Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karena wabah Corona maka kita tidak leluasa


Di depan sebuah rumah, tampak dua orang sedang asyik ngobrol. Mereka adalah Agus sebagai tuan rumah dan tamunya Jaenudin. Mereka saat itu sedang berbicara di beranda rumah.

" Jadi tidak Gus besok ke pengajian kyai Mansyur?" Jaenudin memulai percakapan.

Agus tidak langsung menjawab, pikirannya saat ini sedang bimbang. Wabah penyakit Corona yang sedang melanda di daerah sekitar rumahnya membuat ia tidak bisa langsung mengiyakan ajakan teman baiknya. Apalagi ada himbauan dari pemerintah agar penduduk mengurangi aktivitas sosial agar tidak tertular. Tapi disisi lain ia juga tidak enak sama Jaenudin yang sudah jauh-jauh datang ke rumahnya, apalagi rencana ini sudah mereka bicarakan sejak bulan lalu.

"Din, sepertinya aku besok tidak jadi kesana Din. Sekarang kan sedang ada wabah Corona dan kita dihimbau untuk tetap di rumah."

"Ealah, kok kamu takut amat sih. Pokoknya aman kesanalah Gus."

"Aman, emang ada jaminan kita akan aman darimana Din?"

Sang tamu menyeruput dulu kopi yang dihidangkan tuan rumah baru menjawab." Ya kita yakin saja sama Allah SWT. Sebagai orang beriman kita tidak perlu takut pada wabah begituan Gus. Apalagi ini kan untuk menghadiri pengajian kyai besar, termasuk ibadah lho, bukan untuk hura-hura atau senang-senang apalagi maksiat.

Agus bimbang. Benar juga, mereka kan hendak menghadiri pengajian.

"Tapi menghindari penyakit berbahaya juga penting Din, ini juga termasuk bagian dari ikhtiar." Agus berbicara dengan hati masih bimbang, apalagi sejak Jaenudin datang keadaan di lingkungan sekitarnya tetap sepi padahal dia datang sore hari. Biasanya ada banyak orang lewat atau beberapa anak kecil yang berlarian kesana-kemari dengan riang, tapi sejak kemarin sudah sepi sejak korban yang terkena virus Corona makin banyak ditambah makin banyaknya orang yang meninggal.

"Alah, bilang saja kamu males keluar rumah, pakai alasan takut tertular virus segala." Tampaknya dia mulai ngambek, nada bicaranya juga sedikit menyentil.

Agus sedikit tersentil emosinya oleh perkataan temannya. Saat ia akhirnya akan menjawab ajakan temannya untuk nanti malam datang ke pengajian tiba-tiba lewat seseorang.

"Assalamualaikum, sepertinya ramai nih Gus. Ada tamu ya?" Tamu yang baru datang mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam pak ustadz. Monggo masuk pak ustadz." Agus buru-buru membukakan pintu sambil tak lupa cium tangan lantas memberikan kursi. Kebetulan batin Agus, yang datang adalah ustadz Satria Al Ghozali, tokoh agama di desanya yang juga menjadi imam masjid dimana Agus sering sholat. Jaenudin juga bangkit berdiri lalu bersalaman. Agus sendiri lalu masuk ke dalam meminta istrinya Sarilah untuk membuatkan minuman serta cemilan.

"Silahkan cicipi kopinya pak ustadz." Seru Agus ketika hidangan sudah datang.

"Terima kasih Gus." Ustadz Satria Al Ghozali menyeruput minumannya.

"Maaf pak ustadz, saya mau minta saran nih pada ustadz." Kata Agus

"Ada apa Gus?"

"Begini pak ustadz, saya dan temanku ini rencananya habis Maghrib mau ke desa sebelah untuk menghadiri acara pengajian kyai Mansyur. Nah, yang bikin aku bimbang adalah sekarang kan lagi wabah Corona ustadz. Sudah banyak yang jadi korban, bahkan di kecamatan sebelah ada juga yang meninggal." Tutur Agus panjang lebar.

Tokoh masyarakat itu tersenyum. Ia berfikir sejenak baru menjawab." Saran saya sih, sebaiknya kalian ini tunda dulu, dirumah saja. Tunggu situasinya aman dulu."

"Lho kok begitu pak ustadz." Jaenudin tidak setuju." Inikan untuk ibadah, untuk apa kita takut pada virus seperti itu."

"Kita memang tidak boleh takut pada virus mas, hanya boleh takut kepada Allah SWT, tapi kita juga wajib berikhtiar agar selamat, bukan mencelakakan diri sendiri."

" Tapi kan jika takdir saya tidak akan kena penyakit, mau gimana-gimana tetap saja saya tidak akan kena sama tuh virus. Tapi jika takdir saya kena virus, biarpun didalam rumah tetap saja akan kena virus, iya toh." Jaenudin tetap ngotot.

"Lha, kok mas yang mengatur takdir."

"Bukan aku maksudnya mau mengatur takdir." Jawab Jaenudin keki juga." Tapi kalo takdirku kena virus setelah ke pengajian begitu ya apa boleh buat." Ia mengangkat bahu.

Sang ustadz tersenyum." Begini lho mas, resiko kamu terkena wabah itu lebih besar kalo berkumpul di tempat ramai seperti ke mall, tempat rekreasi ataupun acara pengajian dari pada jika diam di rumah. Aku yakin kamu tahu ini. Itu seperti kamu mainan api dan resikonya bisa terbakar kalo mainan api."

"Lalu kamu bermain-main dengan keyakinan kalo Allah tidak akan mentakdirkan kamu kena penyakit. Tidak disangka ternyata kamu kena virus tersebut. Masih mendingan kalo kamu sendiri. Mas ini siapa namanya?"

"Jaenudin namanya ustadz." Agus yang dari tadi diam akhirnya bicara juga.

"Mas jaey punya istri?" Tanya ulama yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua pada tamu didepannya.

"Alhamdulillah sudah pak ustadz, anak juga sudah punya dua." Jaenudin menjawab.

"Alhamdulillah kalo begitu. Tapi bagaimana kalo ternyata mas jaey kena dan tidak tahu lalu tanpa disadari menulari keluarga mas sendiri. Apa mas mau begitu."

"Tentu saja tidak pak ustadz." Ia ngeri juga, apalagi selain anak istrinya, di rumahnya juga ikut ibunya juga yang sudah tua. Membayangkan kalo ibunya yang sudah berumur itu terkena Corona tentu saja ia takut, apalagi kabarnya virus itu berbahaya kalo menyerang orang tua karena sistem imun lebih lemah.

"Nah karena itulah sebaiknya kita jaga diri sebaik mungkin. Jika diri kita sendiri yang kena celaka mungkin kita ikhlas, tapi jika anak istri kita juga ikut kena, alangkah disayangkan padahal kita bisa mencegahnya."

"Baiklah pak ustadz, aku memutuskan untuk dirumah saja." Akhirnya Jaenudin menyerah.

"Nah begitu dong jaey." Agus turut senang juga.

"Lebih baik begitu, lagi pula pengajian sekarang juga bisa mengikuti lewat internet. Namanya apa ya Gus?"

"YouTube pak ustadz."

"Ok, sebelum saya pulang ada baiknya kita berdoa bersama agar wabah Corona ini segera hilang agar kita leluasa mau kemana saja, baik ke pengajian ataupun ke masjid untuk beribadah.

Ia lantas mengangkat kedua tangannya “Ya Allah! Angkat dari kami penyimpangan dan malapetaka dan gempa bumi dan bencana, serta segala cobaan yang buruk baik yang nyata maupun yang tersembunyi, dari negeri kami ini khususnya, dan dari semua negeri kaum muslimin, dengan Rahmat-Mu, Duhai Yang Maha Penyayang."

"Amin ya rabbal alamin."

TAMAT
Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger yang ingin berbagi pada dunia terutama tentang film dan serial tv, suka nonton film tapi lewat gadget terutama handphone

117 komentar untuk "Karena wabah Corona maka kita tidak leluasa"

  1. Tumben cerpennya lurus, ada apa kah? πŸ€”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa aku harus ubah lagi pak ustadz? πŸ™

      Hapus
    2. Gak usah diubah bagusan begitu jadi ada uniknya..hihihi

      Sepertinya cerpen ini terinspirasi dari komentar si jaey ya?

      Hapus
    3. Ngga kang, ini terinspirasi dari komentar kal El, sungguh menghermankan ya.

      Hapus
    4. Bener-bener sangat menghermankan..hahahaha

      Sebenernya yang pas jadi ustadz itu si jaey bukan si satria, ustadz Jaenudin Al Ghazali tapi sudahlah kalau di edit malah jadi gak unik.. hihihi

      Hapus
    5. Sebenarnya aku bisa sih bikin agak lucu, cuma karena ini topiknya agama jadi main aman saja mas 😁

      Hapus
    6. Baiklah, alasan diterima..hihihi

      Hapus
    7. Jadi, tadinya mau menulis begini.

      Setelah Agus dan Jaenudin mengaminkan, terdengar sebuah suara.

      "Assalamualaikum." Sapa seseorang dan ternyata itu adalah seorang wanita muda.

      "Waalaikumsalam."kami semua serempak menjawab. Wanita cantik itu lalu mencium tangan pak ustadz.

      "Monggo mbak Anisa duduk." Kata Agus sambil memberikan kursi.

      "Ah tidak usah mas." Tolaknya halus

      Ustadz satria pun berdiri." Baiklah, karena aku ada perlu maka aku permisi dulu ya. Assalamualaikum."

      "Waalaikumsalam." Agus dan Jaenudin serempak menjawab.

      Setelah mereka berdua menghilang, Jaenudin lalu menyeletuk."wah anaknya pak ustadz cantik juga ya."

      "Anak?" Agus heran." Dia itu istri keduanya jaey."

      Tamat.

      Hapus
    8. Emang ada yang larang ustad beristri 2...3 juga boleh kok.😁😁🀣

      Hapus
    9. Wah bagus tuh kalau seperti itu jadi Beneran seperti cerpen..

      Hapus
    10. Tadinya sih mau begitu mas, tapi kan ngga semua ustadz begitu,

      Di desa saya, ustadz ada 10 lebih tapi semuanya istrinya satu, ntah kalo satria, istrinya tiga kali.😱

      Hapus
    11. hahaha ampun deh kalian itu :D

      Hapus
    12. Ampun kenapa mbak.😱

      Hapus
  2. Skill menulis cerpennya semakin bagus Mas Agus, padanan katanya pas dan efisien
    Tokoh-tokohnya juga berkarakter, cuma agak heran tumben tokoh Satria (dalam fiksi saja lo hehe) kali ini dijadikan karakter pak ustad. Lempeng dan logis pula ya karakternya. Sip deh

    Pokoknya pas lah sesuai dengan timing dan keadaan yang ada saat ini, jadi pesan moralnya pun sampai. Great job, dan semangat terus menulis cerpennya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali kali dia jadi ustad mbak, jangan jadi preman terus biar insaf.🀣

      Iya, sekarang lagi musim Corona jadinya coba menulis sesuai keadaan, barang kali nongol di page one.😁

      Masih jauh sama kualitas tulisan kang satria mbak, ini masih belepotan.😱

      Hapus
    2. Nah, itu dia. Akhirnya tokoh satria tobat dan jadi ustadz yang disegani masyarakat.🀭

      Hapus
    3. Asal jangan tobat dadakan aja..hihihi

      Hapus
    4. Bukan tobat dadakan tapi tobat sambal mas, hari ini tobat, besok ngerongdo lagi.πŸ˜‚

      Hapus
    5. Awal-awalnya agak lucu dengan karakter teman blogger masuk cerpen, tapi lama-lama jadi familier dan menarik ya hahaha

      Hapus
    6. Kalo aku sudah biasa mbak pakai nama teman blogger sejak di mywapblog.

      Hapus
  3. Wah bijaksana bangeet yaa...habis baca cerpen ini hati jadi tambah tenang, soalnya pak ustad Satria udah kasih petuahnya... Aamiin... Semoga semua dlm perlindunganNya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga saja keadaan ini cepat berlalu ya mbak, sehingga mbak Heni bisa bebas nongkrong di mall atau cafe.πŸ˜ƒ

      Hapus
    2. Wk wk.. Saya mah bukan tipe yg suka ngemall ato nongki" di cafe, kecuali gratisan alias diajak πŸ˜‚

      Hapus
    3. Mas Kal El kenapa kaget sih? πŸ€”

      Hapus
    4. Mas ka El itu terkejuuuut kayaknya... Hi hi... Boonk sikit ga pa lah πŸ™Š

      Hapus
    5. Kirain aku dia shok, soalnya dia suka nongki ² mbak.πŸ˜‚

      Hapus
  4. Setuju banget nih.
    Sekarang banyak banget yang ngotot buat keluar rumah, padahal kalo kena, bisa nularin keluarga sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bang, kalo lagi seperti ini memang lebih aman dirumah saja ya.πŸ˜ƒ

      Hapus

  5. Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Alhamdulilahi rabbil ‘alamin,
    Was sholatu wassalamu ‘ala,
    Asyrofil ambiyaa iwal mursalin,
    Sayyidina wa maulana Muhammadin,
    Wa ‘alaa ‘alihi wa shohbihi ajmain.
    Ama ba’du.

    Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Ilaahi Robbi yang telah memberikan kita beribu-ribu kenikmatan, baik Nikmat Iman dan Islam ataupun Nikmat Sehat Wal’afiat, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul di sebuah blog yang bikin saya mulai aneh...🀯🀯🀯


    Mungkin dikarenakan sang admin blog ini yang kesambet, Tapi entahlah.

    Maka dari itu saya masih menunggu apa yang beliau ucapkan setelah ini..😊😊 πŸ™πŸ™πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ustadz nya datang, sungkem pak ustadz biar dapat berkah.πŸ™

      Hapus
    2. Suuueeee!!..😁😁

      Hapus
    3. Alhamdulillah, sekarang sudah jadi ustadz ya, mas. Hehehehe.

      Hapus
    4. Semoga bisa membimbing si Agus dan si jaey ke rumah randa muda eh ke jalan yang lurus..hihihi

      Hapus
    5. Maksudnya rumah ke janda muda itu jalannya lurus ke depan ya mas? 😁

      Hapus
    6. Makasih pak ustad atas doa "nya,..

      Hapus
    7. Sama sama mbak. Eh, yang jadi ustadz nya siapa nih? πŸ˜‚

      Hapus
    8. aamiin ya rabbal alaamiin :D

      ustadznya muncul nih :D

      Hapus
    9. Iya mbak, amplopnya sudah disiapkan belum buat ustad? 😁

      Hapus
  6. Allahhumma inni audzubika an adhilla aw udholla aw azzilla aw uzzalla aw azhilama aw uzhlama aw ajhala aw yujhala allayya.




    Ya, Allah? Aku haturkan dan inginkan dari doa yang ada, Allah kabulkan termasuk dapat lindungi kita semua dari marabahaya wabah virus Corona saat harus terpaksa Keluar rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin, makasih atas doanya mbak tari.πŸ˜ƒ

      Hapus
  7. AamiinπŸ™

    Mas Agus, sebaiknya jangan cium tangan pak ustadz, takutnya kalau ada virus nempel disitu gimana? Seharusnya tangannya pak ustadz diberi hand sanitizer dulu baru dicium.😱

    BalasHapus
    Balasan

    1. Eelleeee....Cium tangan ustadz yang ada virus2 mabur semua..😊😊

      Terlebih kalau KH. Ustadz Satria yang pegang bisa bersih dosa2 kalian seperti bayi baru lahir..πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™

      Hapus
    2. Iya, kalo ustadz Satria tangannya bersih dari kuman, kalo satriamwb banyak kumannya terutama kuman rongdo.🀣

      Hapus
    3. Anu, mas. Itu ustadz atau tuhan kok bisa bersihkan dosa manusia. Hehehe. * Kaboooor πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

      Hapus
    4. Biasalah, kalo orang sableng obatnya lagi habis ya gitu.🀣

      Hapus
  8. Bener banget apa yang dikatakan Pak Ustadz, kita harus ikhtiar untuk keselamatan dan menjaga kesehatan keluarga.

    Harus menambah kekebalan tubuh supaya tidak mudah terinfeksi virus corona :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, untuk sementara agar aman di rumah saja dulu ya mbak kecuali ada keperluan penting.

      Hapus
  9. Betul, memang saat ini lebih baik di rumah saja dan menghindari kerumunan. Minimal dalam 2 pekan ini sesuai dengan anjuran.
    Tapi memang keadaan ini kurang mengenakan apalagi bagi orang-orang yang mobile ya Mas. Tapi demi menghambat penularan, pilihannya ya lebih baik di rumah saja.
    Sesuai dengan anjuran KemenkesRI juga di twitternya dengan hestek #YukDirumahSaja
    Semoga keadaan kembali normal seperti sedia kala.

    Salam dari Sukabumi, Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pak, mau kemana-mana juga sekarang malas soalnya tempat yang dituju juga sudah ditutup.

      Di Jakarta ada paman saya yang jualan nasi juga ditutup sementara dua Minggu.

      Hapus
  10. Betul3x mendingan mengisolasi diri deh bareng keluarga di rumah aja. Keluar kalau ada keperluan penting urusan isi dapur aja paling hehehe. Keren nih jadi ustadz ya sekarang hihihii :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kemarin satria demo minta agar dapat peran yang keren, sambil dia ngasih pulsa.😁

      Hapus
  11. Nahh ini dia sih, tapi kalo untuk freelancer jadi lebih enak sih.. Harusnya bisa dimanfaatkan dengan kerjaan kerjaan yang bisa dimonitor dari rumah atau secara online. Bermodalkan laptop pun bisa bekerja dengan baik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kang, kalo freelancer enak bisa kerja dari rumah, lha kalo tukang ojek atau kuli bangunan gimana ya? 😱

      Hapus
  12. Amin ya rabbal alamin. Semoga wabah virus ini segera berakhir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kang, semoga saja keadaan ini cepat berlalu ya.

      Hapus
  13. hahaha, meskipun agak aneh kalau baca cerpen yang agak lurus gini, akan tetapi saya jadi bisa merasakan bagaimana keadaan negeri kita tercinta ini ya.

    Nggak tahu, siapa sebenarnya yang seharusnya bertanggung jawab akan menyebarnya virus ini, akan tetapi sesungguhnya yang paling berdampak ya masyarakat kecil.

    Ekonomi menurun, banyak pengangguran huhuhu.

    Semoga wabah ini segera berlalu, semoga kita semua bisa merasakan bagaimana rindunya kita pada pengajian dan masjid, jangan setelah kayak gini baru deh kita merindukan sholat berjamaah di masjid :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anehnya dimana mbak, apa biasanya belok belok lalu lurus jadinya kepala kejedot.😱

      Iya ya, kalo udah kayak gini baru deh pengin ke masjid, ntah kalo keadaan aman jadi ke masjid apa tidak.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    2. Biasanya atas saya seperti itu..🀣🀣🀣

      Hapus
    3. Semoga virus ini segera berlalu, dan masjid bisa buka sperti dulu, awas kalau pakai acara malas sholat di masjid lagi, entar kualat deh.

      Mending bikin nazar, kalau virus berlalu, bakalan sering sholat di masjid deh, setidaknya sekali atau 2 kali sehari juga boleh :D

      Hapus
    4. Tapi sayangnya untuk saat ini lebih baik shalat di rumah dulu, mas, terutama kalau tempat tinggalnya ada di daerah yang sudah ada kasus virus ini. Kalau sudah selesai wabahnya, baru deh lanjut shalat di masjid. 😁

      Hapus
    5. huhuhu iyaaa, sedih ya.
      Di Sidoarjo malah udah ada yang meninggal, dari perumahan yang nggak jauh juga dari tempat tinggal kami, sedih sih, semoga segera berlalu, dan semoga kita semua berada dalam lindunganNya, aamiin :)

      Hapus
    6. Turut berdukacita mbak, berarti keadaan disana sudah makin parah ya. Terus Sidoarjo di lockdown lokal ngga?

      Hapus
  14. nama ustadnya keren banget sih, satria al gazali :D, tapi btw ngomongin soal virus corona memang bener banget, semua tetangga dan temen gw pada takut, termasuk gw sendiri.. semoga aja virus inu cepet pergi dari negara kita ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bang, apalagi buat para jomblo, untuk sementara ini ngga bisa pdkt, sungguh menyebalkan ya πŸ˜‚

      Hapus
    2. Kalau pdkt sekarang sih gampang, mas. Gak perlu ketemu, kan bisa lewat chat atau video call. Hehehe.

      Emang iya sih, sekarang jadi tambah takut keluar rumah. Semoga wabah ini cepat berlalu. Masa iya lebaran gak pulang kampung. 😭😭😭😭

      Hapus
    3. Sabar mbak Roem, aku juga sepertinya tidak pulang kampung lebaran ini kalo pandemi Corona masih parah, soalnya di kota saya juga sudah ada yang positif Corona.😭

      Hapus
  15. dimana2 bahas corona ini ya, seneng banget jadi perbincangan dia nih. Kupingnya ga panas diomongin orang terus apa. segeralah menyingkir dari muka bumi covid19!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana kalau kita tekap kuping ...🀯🀯Atau kita berbincang2 berdua saja...Tanpa ada si Corona 19...😊😊

      Yee kan..."Yuks"!..πŸ™„πŸ™„πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    2. Kang satria, ingat anak istri nunggu dirumah kang.😱

      Hapus
    3. Cieeee, mas satria meluncurkan serangannya. Pepet terus, maaaaaas.πŸ˜†

      Hapus
    4. Bener bener ya mbak, perlu dijewer kupingnya.πŸ˜‚

      Hapus
  16. Jamaaaah oh jamaaahhh..

    Agak aneh baca cerpennya karena biasanya ketawa tapi ini luruuuusss banget.

    Semoga corona segera berlalu, ya.

    Blognya punya ciri khas Mas Agus. Blog yang isinya cerpen. Keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, banyak juga yang komen aneh, kirain cuma mbak Rey sama Kal El saja.

      Sekali-kali bikin cerpen yang lurus aja mbak, kalo belak belok takut nabrak.πŸ˜‚

      Hapus
  17. Kayaknya nih yaaa ..., konten ibadah semua agama di youtube mendadak jadi ramai visitor.

    Mas Agus ngga nyusul bikin konten youtube πŸ€” ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga mas Himawan, ngga bakat bikin konten YouTube, enakan nulis saja.πŸ˜ƒ

      Hapus
    2. Loh, napa πŸ€” ?.

      Kan kalau jadi youtuber kegantengan mas Agus jadi lebih terlihat tampil maksimal ... Hi hi hi 😁

      Hapus
    3. Itu khusus ustadz Satria saja yang hobi selfie mas Himawan.🀣

      Hapus
    4. Wwwkkkkk πŸ˜‚πŸ˜‚

      Rasa-rasanya aku ikutan tersihir, eh# tersindir niiih .. karena hobi selfie jugaak 🀣

      Hapus
    5. Eh mas Himawan suka selfie juga ya. Mungkin ketularan kang satria kali ya.πŸ˜‚

      Hapus
  18. Kemarin BPJS, sekarang Corona dijadikan topik cerpen, ga sekalian demam berdarah dijadikan topik cerpen hehe... Saya baca sekilas pesan moralnya kuat, memang ini realita, gara2 corona, hidup bertetangga pun jadi berubah. Semua serba waspada tapi bukan curiga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak mas, admin blog ini sekarang lagi hobi nulis cerpen, mohon maaf kalo salah.πŸ˜ƒ

      Iya kang, semua harus waspada jangan menganggap remeh virus ini

      Hapus
  19. kadang nyeleneh tulisan nya dan ini bijak sekali.. aamiin mas, semga kita semua bisa bangkit dari wabah corona

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin habis minum obat tadi makanya jadi bijak.😁

      Hapus
  20. Keren deh Pak Ustadz Satria!
    Moga2 Corona cepat berakhir, ntar leluasa lagi ke mana-mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, jadi bisa nongki nongki lagi di mall ya mbak.😁

      Hapus
  21. can relate. Keluarga saya ada yg kaya si Jaey ini. Malahan sampe bilang "musrik takut sama Korona. Takut itu cuma sama Allah"

    haduhhh capek ngasih tau orang kaya begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar mbak, tiap orang memang beda pandangan nya tentang virus ini. Kita memang hanya takut pada Allah SWT, tapi kita juga harus waspada.

      Rasulullah Saw juga waktu mau perang itu juga pakai baju perang dan atur strategi, bukan langsung langsung maju ke medan perang. Ikhtiar dahulu baru tawakal, jangan kebalik ya.

      Hapus
  22. Lebih beban mental lagi kalo ternyata kita menulari yang lainnya tanpa sadar ya ? Duh amit-amit, semoga gak begitu.

    Mungkin kalo kita sendiri yang kena tinggal dirasain sakitnya. Nah kalo keluarga/orang sekitaran kita trus gak memiliki ketahanan tubuh yang mumpuni, apa ya gak malah jadi merasa bersalah kalo terjadi sesuatu.. ?

    Tapi semoga kita semua tetap sehat selalu.. amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga kita semua sehat selalu ya mbak.

      Betul mbak, kemarin ada berita pasangan yang menikah depresi, bukan masalah dengan pasangan tapi katanya waktu hajatan digelar banyak orang yang terkena Corona tanpa sadar.

      Hapus
  23. Aaamiin, YaRabbalalaamin.
    Semoga wabah ini segera berlalu.
    Aku yakin sih Mas, kalau kawan-kawan ini semua sebaik Mas Agus ga ngototan kaya mas Jaey insyaallah pertambahan ga significant karena itu pun disebabkan penelusuran dari yangs udah terjangkit. Jadi tim medis bisa fokus pada yang sakit.

    Bismillah ini segera berlalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga keadaan ini cepat berlalu ya mbak.

      Tokoh jaey cuma fiksi aja mbak, aslinya orangnya penurut, apalagi kepada janda muda.😱

      Hapus
  24. Amin.. amin..

    Kalo gk jadi ke pengajian, gimana kalo kita kerumah si korona saja mas, ajak jg ust satrio πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus bawa bisaroh dulu kalo mau sama ustadz satria.😊

      Hapus
  25. Aku pikir endingnya bakal serem lagi mas :D. Sediiiih gara2 Corona ini. Kacau semua trip dan plan ku. Kasian banget kalo liat para tentara yg jagain wisma atlet, para dokter dan petugas kesehatan yg berjuang ngerawat pasien :(.

    Berharap wabah ini cepet hilang. Moga2 skr ini jd pengingat juga buat semua supaya bisa LBH menjaga kebersihan dan sering cuci tangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya ada juga yang kecele sama cerpen yang lurus ini.😁

      Iya mbak, kasihan para dokter, perawat, tenaga medis dan juga tentara yang jaga, semoga keadaan ini cepat berlalu ya mbak

      Hapus
  26. Iya... anjuran yang baik untuk di rumah saja.

    BalasHapus
  27. Kayaknya, ini pertama kalinya saya baca cerpen nggak horor atau nggak aneh-aneh sejak saya tau blog mas Agus :))))) biasanya di akhir suka meleset ehehehehe.

    By the way, belakangan ini orang-orang sepertinya sudah mulai agak sadar akan bahaya Corona, karena banyak yang lebih memilih stay di rumah, meski yang harus kerja tetap kerja, tapi saya lihat dari banyak berita, tempat-tempat mulai sepi dan orang-orang memilih di rumah. Semoga Corona segera hilang ya mas :>

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mbak Eno, kata kakak saya yang kerja di Jakarta sekarang sudah sepi jalanan Jakarta, orang sudah pada mulai takut dan lebih banyak didalam rumah agar aman dari virus.😊

      Hapus
  28. Kali kedua baca cerpennya mas Agus. Ini dari pengalaman pribadi ya? Hihih. BTW agak tergelitik nih pas bagian salam cium tangan soalnya kalau lagi Corona begini kan salaman apalagi cium tangan sebaiknya dihindari karena risiko penyebaran virusnya lebih besar >.<

    Ya aku berdoa juga semoga wabahnya cepat teratasi. Jadi budaya cium tangan bisa kembali dilakukan seperti biasanyaa..ga perlu dilarang lagii huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga mbak Friska, ini asli karangan orang nganggur saja.

      Iya ya, harusnya Agus malah jangan cium tangan pak ustadz.🀣

      Hapus
    2. Hahaha ga nganggur la mas... Mikir ini bikin giniaan!

      Gpp mas. Ini hanya fiksi belaka toh? Hihihi

      Hapus
    3. Iya, nulis juga kan dihitung kerjaan ya biarpun tidak dapat duit.πŸ˜‚

      Hapus
    4. nanti bisa dapat duit kok mas..amin.

      Hapus
  29. hahahaha kereen cerpennya ini. Benar-benar mengena buat sosialisasi corona. ayoo kita #dirumahaja yaaa.Semoga wabah cepet berlalu..aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin ya rabbal alamin, semoga cepat hilang wabahnya

      Hapus
  30. Penyampaian pesan yang sangat bijak, tidak menggurui.

    Ustad Satria keren yah, blogger sekaligus penceramah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah bang, blogger multi fungsi.😁

      Hapus
  31. Saat ini pengajiannya via youtube, ide bagus tuh...tapi kuotanya nebeng wifi tetangga biar nyaman sampai selesai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu nebengnya ijin dulu ya, kalo ngga namanya nyolong.🀣

      Hapus
  32. Semoga virus dan wabah penyakit yang melanda negeri kita bisa segera berlalu. Sedih ketika tidak bisa menghadiri pengajian karena demi keselamatan diri kita sendiri dan orang lain.

    BalasHapus
  33. heran juga sama orang yang masih berpikiran kayak jaenudin itu. nggak peduli sama diri sendiri itu ya terserah, tapi jangan sampai nggak peduli dengan keluarga. untungnya ada pak ustad ya....

    BalasHapus
  34. Tak kirain, ustadz nya gak mau diajak salaman dan diajak minum kopi sambil jaga jarak 1,5 m πŸ˜‚, trus ngasih pengarahan cara mencegah penularan virus, trus abis ituh, si jaenudin disuruh pulang, agus masuk rumah, pas ustadz juga pulang #stayathome aja πŸ˜‚ (jadi inget iklan penyuluhan di tvri)

    BalasHapus
  35. saat ini stay di rumah memang selalu ditekankan sama pemerintah & perlu kesadaran diri juga, work from home juga masih berlanjut
    ehh tapi kapan hari di kotaku ada yang "nekat" ngadain pengajian gede-gedean, biasa ulama gede kayaknya, jadi ya cuss lanjut terus.

    BalasHapus