Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PDKT seru di malam Minggu

 


"Na, aku jemput kamu ya." Kata Herman lewat telepon kepada gadis yang diincarnya yaitu Lina. Wanita itu sendiri adalah rekan kerjanya sebagai SPG.

"Oke bang. Lina tunggu ya, jangan ngaret."

Mendengar jawaban nya tentu saja pemuda berkulit sawo matang itu tentu saja senang. Segera ia menyalakan Honda Astrea miliknya. Sebenarnya bisa saja Herman meminjam mobil Avanza milik kantornya. Bos nya khanif juga oke saja.

Udah pakai saja kalo kamu mau, yang penting jangan sampai lecet apalagi nabrak, langsung aku potong gajimu untuk servis, begitu katanya. Tapi karena Herman pemuda yang tidak suka bergaya. Lagipula percuma juga, Lina juga tiap hari naik mobil itu saat mau kerja.

Baca cerpen Herman dan Lina sebelumnya yang berjudul Salah sangka.

Motor tua keluaran tahun 90an itu membelah jalanan ibukota selepas Maghrib. Wanita yang disukainya sudah menunggu di depan kost.

"Na, kemana kita?"

"Terserah Abang saja, Lina ngikut saja." Katanya sambil duduk di jok belakang.

Oke, segera Herman cabut lalu menuju sebuah tempat di pinggir kota, dimana ada sebuah resto yang makanannya cukup enak tapi harganya tidak bikin dompet menjerit.

Lokasi kuliner itu tempatnya dipinggir sungai, ada lampu warna-warni dan tempatnya juga oke. Pokoknya romantis lah.

Herman dan Lina ngobrol sana sini sambil tertawa, sampai waiters nya bilang kalo restonya mau tutup, ternyata sudah jam 12. Ngga terasa karena keasyikan ngobrol.

Akhirnya Herman mengajak pulang.

"Kok tidak lewat jalan yang tadi bang?" Tanya gadis itu ketika motor tersebut melalui jalan baru.

"Sengaja, biar lama." 

"Idih, bisa aja." Lina mencubit pinggang nya karena gemas. Mereka berdua pun kembali ngobrol sana sini , biarpun sudah tengah malam tapi jalanan masih cukup ramai karena malam Minggu.

Saat sedang asyik gombalin Lina tiba-tiba motornya tersendat-sendat dan tak lama kemudian mogok.

"Kenapa bang?" 

"Entahlah." Jawab Herman sambil meng engkol motornya, tapi sayangnya tidak nyala juga.

"Coba cek bensinnya bang."

Pemuda itu kaget. Segera ia buka jok motornya dan nyengir ketika tebakan Lina benar.

"Benar Na."

"Yaelah, kenapa ngga di cek sih bang."

"Jarum nya mati, mungkin pelampung nya juga rusak."

"Cape deh." Gadis itu hanya geleng-geleng kepala saja.

Untungnya di kejauhan tampak sebuah toko kelontong Madura yang buka 24 jam, yang mungkin hanya tutup ketika kiamat tiba, dimana biasanya jual bensin juga.

"Maaf mas, bensinnya habis." Kata pemilik toko ketika Herman datang sambil mendorong motornya.

Tentu saja lelaki muda itu kecewa. Dilihatnya memang botol kaca tempat bensin itu kosong semua.

"Dimana yang jual bensin lagi ya mas?"

"Disana." Kata bapak pemilik toko itu sambil menunjuk suatu arah." Tinggal belok kiri nanti dipertigaan itu ada yang jual bensin."

Herman kembali mendorong kendaraan roda duanya. Untuk menghilangkan suasana canggung Herman mengajaknya ngobrol dan untungnya Lina menanggapi seperti biasa, mukanya tidak cemberut apalagi marah sehingga ia makin jatuh cinta. Ah, tak salah memang aku pilih pacar.

Memang benar ketika belok kiri tak jauh dari pertigaan jalan ada seorang ibu-ibu yang menjual bensin eceran dalam botol kaca, tapi sayangnya isinya juga habis semuanya. Tentu saja Herman kecewa lagi.

"Bu, apa tak ada lagi bensinnya."

"Tak ada mas. Malam ini rame, mungkin malam Minggu sehingga banyak orang yang beli."

"Apa tidak ada penjual lainnya Bu?"

"Ada mas, tapi agak jauh disana. Tapi aku tidak tahu apakah masih buka atau enggak." Kata ibu tersebut sambil jarinya menunjuk suatu tempat.

Herman berpikir, tidak apalah jauh dikit karena tidak mungkin mereka jalan kaki pulang. Akhirnya ia menitipkan motor tersebut di ibu itu dengan Lina sekalian. Ia sendiri akan jalan kaki kesana.

Setelah berjalan kaki sejauh 300 meter tiba-tiba matanya melihat toko bunga. Bergegas ia menuju kesana.

Segera saja ia pesan sepaket bunga cukup mahal dengan sebuah pesan didalamnya, yang berisi penyesalan dirinya mengacaukan malam Minggu ini, disertai beberapa rayuan gombal.

"Tolong besok bunga ini dikirimkan ke alamat ini ya." Katanya kepada penjaga toko. Alamat yang dituju tentunya tempat kost Lina.

"Baik mas."

"Berapa semuanya."

Penjaga toko itu menyebutkan harganya, yang segera dibayar oleh pemuda tersebut.

Dengan bersiul-siul kecil ia lalu keluar dan menuju tempat jualan bensin dan...

Ternyata tokonya sudah tutup. Capai deh.

Tiba-tiba ia menepok jidatnya sendiri. Kenapa ia tidak pesan bensin saja sih. Segera ia menelpon temannya.

"Halo Gus, tolong kesini dong." Katanya sambil menitip pesan untuk membelikan bensin dua liter disertai lokasinya.

Tadinya Agus hendak ngomel karena diganggu tengah malam saat tidur, tapi setelah paham ia setuju. Maklum Herman salah satu teman yang gampang buat ngutang terutama kalo tanggal tua.

Pemuda itu segera kembali ke tempat sebelumnya dengan hati riang. Agus paling sekitar 20-30 menit lagi datang. Sebelum datang sebaiknya ia menggombal lagi pikirnya.

Betapa kagetnya ia ketika sampai disana melihat Lina sedang ditarik tangannya oleh seorang pria tak dikenal.

"Ayo sini sayang, jangan khawatir nanti akan aku bayar kamu sayang hahaha..." Katanya sambil tertawa.

"Lepaskan, aku bukan wanita pelacur." Teriak nya sambil menarik tangannya. Usahanya berhasil dan ia segera mundur.

Herman sendiri baru ingat kalo tempat mereka berhenti itu terkenal sebagai tempat mangkal PSK.

"Heiii, berhenti bangsat." Teriak Herman tak terima.

Tentu saja lelaki itu terkejut. Ia segera menoleh.

"Apa-apaan ini bang. Wanita itu milikku, aku yang dapat dia lebih dulu. Minggir sama kamu cari yang lain." Katanya sambil teriak, bau alkohol tampak menyengat dari mulutnya.

"Abang salah, cewek ini istriku, bukan wanita begituan."

"Alah, bohong kamu. Kamu ngajak berantem ya."

Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya. Herman agak ciut juga, selain badannya lebih besar darinya, ia juga lebih tinggi. Tapi bagaimanapun kehormatan harus dijaga.

"Makan nih bogem."

Lelaki itu segera melayangkan tangan kanannya tapi tidak kena padahal Herman diam saja ditempat. Ia tampak sempoyongan, sepertinya mabuk berat.

Melihat hal itu nyali Herman naik. Ia segera melabrak lelaki kurang ajar itu. Mereka segera bergumul diatas jalanan beton.

Lina memperhatikan dengan khawatir, mau menolong tapi takut malah menyusahkan, sementara ibu penjual bensin itu tampak mengumpulkan tetes demi tetes yang tersisa sampai dapat bensin setengah botol. Setelah dapat ia segera menuangkan ke motor.

Ternyata perkelahian itu tidak lama. Lelaki mabok itu tampak tidur di aspal beton sementara pakaian Herman acak acakan. Beberapa orang di kejauhan melihat tapi cuek saja, mungkin perkelahian di daerah tersebut hal biasa.

"Mas, tadi motornya udah aku isi bensin."

"Makasih banyak bu." Jawabnya dengan wajah sumringah. Ia segera memberikan sejumlah uang tapi ditolak terus oleh ibu tersebut.

Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, pemuda itu meng engkol motornya. Setelah beberapa kali akhirnya hidup juga kendaraan roda dua tersebut. Lina segera bonceng dibelakang dan mereka segera cabut dari tempat tersebut.

"Kenapa mas tadi sebut aku istri mu sih."

"Mas memang ingin menjadikan kamu istri sayang, suwerrr."

"Idih, bisa saja." Katanya sambil mencubit pinggangnya. Herman tertawa kesenangan sementara lampu lampu pinggir jalan tersenyum melihat tingkah mereka berdua.

Sementara itu di tempat ibu penjual bensin sebuah motor berhenti disana.

"Herman, kamu dimana. Ini aku sudah disini." Teriak orang tersebut yang tak adalah Agus.

TAMAT 

Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger biasa

31 komentar untuk "PDKT seru di malam Minggu "

  1. Cerpen yang menyenangkan.. wkwkwk.. ditunggu sesi cerita berikutnya..hihihi.

    Kayaknya herman dan Lina itu makannya di resto yang ada di BKT dah..wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kok tahu tempatnya.🤔

      Eh jelas tahu ya, kan mas Herman yang ngajak kesana.😅

      Oke, nanti kalo pulsanya sudah masuk aku posting cerpen selanjutnya. Kisahnya Herman dapat godaan dari cewek lain yang bahenol di kantor. Apakah bisa bertahan.😁

      Hapus
  2. Aku jadi ikut senyum pas baca "lampu lampu pinggir jalan tersenyum" 😅

    Wkwk Agus telat datangnya 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya kiasan aja kang.😁
      Mungkin Agus mangkal dulu makanya telat.😂

      Hapus
    2. Mgkn hapus lipstik segala mcm dulu ya baru antar bensin 🤣

      Hapus
    3. Kayaknya sih gitu, belum lagi ganti rok ke celana panjang.😁

      Hapus
  3. cerita yang romanstis di malam minggu, tapi apes mas agus kena sial disuruh nunggu padahal herman ud isi bensin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah mengantarkan Lina ke kost Herman lalu pulang, eh di tengah jalan motornya mogok lagi kehabisan bensin soalnya tadi ngisinya sedikit.😄

      Hapus
  4. Kasiman si Agus...keburu si Herman pergi..sangking demennya sama si Lina,sampe lupa bensin pesenan sama si Agus😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, keasyikan pacaran lupa pesan bensin sama Agus.😂

      Hapus
  5. menghibur....😁🤣
    Thank you for sharing

    BalasHapus
  6. Aduh Lina .... Udah tengah malam masih di jalan sama cowok pula. Ntar dimarahi bapakmu. He he ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya Lina lagi merantau Bu, jadi bapaknya ngga tahu

      Hapus
  7. Kreatif banget emang nih, bikin cerita lucu terus.. dapet aja idenya buat nulis haha
    Namanya lagi jatuh cinta, ya. Jalan kaki kehabisan bensin aja tetep bahagia. Walaupun sampe ada orang mabok juga, untung bisa dibikin K.O, kalo malah kalah bisa2 Lina dibawa kabur deh 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dapat idenya dari mas Herman yang ngalamin langsung lalu tinggal diketok doang pak guru.😁

      Hapus
  8. Makanya lain kali kalau mau bepergian, apalagi yg maha penting seperti ini, ya check dulu segala sesuatunya. Ini sudah habis bensin, eh gak sadar malah berhentinya ditempat seperti begitu lagi ah...

    Ah ada-ada saja nih Mas Agus mah punya cerita...

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah enaknya fiksi pak Asa, jadinya bebas ngarangnya.😅

      Hapus
  9. Wkwkwkwkw

    Kasian banget itu udah jauh jauh si Agusnya malah ditinggal wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya habis itu Agus ditraktir martabak telor dua bungkus jadinya ga marah.😁

      Hapus
  10. Hahahahahah kasian amat si Agus, udh disuruh bangun bawain bensin, malah ntah kemana yg nyuruh. Dodolipet memang Herman 🤣🤣. Ada cewe aja, lupa semuaa 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah kalo orang lagi pacaran mbak, lupa sama yang lainnya.😂

      Hapus
  11. kalau lagi pacaran emang sering lupa kalau ada janji dengan orang lain.
    mungkin besok kalau agus ketemu herman, Agus bakal marah-marah ke herman. Meskipun abis itu agus bakal pinjam duit lagi..wkwkkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk, ngga boleh ngomel nanti ngga boleh ngutang mas.😁

      Hapus
  12. "Na...aku jemput ya?" panggilnya na takkira pak nana...hihi

    o ini terusannya Si Herman dan Marlina, asyik ah bentar lagi Herman dan Marlina ke penghulu 🤭

    itu si agus kasihaaan....tapi aku malah ngakak bacanya 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang mbul kenal pak Nana kah? 🤔

      Bentar lagi juga ada terusan nya, tapi lanjutannya ada di blog mas Herman.😁

      Kalo kasihan kasih es cendol mbul.😄

      Hapus
    2. Ga kenal sih, tapi sering baca dari kolom komen blognya mas agus en temen temen blogger mwb yang pada jago jago bikin fiksi...kelihatannya persahabatannya sesama blogger niche cerpen dulu solid banget, suka salut aku...bahkan keakrabannya terasa di kolom komen dan cerita yang dibikin masing masing tanpa drama . Pengen punya teman teman yang seperti itu saling support, tapi sekarang jarang ditemui yang seasyik itu ya hahhah

      Hapus
  13. Penasaran part berikutnya, pas bunganya datang ke kosnya :D
    Terus ternyata, salah kirim bunga, karena ketukar alamatnya, hahaha.
    Diriku senyum-senyum bacanya, meskipun menyiapkan mental juga, soalnya biasanya cerita di blog ini, mind blowing banget wakakakaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang sudah ngga ada mind blowing lagi mbak, soalnya lagi tanggal tua.😂😂😂

      Hapus
  14. ayok abang nanti yang bayar buaya daratt !!! wkwkw

    BalasHapus