas wkwkwkwk...bukan hubungan lhanif dan mba mira. kalau khanif dan mba mira uda menuju ke pelaminan.

      begitupula pak jainudin dan mba amanda yang menua bersama sampai anak cucu bahagya selamanya...kaboooorrr 銝銝( )

      Hapus
    2. @Gusty> kelihatan nih pebisnis sejati....

      Hapus
  3. oh, sudah tamat.... tapi, masih belum ada kepastian pernikahan....
    menarik

    BalasHapus
  4. Aku bingung mau komen apa, Mas Agus. Takut salah omong . Hehehe.

    Tapi bersamanya Mas Khanif dan Mbak Mira sungguh membahagiakan, sih. Akhirnya dia sejoli yang saling mencintai bisa berkomitmen hidup bersama dalam ikatan pernikahan. 五

    BalasHapus
    Balasan
    1. Omaigat, aku baru sadar kalau ini bagian keduanya. Pantesan otakku agak gak konek pas baca awal ceritanya 不不不不

      Mampir ke part satunya dulu aaaaaaah ‍♀️‍♀️‍♀️‍♀️

      Hapus

    2. Waah jangan2...Mbak Roem lagi mikirin Jaenudin nih..不不不

      Hapus
  5. Ternyata tebakanku salah . Gemeees ih Ama si Udin, mau enak'e Dewe. Eh tapi kenapa anaknya diguguriiiin .

    Dilema Yaa mas. Amit2 sih kalo ada di posisi Mira. Tapi mikir aja, di kehidupan nyata cowo kayak tokoh khanif ini beneran ada ga ... Jiwa besar loh

    BalasHapus
  6. senangnya baca cerita ini hihihi, terus-terus aja mas buat cerita yang bikin gw seneng :V

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa2...Nanti akan dibuat terus nif.不不不

      Hapus
    2. Tinggal request aja sama mas Adminnya, misalnya mau dipasangkan sama cewe mana lagi, tinggal reques aja

      Hapus
  7. hiks mas khanif sabar banget yak, ikhlas gitu
    semoga mereka berdua bahagia selamanya. aminnn

    BalasHapus