Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anak kecil di mall


 Setelah selesai melakukan wawancara dengan Mas Tino maka aku lalu mampir ke sebuah mall tak jauh dari sana dengan tujuan untuk refreshing, sedangkan Herman langsung ke kantor pak Dahlan untuk menyetorkan hasil pekerjaan kami.

Mall ini sendiri cukup megah dan ramai sekali apalagi ini malam Minggu. Tempat ini baru dibuka dua tahun yang lalu, tak aneh kalo ruangannya masih bagus dan oke. Mall ini terdiri dari 6 lantai.

Setelah jalan-jalan sejenak aku lalu mampir ke restoran di bagian lantai bawah untuk mengisi perut. Kulihat sedang ada diskon makanya aku mampir, lumayan kan.

Ternyata restoran itu sedang penuh sesak dengan orang. Mungkin karena tertarik dengan potongan harga jadinya orang-orang pada kesini. Aku geleng-geleng kepala lalu beralih ke sebuah kafe. Paling malas kalo disuruh mengantri.

Setelah memesan sebuah kopi cappucino aku lalu duduk di sebuah meja. Saat sedang menikmati minuman itulah aku melihat seorang anak perempuan kecil, mungkin umur 7 atau 8 tahun di pojok ruangan. 

Apa mungkin ia anak yang kesasar, karena dilihatnya bajunya agak kusam dan mukanya juga sedih serta agak pucat. Aku ingin menyapa tapi mengurungkan niat ketika meja di depan anak itu di duduki sepasang muda mudi yang sepertinya sedang pacaran.

Aku hanya geleng-geleng kepala saja, kalo lagi kasmaran memang kadang lupa tempat dan waktu.

Ketika membayar di kasir kucoba melihat, ternyata anak itu sudah tak ada, entah pergi kemana.

Setelah keliling sebentar dan mampir di stan pakaian aku lalu turun ke lantai dasar. Ternyata hari sudah malam, terlihat dari langit yang gelap. Kucoba lihat jam di smartphone ku, sudah jam 7 lewat.

Saat hendak ke tempat parkir aku merasa ada yang mengikuti. Aku menengok dan ternyata anak kecil yang aku lihat di cafe.

"Hai." Aku mencoba menyapa nya.

Anak kecil itu diam saja tapi mukanya kelihatan senang.

"Apa kamu tidak bersama orang tuamu atau saudara mungkin?"

Ia menggeleng. "Aku hanya sendirian."

Oh, tentu saja aku agak terkejut tapi tahu juga sih, kadang ada anak kecil yang suka main ke mall sendirian.

"Apa kamu mau pulang? Dimana rumahmu? Ayo aku antar pulang."

Tiiiittt! Bunyi klakson mobil terdengar dan aku baru sadar kalo ada di tengah jalan. Aku lalu menepi dan sebuah kendaraan roda empat pun lewat. Pengemudinya menurunkan kaca tampak menggerutu, aku hanya senyum sambil mengangguk kepala tanda minta maaf.

Aku lalu melihat lagi anak itu tapi sayangnya tidak ada. Kucoba melihat sekeliling tapi tak kelihatan. Heran juga, padahal cuma sebentar tapi langsung hilang. Di sekeliling hanya ada tanaman kecil, tak bisa buat sembunyi.

Aku lalu menuju pos sekuriti. "Pak, tadi bapak lihat anak kecil lewat sini?"

"Itu bukan mbak?" Satpam yang sedang jaga menunjuk.

Aku menengok, ada seorang anak kecil bersama dengan seseorang yang ku kira kakaknya. Mungkin sedang menunggu seseorang.

"Bukan pak, tapi anak yang lebih kecil lagi, umurnya sekitar 7 tahun dan sendirian."

"Tidak ada dek. Kalo anak kecil bersama orang tua nya sih banyak tapi kalo sendirian tak ada. Lagipula ini sudah malam, mana ada anak kecil sendirian ke mall."

"Ada pak, tadi dia ngobrol dengan saya disana dekat pohon."

"Tak ada, yang aku lihat dek disana sendirian dan juga ngobrol. Kukira adek telpon temannya gitu."

Hatiku berdebar. Jarak antara pos sekuriti dengan tempat ku berdiri tidak terlalu jauh dan juga disana terang karena banyak lampu. Tak mungkin tidak kelihatan. 

Aku sendiri memiliki "kekurangan" yakni bisa melihat makhluk halus bahkan berkomunikasi dengan mereka. Firasat ku mengatakan anak kecil itu pun bagian dari mereka.

Akhirnya setelah meminta maaf dan mengucapkan terima kasih aku akhirnya pulang.

* * *

Ctaaaarr, petir menyambar ketika aku terbangun tengah malam. Selain suara petir, aku juga bangun karena hawa yang menggigil.

Ku ambil selimut sementara terdengar suara hujan deras di luar. Pantesan hawanya dingin. Saat hendak tidur lagi terdengar suara ketukan pintu.

"Tok..tok..tok..."

"Siapa?" Kataku dengan suara pelan. Maklum masih setengah mengantuk.

"Ini aku kakak."

Hatiku berdesir ketika tahu suaranya dia. Iya, anak kecil yang di mall itu. Bagaimana ia bisa tahu tempat kost ku.

"Bagaimana kamu tahu rumahku."

"Aku tadi mengikuti kakak. Tolong aku kak." Entah bagaimana suara itu seperti jelas di telinga padahal suara hujan diluar terdengar keras.

"Aku tidak bisa, tolong jangan ganggu aku." Kataku menutup telinga sambil membaca doa sebisa ku. Ya, aku memang tidak bisa sembarangan menolong. Dulu aku pernah menolong melepaskan tali pocong anak kecil, yang ternyata jadi korban tumbal pesugihan dan berakibat fatal hampir kehilangan nyawa.

Ia masih berbicara terus menerus tapi aku coba menulikan telinga. Akhirnya suara itu berhenti dan menghilang. Aku lega dan akhirnya tidur kembali.

Aku bangun ketika adzan subuh berkumandang. Dengan sedikit malas aku lalu bangun dan menjalankan sholat subuh.

Setelah sholat aku lalu keluar kost untuk mencari sarapan pagi walaupun langit masih gelap. Berapa kagetnya ketika melihat anak perempuan kecil itu masih di luar dengan pandangan sedih.

"Kakak, tolong aku kak. Aku tidak tahu harus kemana lagi meminta bantuan."

Aku menghela nafas dulu." Kamu minta bantuan apa, apakah minta di doakan? Kalo itu nanti kakak doakan deh biar kamu tenang."

Ia menggeleng." Bukan kak. Aku mau minta tolong sampaikan salam ku untuk ibu dan bapakku."

"Memangnya kenapa?" Kataku agak lega karena ia tidak meminta yang aneh-aneh.

"Bapak dan ibuku masih mencari ku sampai sekarang. Aku cuma mau minta tolong bilangin sama bapak dan ibuku bahwa aku tidak akan pernah pulang lagi."

"Memangnya kamu kenapa?"

"Badanku dijadikan pondasi mall yang kakak kunjungi saat sore kemarin."

"Astaghfirullah Hal Azim" aku sontak beristighfar karena tidak menyangka. "Kamu kenapa bisa begitu."

Anak kecil itu mengenalkan diri dengan nama Eni Lavani Ivona. Ia lalu bercerita sambil menangis saat-saat terakhir hidupnya dan bagaimana rohnya melihat jasadnya dikubur di mall tersebut saat pembangunan baru mulai.

Tak terasa air mataku mengalir deras. Sungguh aku tak menyangka ada manusia seperti mereka yang tega membunuh anak tak berdosa dan dijadikan tumbal apalagi di zaman yang sudah maju seperti sekarang.

"Kamu tinggal dimana Eni? Nanti akan aku carikan alamat rumahmu dan menyampaikan salam kamu."

 Aku melihat rona keceriaan di wajahnya yang pucat. Ia lalu menyebutkan sebuah alamat di kota sebelah aku ngekos. Tinggal aku cari pakai Gmaps juga pasti ketemu.

"Nita, kamu bicara dengan siapa?" Sebuah suara lelaki menegurku. Aku menengok dan ternyata Herman , teman teman yang letaknya bersebelahan dengan kamar kost ku.

Aku lalu menceritakan kisah tentang anak kecil yang dijadikan tumbal di mall tempat aku ngopi kemarin. Aku berani cerita karena Herman sudah tahu "kekurangan" ku dan percaya. Ia sendiri aku lihat kadang bisa melihat makhluk gaib sepertiku tapi kurang peka dan juga tidak bisa bercakap-cakap. Buktinya ia tidak bisa melihatnya.

Ia agak termenung setelah mendengar ceritaku.

"Kamu mau sendirian kesana?"

"Sama kamu saja, aku takutnya nanti ada masalah."

Pemuda berusia 27 tahun itu membuka smartphone Nokia miliknya. "Tempatnya tidak terlalu jauh, apa kita sekarang kesana Nita?"

Aku melihat lokasi yang ditunjukkan oleh Gmaps itu. "Memang tidak terlalu jauh tapi aku khawatir terlambat kerja, nanti pak Dahlan marah lagi. Aku pikir sebaiknya sore saja setelah pulang kerja."

"Inikan hari Minggu."

"Oh iya, libur ya." Kataku agak mesem sehingga pemuda di depanku agak bengong.

Tapi sialnya pak Dahlan tiba-tiba menelpon dan menyuruhku segera mengerjakan tugas karena berita yang kemarin aku liput harus ditulis di website. Begitu juga dengan Herman, malah ia harus ke lapangan cari berita.

Aku hanya menggerutu dan terpaksa mengiyakan. Aku lalu membuka laptop dan mengirimkan berita yang kemarin aku tulis, tapi tidak bisa tayang terlebih dahulu karena harus menunggu redaktur pelaksana, yang biasanya bangunnya siang apalagi hari Minggu.

Setelah Maghrib barulah kami berdua mulai mencari rumahnya Eni. Tempat yang kami tuju bangunannya seperti kebanyakan rumah disebelahnya karena memang tinggalnya di kompleks perumahan. Akhirnya aku bertanya pada orang yang lewat karena tidak tahu persis dimana.

"Maaf mas numpang tanya. Apakah tahu dimana rumah bapak khanif dan ibu Miranda?"

Orang itu menggeleng kepala." Maaf mbak, aku orang baru disini, baru pindah sebulan lagipula aku rumahnya di bagian belakang jadi kurang tahu."

"Makasih pak." Jawabku. 

Setelah orang itu pergi Herman lalu kasih saran." Coba panggil anak itu saja."

Aku menggeleng." Entah dimana dia, sejak tadi pagi menghilang setelah kita janji mau kesini."

Akhirnya aku tanya lagi pada seorang lelaki yang kebetulan lewat." Maaf mas, numpang tanya, apakah mas kenal dengan pak khanif dan ibu Miranda?"

Lelaki itu senang ketika yang bertanya seorang gadis cantik.

" Oh tentu saja kenal. Rumahnya di blok D5 no 12 agak di belakang. Pagarnya besi berwarna hijau dan ada pohon mangga di depan rumahnya." Jawabnya sambil menunjuk deretan rumah yang tidak jauh dariku.

Tentu saja aku senang bukan main." Makasih banyak mas."

"Sama sama neng. Oh ya aku Agus, boleh minta no telepon nya ngga?" Katanya lagi sambil senyum buaya.

"Maaf, kami buru-buru mas. Ayo Nita, kita segera kesana." Yang jawab malah Herman lalu segera menyalakan motor Kawasaki ninja hijau nya.

Agus cemberut sementara aku hanya melempar senyum saja sebagai tanda terima kasih lalu kendaraan roda dua itu melaju. Aku hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah temanku.

Akhirnya aku sampai juga di rumah yang kami tuju. Kebetulan ada seorang wanita yang sedang duduk di teras.

"Assalamualaikum mbak."

"Waalaikumsalam, ada apa ya?"

"Apa ini rumahnya ibu Miranda?"

"Saya sendiri dek. Kamu siapa ya mencari saya?"

Aku bimbang hendak jawab apa. Bisa aku jawab dapat pesan dari roh anaknya, tapi apa percaya.

"Mbak, apa suami mbak ada di rumah juga. Kami ada perlu penting yang harus dibicarakan dengan dia juga." Herman ikut bicara.

Wanita itu agak terkejut tapi mengangguk." Ada, mas khanif suamiku ada di dalam."

"Ada apa dek Mira?" Seorang lelaki berumur sekitar 40an keluar.

* * *

Kami berempat masuk ke ruang tamu.

"Apakah pak khanif memiliki anak yang bernama Eni Lavani Ivona?"

Tentu saja lelaki itu terkejut bukan main, begitu juga dengan istrinya.

"Betul saya punya anak namanya Eni tapi menghilang dua tahun lalu. Apakah kamu tahu dimana dia, apakah dia ada di rumah mu, apakah Eni baik baik saja?" Begitu berondongan pertanyaan nya yang membuat aku trenyuh.

"Maafkan saya pak. Aku cuma mau kasih kabar kalo Eni sudah meninggal, jadi mohon diikhlaskan."

Tentu saja pak khanif tidak percaya.

" Apa maksud mu anakku sudah meninggal hah! Apalagi jadi tumbal mall katamu. Aku yakin ia masih hidup biarpun sudah lama hilang. Jangan asal bicara kamu." teriaknya tak terima. Sementara Mira langsung menangis begitu mendengar anaknya meninggal.

Herman sendiri langsung gerak cepat menengahi." Sabar pak, jangan marah-marah. Teman saya ini memang punya kelebihan bisa komunikasi dengan makhluk halus, jadi ia tidak mengarang."

Aku sendiri juga bingung mau bicara apa, kalo aku bilang dari roh nya belum tentu ia percaya. Bagaimana kalo aku dianggap mengarang atau bahkan gila.

Saat itulah Eni tiba-tiba muncul di sebelahku." Kakak, coba bilang kalo Eni dulu punya boneka beruang kesayangan yang bernama Teddy, hadiah waktu ulang tahun. Bilang juga kalo Eni suka telor ceplok masakan ibu. Selain itu Eni juga suka digendong kalo bapak pulang kerja."

Tentu saja aku girang. Segera saja aku memberi tahu apakah boneka beruang Teddy kesayangan Eni masih ada dan dua hal lainnya.

Khanif langsung jatuh terduduk di sofa. Kalo bukan Eni, siapa lagi yang memberi tahu karena hal itu hanya anaknya yang tahu, sementara istrinya juga menangis lagi.

Melihat hal itu aku juga ikut menangis, tak kuat membayangkan bagaimana anak yang selama ini mereka cari ternyata sudah mati, jadi tumbal mall lagi.

Setelah tangisannya reda pak khanif bicara." Apakah Eni titip pesan buatku."

"Eni titip pesan buat bapak dan ibu tak usah mencari lagi. Eni juga minta maaf karena sudah membuat bapak dan ibu khawatir selama ini. Selain itu ia minta di doakan agar tenang dan semoga bisa berkumpul bersama ibu dan bapak suatu hari nanti." Kataku sambil menangis.

Mendengar hal itu khanif dan Mira kembali berangkulan sambil menangis.

"Bapak juga minta maaf ya Eni, bapak tidak bisa melindungi kamu."

Setelah tugasku selesai maka aku dan Herman lalu pamit pulang. Pak khanif sendiri akan mengadakan tahlilan untuk mendoakan arwah anaknya agar tenang.

"Nak Nita, kalo bisa kamu hadir saat tahlilan nanti ya."

"Akan aku usahakan pak." Kataku tak bisa berjanji karena aku juga punya pekerjaan.

Saat hendak naik motor itulah Eni muncul lagi. Mukanya yang sebelumnya suram kini sangat cerah, kulitnya yang pucat juga kali ini normal seperti anak kecil lainnya.

"Makasih banyak ya kakak."

Aku hanya mengangguk dan kamu berdua pun pulang.

TAMAT 

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

36 komentar untuk "Anak kecil di mall"

  1. tu ngapain agus minta nomer hape segala, ga usah dikasih dia kan buaya 🀣 ... yah moga eni tenang disana, nanti mang agus akan menysulmu segera 🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak khanif kayaknya ngiri, padahal udah punya Mira. Kayak nya pengin punya istri muda 😁

      Hapus
  2. Herman ga lapor polisi kah biar di bongkar tiang mall itu πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Besoknya Herman lapor polisi.
      Polisinya nanya, emang kamu lihat sendiri, punya video anak itu jadi tumbal? Atau mungkin foto?

      Herman nya cuma nyengir doang, kalo dibilang dari roh, takutnya malah disuruh ke dokter jiwa.πŸ˜‚

      Hapus
    2. Ada di dunia nyata Mas, pernah ku tulis di cerpenku, tapi aku lupa judulnya, klo ga slh judulnya "mimpi jadi kenyataan", terungkapnya kasus dari sebuah mimpi. Cerpen itu diangkat dari kisah nyata seorang Dokter bedah Ahli Forensik yg bermimpi dan dia melaporkan mimpi itu ke polisi dan berhasil mengungkap kasus pembunuhan.

      Tapi iya sih klo masyarakat biasa yg lapor ke polisi tanpa membawa bukti mgkn akan disuruh ke RSJ. BTW jadi ngebayangin gimana kira2 nasib Herman di RSJ, bakal di pasung mgkn ya? 🀣

      Hapus
    3. Kalo tak salah waktu pembunuhan di Jombang ada tetangga pelaku yang bilang sama polisi kalo di septic tank sering ada penampakan hantu.

      Akhirnya septic tank itu dibongkar polisi dan memang ada enam tengkorak, yang berarti ada enam korban pembunuhan.

      Tapi masalahnya bongkar septic tank itu gampang, kalo bongkar mall itu berat alatnya, belum lagi biasanya pemilik mall karena pengusaha punya hubungan baik dengan polisi.

      Hapus
    4. Susah juga klo gitu pemilik mall punya hubungan baik dengan polisi tapi klo dlm cerpen gapalah wlw beda2 dikit dgn realita. πŸ˜…

      Pokonya itu mau lihat Herman dipasung terus kasi semut rang2 dikit 🀣

      Hapus
    5. Mas lapor ada yg pake nama Mas di blog sebelah, namanya Blog Agus 🀣🀣

      Hapus
    6. Herman nya belum datang, mungkin masih jalan jalan sama pacarnya.😁

      Hapus
  3. Ngapain si Agus minta nomor segala😁..semalem aku baru baca separuh nya trus aku gak tak lanjutin....ngeriii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya buat dipasang togel mbak, siapa tahu tembus dapat 100 juta.🀣

      Hapus
    2. Togel tu bukannya yang di injek pake kaki yaa

      Hapus
    3. Itu mah sandal atau sepatu mbak.πŸ™„

      Hapus
    4. Oh, keramik ya maksudnya.πŸ€”

      Hapus
  4. anak kecil umur 7 tahun itu hantu??? hiiiii

    BalasHapus
  5. Saya suka mendengar kisah tentang orang yang dibenamkan pada bangunan. Istilah bhs. Sundanya "parepeh". Saya tidak tahu apakah itu benar terjadi atau hanya cerita saja.

    Btw, Mas Agus ada saja ide ceritanya...

    Salam,

    BalasHapus
  6. wah hebat sekali
    saya yang profesi sebagai dukun saja , tak bisa menembus batas seperti itu
    bakat yang luar biasa tu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini hanya cerpen mas, ngga tahu nyata atau enggak

      Hapus
  7. Akoh penasaran, sebenarnya yang tumbal-tumbal begitu, beneran nggak sih? :D
    Sampai pakai jasad manusia segala?
    Dulu waktu kerja di proyek tol, kan ada pelebaran beberapa jembatan yang udah tua. Stres juga setiap kali mau dibongkar dan dikerjakan, harus siapin tumpeng segala :D
    Trus atasan saya, ga percaya begituan kan, akhirnya dia nggak mau lagi tumpengan melulu di jembatan terakhir.
    Dan you know, alat yang kerja di jembatan itu rusaaaaaakkk mulu :D
    Sampai progres tersendat mulu, dan akhirnya atasanku ngalah, pesan tumpeng lagi.
    Setelah itu, anehnya alatnya langsung ga pernah rusak, aneh tapi nyata :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, aku juga seperti mbak Rey, ngga terlalu percaya sama hal gaib, tapi kalo dilanggar kadang ada saja keanehan. πŸ˜‚

      Hapus
  8. Sediiih ceritanya 😭.

    Sebenernya aku pun susah percaya ttg hal begini. Tapi ya gimana, Indonesia masih banyak cerita mistis dan percaya ama hal2 musyrik.

    Jadi ga heran kalo dengar ttg tumbal begini. πŸ˜”.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah Indonesia mbak, masih banyak kejadian mistis, yang viral dulu KKN desa penari ya.

      Hapus
  9. Jadi hantu tumbal lah ya ini mah keke kasihan juga jd fondasi euy.


    Tp ya endingnya gak menyedihkan meski mungkn aslinya gak berani ya ngurus hal mistis gtuan kwkwk atut diikutin sampe liang lahad hahau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo Keza kayaknya di usut sampai tuntas ya, siapa yang nyuruh culik anak itu lalu dijadikan tumbal, biar kayak detektif gitu.πŸ˜…

      Hapus
  10. Baca ceritanya jadi teringat cuplikan video yang kutonton kak. Jalan ceritanya miriippp. Kasihan sekali ya Eni jadi tumbal begituuu. Kenapa bisa dijadikan tumbal ya? Apakah diculik saat jalan-jalan sendirian?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, aku memang kadang nonton video misteri untuk jadi bahan cerita.😁

      Kenapa dijadikan tumbal, apakah diculik saat jalan-jalan sendirian?
      Hmmm, biarlah tetap jadi misteri, atau mungkin kak Furisukabo bisa bikin misteri nya di blog kakak.πŸ˜…

      Hapus
    2. jadi cerbung ya mas Agus hahaha

      Hapus
    3. Ya kak, kan lumayan buat seru seruan.😁

      Hapus
  11. aduhh membantu melepas tali pocongg, aku lihat aj udah takutt tu pocong

    BalasHapus
  12. Hmm. Agus cari kesempatan. Teteeeup ya ...

    BalasHapus
  13. Teringatkan uncle watak hantu cilik.... 'Casper'

    BalasHapus
  14. salam dari Malaysia.. seronok baca nukilannya.. tumbal tu apa ya? ditanam bersama bangunan.. ngeri sungguh kisahnya.. huhu.. moga tidak berlaku di dunia nyata.

    BalasHapus
  15. Sampai sekarang saya masih penasaran. Apa betul hantu itu ada. Saat suami bepergian, saya sering tidur di rumah sendirian. Kadang lampu padam, gelapnya tak ketulungan. Tapi alhamdulillah, gak ada makhluk yang namanya hantu itu.

    BalasHapus