Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rejeki tidak terduga


"Mas Harjo, bisa kurang tidak?" Kataku sambil melihat-lihat barang yang ada di depanku, sebuah pemanggang sosis berwarna kuning yang tampak agak sedikit berdebu, mungkin karena sudah lama tidak dipakai kali.

"Wah, kalo itu nanti saja tunggu istri saya datang ya. Yang penting mas Agus sreg tidak dengan barangnya?" Tanyanya lagi.

Aku coba melihat-lihat lagi kompor panggang sosis yang ada di depanku. Masih cukup bagus dan warnanya juga masih cerah pertanda belum lama ia beli. Kondisinya masih oke menurutku biarpun ada beberapa kekurangan tapi kan wajar, namanya juga seken. 

Harjo sendiri adalah salah seorang yang kadang suka membeli cilok dagangannya, hanya kadang-kadang saja sih terutama kalo habis gajian soalnya kalo keterusan juga bosan. Eh, tapi saya dengan istri tiap hari kok ngga bosan ya.

Saat mas Harjo beli cilok milikku, aku kadang memperhatikan lapak dagangannya, sebuah meja berukuran 2x1 meter yang diisi dengan pemanggang sosis dan juga beberapa sachet teh sisri, pop ice, dan minuman anak-anak lain yang harganya seribu. Selain itu juga ada beberapa gorengan seperti bakwan, tempe mendoan, dan buras (makanan tradisional seperti lontong tapi dalamnya berisi berbagai macam sayuran atau mie).

Nah, sudah sebulan lebih saya tidak melihat pemanggang tersebut. Suatu hari aku iseng-iseng bertanya kemana panggangan sosis (yang sebenarnya bisa untuk memanggang roti atau lainnya) itu. Ia lalu jawab ada dibelakang, sudah tidak jualan sosis atau Frozen food lainnya karena istrinya capek, ah pantesan.

Sebenarnya aku ada niat ingin membelinya sih untuk istriku dirumah agar ikut berjualan di rumah tapi mengingat keuangan yang ada hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari maka aku urungkan niat untuk meminangnya.

Jualan cilok untungnya tidak seberapa akhirnya aku pun lalu mencoba untuk mencari pekerjaan lainnya. Kebetulan saat sedang jualan dan mangkal di pinggir jalan ada seseorang yang sedang menempelkan plamfet atau kertas yang berisi lowongan pekerjaan bukan jadwal konser dangdut.

Aku membaca dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, Jakarta 17 Agustus 1945. Eh tidak dong. Ternyata ada sebuah PT yang sedang mencari karyawan untuk pemasaran. Ah, daripada jualan yang untungnya tidak tentu apa salahnya aku mencari kerja yang penghasilannya lebih menentu pikirku.

Aku segera pulang lalu mengutarakan niatku sambil membawa brosur tersebut ke rumah.

"Dek, ada lowongan pekerjaan dekat sini nih, gajinya juga cukup menggiurkan, mana gratis lagi tidak dipungut biaya." Kataku sambil menyodorkan plamfet tersebut.

Istriku membaca brosur tersebut dengan seksama juga." Tapi kok sepertinya meragukan ya mas. Gaji diatas UMR tapi kerjanya seperti itu."

"Mungkin mereka baru buka perusahaan jadinya butuh karyawan baru dan tidak banyak syaratnya. Kan yang gratis." Sahutku dengan semangat menggebu karena sudah capek dorong gerobak terus tiap hari.

Esoknya aku berangkat ke tempat tersebut dengan menaiki motor Honda Astrea. 15 menit kemudian aku sudah sampai di tempat itu. Sebuah ruko kecil yang ada dipinggir jalan raya dan masih terlihat baru karena kantornya juga masih sedikit berantakan. Ah, pasti aku diterima kerja disini.

"Maaf pak, apa benar ini PT..." Kataku bertanya pada seorang sekuriti yang sedang jaga.

"Benar mas. Mau apa mas kesini?"

"Mau cari pekerjaan pak, barang kali masih ada lowongan buat ku." Jawab ku sesopan mungkin.

"Oh masih ada mas. Silahkan masuk saja, kebetulan Bu Dini, staf kantor nya baru masuk tadi."

Pucuk dicinta pekerjaan pun tiba batinku. Aku pun lantas masuk ke ruangan tersebut. Aku bertanya dengan sopan pada seorang pria yang tampak sedang asyik bermain hape. Ia lalu menyuruhku untuk masuk ke ruangan sebelah untuk menemui Bu Dini.

Begitu masuk maka aku agak kaget. Bu Dini yang aku kira sudah berumur setengah baya ternyata adalah seorang wanita cantik yang berusia sekitar 30 atau mungkin kurang. Entah kenapa aku jadi deg-degan seperti ketika pertama kali bertemu calon istriku.

"Selamat pagi Bu. Saya Agus ingin melamar pekerjaan disini." Kataku sopan sambil sesekali melihat wajahnya.

Wanita itu tersenyum manis." Silahkan duduk pak, bapak bawa berkas untuk lamaran pekerjaan tidak?"

Aku lalu mengangsurkan map berwarna coklat berisi berkas dataku. Ia lalu membukanya, sementara aku deg-degan.

"Bapak cuma lulusan SMP?" Tanyanya setelah melihat berkas-berkas ku.

"Iya Bu." Kataku sambil agak menunduk, malu, karena ijasah SMP nya juga nembak di tukang fotokopi.

"Bisa bahasa Inggris?"

Aku menggeleng sambil menjawab tidak. Duh, sepertinya aku gagal deh. Tapi perasaan di brosur itu tidak disebutkan harus bisa bahasa Inggris.

Bu Dini lalu menutup berkas ku." Sebenarnya kami mencari orang yang minimal lulusan SMA pak, kalo S1 itu lebih baik."

Aku lemas, gagal sudah impianku memiliki pekerjaan.

"Tapi jika bapak memang ingin bekerja maka tidak apa-apa, kebetulan kami sedang butuh pekerja."

Tentu saja wajahku langsung sumringah." Makasih banyak Bu." Kataku dengan hati berbunga-bunga.

"Silahkan isi formulirnya pak, biaya administrasi nya sejuta rupiah."

Tentu saja aku kaget." Lho, bukannya gratis Bu?" Kataku sambil menyodorkan plamfet yang sengaja aku bawa kesini.

"Maaf pak, untuk administrasi memang gratis, tapi untuk keperluan lainnya butuh biaya sejuta. Kalo bapak tidak mau silahkan keluar." Katanya tegas.

Batinku galau antara butuh pekerjaan tapi takut ditipu juga karena uang segitu jelas sangat berarti. Akhirnya terpaksa aku mengeluarkan uang di dompet agar bisa mendapatkan pekerjaan. Toh jika sudah bekerja maka akan dapat gaji pikirku.

Ternyata pekerjaanku bukan di kantor tersebut tapi disuruh menjual dua buah baju. Bukan sembarang baju tapi seperti jas atau tuksedo yang harganya mahal. Satu baju harganya sejuta, sama dengan uang pendaftaran ku. Aku sendiri tidak tahu apakah akan diberikan komisi atau tidak jika bisa menjualnya.

Aku lalu mencoba menawarkan barang tersebut di pinggir jalan dekat kantor tersebut. Nihil, jangankan membeli, yang menawar pun tak ada. Lagi pula jaman sedang sulit seperti ini siapa juga yang mau membeli baju yang mahal di kota kecamatan yang kecil seperti ini.

"Gus, kamu sedang apa?" Tanya seseorang. Aku menengok dan melihat kang Asep tetanggaku yang sama sama mengontrak.

Aku lalu menjelaskan duduk perkaranya mengapa aku berdiri di pinggir jalan seperti ini yang jujur saja sangat menyiksaku. Sudah kena debu dan panas, masih dilirik sinis sama beberapa orang yang lewat.

"Ya jelas lah, coba kamu ngaca dulu Gus." Katanya lalu setelah itu pergi.

Aku buru-buru ngaca. Astaghfirullah, baru sadar mana mungkin aku bisa menjual baju seperti itu. Muka acak-acakan yang jikalau dimasukkan ke salon tujuh hari tujuh malam juga belum tentu layak menjual tuksedo atau jas. Ini sama seperti seorang sales produk krim pemutih wajah tapi kulitnya sendiri hitam karena keseringan pergi di sawah.

Aku tentu saja segera balik lagi ke kantor tersebut sambil marah-marah meminta pekerjaan lainnya yang layak. Bu Dini langsung memanggil satpam untuk mengeluarkan aku.

Aku hanya pasrah saja. Saat keluar ruangan Bu Dini kulihat ada dua orang yang sedang duduk di kursi depan. Segera saja aku memperingatkan mereka agar jangan mau keluar duit dulu sebelum dapat pekerjaan yang jelas. Sekuriti yang sebelumnya biasa saja dengan galak segera mengusirku.

Akhirnya aku pulang sambil menceritakan pengalaman hati ini. Istriku hanya mengelus dada.

Aku lalu melakukan aktivitas seperti biasa, dagang cilok untuk menghidupi keluarga ku, biarpun tidak seberapa hasilnya yang penting ada pemasukan pikirku.

Selain jualan keliling aku juga mengisi waktu luang ku kalau tidak ada pembeli dengan bermain hape dan juga ngeblog. 

Sebenarnya aku ngeblog atau membuat blog itu cuma untuk menulis saja biarpun tujuan awalnya adalah untuk meraih uang lewat Adsense, tapi ketika menyadari kalo penghasilan dari penyedia periklanan Google itu tidak memadai ( karena rate iklannya yang kecil ) maka aku putuskan untuk menulis saja yang aku suka.

Saat sedang blog walking untuk menjalin silaturahmi sesama blogger aku melihat blog Mbak Eno dan melihat ada postingan paid guest post. 

Aku tiba-tiba ingat kalo beberapa bulan lalu beliau pernah memintaku untuk membuatkan cerpen. Cuma karena aku belum pede dalam membuat cerita dan juga saat itu sedang ada masalah di pabrik (sebelumnya aku kerja di pabrik) yaitu akan ada PHK maka aku menolaknya. 

Akhirnya aku lalu iseng bertanya pada mbak Eno apakah bisa membuat cerpen untuk blognya walaupun sebenarnya tetap masih belum pede membuat cerita karena beberapa hari yang lalu saat aku beli Buras kulihat pemanggang sosis itu masih tergeletak di pojok kamar. Tak disangka mbak Eno tetap antusias dan memperbolehkan aku mengisi paid guest post.

Melihat beliau antusias aku justru agak bingung karena belum punya cerpen apa yang harus kutulis yang kira kira pantas. Apa harus mundur lagi tapikan ngga mungkin karena aku sendiri meminta, lagipula bayangan si kuning yang tergeletak mengenaskan di pojok kamar mas Harjo membuatku harus berani melangkah. Si kuning itu seakan-akan melambai-lambai padaku untuk segera mengentaskan dia dari mas Harjo yang tidak merawatnya, semacam anak yang terbuang.

Akhirnya aku ada ide, aku lalu kirim saja cerpen yang sebelumnya kubuat untuk blog sendiri ke mbak Eno dari pada pusing mikir mau buat cerita seperti apa. Lha kok ndilalah mbak Eno Lerian mau saja, padahal kukira akan ditolak lalu minta genre yang lain (padahal kusudah menyiapkan genre dewasa jika ditolak wkwkwk). Mungkin sama seperti saat mau meminang calon istriku dulu, apakah dia mau menerima aku yang masih ganteng saat itu ~

Mbak Eno sendiri meminta ijin agar cerpennya di edit sesuai style blognya. Tentu saja aku ijinkan karena cerpen aslinya memang acak acakan.

Siang harinya beliau mengirim email bahwa bayaran ku sudah dikirim ke rekeningku. Aku cek benar saja sudah masuk sejumlah uang.

Sore harinya aku langsung menarik uangnya lalu menuju ke rumah mas Harjo. Alhamdulillah ia ada di rumah. Setelah melihat-lihat dan mencoba panggangan sosis yang ternyata masih oke semua maka kuputuskan untuk meminangnya dengan bismillah. Tapi untuk itu aku harus menunggu sebentar karena istrinya sedang belanja.

Lima menit kemudian istrinya mas Harjo datang.

"Mbak, 400 ribu saja ya?" Tawarku karena istrinya sebelumnya membanderol pemanggang sosis dua tungku itu dengan harga 600 ribu.

"500 ribu saja deh mas. Kan sudah kenal, itu belinya aku 900 ribu lho." Kata dia sambil memperlihatkan sebuah kertas kwitansi.

"Aduh mbak, uangku pas-pasan segitu." Kataku sambil memperlihatkan isi dompetku. Tentu saja sebelumnya isinya memang sudah kubuat pas seperti itu.

"Udah mah terima sajalah, daripada nganggur saja nanti rusak lho." Kata mas Harjo berusaha meyakinkan istrinya. Alhamdulillah, tidak sia-sia sogokan tiga bungkus cilok sehari sebelumnya.

Alhamdulillah, Akhirnya jadi juga panggangan sosis dan frozen food itu berpindah kepadaku. Sisa uangnya tentu saja kini mau kubelikan bahan makanan seperti sosis, frozen food, dan keperluan lainnya untuk jualan sosis. Kini si kuning harus bekerja keras untukku walaupun jalan terjal menghadang karena sudah ada lima penjual sosis lainnya di kampung ku.


Saat aku sedang asyik menyiapkan meja untuk memulai jualan kulihat ada seorang lelaki sedang menempelkan kertas di tiang listrik. Apa mungkin ada acara pengajian kyai terkenal ya, pikirku karena memang biasanya kalo ada acara pengajian maka ada yang menyebar selebaran atau menempelkan di tiang listrik agar masyarakat tahu.

Karena penasaran maka aku pun lalu menuju tiang listrik. Ternyata benar kertas itu berisi sebuah informasi.

TERSEDIA LOWONGAN KERJA BUAT SIAPA SAJA, GAJI 5 JUTA SEBULAN, PENDAFTARAN GRATIS.

TAMAT


Agus Warteg
Agus Warteg Hanya seorang blogger yang ingin berbagi pada dunia terutama tentang film dan serial tv, suka nonton film tapi lewat gadget terutama handphone

92 comments for "Rejeki tidak terduga"

  1. horee punya panggangan sosis baru..

    btw, saya jadi penasaran cerpen genre dewasanya,, ditunggu terbit di blog ini aja kalau gitu hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ada yang langsung komentar, horeee.πŸ˜ƒ

      Itu cuma pemanis cerpen saja bang.πŸ˜‚

      Delete
  2. Hmmmm, ternyata ini kisah asli ya, hehehe

    Btw baru tahu buras itu ada yang isinya mie, kupikir isinya oncom doang

    Oiya tadi mau komen apa ya yang agak ga pas, aah itu kata gantinya berubah dari aku ke saya trus ke aku lagi huehehe


    Wah, alhamdulilah banyak rejeki yang datang akhir2 ini ya mas, semoga selalu lancar terus kayak air yangbmengalir, dan langgeng selalu dengan istri tercinta hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bagian dapat job dari mbak Eno memang asli mbak, tapi kalo bagian nyari pekerjaan itu cuma pemanis cerpen.πŸ˜‚

      Delete
    2. Disini kadang-kadang ada yang jual buras isinya mie bihun mbak, lumayan enak kok soalnya kalo oncom terus juga bosan.

      Oh itu, mungkin lupa jadinya kadang saya, kadang aku, kadang juga gue.πŸ˜‚

      Alhamdulillah sih dapat rejeki mbak. Aamiin ya rabbal Al-Amin, makasih doanya mbak, semoga mbak mbul sekeluarga juga sehat selalu dan banyak rejekinya. πŸ™‚

      Delete
    3. Amin semoga barokah ya mas agus dan istri hehe

      Delete
    4. Sama sama mbak mbul. Kalo malam seringnya online ya?

      Delete
    5. Kalau ditempatku buras isinya buras juga.. alias ga ada isinya πŸ˜†

      Delete
    6. Berarti buras nya zonk ya kang.πŸ˜‚

      Delete
    7. Ga juga sih, aku online pas ada waktu senggang aja buat hiburan baca baca cerita lucu kayak ceritanya mas agus hehehe,


      Iya juga ya, setelah dipikir2 buras itu kadang nemu yang ga ada isinya, tapi aku lebih suka arem-arem sih lebih presisi bentuknya 😊

      Delete
    8. Oh kirain aku kalo malam online sekalian jaga lilin.🀭

      Buras yang enak dalemnya yang isinya daging atau ayam kali ya, isinya oncom atau mie sudah biasa.πŸ˜‚

      Delete
    9. haaseeemb...uda ga mati lampu lagi mas rumahku πŸ˜†πŸ€£πŸ€£πŸ˜‚πŸ˜±

      iya aku sukanya arem arem mas yang isi ayam atau tempe 🀀☺

      Delete
    10. Oh kirain masih jaga lilin biar dapat duit mbak, ternyata buat candle light dinner ya.🀭

      Pernah bikin buras sendiri tapi kok rasanya ngga enak. Mungkin enakan tinggal makan saja kali ya.πŸ˜‚

      Delete
  3. Wkwk modal sejuta buat menjualkan dua tuxedo. Ini modus penawaran kerja jahat seperti ini beneran saya pernah dengar. Tapi bukan jual tuxedo hehe
    Harusnya tuxedonya trus digunakan agus untuk jualan cilok trus lariiis manis karena ciloknya membuat orang sekuat ironmen πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul juga ya, harusnya aku bawa lari saja tuksedo nya, hitung-hitung buat bayar uangku yang sejuta itu.

      Duh, kok baru kepikiran sekarang.πŸ˜‚

      Delete
    2. Mas Agus Penjual cilok bertuxedo viraal seindonesia raya dan sekitarnya.
      Semoga makin sering dapat job mas agus warteg

      Delete
    3. Amiiin, makasih doanya Bu guru, semoga Bu guru juga banyak rejekinya.

      Wah, kalo jualan cilok pakai tuksedo nanti dikira mau nyaingi Jackie Chan Bu guru.πŸ˜‚

      Delete
  4. Kenapa aku malah jadi ngakak ya pas baca marah2 ngembaliin jualan jas yang ngga laku gegara wajah coreng moreng �� ...

    Ikut kudoain agar makin banyak dapat job, mas ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin mas, doain gw juga ya :D

      Delete
    2. @Himawant, ceritanya lucu makanya ngakak ya mas, kalo aslinya sih bikin kesel ya.πŸ˜‚

      Makasih doanya mas Himawan.πŸ˜ƒ

      Delete
    3. @Khanif, semoga mas khanif bisa beli panggangan sosis juga mas, amiiin.πŸ˜€

      Delete
    4. @ Khanif & @ Agus :

      Sama-sama, mas.
      Kudoakan kalian berdua panjang rejeki ��

      Delete
    5. Doakan panjang anunya juga gak? πŸ˜†πŸ˜†

      Delete
  5. siip deh.... rezeki memang tidak berpintu...
    mantap ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul pak, Alhamdulillah rejeki ada saja kalo kita mencarinya dengan tekun ya pak.πŸ˜ƒ

      Delete
  6. Gagal fokus nih, kayaknya tema tampilan blognya baru nih ciyee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya, untuk lowongan pekerjaan dan membayar sejumlah uang. Itu beneran atau cuma karangan aja, mas? :"

      Delete
    2. Beli saja template nya di mas Sugeng, cari saja di google template mas Sugeng pasti ketemu, sudah terkenal sebagai master template blogger.

      Kira kira beneran apa cuma karangan ya? Ah coba mas Dodo tanya pada rumput yang bergoyang.πŸ˜‚

      Dalam kenyataan hidup disini banyak mas kalo mau kerja di pabrik harus bayar fee sejumlah sekian, kalo langsung masuk lewat orang dalam maka jika ketahuan pengelola keamanan (sebut saja preman) akan langsung dicegat dan dikeluarkan kembali kecuali jika yang membawa itu direktur pabriknya.πŸ˜€

      Delete
    3. Oh yaa, terimakasih sarannya. Akan saya coba mencari template Blog, mas.
      Btw, ternyata serem juga yaa dunia kerja ini wkkwk :((

      Delete
    4. Sip mas, banyak kok yang jual tema blogger.

      Ah ngga juga sih mas, yang penting deketin saja direktur pabriknya, bukan cuma bisa masuk kerja, tapi nanti juga dapat jabatan strategis.πŸ˜„

      Delete
  7. mas gw pesen sosisnya ya dua belas bungkus, gak pedes ya mas cepetan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf mas khanif, tidak terima bon dulu karena belum ada modal.πŸ˜‚

      Delete
    2. tenang mas nanti tak bayar lunas, plus tak kasih bonus :D

      Delete
    3. Bonusnya jangan jangan dikasih nomornya Asmirandah nih? πŸ˜„

      Delete
    4. Ya aku ikutan pesan boleh ga, 1 sosis bratwust gede isi daging semuah, dipanggang enak nyaammmm, sosis kegemaranku kalau beli di indomaret hehe

      Delete
    5. Kurang tahu aku sosis seperti itu mbak, biasanya sebutan cuma sosis, otak otak, udang dan cumi.

      Delete
    6. Enak memang Frozen food, tapi kalo tiap hari makan terus ya bosan.πŸ˜‚

      Delete
    7. emang frozen food makanan apa tow kok gw baru denger :D

      Delete
    8. Yang kadang dibakar sama sosis itu lho mas, yang bentuknya seperti udang atau cumi cumi gitu.

      Delete
  8. Endingnya bikin gagal fokus. 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Endingnya yang pasang brosur itu ya bang Rudi.πŸ˜‚

      Delete
  9. Puji syukur sekali, aku membaca tulisan ini jadi haru lho kak :') pertolongan Tuhan tepat pada waktuNya ya. Hilang 1juta, digantikan 1juta malah bisa jadi modal untuk berjualan. Bersyukur sekaliii. Haru aku bacanya 😭
    Semoga usahanya dilancarkan ya kak Agus!

    Ngomong-ngomong, aku salah komentar di atas 🀣 masa masuknya ke Facebook. Bagaimana itu nggak bisa dihapus wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, makasih doanya kak Lia, semoga kakak juga banyak rejekinya dan juga sehat.

      Ssttt, sebenarnya yang hilang duit sejuta itu pemanis cerpen saja kak.πŸ˜‚

      Aku kok ngga lihat ada yang komentar pakai Facebook, masih nol komen, apa karena lihatnya lewat hape ya?

      Delete
    2. Dan semoga jgua dapat istri baru lagi :D

      Delete
    3. Dapat istri baru itu namanya tambah masalah baru kang.πŸ˜‚

      Delete
  10. Saya pernah melamar perusahaan yang modelnya seperti itu
    Saya datang pakai dasi, eh lowongannya menjadi sales perabotan rumah tangga. Dan itu pun harus dengan persyaratan bayar sekian.
    Aduh percuma saya datang pakai dasi
    Saya rencana mau buka jualan bilung saja ah, modalnya kayaknya tidak begitu besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang ngga ada pekerjaan yang gratis ya kang, semuanya harus pakai duit. Mendingan kalo pekerjaannya enak, lha kalo asal kasih saja gimana.

      Enakan dagang memang kang.πŸ˜€

      Delete
  11. Saat membaca tag artikel, ok, ini cerpen. Wah, tokoh utamanya sama dengan pemilik blog yang suka jualan cilok.
    Saat baca dia menyerahkan uang satu juta demi dapat pekerjaan, rasanya pengen saya jitak. Itu uang kan susah ngumpulinnya. Baiklah, tak boleh emosi, ini hanya cerpen.

    Kemudian saya baca lagi. Ini cerpen apa cerita beneran sih? Kalo baca sisanya kayanya beneran deh.

    Maaf, saya pembaca baru yang masih meraba-raba. πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata mbak Khairunnisa pintar menebaknya, memang sebagian cerpen ini hanya fiksi saja, tapi bagian bawahnya itu kisah nyata.πŸ˜ƒ

      Delete
  12. Semoga laris manis dagangan sosisnya mas πŸ˜† hehehehehe. Cakep juga pemanggangnya. Warna kuning, bisa buat selera makan sosis bertambah πŸ˜‚ by the way, mungkin next time buat cerita suka duka dagang sosis dan cilok, mana tau ketemu banyak konsumen yang nggak kalah ajaibnya πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga nanti dagangannya laris ya mbak, biar nanti ketemu banyak pelanggan dengan berbagai macam karakter dan bisa dijadikan cerpen.πŸ˜†

      Delete
  13. jualan telur yang muter2 itu enak kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, kalo disini namanya cilor kang, dari bahan Aci campur telor.

      Delete
  14. Saya baru tahu kalau di Indonesia itu melamar pekerjaan harus bayar administrasi. Jadi uang 1 juta itu nggak dikembalikan ya?

    Bagus sekali dapat juga panggangan sosis baru. Selamat jualan ya! Semoga murah rejeki dan sukses selalu!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak dikembalikan mbak, itu masih mending satu juta, ada juga yang ditipu dua atau tiga juta.

      Amin, makasih doanya mbak

      Delete
  15. Wow mahal juga ya pemanggang itu semahal tuxedo jacky chan πŸ˜†

    Tadinya kukira arah ceritanya bakal jatuh cinta sama iBu muda itu terus selingkuh terus cerai sama istri tua terus nyanyi 'kumenangis membayangkan betapa kejamnya..' wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih mahalan tuksedo ini kang, kalo punya Jackie Chan gratis tinggal nonton di TV.

      Kebanyakan nonton sinetron Indosiar nih.πŸ˜‚

      Delete
    2. Dengar dari tv tetangga yg disetelnya nyaring2 πŸ˜†πŸ˜†

      Delete
  16. Btw Mas Agus, itu iklan terakhir itu pasti Oriflame, *eh, wakkakakaka.

    Btw selamat ya akhirnya punya panggangan sosis baru, dan sukses bikin saya merindukan si penjual sosis bakar langganan saya waktu hamil dulu.

    Nggak tahu kenapa dulu saya jadi ngidam sosis bakar mulu, dan orangnya sampai hafal ama saya.

    Rezeki memang selalu dari mana aja ya Mas, dari dunia ngeblog, bahkan bukan cuman melalui ads atau sponsored post, melalui teman-teman juga bisa, Alhamdulillah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan mbak, itu iklan pekerjaan yang membuat kehilangan duit sejuta.πŸ˜‚

      Memang ngga apa-apa tuh kalo banyak makan sosis dan frozen food ya mbak? Takutnya ngga sehat saja gitu makanya anak saya juga jarang makan.

      Alhamdulillah dapat rejeki dari mbak Eno, teman blogger memang baik sekali termasuk mbak Rey yang kemarin ngasih pulsa πŸ˜€πŸ˜ƒπŸ€­

      Delete
    2. hahahahaha, mirip banget iklan Oriflame, dan mirip juga bisnis Oriflame hahahaha.
      Aselihnya ya kurang sehat makan makanan gitu, tapi dulu saya hamil anak kedua ini memang aneh-aneh sayanya.
      Bahkan makan indomie dong, meski nggak pakai bumbu Indomie hahahaha

      Eaaaa, Alhamdulillah ya Mas, semoga berkah dan manfaat dan usahanya lebih laris manis, aamiin :D

      Delete
    3. Hahaha sebelas dua belas sama iklan Oriflame ya mbak, baru tahu saya soalnya ngga tahu apa itu Oriflame.

      Berarti memang kurang sehat ya, pantesan agak kurang laku, kalaupun ada yang beli paling 3 atau 4 biji saja.πŸ˜‚

      Amin, makasih doanya mbak Rey.

      Delete
  17. wah aku terhura eh terharu mas
    susah ya memang cari kerja sekarang
    tapi salut sih kalau mas agus bisa tetap survive gitu

    emang sekarang banyak jebakan betmen masalah pekerjaan yg harus bayar dulu
    entah buat training atau buat beli sesuatu
    kalau saya dulu pernah mau ditahan ijazah S1 di pabrik
    mayan gede si gajinya 4 juta untuk ukuran anak baru lulus ya banyak banget
    tapi mikir lagi kok gitu banget ya nanti juga kalo di tengah pengen resign gimana

    eh selamat btw buat pangganggan barunya semoga berkah ya mas

    maslaah cerpen, coba kirim ke storial mas
    ada banyak lowongan cari naskah baru di sana
    editorku kemarin juga lagi cari cerpen horor dan beberapa kisah mistis gitu
    siapa tahu beruntung mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Ikrom, sekarang lagi susah nyari pekerjaan di pabrik. Kalaupun ada mintanya mahal 5 juta biar dapat kerja..

      Wah, kalo ijasahnya ditahan terus kalo mau resign dikasih lagi ngga?

      Alhamdulillah dapat pemanggang sosis baru mas.πŸ˜€

      Oh begitu ya mas, ntar aku coba lihat lihat storial ah, siapa tahu dapat rejeki juga.πŸ˜ƒ

      Delete
  18. "Alhamdulillah tidak sia-sia sogokan 3 bungkus cilok sehari sebelumnya" hahaha.

    Akhirnya bisa meminang si kuning yang menggoda ya mas, hehe. Semoga frozen food-nya laris manis mas dan juga dagang cilok-nya. Cerita mengenai bayar uang biar dapat kerja itu, saya dulu waktu baru-baru kuliah dulu pernah kena juga hahahha. Tapi nggak sampai sejuta mas, ya mayanlah kalau sebagai anak kos, gapapalah sebagai pelajaran wkwk, walau diingat-ingat sampai sekarang kesel juga πŸ˜‚πŸ˜‚

    Semangat dagang ciloknya mas Agus swmoga banyak yang beli ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata ada juga yang lain yang kena tipu PT Abal Abal seperti itu ya. Mungkin karena susah cari pekerjaan jadinya disuruh bayar juga mau ya mbak, eh ternyata nipu.πŸ˜‚

      Delete
  19. Alhamdulillah, pemanggang sosis dan burger udah berpindah tangan dengan mulus, moga moga aja usahanya maju, rezeki melimpah ruah...

    ReplyDelete
  20. ini sebenernya yang di cari panggangan model gitu ... klo yg punyaku semacam batu itu di panasin tp mudah gosong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti mas Abas jualan sosis juga ya mas, rame tidak mas?

      Delete
    2. gak jualan, itu ibu yang beli buat masak masak di rumah kalau cucu cucunya pada mudik ... tapi mudah gosong

      Delete
  21. Waaah alhamdulillah ya,mas. Rezeki dari silaturahmi emang nggak bisa digantikan. Ada ajaa..
    Semoga berkah dan lancar usahanya...

    Oiya, ngomong-ngomong soal pekerjaan yang harus bayar dulu. Saya jadi ingat cerita teman dulu juga gitu. Bilangnya diterima kerja, tapi harus membayar sejumlah uang untuk biaya training dll yang berjuta-juta. Padahal perusahaannya juga ngga terkenal banget. Jadi lebih baik hati-ati saja kalau nerima tawaran pekerjaan seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin, makasih banyak atas doanya mbak Rie. Rejeki memang bisa datang dari mana saja termasuk dari teman blogger.

      Memang sebaiknya harus hati hati dalam menerima pekerjaan apalagi jika harus bayar sekian juta, kecuali sudah kerja dan sreg baru bayar. Eh tapi ada yang mau seperti itu tidak ya yang ngasih pekerjaan?

      Delete
  22. Coba Mas Agus tawar saja 2 baju tersebut 1 juta. Habis tidak usah masuk kerja lagi.. Cari orang yang mau beli itu baju masing-masing sejuta.. kan untung, hahahaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Takutnya kalo aku yang jual nanti disangka habis nyolong tuksedo di jemuran bang.πŸ˜‚

      Delete
  23. Kejadian kyk gitu memang bener-bener ada, mas. Dulu temennya tanteku ada yang ketipu dengan modus yang sama. Kantor perusahaan abal-abalnya ada di perumahan yang sama denganku tinggal. Tapi anehnya semua orang perumahan gak ada yang tau itu kantor apa. Dan bahkan tempat itu masih eksis sampai sekarang. Kyknya korbannya kebanyakan bukan orang daerah dekat sini, mengingat temen tanteku juga aslinya dari luar kotaπŸ˜…

    Ngomong-ngomong selamat ya, Mas, dapat rejeki 1 juta. Alhamdulillah. Kalau rejeki emang gak kemana, dan datangnya juga mungkin dari arah yang tidak diduga-duga πŸ˜†. Duh, ikut seneng deh, kalau ada temen yang dapat rejeki gini. Semoga dagangannya laris ya, mas.πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kok bisa begitu ya mbak, harusnya dilaporkan pada satpol PP biar dirazia, kasihan yang kena tipu.πŸ˜‚

      Btw, perasaan aku ngga nyebut dapat uang sejuta deh, kok mbak Roem tahu, apa mbak indigo? 😱

      Delete
    2. Eh, apakah aku gagal fokus?πŸ™ˆπŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Kasih pulsa dong, mas. Biar fokus nih pas baca cerpen.🀭

      Delete
  24. Horeee panggangan sosisnya baru asyikk, bagus ya warna kuningnya cerah banget. Laris manis ya mas dagangannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panggangan sosis bekas mbak, cuma masih lumayan baru karena kata orangnya baru beli 3 atau 4 bulan.

      Delete
  25. Wah, keren kang, bisa dapat penghasilan dari cerpen. Diteruskan saja menjadi penulis cerpen, dikirim ke koran atau majalah. Siapa tau menghasilkan juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah dapat penghasilan juga dari cerpen pak agung. Pernah ngirim tapi ngga diterima jadinya agak minder pak.

      Delete
    2. Pengalaman saya, tidak diterima itu bukan berarti tulisannya yang kurang bagus, tapi tidak sesuai dengan konsepnya saja. Seperti mbak yang dilakukan mbak Eno di tulisan di atas, konsepnya belum sesuai dengan style penulisan di blognya, makanya dia minta izin disesuaikan. Kalau saya baca sih, cerita kang Agus menyenangkan dibacanya. Kalau masalah tata penulisan cerpen, saya bukan ahlinya jadi saya tidak mau sok menilai tulisan orang. Hehe.

      Semangat kang!

      Delete
    3. Oh betul juga ya pak, mungkin karena tidak sesuai dengan konsep koran atau majalah tersebut makanya ditolak. Ngirim cerpen horor ke majalah Bobo ya kemungkinan ditolak.πŸ˜‚

      Delete
  26. Saya kok terharu baca ceritanyaa T_T tapi ikut senang akhirnya kebeli juga si pemanggang sosis kuning! πŸŽ‰ memang rejeki tuh nggak ke mana ya, Mas Agus. Cerpen Mas Agus di blognya Mba Eno pun membawa berkah berupa tawa dan kebersamaan buat kita semua para pembaca hahaha jangan-jangan abis ini ada cerpen yang berhubungan dengan pemanggang sosis 😁

    Semoga laris manis jualannya ya, Mas Agus! Sukses selalu pokoknya!

    ReplyDelete
  27. ini namanya rezeki tidak salah alamat...

    ReplyDelete
  28. Uwah.. Kisah nyata ya mas agus, saya doaken semoga bisnis barunya lancar jaya ya...😁 semoga jadi juragan cilok dan sosis paling laris di kampungnya. Amin amin seribu amin ya Allah.
    Trimakasih juga buat mbak eno yang sudah memberikan rezeki tak terduga buat mas agus, semoga rejekinya makin lancar jaya juga😁

    ReplyDelete
  29. aku mau beli sosisnya ahhh, jajanan beginian aku doyann
    ke CFD yang biasanya banyak jejeran jajanan jajanan suka bingung beli yang mana, pengennya dibeli semua

    rejeki nggak kemana ya mas agus, alhamdulilah cair juga paid guest nya hehehe

    ReplyDelete
  30. Ya Allah, ini kisah nyata yaa. Sangat inspiratif, Mas. Emang hari gini untuk bisa sukses kita mesti taft ya. Harus kreatif dan nggak jaim, terus ikhtiar dan berdoa juga. Semoga sukses dan terus menulis untuk share pengalaman ya Mas.

    Btw kok namanya pakai Warteg, jangan-jangan udah punya warteg nih, hehe. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  31. Duuuuh ini cerpen ato beneran, ato ada diselipin cerita nyatanya mas :D. Ikut prihatin kalo beneran yg ttg uang sejutanya yaaaa.. -_- . Kadang sedih aja kalo ada orang yg mau cari kerja tapi ttp dikerjain gitu.

    Asiiiik punya panggangan sosis skr ;). Dimana nih jualannyaaaa, kalo aku mampir mau borong hahahahaha. Aku suka sosis panggang, trutama yg jenis bratwurst ato sosis yg isinya kejuu ;).

    Semoga lancar jualannya yaaa mas Agus, banyak yg beli :)

    ReplyDelete
  32. Lha, itu staf kantornya kok pakai nanya-nanya bisa bahasa Inggris atau tidak segala ya, Mas? :D

    Ntar staf kantor itu pasti kaget sendiri lihat nama tokoh utama cerita ini di sampul novel. :)

    ReplyDelete